Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 68


__ADS_3

Malam harinya, Arin dan Revan datang ke rumah Lia dan Sakka yang mengundang mereka untuk berkumpul. Febby dan Mike juga di undang dan mereka sudah datang lebih dulu. Sedangkan Revan pergi menjemput tuan putrinya lebih dulu tentunya.


"Sebenarnya ada acara apa di rumah aunty Lia, aku jadi penasaran," ujar Arin.


"Kita lihat saja nanti, sepertinya ada kejutan untuk kita semua. Mungkin saja berandal itu sudah pulang."


"Hah? Siapa Kak? Apa Rezza? Benarkah dia sudah pulang. Kurang ajar sekali dia tidak datang menemuiku," omel Arin.


"Untuk apa sayang, aku tidak akan membiarkannya menemuimu," kata Nathan yang duduk di belakang kemudi.


Arin sangat tersanjung dengan kecemburuan Nathan. Dia merasa sangat dicintai oleh pria yang kini telah menjadi tunangannya. Gadis itu memeluk lengan Nathan lalu meletakkan kepalanya di bahu lelaki itu.


"Jadi kapan Kakak akan menikahi aku," goda Arin. Karena sebenarnya dia juga masih punya banyak pertimbangan untuk hal itu.


Nathan mengusap pipi sang kekasih yang saat ini sudah sepenuhnya memenuhi hati dan pikirannya. Gadis kecil yang sangat merepotkan dan cengeng itu kini jadi tambatan hatinya.


"Besok pun bisa kalau kau mau," katanya serius. Namun, perkataannya tadi dianggap bercanda oleh Arin.


"Memangnya menikah segampang itu apa Kak. Belum persiapannya, dukumennya dan segala perlengkapannya. Kata orang-orang bisa berbulan-bulan untuk menyiapkan pernikahan," ujar Arin terkekeh kecil. Oopa dia lupa siapa Nathan.


Lelaki itu hanya tersenyum tipis tanpa mengiyakan atau membantah.


Mereka sampai di kediaman keluarga kakek Bayu. Nathan menggandeng tangan Arin untuk masuk ke dalam rumah itu. Seakan tak ingin Arin pergi sejengkal pun darinya.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh para orang tua yang sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Malam aunty, uncle, Kakek." Begitu sapa Arin lalu menyalami mereka semua.


"Sayang, sini sayang. Duduk sini dekat aunty," pinta Lia sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Arin melihat Nathan karena tangannya yang digenggam erat oleh pria itu. "Kak?"


Nathan mengerti dan melepaskan genggamannya, dia pun mengangguk kemudian.

__ADS_1


Arin langsung berkumpul dengan para wanita yang sepertinya sedang menggosipkan sesuatu. Terlihat asyik sekali sampai Arin ingin tau.


"Sayang, akhirnya kau datang. Dari tadi aunty dan aunty Febby sedang membicarakan Rezza," kata Lia.


"Rezza? Apa dia sudah kembali aunty?" tanya Arin.


"Sudah sayang, dua hari yang lalu. Apa kamu tau, dia tidak kembali ke rumah ini sendirian. Dia bersama seorang gadis," bisik Lia.


"Oh yaa?? Siapa gadis itu aunty?" Arin sangat antusias.


"Gadis itu mengingatkan aunty saat masih muda dulu. Aunty seperti melihat diri aunty pada gadis itu. Tidak menyangka kalau selera Rezza sama seperti ayahnya."


Arin makin penasaran mendengarnya. Dia lalu melihat Febby yang sejak tadi senyum-senyum melihat Arin kebingungan.


"Nanti kau akan melihatnya sayang," bisik Febby.


Arin paham.


"Memangnya seperti apa dulu aunty saat muda?" tanya Arin. Kalau saja orang tuanya masih hidup pasti akan menceritakan tentang sahabat-sahabatnya, sayangnya Arin hanya mengenal Lia dan Febby saat mereka sudah dewasa dan menjadi seorang ibu.


"Oh ya? Bagaimana mungkin, aku lihat aunty sangat keibuan dan sangat keluarga," komen Arin.


"Itu karena keadaan sayang, seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak pasti kehidupannya berubah hampir 360°." Febby menjelaskan.


"Benar kata aunty Febby. Sifat keibuan dan penyayang itu tumbuh begitu saja saat memiliki keluarga. Begitu juga dengan aunty, dulu aunty seperti itu tapi tentu saat menikah aunty harus belajar mengurus suami, lalu saat punya anak. Aunty harus memikirkan apa yang terbaik untuk anak."


Arin mengangguk-angguk paham.


Setelah cukup lama mengobrol akhirnya yang ditunggu-tunggu pun turun juga. Seorang laki-laki menuruni tangga bersama seorang wanita yang menggandeng lengannya.


Semua orang melihat mereka, tak terkecuali Arin yang saat ini seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat. Apa mungkin itu benar temannya, teman yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar.


"Selamat malam semuanya," sapa Rezza. Sedangkan wanita di sebelahnya masih malu-malu wajahnya masih menunduk. Jadilah dia tidak tau ada Arin di sana.

__ADS_1


"Dinda?! Kau Dinda? Kau kah itu?" tanya Arin dengan wajah keterkejutannya.


Merasa dipanggil namanya Dinda pun mengangkat kepalanya. Dia sama terkejutnya seperti Arin. Tidak menyangka kalau mereka akan bertemu secepat itu setelah ia datang ke ibu kota.


"Kak Arin ...."


Rezza melepaskan tangan Dinda dia mengerti kalau mereka pasti butuh ruang untuk berbicara dan melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.


Arin langsung maju dan memeluk teman lamanya itu. Sungguh ia sangat merindukan Dinda, meski Arin sudah tidak penakut dan sudah bisa bergaul dengan orang-orang. Namun, bagi Arin hanya Dinda teman terbaiknya. Teman yang amat tulus dan tidak pernah memanfaatkannya.


"Kau kemana saja, Dinda. Kami semua mencarimu."


Dinda membalas pelukan Arin.


"Aku hanya pergi untuk menenangkan diri Kak, maafkan aku karena tidak memberitahumu."


"Tidak apa-apa, yang penting kau ada di sini sekarang. Aku sangat senang bisa melihatmu lagi," Kata Arin.


Acara malam itu pun dilanjutkan dengan makan malam bersama. Arin duduk di sebelah Nathan dan Dinda di sebelah Rezza. Bisa dibilang kalau malam ini semuanya bersama pasangannya, hanya kakek Bayu sendirian yang tidak memiliki pasangan. Tapi sebagai orang yang paling tua, beliau ikut bahagia melihat anak-anak dan cucu-cucunya bahagia.


Setelah malam malam, Arin dan Dinda mengobrol berdua di kamar yang ditempati Dinda. Rasa penasaran sudah mengusik Arin sejak tadi saat melihat Dinda ada di sana.


"Aku sangat senang melihat di sini, apa kamu tau saat kamu pergi aku dan Rezza panik mencarimu. Mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk mencarimu tapi kau sama sekali tidak meninggalkan jejak. Aku hampir menyerah, hanya bisa berdoa agar kamu baik-baik saja di manapun kamu berada. Tapi tidak dengan Rezza, aku tau dia terus berusaha mencarimu." Arin menyeka sudut matanya yang membasah.


"Maaf, Maafkan aku kak Arin. Aku tidak tau kalau kepergianku justru membuat kalian susah. Aku kira saat itu, pergi adalah jalan yang terbaik..." Dinda menceritakan bagaimana kehidupannya yang tidak pernah tenang karena terus mendapatkan ancaman dari orang-orang kaya yang anaknya di keluarkan dari kampus karena kasus di pesta tahun itu.


Arin memeluknya, tidak menyangka kalau temannya begitu tertekan. Sedangkan dirinya malah tidak tau dan berpikir bahwa Dinda tidak ingin bertemu dengannya lagi. "Maafkan aku, Dinda. Seharusnya aku ada untukmu saat itu," lirih Arin penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Kak, semuanya sudah berlalu. Aku sudah melupakan semua itu. Sekarang aku juga tidak selemah dulu, kalau ada yang berani mengancam ku lagi pasti akan aku lawan."


"Dan aku akan melawan mereka bersamamu. Aku dan Rezza tidak akan membiarkan kamu sendirian lagi," ujar Arin. Mereka saling merengkuh lagi. Haru, rindu dan bahagia menjadi satu.


"Oh iya, bagaimana kau bertemu dengan Rezza? Dan hubungan kalian sepertinya sangat dekat, apa ada sesuatu yang belum aku tau?"

__ADS_1


"Emmm i--itu...," gugup Dinda.


__ADS_2