
Sementara perdebatan panas terjadi di kediaman mewah Rafan, di belahan bumi lain di kota yang sama seorang gadis sedang duduk termenung di bangku panjang di depan gerobak bakso langganannya.
"Mang ujang, baso campurnya satu nggak pake saos tapi pake sambel!"
Tiba-tiba Asep datang dan langsung duduk di samping Alsava. Gadis itu mendongak dan melirik temannya sekilas lalu kembali menatap lurus jalan raya yang lumayan ramai di depannya.
"Tumben!"
Asep berkata sambil menyambut satu mangkok bakso yang di sodorkan oleh pak Ujang. Matanya berbinar sambil mengucapkan terima kasih, langsung memakan satu suapan bakso setelah meniupnya terlebih dahulu.
"Apanya yang tumben?"
Alsava menoleh ke arah Asep, bertanya maksud dari satu kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Ya tumben aja makan bakso di tanggal segini, terus suami kamu mana?" bertanya santai sambil terus makan, tanpa mengalihkan pandangan.
Alsava hanya meliriknya sekilas enggan menjawab. Pria itu masih khusyuk makan bakso, suap lalu kunyah kunyah telan, suap lagi kunyah kunyah telan. Begitu terus hingga Alsava menelan ludah tergiur dengan Bakso yang Asep makan.
"Mang ujang buatin yang sama kayak Asep!"
Asep mengangkat kepala menatap Alsava penuh tanya, kunyahannya melambat lalu minum air teh yang masih mengepulkan asap putih yang sudah terhidang di depannya.
"Dari tadi nongkrong belum makan?"
Alsava mengangguk sebagai jawaban, dahi Asep sempat berkerut samar. Asep masih melanjutkan makan hingga keduanya menghabiskan satu manggkok Bakso.
"Ada masalah?" tanya Asep setelah membasahi kerongkongannya dengan air teh panas yang terasa begitu nikmat.
Alsava menggeser mangkok di depannya lalu tatapannya kembali kosong menatap lurus ke depan. Gadis itu menghela napas lalu memilih menceritakan semua hal yang dia alami selama empat bulan terakhir pada Asep. Berharap bisa meringakan beban berat yang menghimpit dadanya.
***
"Terima kasih sudah menjaga Alexi selama aku menghilang. Sekarang tanggung jawab atas Alexi aku ambil alih."
Berucap tenang tidak tahu kalau sudah membuat lawan bicaranya sangat marah.
"Tapi,-"
"CUKUP!"
Alexi melerai perdebatan antara Rangga dan Rafan dengan suara yang sedikit meninggi hingga kedua pria itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Tolong jangan lagi berdebat, masalah aku harus bersama siapa nantinya bolehkan di bicarakan lagi nanti? Rafan mungkin butuh istirahat sekarang. Aku juga lelah dan ingin pulang."
Alexi menatap ibunya penuh harap lalu wanita paruh baya itu mengangguk menghampiri putrinya.
"Kita pulang ke rumah Nak," ucap bu Cathrine seraya memapah Alexi berjalan menuju pintu rumah.
Alexi memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya bukan tanpa alasan. Saat ini dia butuh ketenangan agar bisa berfikir jernih, yang tidak bisa dia dapatkan kalau pulang ke apartemen karena Rangga pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.
Pak Betrand yang menyadari kode istrinya langsung pamit dan menyusul anak dan istrinya dengan langkah lebar. Setelah Alexi dan kedua orang tuanya pergi, tinggallah kermpat orang yang masih terjebak dalam keheningan di ruang makan itu.
"Baiklah, kamu istirahat Rafan! Kamu juga Rangga, istirahatlah disini. Ini sudah cukup larut untuk berkendara."
Paman Yo mengayun langkah masuk ke dalam kamar yang selalu dia gunakan bila menginap di rumah Rafan. Rafan pun mengikuti langkah Paman masuk ke kamar pribadinya untuk beristirahat.
Tinggallah bibi Bela dan Rangga di meja makan itu.
Perlahan bibi Bela bangkit lalu duduk tepat di samping Rangga. Mengelus lembut lengan putra sulungnya berusaha meredupkan amarah yang masih terlihat menyala dari mata Rangga.
Rangga menoleh ke arah mamanya yang sedang tersenyum teduh di depannya, sungguh pemandangan yang membuat hatinya tenang.
"Mama lihat sendiri kan tadi? Alexi tidak pernah memikirkan perasaan Rangga setelah banyak hal yang aku lakukan untuknya."
"Mengapa Rangga harus jatuh cinta pada wanita seperti itu?" Bibi Bela masih mengelus lembut lengan putranya tanpa mengeluarkan suara. Sebagai ibu dia paham kalau yang dibutuhkan putranya sekarang hanyalah di dengarkan.
***
"Bagaimana Rangga Ma?" tanya paman Yo saat bibi Bela masuk ke dalam kamar, wanita paruh baya itu masih diam sampai duduk di pinggir ranjang samping suaminya.
"Papa berharapnya gimana?" tanya bibi Bela balik bertanya. Paman Yo menghela napas lalu beringsut berbaring di atas ranjang.
Bibi Bela menepuk pelan punggung tangan suaminya yang diletakkan di atas perut. Kalau papa khawatir sama Rangga kenapa ngambil keputusan yang tadi?"
Bibi Bela tahu bagaimana rasa sayang dan khawatir suaminya pada Rangga, tapi dia juga penasaran kenapa paman Yo mengambil keputusan yang akan membuat Rangga kesulitan. Paman Yo menghela napas pelan, pandangannya lurus menatap langit-langit kamar.
"Papa sudah salah menunjukkan rasa sayang pada Rangga hingga membuatnya salah paham selama ini. Papa hanya mencoba memperbaiki dan... membuat Rangga mengerti untuk tidak menginginkan apa yang sudah jadi milik Rafan."
Bibi Bela mengangguk paham dengan pemikiran suaminya, hanya saja dia takut putra sulungnya malah semakin salah paham dan membenci papanya sendiri.
"Kalau sayang dan khawatir tunjukkanlah! dan buat Rangga paham kalau dia tidak boleh menginginkan apa yang dimiliki Rafan sejak awal."
Bibi bela ikut berbaring dan memeluk suaminya dengan menyandarkan kepala di dada paman Yo. Berusaha memberikan dan menemukan kenyamanan secara bersamaan.
__ADS_1
"Apa boleh papa minta Mama ikut terlibat?" tanya paman Yo seraya mengeratkan pelukan.
"Selesaikanlah sendiri selayaknya pria sejati."
Mendengar itu Paman Yo mendesah panjang penuh drama hingga membuat istrinya memukul pelan dada suaminya.
***
"Jadi rencana kamu kedepannya apa Va?" tanya Asep yang entah kenapa terdengar riang di telinga Alsava setelah mendengar ceritanya. Gadis itu memicingkan mata penuh curiga.
"Kamu seneng aku jadi galau begini Sep?" todong Alsava curiga.
"Eng-enggak mana mungkin aku senang di atas penderitaan kamu Va,"
Elak Asep seraya mengibaskan telapak tangan dengan gerakan cepat. Alsava mendesah panjang berharap sesak itu bisa berkurang.
"Aku juga nggak tahu mau ngapain setelah ini."
"Loh nggak bisa gitu dong, kamu harus semangat Va, yang sudah berlalu ya sudah kan masa lalu."
Alsava mengangguk menyetujui ucapan Asep, dia menyesap teh panas miliknya yang masih tersisa setengah gelas.
"Jadi?" tanya Asep ragu tapi masih penasaran dengan jawaban Alsava.
"Besok mungkin mau ke rumah Bapak sama Ibu Wiryo, siapa tahu mereka ada kerjaan buat aku."
Asep mengangguk dan tidak lagi bertanya karena dia juga berharap Alsava segera mendapatkan pekerjaan dan bisa melupakan seseorang yang selama empat bulan ini selalu ada di samping gadis itu.
Angin malam berhembus menerpa tubuh keduanya membuat rambut Alsava sedikit bergoyang. Asep tersenyum tipis melihatnya, pria itu menatap sahabatnya dengan penuh kekaguman. Alsava adalah cerminan wanita kuat yang bisa membuat dunianya berwarna.
Semoga setelah ini kamu bisa menemukan kebahagiaan Va.
"Anterin aku pulang Sep!"
"Huhm... Oke."
Dengan semangat Asep bangkit lalu menghampiri sepeda motor matic yang baru lunas cicilannya bulan lalu. Sebenarnya kosan Alsava cukup dekat dari sini, lima belas menit akan sampai hanya dengan berjalan kaki.
Tapi semangatnya seolah terkuras habis pagi tadi, jadi Alsava merasa lemas hanya untuk berjalan pulang.
Akhirnya mereka berdua berboncengan pulang ke kosan Alsava, tapi sebelumnya Asep mengajak Alsava berkeliling menikmati suasana malam hari seraya membeli martabak coklat keju kesukaan Alsava, untuk sedikit menghibur sahabatnya itu.
__ADS_1