
Hari sudah berganti malam dan terangnya siang sudah berganti gelap sekarang. Malam ini cukup cerah dengan cahaya bulan purnama dan banyak kerlip bintang bertebaran. Angin malam berhembus pelan di luar rumah, menimbulkan suara gemerincik dedaunan yang bergoyang tertiup angin.
Di dalam ruangan yang cukup luas itu suasana tampak hening, bahkan suara napas dari ketujuh orang yang sedang duduk terdiam di ruangan pun tidak terdengar. Semuanya kompak diam dan termenung, terjebak dengan fikiran masing-masing.
Di sini hanya Alexi yang terlihat tegang sejak tadi, sementara yang lainnya masih terlihat tenang meski tenggelam dalam lamunan yang cukup panjang. Sejak dua puluh menit yang lalu tidak ada yang berani bersuara setelah mendengar keputusan yang Rafan berikan terkait masa depan Alexi dan bayi yang ada di kandungannya.
Sepulang dari rumah sakit Rafan membawa Alexi pulang ke rumahnya. Kebetulan saat sampai sudah ada kedua orang tua Alexi yang sedang berbincang dengan paman Yo beserta istri.
Merasa di situasi yang tepat, Rafan langsung memberitahukan keputusannya mengenai hubungan pertunangan dengan Alexi. Tentu setelah kehadiran Rangga yang datang setelah di telepon oleh paman Yo.
"Lexi."
Suara Rafan bagai oase di tengah gurun bagi Alexi yang sejak tadi gelisah menunggu Rafan berbicara.
"Ya?" jawab Alexi lirih meski terdengar cukup antusias.
"Menikahlah dengan Rangga."
"Tapi Raf-"
Ucapan Alexi menggantung di udara melihat Rafan mengangkat telapak tangan sebagai isyarat kalau dia belum selesai berbicara.
"Mulai malam ini pertunangan kita berakhir dan segeralah menikah dengan ayah dari bayi yang kamu kandung."
"Apa? Maksudnya bagaimana nak Rafan?" Ayah Alexi yang pertama kali bereaksi. Pria paruh baya itu tampak terkejut dan dengan tidak sabar mengajukan pertanyaan.
Sementara itu, tanpa disadari oleh semua orang Rangga menerbitkan senyum tipis di bibirnya. Merasa menang karena sebentar lagi akan memiliki Alexi seutuhnya. Sebenarnya Rangga sudah memprediksi ini semua, terlebih dia juga yang sudah memberi Rafan petunjuk kalau bayi yang Alexi kandung itu anaknya dengan sengaja, meski tidak diucapkan secara langsung.
Dia bermain pintar dengan menyuruh seseorang untuk memberikan petunjuk pada Arman, orang yang diam-diam Rafan minta untuk menyelidiki hubungannya dan Alexi selama pria itu menghilang.
Bu Cathrine yang melihat kegusaran sang suami langsung menggenggam tangan pak Antoni dengan erat, khawatir suaminya lepas kendali karena terkejut mendengar kebenaran mengenai identitas bayi yang Alexi kandung. Bu Cathrine tidak terkejut mendengar ini sekarang, karena sudah tahu lebih dulu dari Rangga saat pria itu datang melamar Alexi beberapa pekan lalu.
Waktu itu bu Cathrine memilih bungkam dan tidak menceritakan masalah ini pada suaminya, khawatir suaminya justru akan marah dan hilang fokus untuk memperjuangkan hak Alexi.
__ADS_1
Bagi bu Cathrine, entah dengan Rafan atau Rangga sama saja. Toh mereka dari keluarga yang sama dan otomatis Alexi akan mendapatkan status yang sama di keluarga Dizhwar.
"Pah, tenang dulu!"
Pak Antoni menatap heran istrinya yang menampilkan reaksi tenang setelah mendengar kebenaran yang sama sekali tidak terprediksi olehnya.
"Apa mamah tahu hal ini?"
Pak Antoni menatap wajah bu Cathrine penuh selidik. Seketika rasa kecewa menjalari hatinya kala melihat anggukan pelan dari istrinya. Pak Antoni mendengus kesal merasa dibodohi, dia lalu menatap tajam Alexi yang sedang menunduk dengan tangan saling meremas di atas pangkuan.
"Alexi, tolong jawab siapa ayah biologis bayi yang kamu kandung?"
Suara pak Antoni terdengar dingin, meski hatinya sudah diliputi amarah, pria itu berusaha keras untuk tidak menunjukkannya dengan menjaga intonasi serta nada bicaranya.
Melihat Alexi yang tetap bungkam, pak Antoni bisa menyimpulkan sendiri jawaban anak gadisnya itu. Selain merasa kecewa, pak Antoni juga merasa dipermalukan oleh tingkah Alexi. Bagaimana bisa Alexi hamil anaknya Rangga sementara dia adalah tunangannya Rafan? hubungan rumit apa yang putrinya jalani bersama dua saudara sepupu keluarga Dizhwar ini?
Pak Antoni mengurut pelan pelipisnya memikirkan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala. Pria paruh baya itu menghela napas panjang lalu menatap Alexi dan Rangga secara bergantian.
Pak Antoni kini menyoroti Rafan yang tampak tenang meski terlihat gurat kekecewaan dan kesedihan yang dapat terbaca meski samar oleh pak Antoni.
"Mewakili putriku, aku memohon maaf yang sangat besar padamu nak Rafan, dan... Yo, apa kamu merestui pernikahan ini?" Pak Antoni menatap paman Yo dan istrinya yang tampak tenang sejak tadi, raut wajah keduanya tenang bak air tanpa riak.
Paman Yo menatap istrinya sejenak, untuk meyakinkan diri. Bibi Bela mengangguk lalu tersenyum tipis seraya menggenggam tangan suaminya.
"Kami akan bertanggung jawab penuh atas pernikahan ini. Kami pun sebagai orang tua Rangga meminta maaf pada kalian Antoni dan Cathrine. Kami telah gagal mendidik putra kami."
Paman Yo menundukkan kepala, sementara Rangga menoleh cepat ke arah sang ayah saat mendengar namanya disebut. Dia merasa tidak terima dengan itu, dan berniat ingin melayangkan protes meski pada akhirnya dia telan kembali.
"Paman juga minta maaf pada mu Fan."
Rafan hanya mengangguk sebagai respon dari ucapan permintaan maaf paman Yo yang terdengar tulus. Paman Yo menatap Rangga cukup lama begitu pun sebaliknya, selama beberapa detik mata mereka bertubrukan dengan sorot mata yang berbeda.
Paman Yo menghela napas kasar lalu memutus kontak mata lebih dulu sebelum memusatkan perhatiannya kembali pada kedua orang tua Alexi dengan serius.
__ADS_1
"Dengan ini kami selaku orang tua Rangga melamar secara resmi Alexi untuk menjadi menantu kami."
Senyuman manis dan cukup lebar dengan serta merta terbit di wajah Rangga. Akhirnya semua usahanya tidak sia-sia. Pria itu menatap sepupunya--Rafan dengan tatapan mengejek, Rafan tidak menyadarinya karena kini Rafan sedang menunduk, terlihat sedih.
"Baiklah kami setu, -"
"Saya tidak setuju dan menolak lamaran ini."
Pak Antoni terkejut saat ucapannya di potong dengan kalimat penolakan Alexi. Pak Antoni dan bu Cathrine mendelik tajam pada Alexi. Tidak hanya kedua orang tuanya yang terkejut.
Melainkan Rafan, paman Yo beserta istri dan tentu saja Rangga. Mata Rangga menyorot tajam Alexi dengan bengis, senyuman sudah tidak nampak lagi dan berubah dengan wajah merah padam penuh amarah.
"Putri tidak tahu di untung! Apalagi yang kamu ributkan padahal sudah mempermalukan keluaraga!" Dengan tidak sabar pak Antoni meninggikan suaranya.
Mendengar itu, air mata Alexi semakin deras dengan kepala menunduk dan bahu bergetar naik turun.
"Aku minta maaf Papah, tapi aku mohon jangan nikahkan aku dengan Rangga."
Ucapan Alexi terbata karena berlomba dengan isakan. Pundaknya naik turun dengan kepala menunduk, tangannyasesekali menyeka air mata yang deras mengaliri pipi.
Alexi mengangkat kepala menatap Rafan yang kini menatapnya sendu.
"Rafan Maaf, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Jadi tolong jangan tinggalkan aku."
Suaranya parau dengan mata merah memelas berharap belas kasih dari Rafan. Sementara Rangga menatap tajam Alexi dengan napas yang mulai menderu. Kedua tangan itu mengepal di atas paha.
Rafan bergerak lalu duduk di samping Alexi, merengkuh tubuh Alexi dan menenggelamkan wanita itu dalam pelukannya. Merasa nyaman dengan pelukan Rafan tidak membuat tangis Alexi reda malah makin menjadi.
Tangan Rafan naik turun mengelus lembut punggung Alexi penuh pengertian.
"Maaf Lex, tapi aku pun ingin bahagia dengan orang yang aku cintai sekarang. Berbahagialah juga dengan Rangga, aku tahu dia tulus mencintaimu," bisik Rafan membuat Alexi mendongak mengangkat pandangan menatap wajah pria yang masih dicintainya.
"Fan, jadi kamu?"
__ADS_1