
"Kemana saja?"
Seorang ibu paruh baya mengenakan daster garis-garis berwarna abu-abu menghampiri Alsava setengah berlari di teras rumah.
"Ya ampun Va, kamu kurusan. Kemana aja selama ini ibu kangen." Senyum Alsava merekah mendapat sambutan hangat layaknya keluarga.
"Masuk-masuk!" Ibu paruh baya--istrinya pak Wiryo--membimbing Alsava masuk ke dalam rumah satu lantai yang sederhana namun cukup nyaman karena terlihat terawat.
"Tunggu di sini."
Alsava mengangguk membiarkan istrinya pak Wiryo masuk ke dalam rumah sementara dirinya duduk di ruang tamu.
Mata Alsava berkeliling meneliti setiap penjuru rumah, rumah pak Wiryo masih tetap sama masih terasa hangat dan nyaman. Alsava jadi ingat dulu pernah tinggal beberapa bulan di rumah ini tiga tahun yang lalu.
"Ibu cuma punya ini, ayo dicoba!"
Suara bu Wiryo menyadarkan Alsava dari lamunan. Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi sepiring cemilan kue basah dan satu cangkir teh manis yang masih mengepulkan asap.
"Maaf Bu, Sava merepotkan."
Bu Wiryo tersenyum dan duduk mendekat.
"Tidak repot Nak, ibu lagi nyambut putri ibu yang selama empat bulan ini menghilang entah kemana," sindirnya seraya merangkul pundak Alsava dan menggoyangkannya pelan.
Mata Alsava memanas, hatinya terasa penuh dengan rasa haru dan syukur. Wanita paruh baya ini memang selalu hangat, memperlakukan Alsava dengan baik dan tulus seperti seorang anak. Hal yang selama ini tidak dia dapatkan dari ibu tirinya di kampung.
"Kenapa nangis?"
Alsava tersedu dalam pelukan bu Wiryo yang hangat dan nyaman. Kalau sudah seperti ini dia jadi rindu sekali pada mendiang ibu kandungnya. Meski ditinggalkan dalam usia yang masih kecil, tapi dia masih ingat kenyamanan ini dan aroma tubuh ibu mirip seperti aroma tubuh bu Wiryo.
"Sava kangen, maaf baru bisa kesini Bu."
Akhirnya setelah beberapa saat menangis di pelukan bu Wiryo, Alsava sudah lebih tenang dan bisa berbicara dengan baik. Bu Wiryo memilih tidak bertanya lebih banyak kenapa Alsava bisa menangis seperti tadi. Keduanya pun larut dalam obrolan yang panjang dan tidak sebentar.
Mereka bercengkrama dengan asyik sampai lupa akan waktu. Alsava menoleh ke arah jendela, ternyata hari sudah sore dan dia sudah seharian berada di rumah pak Wiryo.
Setelah mengobrol panjang lebar, bu Wiryo tadi sempat mengajak Alsava memasak dan makan siang bersama. Ah, aktivitas layaknya seorang ibu dan putri yang begitu Alsava rindukan.
"Bapak paling pulang bentaran lagi."
Alsava mengangguk, membenahi posisi duduk lalu tersenyum ke arah bu Wiryo.
"Katanya ibu baru buka rumah makan? Sekarang siapa yang kelola Bu?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
Sebenarnya Alsava merasa sungkan bila harus meminta pekerjaan pada bapak dan ibu Wiryo yang selama ini sudah sangat baik padanya. Namun mau bagaimana lagi ini adalah salah satu usahanya untuk bisa mendapatkan pekerjaan agar bisa mencicil hutang.
__ADS_1
"Iya Alhamdulillah sudah satu bulanan kayaknya. Dikelola sama anak adik ibu. Dia lumayan jago ngurusin usaha rumah makan karena sebelumnya pernah jadi manager di salah satu restoran ternama, jadi ibu percaya. Ibu sekarang hanya sesekali memantau dan minta laporan saja."
Alsava mengangguk mendengarkan cerita bu Wiryo mengenai usaha barunya yang dikelola oleh keponakannya. Bu Wiryo juga menjelaskan kalau keponakannya itu masih lajang dan sedang mencari istri. Untuk informasi terakhir Alsava sempat tidak mengerti maksud dari bu Wiryo apa, tapi tetap saja Alsava dengarkan dengan cukup baik.
"Kamu gimana Va, apa sudah ada niat buat nikah?" Pertanyaan bu Wiryo yang tiba-tiba membuat Alsava hanya terdiam dengan bingung.
"Ah sudahlah jangan terlalu dipikirkan."
Bu Wiryo terkekeh melihat reaksi Alsava yang kebingungan dengan pertanyaannya.
"Maaf Bu, sebenarnya Sava malu tapi... Apa di rumah makan ibu ada lowongan pekerjaan buat Sava?"
Alsava menunduk malu, karena lagi-lagi dengan tidak tahu diri merepotkan keluarga Wiryo untuk meminta pekerjaan.
"Ya ampun Nak, kenapa nggak bilang dari tadi. Ibu fikir kamu sudah punya pekerjaan selama menghilang empat bulan ini."
Alsava menggeleng masih enggan menjelaskan apa yang dialaminya pada bu Wiryo.
"Sava pulang kampung."
Akhirnya hanya jawaban itu yang bisa Alsava berikan pada bu Wiryo sebagai alasan kenapa menghilang selama ini.
"Ya sudah nanti ibu tanya Bima dulu."
"Kapan kamu datang singkong?"
Alsava mendongak menatap pria paruh baya yang sedang tersenyum lebar menyerukan nama panggilannya bila Alsava melakukan kesalahan.
"Bapak."
Alsava menghambur kepelukan pak Wiryo yang masih berada di ambang pintu. Pria paruh baya ini sudah Alsava anggap sebagai pengganti mendiang bapak kandungnya sendiri. Pria tua asing yang sudah menyayanginya dengan tulus selama ini.
Bapak dan ibu Wiryo sebenarnya punya seorang putri, tapi sudah meninggal karena sakit enam tahun yang lalu. Itulah kenapa mereka bisa dengan tulus menyayangi Alsava karena menganggap dia sebagai pengganti putrinya, yang bisa mengisi sisi kosong dalam kehidupan keluarga mereka.
"Ayo kita masuk! Kamu harus jelasin ke Bapak kemana saja kamu selama ini."
Alsava hanya memberikan cengiran lebar khas dirinya saat digiring kembali ke dalam rumah oleh pak Wiryo.
***
Pagi-pagi sekali Rafan sudah bangun dari tidurnya. Langit di luar masih gelap dengan udara dingin yang menusuk kulit. Saat terbangun dia sempat linglung kenapa bisa berada di tempat asing dengan kasur yang empuk dan dimana Alsava?
Pemuda itu mendengus tidak suka saat lagi-lagi teringat gadis pembohong itu. Rafan beringsut turun dari pembaringan lalu mencuci muka di kamar mandi.
Mungkin karena sudah terbiasa bangun pagi sejak masih di kampung, matanya jadi sulit untuk terpejam lagi. Dulu saat di kampung, jam segini Alsava sudah bangun dan sibuk untuk menyiapkan dagangan atau bersiap pergi bekerja ke pasar.
__ADS_1
Rafan jadi ikut bangun pagi karena terusik oleh suara-suara yang ditimbulkan Alsava meski tidak pernah secara langsung dibangunkan.
Rafan mengacak rambutnya frustasi, kenapa lagi-lagi kehidupan di kampung yang dia ingat? Menghela napas kesal lalu menjatuhkan diri duduk di pinggir ranjang, melihat ke penjuru kamar lalu kembali menghela napas.
"Kenapa aku ngarasa ini bukan kehidupan yang aku punya?"
Hati Rafan kesal karena menyadari Alsava sudah sangat mempengaruhi kepribadian dan pola fikirnya selama ini, hingga isi kepalanya hanya tentang gadis itu dan kehidupan sedernana selama di kampung.
"Ini hanya masalah waktu," hibur Rafan seraya bangkit untuk pergi ke luar kamar.
Saat Rafan keluar kamar dia sempat berpapasan dengan seorang pelayan yang tampak kaget melihatnya sudah terbangun.
"Maafkan saya tuan muda, apa saya sangat ribut sampai mengganggu waktu istirahat anda?"
Gadis muda seumuran Alsava berdiri menunduk dengan sebuah alat kebersihan berada di tangannya.
Rafan lagi-lagi mendesah lelah, kenapa juga sampai membandingkan usia gadis di depannya dengan Alsava? Kenapa gadis itu terus yang ada di kepalanya? Batin Rafan mendesah kesal.
"Tidak papa, saya memang sudah terbiasa bangun pagi."
Memilih mengucapkan kalimat itu karena gadis pelayan di depannya terlihat sangat ketakutan sejak tadi.
Apa aku dulu semenyeramkan itu, sampe dia gemetar karena takut?
Rafan melanjutkan langkah menuju tangga dan berniat mengelilingi rumah mewah yang masih terasa asing buatnya. Sepeninggal Rafan, gadis pelayan itu baru bisa mengangkat kepala dan menatap nanar punggung majikannya dengan penuh tanda tanya.
"Terbiasa bangun pagi? Padahal dulu bangun jam 9 saja sudah sangat pagi buat tuan muda. Apa benar dia tuan muda Rafan? Nada bicaranya tidak searogan dulu." Bergumam sendiri sambil melanjutkan pekerjaan membersihkan rumah.
Rafan menyusuri setiap koridor rumah dan kembali berpapasan dengan beberapa pelayan yang menatapnya dengan tatapan heran, tapi kali ini Rafan abaikan.
Dia turun ke lantai dua menggunakan tangga lalu berhenti disebuah ruangan yang terdapat banyak botol minuman yang berjejer di sebuah lemari kaca.
Dahinya sempat merasa heran tentang kefungsian ruangan ini. Kakinya sudah akan melangkah untuk berbalik saat terdengar seperti benda jatuh tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan langkah pelan memilih mencari tahu benda apa itu.
"Bukankah kamu Rangga sepupuku?" bertanya seraya berjongkok di dekat tubuh Rangga yang tergeletak di lantai dengan mata sedikit terbuka.
"Hahahha... ternyata sepupuku yang tampan sudah kembali."
Rangga bangkit duduk lalu menepuk pelan pipi Rafan saat berkata, dia pun terkekeh di akhir kalimat, setelah sebelumnya cegukan. Aroma aneh yang menyengat menguar di indra penciuman Rafan hingga membuatnya mengapit hidung dengan dua jari tangan.
"Kenapa kamu kembali hah? Kenapa selalu mengambil semua yang aku perjuangkan?"
Suara Rangga kali ini melemah dan terdengar kesedihan yang mendalam. Setelah mengatakan itu Rangga kembali ambruk di lantai tidak sadarkan diri.
"Merebut yang kamu perjuangkan?" gumam Rafan yang mulai terusik dengan ucapan Rangga, pemuda itu masih berjongkok menatap Rangga dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1