Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh enam


__ADS_3

"Arman kita berangkat sekarang!"


Kata perintah dengan nada tinggi membuat Arman menyemburkan kopi yang belum tertelan. Untung saja mang Diman sempat bergesar lebih jauh, jadi bisa selamat dari semburan Arman saat itu.


Supir Rafan yang merangkap jadi orang kepercayaannya itu berjalan tergopoh tanpa membereskan kekacauan yang dia buat, membuat mang Diman terpaksa mengerjakannya dengan terus menggerutu.


"Baik Tuan."


Arman mengerutkan dahi melihat Rafan yang langsung masuk ke dalam mobil tanpa proses perpisahan romantis dengan istrinya. Wajah Rafan juga terlihat kusut dan marah.


Arman menelan ludahnya berat lalu melirik ke arah pintu, di sana sang nyonya sedang berdiri termenung bersandar di daun pintu dengan mata yang berkaca-kaca.


Apa yang telah Nyonya lakukan sampai Tuan marah begini?


"Arman apa kamu tidak dengar?"


Tubuh Arman berjengit kaget, pemuda itu langsung berlari tergopoh masuk ke balik kemudi mobil. Sebelum benar-benar menyalakan mesin mobil, dia sempat melirik Rafan lewat kaca spion. Tercetak jelas kemarahan di wajah Rafan, ekspresi yang belum pernah tampak selama dua bulan terakhir, lebih tepatnya setelah menikah.


Padahal banyak kekacauan dan tingkah aneh yang dilakukan nyonya, tapi biasanya tuan tidak sampai marah. Dia malah tertawa melihat tingkah ajaib istrinya itu. Kenapa berbeda dengan sekarang? Apa yang dilakukan Nyonya kali ini sudah lewat batas kesabaran tuan? Berbagai pertanyaan muncul di benak Arman.


Mobil melaju pelan meninggalkan kediaman Dizhwar. Saat gerbang di tutup dan mobil sudah tidak terjangkau oleh penglihatan, Alsava luruh duduk di ambang pintu seraya tersedu. Suara tangis dari nyonya rumah tentu membuat para pelayan termasuk bi Asih dan mang Diman heboh karena khawatir.


"Nyonya kenapa?"


Bi Asih bertanya untuk pertama kali, wanita paruh baya itu melirik para pelayan meminta saran karena tangis Alsava belum reda dan tidak menjawab pertanyaannya.


Tangis Alsava malah tambah kencang membuat para pelayan berkumpul melihat dari radius aman, beberapa meter jangkauan.


"Apa Nyonya terluka?" Bi Asih berjalan mendekat lalu ikut bersimpuh di hadapan Alsava dan memindai seluruh anggota tubuh Alsava dengan teliti.


"Abang jahat Bi, masa aku cuma minta itu saja dia marah." Alsava menghambur ke pelukan bi Asih seraya merengek seperti anak kecil.


Bi asih melempar pandangan pada para pelayan untuk membubarkan diri. Ternyata hanya pertengkaran rumah tangga, gumam bi Asih dalam hati. Para pelayan pun menangkap isyarat dari bi Asih lalu segera membubarkan diri dan kembali mengerjakan tugas masing-masing.


Ini memang pertengkaran pertama antara majikannya setelah menikah, tapi bukankah pertengkaran adalah bumbu dalam hubungan rumah tangga?


Bi Asih jadi ingat kejadian saat sarapan tadi, Rafan yang biasanya selalu menempel pada Alsava tadi duduk agak berjarak dengan wajah di tekuk dan jadi lebih pendiam.


Ah, mereka lucu sekali. Bi Asih malah tersenyum kecil membayangkan pertengkaran antara Rafan dan Alsava.

__ADS_1


"Hmm.. Kalau boleh tahu Nyonya minta apa memangnya?"


Bi Asih dengan hati-hati bertanya. Alsava menghentikan sejenak tangisnya lalu menatap bi Asih dengan bingung. Bi Asih sampai mengangkat satu alis saat menunggu jawaban dari Alsava.


"Aku nggak mau abang marah Bi."


Menjawab dengan kalimat yang tidak berkaitan dengan pertanyaan. Bi Asih menghela napas lalu tersenyum manis.


"Ya sudah, Nyonya sekarang lebih baik istirahat saja dulu di kamar. Lalu nant pergi ke kantor tuan untuk mengantar makan siang, bagaimana?" Memberikan ide dan bertingkah seperti menemukan ide yang sangat brilian.


"Bibi yakin abang suka?" tanya Alsava sangsi.


"Tentu Nyonya, tidak ada suami yang tidak bahagia bila dapat kunjungan istri yang membawa bekal makan siang." Bi Asih tersenyum lebar berusaha meyakinkan Alsava dengan idenya tadi.


"Baiklah Bi, terima kasih. Oh ya.. Bisa sekalian dibuatkan makanannya?" Bi Asih terkekeh lalu mengangguk.


Alsava bangkit berdiri lalu berjalan riang masuk ke dalam kamar. Bi Asih menggeleng seraya menatap punggung Alsava yang menjauh, menghela napas karena merasa heran dengan perubahan suasana hati majikqnnya yang begitu cepat.


"Maaf Bi, ini struk belanjaan bulan ini."


Saat bi Asih akan berbalik menuju dapur, seorang pelayan wanita memanggilnya untuk menyerahkan struk belanjaan bulan ini beserta sisa uang kembalian. Bi Asih meraihnya lalu meneliti semua daftar belanjaan itu. Matanya membeliak pelan setelah membaca daftar hingga selesai.


"Kenapa Bi, apa ada barang yang belum kebeli?" tanya pelayan wanita itu karena melihat perubahan ekspresi bi Asih.


***


Rafan seharian mengurung diri di ruangannya, rapat yang sudah jauh hari dipersiapkan terpaksa dijadwalkan ulang karena suasana hati yang buruk. Rafan duduk dengan kepala bersandar di sandaran kursi, tangannya sedang memainkan bulpoin hingga menimbulkan bunyi 'jetek-jetek' terus menerus.


Pintu ruangan Rafan terbuka dan muncullan Rangga beserta sekretaris Rafan mengekor di helakang. Rafan mengangkat kepala lalu melemparkan bulpoin di atas meja sampai menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Sorot mata tajam dia layangkan pada sang sekretaris yang kini hanya menunduk takut. Seingatnya sudah memberikan perintah untuk tidak mau diganggu oleh siapa pun sekarang.


"Tidak usah memarahinya, aku yang maksa masuk."


"Ada apa?"


Rafan melirik Rangga lalu sekretarisnya, memberikan isyarat agar ditinggalkan berdua. Sekretatis Rafan menangkap isyarat yang diberikan, dia keluar dan menutup pintu dengan rapat.


Rafan bangkit lalu berpindah duduk di sofa panjang yangvtersedia di ruangan itu. Rangga pun mengikuti apa yang sepupunya lakukan tanpa canggung.

__ADS_1


Setelah pernikahan Rafan, hubungan yang sempat memanas akhirnya bisa terseleaaikan dengan baik dan kembali menjalin hubungan saudara yang harmonis. Rangga menyugar rambutnya ke belakang seraya menghela napas.


"Alexi hamil lagi."


"Selamat."


Rafan merespon dengan cepat tanpa rasa terkejut sampai Rangga mengerutkan dahi.


"Kamu sendiri kenapa kusut begitu?"


Rangga jadi lupa apa yang ingin dibicarakan dengan Rafan saat melihat ekspresi frustasi yang ditunjukkan sepupunya itu. Rafan menghela napas lalu menatap malas pada Rangga, dia sedang menimbang apakah akan bercerita atau tidak mengenai masalah rumah tangganya.


"Alsava minta pisah."


"Apa?"


Suara Rangga meninggi, menggema di seluruh sudut ruangan hingga terdengar oleh sekretaris Rafan yang duduk tepat di depan ruangannya.


***


Alsava berjalan riang di lobi perusahaan. Dia sudah diperkenalkan secara resmi sebagai istri Rafan, itulah kenapa seluruh karyawan sudah mengenalnya dan jalan menuju ruangan suaminya tentu tidak akan terhalang apapun.


Hanya sesekali berhenti menjawab sapaan karyawan yang berpapasan di lobi, depan lift dan di dalam lift saja. Saat pintu lift terbuka di lantai tempat ruangan Rafan berada, Alsava langsung melangkah keluar dengan hati yang berdebar dan senyum yang mengembang.


Mungkin benar kata bi Asih, kalau sesekali dia harus memberikan kejutan pada suaminya, supaya kemauannya bisa dengan mudah dituruti.


Sebuah rantang bekal makan siang Alsava dekap erat di dada. Sempat tertegun saat melewati meja sekretaris namun tidak menemukan penghuninya. Tanpa fikir panjang, Alsava membuka pintu ruangan kerja Rafan dengan riang.


"A-bang."


Sapaan Alsava menggantung di udara karena terkejut dengan situasi di dalam ruang kerja suaminya.


"Sa-sayang."


Suara Rafan tergagap saat menangkap sosok Alsava di ambang pintu. Dengan segera melangkah mendekat namun Alsava langsung beranjak, berjalan dengan cepat menuju lift.


"Va!"


"Stop di sana! Jangan pernah temuin aku lagi Bang." Alsava menutup pintu lift sebelum Rafan sempat masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Ya tuhan, apalagi sih ini?"


Rafan menyugar rambutnya frustasi lalu segera berlari menuruni tangga darurat.


__ADS_2