
Alsava menatap heran pria di hadapannya sambil menggigit sendok. Ia menelan ludah lalu melihat mangkok mie instan miliknya yang baru dimakan beberapa sendok. Pria di hadapan Alsava sudah menghabiskan mie instan lalu meminum habis kuahnya juga, hingga mangkok bekas terlihat licin.
"Kamu nggak makan Va?" Pertanyaan itu membuat Alsava tersadar lalu melanjutkan makan dengan cepat.
Setelah menghabiskan mie miliknya. Alsava menggeser mangkok, melirik ke arah pintu kontrakan yang sengaja dibuka lalu menatap pria di hadapannya dengan serius.
"Bisa Tuan jelaskan maksud kedatangan Anda kemari?" tanya Alsava terdengar kaku dan formal membuat Rafan berdecih tidak suka seraya memalingkan wajah.
"Bisa tidak kamu bicara seperti biasa? Kalimat mu tadi membuat telinga ku sakit," gerutu Rafan dengan bibir mencebik. Alsava mengkerutkan dahi tidak mengerti.
Sebentar, situasi macam apa ini?
Alsava menatap Rafan seraya menyipitkan mata curiga. Gadis itu tertegun beberapa saat seraya memindai ekspresi Rafan yang tidak terbaca. Alsava membenahi posisi duduk lalu kembali menatap Rafan dengan serius.
"Tunggu, apa Tuan kemari untuk menagih bunga pinjaman?" tanya Alsava serius, otaknya mulai menghitung total uang yang harus dia bayar kalau dugaannya atas kedatangan Rafan benar.
Rafan hanya diam tidak memberi respon, jujur dia juga belum paham maksud Alsava dengan bunga pinjaman itu apa. Pria itu datang ke sini hanya ingin melihat lokasi dia di buang setelah kecelakaan beberapa bulan lalu, berniat melakukan penyelidikan bersama Arman di malam hari.
Tidak terduga malah bertemu dengan Alsava. Karena sudah bertemu ya sudah sekalian Rafan manfaatkan untuk menuntaskan rindu pada gadis itu.
Setelah mendesak Alsava untuk mengajaknya masuk ke dalam kontrakan, pria itu pun dengan tidak tahu malu meminta dibuatkan mie instan seperti yang sering Alsava buat saat mereka masih tinggal di kampung. Rafan ingin bernostalgia atas kebersamaan mereka dulu.
Walau terpaksa, Alsava akhirnya membuatkan mie instan sesuai permintaan Rafan karena kebetulan dia pun belum makan malam. Tadinya dia pun mengajak Arman ikut serta, namun Rafan melarang. Akhirnya pemuda malang itu duduk diam di dalam mobil dengan perut yang keroncongan belum terisi.
"Ya ampun banyak juga!" pekik Alsava kaget saat sebuah nominal uang muncul di kepalanya.
Gajinya dalam satu bulan tidak akan bisa melunasi nominal bunga pinjaman, bahkan setelah menggabungkan semua gaji yang dia miliki dari beberapa pekerjaan pun belum bisa.
"Apa sih? apanya yang banyak?" tanya Rafan kesal karena lamunannya buyar akibat pekikan Alsava.
Alsava menelan ludahnya berat lalu beringsut mendekat ke arah Rafan. Rafan yang tidak menduga pergerakan Alsava, ikut bergerak mundur menghindar.
"Tuan tolong kasihani saya!"
Alsava menggenggam tangan Rafan erat seraya menundukkan kepala, bahkan menempelkan pipi di punggung tangan Rafan. Alsava melakukannya tentu agar Rafan iba dan menunda penagihan bunga pinjaman, otak Aslava hanya terpaut pada itu saja.
__ADS_1
Sementara Rafan yang diperlakukan begitu, meski terkejut dan bingung pipinya seketika hangat dan memerah karena tersipu. Di sela-sela kesalahpahaman diantara keduanya, Rafan malah merasa berbunga saat bisa sedekat ini dengan gadis yang selalu mengganggu pikirannya dua bulan terakhir.
Pria itu berdehem beberapa kali untuk menutupi kegugupannya, berusaha terlihat tenang dan tidak tersipu.
"Maksud kamu apa?"
Bertanya dengan nada tenang tidak sesuai dengan hati yang sudah berdetak cepat sejak tadi. Alsava mengangkat kepala dan melepaskan genggaman tangan. Seketika Rafan merasa kecewa karena itu.
"Bukankah Tuan kemari untuk menagih bunga uang yang sempat saya pinjam dari hasil penjualan jam tangan?"
Dahi Rafan berkerut samar, berfikir sebentar lalu bibirnya berkedut menahan tawa saat otak berhasil memahami maksud kalimat Alsava.
Kenapa yang ada di otaknya hanya masalah hutang? Dasar! sia-sia saja aku tersipu tadi.
Rafan hanya bisa menggerutu dalam hati, meski jujur dia merasa senang sekarang. Entahlah bisa duduk berdekatan dengan Alsava tanpa jarak dan berbicara banyak dengan gadis ini, adalah hal yang dia rindukan belakangan ini.
Rafan menghela napas dalam, lalu menerbitkan senyum sinis saat menemukan ide cemerlang untuk bisa menjerat Alsava selamanya.
Akan ku pastikan kamu tidak bisa membebaskan diri.
Senyum Rafan terlihat menakutkan bagi Alsava. Gadis itu beringsut menjauh secara perlahan, entah kenapa hatinya jadi merasa tidak nyaman melihat tingkah Rafan yang seperti ini.
Saat keduanya saling tatap dengan ekspresi berbeda, tiba-tiba terdengar ketukan di daun pintu yang dibiarkan terbuka. Keduanya kompak menoleh ke sumber suara.
"Maaf tamu sudah harus pulang jam sebelas malam," ucap ibu kos berbadan gempal mengenakan daster bunga-bunga tanpa lengan. Wanita paruh baya itu menatap Alsava tajam.
"Oh iya Bu, dia sudah mau pergi kok." Alsava mendorong harus pundak Rafan dengan gemas.
"Sana pulang!" ucap Alsava pelan seraya merapatkan gigi. Rafan tidak bergerak dan malah menatap ibu kos dengan berani.
"Maaf Bu, saya bukan tamu tapi suaminya."
Telunjuk Rafan mengacung ke arah Alsava membuat mata gadis itu melotot kaget.
"Alah alesan, cepat pulang! jangan berzina di kosan milikku!"
__ADS_1
Alsava menyunggingkan senyum, meledek ke arah Rafan yang kini mencebik kesal.
Dengan gerakan malas Rafan berdiri lalu mengibaskan pakaiannya dengan cukup keras. Dia menatap kesal ke arah Alsava yang masih menampilkan senyum yang menjengkelkan. Sebelum melangkah, Rafan mencondongkan badan lalu berbisik ke arah Alsava.
"Tunggu saja aku akan datang lagi untuk melamarmu secara resmi, istriku."
Rafan berbisik lalu mencium pipi Alsava sekilas hingga membuat gadis itu melotot kaget. Sebelum gadis itu meledak marah Rafan sudah berlari keluar dengan cepat.
"Ck, dasar anak muda. Awas ya kalau sampai kejadian ini terulang!" ketus ibu kos seraya berlalu.
Sementara Alsava masih berdiri mematung dengan linglung. Tangannya meraba pipi yang barusan di kecup oleh Rafan. Pipi Alsava menghangat dan memerah, dia tersipu.
"Apa itu tadi?"
Meski tersipu, dia juga bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu memilih menutup pintu kamar dan menguncinya. Alsava naik ke atas ranjang, berbaring terlentang dengan menarik selimut menutupi sebagian tubuh. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kontrakan.
"Jadi dia ke sini bukan untuk menagih bunga pinjaman?" gumam Alsava yang masih memikirkan bunga pinjaman. Terlalu lama mengangsur hutang beserta bunga pada rentenir membuat pikirannya seputar pinjaman dan bunganya saja.
"Lalu maksud ucapan dia tadi apa?"
Kalau yang berharap tidur nyenyak malah berguling-guling gelisah. Berbeda dengan orang yang tampak bahagia yang sedang duduk tenang di dalam mobil menuju rumahnya. Senyum tidak pernah luntur sejak dia masuk ke dalam mobil.
Arman sampai mengerutkan dahinya dalam sejak tadi. Selain karena menahan lapar yang membuat perut melilit, kerutan di dahi juga karena bingung dengan sikap Rafan yang tampak bahagia setelah bertemu dengan gadis pembuat onar tempo hari.
Arman hanya tahu gadis tadi adalah penolong Rafan saat dibuang begitu saja setelah kecelakaan yang sempat menimpanya, cerita dibalik itu Arman tidak pernah tahu.
"Hmm.. Tuan apa kita mau mampir membeli makanan terlebih dahulu?"
Arman dengan takut bertanya. Dia berharap Rafan mengucapkan 'iya' atau 'boleh', sedikit berbaik hati pada dirinya yang sedang sangat kelaparan.
"Tidak usah saya sudah kenyang," jawab Rafan santai tanpa menyurutkan senyum.
Sama sekali tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh supirnya. Pria itu duduk bersandar dengan mata berbinar bahagia.
Bahu Arman merosot lesu meski tidak mengurangi konsentrasi dalam mengemudi. Pemuda malang itu hanya bisa menghela napas lalu memberi usapan lembut pada perut yang sejak tadi minta di isi.
__ADS_1
Begini banget nasib orang kecil.
Arman hanya bisa menggerutu dalam hati tapi tidak sampai memaki. Dia berharap masih ada sisa makanan di rumah majikannya nanti, agar perut bisa terisi dan malam ini tertidur dengan nyenyak. Semoga ya Man!