Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Tiga puluh delapan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari restoran cepat saji ke rumah sakit Rafan kembali diam, begitu pun dengan Alexi. Wanita itu sempat bertanya kenapa Rafan menanyakan hal yang terlalu sensitif menyangkut pelayan restoran yang sudah menumpahkan minuman di gaunnya.


Rafan sendiri kaget dengan dirinya yang lepas kendali tadi. Setelah menjawab 'tidak apa-apa' pria itu kembali diam. Alexi hanya menghela napas saja tidak mau membuat Rafan kesal karena dia terlalu cerewet.


Karena insiden tadi, tentu mereka tidak jadi makan dan langsung berangkat ke rumah sakit sesuai permintaan Rafan. Meski harus menahan lapar Alexi pun mengikuti kemauan Rafan.


Hatinya sedikit menghangat melihat Rafan yang sejak tadi menekuk wajahnya, dia berfikir kekesalan yang sedang Rafan rasakan karena pria itu mengkhawatirkan dirinya seperti dulu. Bibir Alexi berkedut menahan tawa saat pikiran tidak berdasar itu melintas.


Mendengar suara gelak yang di tahan, Rafan menolehkan pandangan yang semula menatap pemandangan di balik jendela mobil ke wajah Alexi. Pria itu mengangkat satu alis matanya, bertanya dengan isyarat apa yang membuat Alexi seolah merasa geli?


"Sayang muka kamu lucu." Tawa Alexi berderai setelah mengutarakan isi hatinya. Semetara Rafan hanya menatap datar wanita hamil di depannya, membiarkan Alexi melakukan apa yang dia mau.


Rafan kembali menatap pemandangan di balik jendela mobil. Pria itu menghela napas memikirkan alasan dirinya yang sudah lepas kendali.


Bisa-bisanya aku masih nggak rela orang lain deket sama gadis pembohong itu. Hah! Aku bukan siapa-siapa nya gadis itu!


Batin Rafan berperang sendiri, pria itu memijat pelan pelipisnya berusaha menghilangkan rasa penat yang tiba-tiba mendera. Melihat Rafan yang tidak menanggapi candaannya membuat Alexi sedikit kikuk dan canggung.


Wanita hamil itu beringsut mendekat merapatkan tubuh dengan Rafan hingga sama sekali tidak berjarak. Dengan manja menyandarkan kepala di pundak Rafan. Mengelus lembut perut buncitnya yang teras lapar.


"Kamu lapar ya sayang? hmm.. Nanti kita makan ya, sabar papanya lagi ngambek tuh!"


Perkataan Alexi yang mengajak bicara bayi dalam perutnya, tentu sengaja dibuat dengan suara lantang membuat Rafan menoleh dan mengerutkan dahinya. Alexi tersenyum senang saat Rafan terpancing dan mulai memperhatikannya.


"Kamu lapar?"


Melontarkan pertanyaan basa basi padahal sebenarnya Rafan terusik dengan kata 'papa' yang ditujukan padanya saat Alexi berbicara dengan bayinya.


Aku papanya? Huh, bercanda!


Teriakan penolakan itu hanya mampu terucap dalam hati. Rafan menghela napas dan berusaha sabar menghadapi wanita hamil yang ternyata bermuka tebal ini.


Kenapa Alexi terus menggiring opini bahwa janin dalam kandungannya itu anakku? Sementara aku sendiri meragukan hal itu. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu?


Rafan frustasi karena lagi-lagi hanya bisa berbicara dalam hati.


"Iya Papa, kami lapar."

__ADS_1


Alexi dengan sengaja menjawab dengan suara lembut mendayu. Berusaha semakin menarik Rafan masuk ke dalam drama yang dia buat. Dia akan tetap gigih sampai Rafan percaya kalau janin dalam kandungannya adalah anak Rafan.


Arman yang sedang mengemudi sampai ikut menoleh ke arah kursi belakang lewat kaca spion tengah, kebetulan Rafan juga sedang melihat ke sana sehingga mereka saling beradu pandang.


"Cari restoran terdekat Man!" titah Rafan dengan datar.


"Baik."


Arman mengangguk lalu membelokkan setir ke sebuah jalur restoran cepat saji yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


***


Sementara itu di restoran cepat saji tempat terjadinya tragedi tadi pagi, setelah kepergian Rafan dan Alexi semua berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang terpengaruh baik itu para karyawan maupun para punjung yang datang.


Kejadian seperti itu memang kerap kali terjadi meski tidak sering. Tapi ternyata kejadian tadi pagi cukup berdampak pada Alsava dan sedikit pada Betrand.


Manager restoran itu sempat bertanya-tanya kenapa suami dari wanita hamil tadi menanyakan hubungannya dengan Alsava? Apa terlihat jelas kalau dia menyukai gadis itu? Apa gestur tubuhnya mudah dibaca?


Aaaa! Betrand jadi malu sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya. Sejak tadi pria tampan itu selalu menyunggingkan senyum yang tampak malu-malu. Betrand terjebak dengan kesalahpahaman yang dia buat sendiri.


'Anak kita' dua kata itu yang terus berputar di kepalanya sejak tadi. Dia merasa bersalah pada Rafan dan wanita hamil yang mungkin adalah istrinya.


Dia merasa sudah memisahkan Rafan dari istri dan anaknya saat Alsava memanfaatkan keadaan Rafan empat bulan lalu. Merasa jadi orang yang paling jahat karena menyeret Rafan ke dalam hidupnya yang rumit hingga membuat pria itu terpisah dengan keluarganya.


"Seharusnya waktu itu aku laporkan Rafan ke polisi."


Sesal memang tiada guna. Baru sekarang Alsava bisa berfikir jernih, kalau empat bulan lalu mana ada fikiran melapor ke polisi, yang ada gadis itu merasa sedang diberi pertolongan dari semesta untuk menyelesaikan masalahnya.


Sekarang nasi sudah menjadi bubur tidak bisa dia ubah lagi. Jadi satu-satunya cara agar Alsava terbebas dari rasa bersalah yang menjerat adalah melunasi hutang pada Rafan secepatnya.


"Udah fokus kerja aja biar bisa lunasin hutang segera," gumam Alsava membulatkan tekadnya dalam hati.


***


"Selamat perkiraan dede bayinya laki-laki."


Seorang wanita berusia pertengahan tiga puluhan berucap dengan wajah berseri. Matanya fokus menatap layar di depannya sedangkan tangan kanannya memegang alat yang sedang tertempel di permukaan perut Alexi.

__ADS_1


Wajah Alexi berseri-seri lalu melempar pandangan ke arah Rafan yang duduk tidak jauh darinya. Rafan sejak tadi hanya diam dengan ekspresi datar. Tidak ada binar bahagia saat mendengar kabar baik yang diutarakan dokter kandungan tadi.


"Mau dengar detak jantung dede bayi?"


Meski bertanya tapi tanpa menunggu jawaban dokter itu melakukan hal hingga detak jantung janin terdengar cukup nyaring memenuhi ruangan. Wajah Alexi semakin cerah mendengar itu yang menandakan bayinya sehat dan berkembang dengan baik di rahimnya.


Sementara Rafan masih menampilkan ekspresi dingin.


Seorang perawat bertubuh mungil membantu Alexi merapihkan pakaian lalu membantu wanita hamil itu turun dari tempat tidur dan memapah Alexi duduk di kursi samping Rafan.


Walau pun melihat Alexi sedikit kepayahan namun Rafan tidak berniat untuk membantu. Hati dan fikiran nya masih tertinggal di restoran cepat saji bersama gadis bernama Alsava.


Entahlah, semakin kacau saja fikiran nya sekarang. Dia hanya bisa menghela napas kala mendengar ucapan dokter yang di depannya.


"Apa ada keluhan Bu?"


Alexi menggeleng dengan antusias, dokter itu mengangguk seraya tersenyum. Kepalanya menunduk dengan lincah tangan menuliskan resep vitamin untuk Alexi.


"Sehat-sehat ya, untuk trimester tiga harus sering di tengokin ya dede bayi nya Pak, biar dia tahu jalan lahir."


"Ah dokter!"


Alexi sudah tersipu dengan wajah yang bersemu begitu pun sang dokter yang tersenyum lebar setelah memberikan godaan. Sementara Rafan, pria itu sama sekali tidak terpengaruh dan masih mempertahankan ekspresi datarnya.


"Apa sudah selesai?" tanya Rafan menyela euforia yang dirasakan Alexi, wanita itu menatap Rafan lalu tersenyum tipis ke arah dokter.


"Pemeriksaannya sudah selesai, kembali lagi sesuai tanggal yang tertera ya Bu. Semoga sehat-sehat sampai lahiran. Di jaga istrinya ya Pak, terutama suasana hatinya agar dede bayi semakin sehat dan berkembang dengan baik," tutur dokter itu seraya menyalami Alexi dan Rafan bergantian. Dokter kandungan itu mengira sikap Rafan yang dingin sejak tadi karena suami istri di depannya sedang bertengkar.


Ah, lucunya.. dokter kandungan itu malah tersipu, salah paham saat melihat Alexi yang menggandeng mesra lengan Rafan yang sejak tadi terlihat dingin.


"Berhenti menggiring opini bahwa dia anakku!" Langkah Alexi terhenti, tubuhnya kaku saat mendengar ucapan pria yang sedang berjalan beriringan bersama menuju tempat mobil Rafan terparkir. Dengan takut menatap pria di sampingnya seraya menelan ludah dengan berat.


"Ra-rafan aku... "


Bola mata Alexi bergerak lincah dengan dada yang berdegup kencang.


Apa ingatan Rafan sudah kembali?

__ADS_1


__ADS_2