
Dengan langkah tergesa Alsava dan Tedi menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruang bersalin setelah bertanya pada bagian informasi terlebih dahulu.
Napas Alsava sedikit memburu saat langkahnya terpaksa terhenti di balik pilar saat mendengar pembicaraan dua orang yang sangat dia kenal. Karena Alsava yang terhenti tiba-tiba membuat tubuh Tedi tidak seimbang dan hampir menabrak tubuh kakaknya.
Untung saja rem dikakinya cukup kuat menopang tubuh dan tidak sampai menimbulkan keributan atau drama tabarakan tubuh dengan Alsava.
"Dea harus dioperasi." Bahri terduduk lemas bersandarkan tembok, bu Dewi menepuk pelan pundak menatunya mencoba menguatkan. Pria itu menarik rambutnya ke belakabg dengan frustasi.
"Lakukan yang terbaik yang penting anak istrimu selamat."
"Uang dari mana Bu? sampai hari ini kedua orang tuaku tetap tidak peduli," desah pria itu putus asa.
"Ibu harus bicara sama Alsava." Alsava tersenyum kecut saat namanya disebut.
"Jangan Bu, baru dua minggu lalu aku mengambil perhiasan dan tabungannya," ucap Bahri dengan suara pelan dan kepala menunduk.
Deg.
Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dada Alsava. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangannya mengepal dengan sedikit bergetar. Dadanya naik turun menahan marah yang ingin sekali dia ledakan.
"Kamu tidak salah, ibu yang menyuruh karena kita butuh buat biaya sehari-hari." Sekali lagi bisa Alsava lihat bu Dewi menepuk pelan pundak Bahri.
Tedi yang mendengar pengakuan kakak iparnya itu pun ikut terbawa emosi. Merasa geram karena ibu dan kakaknya bahkan sekarang kakak iparnya tidak hentinya memanfaatkan dan merongrong kehidupan Alsava.
Alsava menghela napas berusaha menguasai diri dan meredakan emosi. Menelan ludahnya berat lalu memutuskan melangkah dan keluar dari persembunyian.
"Bagaimana keadaan Dea?"
Bu Dewi dan Bahri terlihat sangat terkejut saat Alsava datang bersama Tedi, wajah Bahri bahkan terlihat sedikit memucat. Mungkin pria itu khawatir kalau Alsava mengetahui siapa yang sudah membobol rumahnya dua minggu yang lalu.
"Katanya harus operasi secar untuk menyelamatkan ibu dan bayinya," ucap Bahri seraya menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan Alsava.
"Nak, apa kamu bisa bantu biaya operasi Dea?" tanya bu Dewi tanpa dosa membuat amarah Alsava yang sudah turun kembali naik. Gadis itu menatap sengit ibu tirinya yang menampilkan senyuman tipis yang cantik.
__ADS_1
Kalau ada butuhnya aja muka malaikatnya ditunjukkan. Huhft!
Alsava mendengus tidak suka seraya memalingkan wajah, enggan merespon ucapan bu Dewi.
"Bagaimana apa sudah diputuskan? Apa formulir persetujuan tindakan sudah diisi?" tanya seorang perawat berbadan gempal yang entah datang dari mana memecah keheningan diantara keempat orang itu.
Bu Dewi menatap Bahri tapi pria itu malah menatap Alsava penuh harap. Alsava yang mendapat tatapan menyedihkan dari suami Dea itu hanya bisa menghela napas kasar lalu beralih menatap perawat yang sedang menanti jawaban.
"Lakukan yang terbaik untuk adik saya Sus," putus Alsava pada akhirnya. Sebenci apapun dia pada Dea dan bu Dewi tetap saja rasa kemanusiaannya yang mendominasi. Dia tidak akan tega membiarkan adik dan calon anaknya begitu saja dalam bahaya tanpa berusaha menolong.
"Tapi biayanya?" lirih Bahri seraya menatap Alsava.
"Biar aku yang usahakan, ingat ini terakhir kalinya aku ikut bertanggung jawab pada kalian!" ucap Alsava tegas seraya menatap bu Dewi dan Bahri secara bergantian.
Tedi sejak tadi hanya bisa diam mendengar dan menyaksikan semua dengan dada bergemuruh dan tangan mengepal di samping tubuhnya. Remaja itu menatap iba sekaligus haru pada Alsava yang selalu membanting tulang dan jadi tameng bagi keluarganya.
Kak Sava orang yang baik, suatu hari nanti Kakak pasti bahagia.
***
Alsava menoleh pada pria yang dulu pernah ada dalam hatinya. Pria itu terlihat menundukkan kepala tidak berani mengangkat pandangan karena terlalu malu. Alsava meluruskan pandangan menatap beberapa bunga yang ada di taman rumah sakit, gadis itu sedang duduk termenung setelah memastikan Dea masuk ke dalam ruang operasi.
"Sudah seharusnya begitu," lirih Alsava menanggapi.
Gadis itu begitu lelah dengan semua yang terjadi, bahkan setelah dia berhasil melunasi hutang yang begitu banyak, bu Dewi masih saja terus merongrong hidupnya dan tidak membiarkan Alsava hidup dengan tenang.
"Uang dari mana Va untuk biaya operasi Dea?" tanya Bahri ragu. Pria itu tahu betul kalau Alsava sekarang sudah tidak memiliki tabungan.
"Aku cari pinjaman dari teman, beruntung dia baik dan mau ngasih. Kalau kamu punya malu, cicil dan kembalikan uang itu. Aku tidak bisa terus menopang hidup kalian, apalagi kalian dengan tega mengambil tabungan yang susah payah aku kumpulkan."
Alsava berucap tegas namun tenang. Sementara itu Bahri mengangkat kepala karena terkejut kenapa Alsava bisa tahu dirinya yang mengambol tabungan dan perhiasanya dua minggu lalu? Pertanyaan itu langsung berputar di kepalanya.
"Maaf Va," ucap Bahri tulus semakin dalam menenggelamkan kepala karena terlalu malu.
__ADS_1
"Sudahlah, pokoknya ini yang terakhir. Setelah ini urus sendiri hidup kalian. Dewasalah Bahri! Sekarang kamu punya anak yang harus kamu hidupi jangan sukanya main judi sambung ayam terus."
Alsava memang tahu kebiasaan Bahri sejak dulu, dia suka sekali main judi sambung ayam tapi tidak mau bekerja, sampai kedua orang tuanya pun menyerah dan menganggapnya bukan lagi bagian dari keluarga.
"Maaf Va, terima kasih karena selalu baik. Maaf mungkin kita memang tidak berjodoh jadi pasangan tapi berjodoh jadi ipar."
Akhirnya Bahri merasa lega, beban pikirannya seolah berkurang banyak setelah dia meminta maaf pada Alsava secara langsung. Alsava mendelik tajam pada suami adiknya ini, tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh pria itu barusan yang beranggapan dirinya masih belum bisa melupakan pria itu.
Dasar Bahri dengan kepercayaan dirinya yang tinggi!
***
"Baru pulang?"
Suara Roman membuat Alsava menoleh ke suaminya setelah selesai mengunci pintu rumah. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. Perlahan mendekat lalu duduk di samping Roman.
"Maaf karena baru pulang, Abang sudah makan?" tanya Alsava seraya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Gadis itu menoleh menatap pria di sampingnya dengan rasa bersalah karena sudah pergi dari pagi dan baru kembali malam hari.
"Sudah, kan kamu nyediain nasi di dapur tadi." Alsava hanya mengangguk mendengar jawaban dari Roman. Pria itu tampak menghela napas pelan melihat Alsava yang begitu kelelahan.
"Gimana Dea?" tanya Roman membuat kelopak mata Alsava yang akan menutup terbuka kembali.
"Akhirnya dioperasi secar karena pendarahan hebat dan beresiko untuk keselamatan dia dan bayinya."
"Lalu?"
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, keduanya selamat dan sehat."
"Syukurlah."
Roman ikut merebahkan kepalanya di samping Alsava, keduanya menatap langit-langit rumah dengan perasaan yang berbeda. Alsava sedang memikirkan cara untuk segera melunasi hutangnya pada Roman yang kini bertambah banyak karena biaya operasi Dea, belum lagi tabungan yang dia kumpulkan sudah hilang. Gadis itu mendesah cukup keras mengingat hutangnya bukan berkurang malah semakin banyak.
Sementara Roman sendiri sedang merencanakan sesuatu agar bisa sedikit meringankan beban berat yang selama ini Alsava tanggung. Keduanya hanyut dalam lamunan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Bulan depan kita kembali ke kota Bang," putus Alsava setelah terdiam beberapa saat.
"Apa?" Roman terkejut hingga menegakkan punggungnya dan menatap Alsava dengan penuh tanya.