
Rafan menyingkab gorden jendela kamarnya, suasana di luar kamar masih gelap dengan beberapa lampu taman yang masih menyala. Pria itu menghela napas lalu memasukkan tangan ke dalam saku celana.
Seperti hari-hari sebelumnya pagi ini pun dia terbangun jam lima pagi. Ah tidak, hari ini malah lebih pagi lagi, dia terbangun jam empat tiga puluh pagi saat suara-suara aneh entah dari mana berkumandang saling bersahutan.
Pria itu menyipitkan mata melihat beberapa orang yang berjalan beriringan melintas di depan rumahnya. Suara derit pintu gerbang dari rumah Rafan membuat alis pria itu mengeryit.
Ada pemuda yang keluar dari gerbang rumahnya lalu ikut bergabung bersama rombongan pria berbaju koko dan memakai sarung entah menuju kemana.
Sejenak Rafan merenung, pemandangan seperti ini familiar baginya. Setelah terdiam sejenak ingatan tentang pemandangan seperti ini dia dapatkan. Hal ini sering dia lihat saat berada di kampung Alsava.
"Mereka mau sholat ke masjid," gumam Rafan pelan. Sekali lagi menghela napas lalu memutuskan duduk di pinggir ranjang.
Rafan jadi ingat saat masih di kampung Alsava, dia sering minta diajarkan sholat pada Alsava agar bisa ikut berangkat ke masjid seperti para pria di kampung. Namun Alsava selalu beralasan kalau akan sulit karena kondisi kaki Rafan yang masih belum bisa bergerak normal.
"Apa dia menganggap aku bukan muslim?" tanya Rafan pada diri sendiri.
Pria itu bangkit berdiri mengayun langkah keluar kamar dan masuk ke dalam ruangan kerja miliknya. Rafan membuka satu persatu laci di meja kerjanya berharap bisa menemukan kartu identitas penduduknya.
Dia juga sebenarnya penasaran tentang agama yang dia anut selama ini. Pria itu terus mencari hingga beberapa laci isinya sudah tidak rapih bahkan ada yang terburai sebagian keluar.
"Tuan Rafan sedang mencari apa?"
Pertanyaan bi Asih membuat tubuh Rafan yang sedang membungkuk terlonjak kaget langsung berdiri dengan kaku. Tidak memperkirakan kehadiran bi Asih yang tiba-tiba.
"Sejak kapan Bibi ada di sini?" tanya Rafan dengan cepat menyorot keberadaan bi Asih di ambang pintu yang terbuka, karena terburu-buru Rafan sampai tidak menutup kembali pintu saat sudah masuk tadi.
"Apa Tuan bergadang semalaman dan tertidur di ruang kerja?" tanya bi Asih seraya masuk dengan perlahan.
Sebenarnya wanita paruh baya itu berniat membersihkan ruangan ini. Itu adalah rutinitas setiap pagi untuknya, tidak menyangka bisa bertemu dengan Rafan di ruang kerjanya di waktu pagi buta begini.
"Aku tidak begadang Bi, hanya terbangun lebih pagi dan mau mencari sesuatu," jawab Rafan tanpa menoleh karena sekarang sudah kembali membungkuk mencari sesatu di laci meja paling bawah.
"Mencari apa Tuan? Apa bisa bibi bantu?"
Pertanyaan bi Asih membuat Rafan kembali menegakkan badan lalu menoleh dan menatap bi Asih dengan tersenyum.
"Boleh Bi, sini cepat bantu aku menemukan kartu identitas kependudukan milik ku." Bi Asih mendekat lalu ikut mencari benda kotak pipih kecil tersebut.
Setelah beberapa waktu mencari di seluruh sudut ruangan, ternyata benda itu tidak ditemukan. Bahkan bi Asih saja yang sudah sering membersihkan ruangan ini, cukup kualahan karena Rafan terus saja mendesak untuk menemukan KTP miliknya.
"Untuk apa Tuan mencari itu?"
__ADS_1
"Aku cuma mau tahu agama yang aku anut."
Jawaban polos Rafan soktak membuat bi Asih mengulum senyum merasa geli dengan tingkah majikannya ini.
"Keluarga Dizhwar itu masih ada keturunan dari timur tengah Tuan. Hanya saja mendiang ibu Tuan seorang wanita indonesia asli yang berkulit sawo matang, sama seperti warna kulit yang Tuan miliki."
Sampai detik ini Rafan belum mengerti arah pembicaraan, dia hanya ingin menemukan KTP bukan mau mendengar silsilah keluarganya. Ah, dia jadi lupa kalau sekarang sedang berpura-pura mengingat kembali semua ingatannya, dan dengan kondisi itu seharusnya Rafan bisa mengingat agama yang dia anut bukan?
Rafan menggigit ujung lidahnya sendiri merasa bingung karena sudah gegabah dalam bertindak. Bukan karena tidak mempercayai bi Asih. Hanya tidak mau sampai bi Asih membocorkan hal ini pada paman Yo.
"Tuan terlahir muslim karena kedua orang tua dan para pendahulu Tuan juga muslim."
Informasi penutup dari bi Asih membuat Rafan sedikit lega lalu berpura-pura tidak merasa gugup, jujur saja dia merasa takut bi Asih bisa membaca kalau sebenarnya Rafan masih hilang ingatan.
"Kalau masalah KTP Tuan... Nampaknya saat kecelakaan itu terjadi benda itu hilang entah kemana," ucap bi Asih berusaha menjelaskan karena Rafan masih diam dan tidak memberi respon tentang informasi yang dia sampaikan.
"Baiklah Bi, terima kasih. Oh ya maaf merepotkan karena pekerjaan membersihkan ruangan ini jadi bertambah banyak."
"Tidak usah sungkan Tuan."
Bi Asih membungkukkan sedikit badan memberi hormat saat Rafan berjalan melewatinya keluar dari ruangan.
Pria itu memutuskan kembali ke dalam kamar pribadinya. Duduk di pinggir ranjang lalu meraih ponsel di atas nakas. Mencari nomor seseorang lalu melakukan panggilan.
Hanya kalimat itu yang dia ucapkan setelah telepon tersambung dan langsung mematikannya sebelum orang yang dihubungi memberi respon.
Rafan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar lalu menghela napas. Semalam tubuhnya sangat lelah setelah menjalani drama percintaan yang cukup menyedihkan. Tapi entah kenapa meski harus kehilangan tunangan secantik Alexi hati Rafan malah terasa lega.
Seolah satu beban telah terangkat dari pundak yang membuat bebannya sedikit berkurang. Alexi sempat menanyakan tentang ingatannya apa sudah kembali, dan Rafan menjawab dengan yakin dengan kata 'sudah'.
Memilih berbohong agar Alexi berhenti mengharapkan cintanya dan menerima Rangga yang terlihat tulus pada wanita itu.
Menurut informasi yang Arman berikan, ada kemungkinan Alexi dan Rangga berselingkuh hingga menghasilkan janin yang sedang Alexi kandung. Rafan sebenarnya tidak memiliki bukti yang cukup untuk memastikan semuanya, dia hanya menduga dan asal bicara.
Tapi ternyata baik Alexi dan semua orang kecuali ayahnya mengakui kebenaran kalau janin itu bukan miliknya.
Rafan akhirnya harus berpura-pura mengingat semua memori yang hilang demi mengelabui semua orang dan mengungkap alasan kecelakaan yang dia alami.
Saat masih tenggelam dalam lamunan, suara ketukan pintu membuat Rafan sadar sepenuhnya ada misi lain selain mengungkap kecelakaan yang dialaminya.
"Masuk!"
__ADS_1
Rafan membuka pintu sedikit lebar lalu mempersilahkan pria yang masih mengenakan baju koko dan sarung itu masuk.
"Tutup kembali pintunya!" Pria bersarung itu mengangguk lalu berbalik dan menutup pintu.
"Arman, jadi bagaimana perkembangan dari penyelidikan yang kamu lakukan?"
Arman mengangguk lalu menelan ludah bersiap menjelaskan temuan hasil penyelidikannya kemarin.
"Tapi sebelum itu, tolong cari orang yang bisa ajarin aku sholat dan ngaji." Bibir Arman yang sempat terbuka kini mengatup rapat kembali. Pria itu masih diam tidak merespon ucapan Rafan. Jujur dia sendiri bingung bagaimana dia harus merespon ucapan atasannya ini.
Jauh lebih bingung karena harus menimbang informasi mana yang harus dia sampaikan lebih dulu.
"Jawab Man!"
Tubuh Arman terlonjak saat mendengar pekikan Rafan dengan nada tinggi, rupanya Rafan hilang kesabaran karena Arman hanya diam sejak tadi.
"Maaf Tuan, mana dulu yang harus saya jawab?" Rafan mendengus tidak suka lalu berdecak sebelum berkata.
"Ya sudah jelaskan dulu perkembangan penyelidikanmu. Dan untuk permintaan ku tolong kamu carikan saja tanpa harus mendebat."
Arman mengangguk lalu mulai menjelaskan temuan hasil penyelidikannya tentang hal yang Rafan ingin sekali tahu. Keduanya berbincang cukup lama hingga melewati jam makan pagi, hal itu membuat paman Yo sedikit penasaran karena Rafan tidak turun dan ikut sarapan bersama.
***
"Selamat pagi!"
Alsava terlonjak dengan teriakan Asep di depan pintu kontrakannya, meski mencibir namun bibirnya mengulas senyum yang cukup manis melihat kehadiran sahabatnya dengan sekotak donat yang cukup mahal dan ada beberapa lilin yang dinyalakan di atasnya.
"Selamat bertambah tua Va, semoga panjang umur. Make a wish!"
Asep menyodorkan sekotak donat yang dia pegang agar lebih dekat ke arah Alsava, gadis itu terdiam beberapa saat merapalkan doa dalam hati, lalu meniup lilin dengan wajah yang cerah.
"Makasih banyak Sep!" ucap Alsava tulus dengan mata berkaca-kaca.
"Hey.. jangan ada lagi air mata oke?" Asep menyeka air mata di pipi Alsava dengan lembut, Alsava mengangguk dan tersenyum tipis.
"Bagaimana kabar pria itu?" tanya Asep setelah duduk selonjoran di depan pintu kontrakan Alsava. Gadis itu menggeleng pelan lalu meletakkan kotak donat di lantai tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Dia sudah kembali pada kehidupan dan keluarganya. Mmm.. sudah kembali pada istri dan anaknya," ucap Alsava murung dengan kepala menunduk.
"Apa? jadi.. dia sudah menikah, lalu pernikahan kalian?"
__ADS_1
"Siapa yang sudah menikah?" Keduanya terlonjak kaget lalu menoleh cepat ke sumber suara dengan wajah yang sama pucat.