
Rafan menutup dokumen terakhir yang dia kerjakan hari ini. Menatap penuh kepuasan pada tumpukan dokumen yang berada di atas meja. Menghela napas lalu melakukan peregangan ringan untuk mengatasi pegal yang mendera.
Manik coklat miliknya beredar lincah memindai ruangan yang sudah tiga bulan terakhir jadi saksi perjuangannya. Benar kata orang, mempertahankan sesuatu jauh lebih sulit dari pada membangunnya. Itu yang Rafan rasakan tiga bulan terakhir.
Setelah mengalami masa sulit dan terancam bangkrut. Akhirnya Rafan mengambil keputusan sulit demi mempertahankan perusahaan milik keluarganya itu. Dengan terpaksa menjual saham dan membagi kepemilikan bisnis dengan orang lain agar Dizhwar corporation tetap berdiri.
Tidak apa semua akan baik-baik saja, kalimat penghiburan dari paman Yo membuat Rafan teguh mengambil keputusan saat hatinya kembali gamang. Tiga bulan sudah berlalu, perusahaan belum kembali seperti semula meski sudah mulai stabil.
Waktu yang cukup singkat bagi pemula seperti dirinya untuk bisa menstabilkan kondisi perusahaan. Rafan sangat berterima kasih pada semua pihak yang rela bekerja keras, berjuang bersama dirinya demi agar perusahaan yang dibangun kakeknya tidak sampai jatuh tak bersisa.
Rafan mengambil ponsel miliknya lalu melakukan panggilan.
"Man, siapkan mobil! Aku mau pergi ke suatu tempat."
Kalimat perintah yang tidak begitu kaku meluncur dari bibir Rafan bahkan tidak ada sapaan dan basa basi. Tanpa menunggu respon orang di sebrang sana Rafan menutup panggilan seenaknya, membuat Arman hanya bisa bergumam geram tidak berani memaki meski hatinya kesal setengah mati.
Merapihkan meja lalu memakai jas yang semula tersampir di sandaran kursi. Langkahnya lebar menaiki lift menuju lantai dasar gedung. Sampai di lobi perusahaan, Rafan melihat Arman yang sudah berdiri di dekat pintu.
Mengangguk kecil saat berpapasan beberapa karyawan yang melewatinya, Rafan berusaha bersikap ramah. Pria itu mendekati Arman dengan senyum yang mengembang.
"Silahkan Tuan!"
Arman mengayunkan tangan mempersilahkan Rafan berjalan lebih dulu. Melangkah tepat di belakang Rafan menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sudah terparkir di depan pintu.
Arman membuka pintu belakang mobil namun di tahan dan ditutup kembali oleh Rafan. Dahi Arman berkerut samar melihat tindakan Rafan. Lipatan di dahi Arman semakin banyak saat melihat tangan Rafan menengadah ke arahnya.
"Kunci mobilnya! Aku mau menyetir sendiri."
Rafan menggoyangkan tangan sebagai isyarat karena Arman hanya diam terpaku. Arman mengangguk lalu memberikan kunci mobil seraya membungkuk.
"Silahkan Tuan, hati-hati di jalan."
Rafan masuk ke dalam mobil lalu melajukan nya dengan riang. Sesekali bibirnya bersenandung mengiringi perjalanannya untuk bertemu sang pujaan hati yang sudah sangat dia rindukan.
***
"Bu-buat apa Tuan kemari?" Meski sudah berusaha tenang, tetap saja suaranya bergetar karena gugup. Pria di depannya tersenyum sebelum menjawab.
__ADS_1
"Menepati janji yang aku buat tiga bulan yang lalu."
Menjeda kalimat karena ingin menikmati ekspresi terkejut milik Alsava.
"Mari kita menikah!" lanjut pria itu. Mata Alsava melotot karena kaget mendengarnya.
Beruntung bagi Rafan karena belum lama sampai di kontrakan Alsava, gadis itu sudah ada di hadapannya sekarang. Senyum Rafan terus berkembang sejak tadi, hatinya dipenuhi bunga-bunga bisa melihat pujaan hatinya yang entah kenapa terlihat sangat cantik baginya.
"Jangan bercanda Tuan."
Alsava tersenyum kecil seraya menggeleng, masih ingat dengan wanita hamil yang kemungkinan istrinya Rafan waktu itu. Alsava melangkah melewati Rafan untuk membuka kunci pintu. Gadis itu membuka daun pintu dengan lebar memberi isyarat agar Rafan ikut masuk ke dalam.
Tentu Rafan membaca dengan baik isyarat itu. Pria itu duduk bersila tanpa canggung di samping Alsava yang sudah lebih dulu berada di sana. Sudah terhidang dua gelas air putih di hadapan Rafan. Tanpa menunggu dipersilahkan, pria itu meminum habis satu gelas air putih yang terhidang membuat Alsava tersenyum melihatnya.
"Apa Tuan begitu kehausan?" sindir Alsava seraya meminum air di gelas satunya lagi dan menyisakan separuhnya.
Rafan menghela napas lalu menatap lurus gadis di depannya dengan tatapan serius membuat senyum Alsava surut.
"Aku serius dengan ajakan ku tadi," ucap Rafan datar terdengar kaku.
Alsava mengerjapkan matanya beberapa kali, berfikir jawaban apa yang harus dia berikan. Meski merasa bahagia, hatinya juga ingin berkata 'ya', tapi otaknya langsung ingat pada wanita hamil yang dia temui beberapa bulan lalu.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan dilamar dengan cara seperti ini. Lamaran spontan di depan kamar kontrakan tiga petak untuk jadi istri kedua. Duh, kalimatnya kenapa jadi mirip judul FTV yang suka di tonton ibu pemilik kontrakan.
"Va!"
Panggilan itu membuat Alsava tersadar dan menatap Rafan dengan alis terangkat, otaknya mendadak kosong hingga dia hanya menatap lugu pada Rafan.
"Kalau kamu menolak, aku akan menagih bunga pinjamannya hari ini."
Karena putus asa melihat respon Alsava yang hanya diam, Rafan sampai harus menggunakan alasan ini untuk mengikat Alsava.
"Hey Tuan tidak bisa sembarangan begitu dong!" pekik Alsava tidak terima.
Bayangan hal romantis menguap begitu saja dari otaknya saat kalimat 'menagih bunga pinjaman' terlontar dari Rafan. Alsava mendengus seraya memalingkan wajah.
"Ternyata Tuan sama saja dengan rentenir di kampung saya."
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Rafan dengan dahi berkerut.
"Suka memaksa orang menikah demi membayar hutang," cibir Alsava merendahkan.
Rafan berdiri dengan tergesa karena tersinggung, napasnya tiba-tiba memburu lalu menatap tajam Alsava yang masih menunjukkan ekspresi yang menyebalkan.
"Kenapa Tuan tersinggung?" tanya Alsava seraya ikut berdiri.
Merapihkan pakaiannya sebentar lalu dengan berani menatap balik manik coklat milik Rafan. Kesalahpahaman semakin tercipta diantara keduanya.
Untuk beberapa saat mereka saling tatap dengan ekspresi berbeda. Wajah Rafan memerah karena menahan marah. Berbeda dengan Alsava, wajahnya memerah karena tersipu.
Manik coklat milik Rafan membuat jiwanya terhanyut kembali membayangkan hal-hal berbau romantis dan adegan-adegan dewasa seperti ciuman yang bergelora akan terjadi sebentar lagi. Dada Alsava berdetak cepat saat Rafan mulai mengikis jarak. Tangan Alsava mencengkram erat ujung baju yang dia kenakan.
Menahan napas saat jarak keduanya semakin dekat. Alsava menelan ludahnya berat dengan telapak tangan yang mulai berkeringat dingin. Otaknya sudah memperkirakan kejadian apa yang akan sebentar lagi terjadi.
Kepala Rafan semakin mendekat, Alsava bahkan bisa merasakan hembusan napas Rafan yang kini menerpa pipinya dengan lembut, Alsava menutup mata dengan suka rela.
"Kalau begitu, bayar bunga pinjaman dengan bekerja di rumahku."
Bisikan Rafan di telinga Alsava membuyarkan semua khayalan yang membuat dadanya berdebar sejak tadi. Rafan menarik wajah lalu kembali membuat jarak diantara keduanya. Bisa ia lihat dengan jelas sorot mata Alsava yang kecewa sekaligus marah.
Entahlah, sebenarnya bibir Rafan sudah berkedut menahan tawa. Tapi dia harus berusaha keras mempertahankan ekspresi datar di wajahnya agar bisa melanjutkan rencana mengerjai Alsava.
"Bagaimana?" tantang Rafan dengan angkuh.
"Baiklah, minggu depan kontrak kerja saya habis di restoran cepat saji. Setelah itu saya akan bekerja di rumah Tuan sampai bunga pinjamannya lunas." Berucap datar dengan tatapan serius.
Hati Alsava kecewa karena sempat berfikir kalau kalimat lamaran yang dilontarkan Rafan serius. Gadis itu merutuki dirinya sendiri karena sudah berharap terlalu tinggi. Meski sempat menyindir bahwa Rafan sama dengan rentenir di kampungnya, namun jauh di lubuk hati Alsava, dia ingin sekali dibujuk dan diperjuangkan.
Dia sejenak lupa jarak yang terbentang jauh diantara Rafan dan dirinya. Gadis sepertinya sudah barang tentu hanya layak jadi pelayan di rumah Rafan, bukan sebagai pendamping calon penerus perusahaan seperti pria itu.
Kamu berharap apa Va? Pria di depan mu ini bahkan sudah punya istri dan anak.
"Baik, aku tunggu satu minggu lagi kedatangan mu di rumah."
Setelah mengatakan itu, Rafan pergi meninggalkan Alsava dengan hati yang menganga kecewa. Bahu gadis itu merosot lesu sambil menatap sendu punggung Rafan yang menjauh. Alsava tidak tahu saja kalau Rafan sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat gadis itu terkejut.
__ADS_1
"Tunggu saja satu minggu lagi wahai gadis pembuat onar," gumam Rafan dengan senyum mengembang di bibirnya.