Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Tiga puluh tujuh


__ADS_3

Dengan kaki yang masih sesekali berdenyut nyeri, Rafan mengikuti kemana pun paman Yo pergi dalam gedung perusahaannya. Dari pagi sampai hampir jam makan siang, Rafan ikut sibuk mengikuti pertemuan dan memperhatikan pamannya bekerja.


Hari ini sepupunya Rangga juga menyapa dengan cukup ramah hingga membuat Rafan sedikit tercengang. Meski begitu, Rafan tetap menanggapi Rangga sewajarnya. Menutupi rasa tidak nyaman atas perubahan sikap Rangga yang tiba-tiba.


"Kapan kamu mau ke rumah sakit Fan?"


Paman Yo memalingkan wajah dari komputer lipat yang dia tekuni sejak tadi ke arah Rafan. Rafan yang duduk di sofa ruang kerja paman Yo tersenyum tipis.


"Habis jam makan siang Paman."


Paman Yo mangangguk lalu bangkit berdiri.


"Kalau begitu bagaimana... "


Belum sempat paman Yo menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan di pintu sudah mengalihkan perhatian keduanya.


Setelah mendapatkan ijin dari paman Yo akhirnya orang yang mengetuk pintu itu masuk. Memasang wajah ceria dengan senyuman yang lebar Alexi menyapa paman Yo dan Rafan dengan ramah.


Alexi duduk tepat di samping Rafan lalu bergelayut manja di lengan pria itu. Meski sedikit terkejut, namun Rafan berusaha menampilkan ekspresi tenang tidak terpengaruh dengan perlakuan Alexi.


Berbeda dengan paman Yo yang langsung mendengus seraya memalingkan wajah. Bukan karena tidak menyukai Alexi, hanya saja paman Yo merasa kesal pada wanita itu. Bagaimana bisa ada wanita yang tidak tahu malu seperti itu, dengan santai bermanja pada Rafan padahal saat ini sedang mengandung anak dari Rangga.


Sebenarnya lidah paman Yo sudah gatal ingin menceritakan perihal ini pada Rafan. Namun, dia ingin memberi kesempatan pada Rangga dan Alexi untuk mengakuinya dengan berani dan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah mereka berdua lakukan.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Pulangnya kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan kaki mu dan kita bisa sekalian nengokin dia." Alexi berceloteh riang seraya mengelus perutnya yang membuncit.


Entah kenapa meski sudah mengetahui faktanya kemarin sore, tapi Rafan selalu lemah saat Alexi melibatkan janin dalam perutnya. Hati Rafan menghangat dan tatapannya berubah lembut kala melihat perut buncit Alexi.


"Baiklah."


Rafan kembali menyerah pada rayuan wanita itu hingga membuat Alexi berseru senang.

__ADS_1


"Paman apa mau ikut kami makan siang?" ajak Rafan berbasa basi, Alexi sudah merubah ekspresi wajahnya mendengar ajakan Rafan pada paman Yo.


"Tidak usah mengajak paman, kalian pergilah!" tolak paman Yo dingin tanpa membalikkan badan yang memunggungi keduanya.


Rafan menghela napas, tadinya berharap pamannya akan memahami kode yang dia berikan kalau Rafan tidak ingin berduaan saja dengan Alexi. Tapi ternyata pamannya malah menolak dan membuat dirinya terpaksa harus mengikuti keinginan Alexi.


Selama perjalanan hanya Alexi yang aktif bercerita sementara Rafan diam dan sesekali bergumam sebagai tanggapan. Alexi bertekad akan menarik simpati Rafan dan membuat pria itu menikahinya dalam waktu dekat.


Urusan ingatan Rafan yang mungkin saja pulih akan dia pikirkan nanti. Sementara ini, misinya adalah membuat pria itu bersedia menikahi Alexi dalam waktu dekat sebelum ingatan Rafan pulih kembali. Selain untuk memberi status yang jelas untuk anak yang dikandungnya, Alexi juga butuh perlindungan Rafan agar terbebas dari Rangga.


Semoga saja berhasil dengan baik, begitu doa Alexi dalam hati.


"Kita makan di sini saja ya?"


Alexi memberi tahu Rafan sekaligus membuyarkan lamunan pria itu. Rafan mengalihkan pandangan menatap Alexi yang sebelumnya hanya menatap pemandangan di balik jendela.


Saat Arman dengan sigap membuka pintu di samping Rafan, kesadaran pria itu belum sepenuhnya pulih. Walau sempat tertegun sebentar, namun setelah itu segera turun dari mobil dengan segera disambut gelayutan manja dari Alexi.


Rafan menahan langkah keduanya tepat di depan pintu masuk restoran cepat saji. Mendengar nada bicara mengandung penolakan dari Rafan bibir Alexi mengerucut sebal.


"Aku udah ngidam makan ini dari dua hari lalu. Kasihan dia kalau sampai hari ini juga nggak jadi makan padahal sudah di depan pintu restorannya," rajuk Alexi kembali memanfaatkan keberadaan janin dalam kandungannya. Alexi memang tidak bohong mengenai ngidam makanan cepat saji ini karena memang betul begitu adanya.


"Ya sudah kalau memang dia yang mau, tapi jangan sering-sering ya. Makanan cepat saji nggak sehat dan nggak baik buat ibu hamil apalagi anaknya."


Kembali Rafan kalah oleh rajukan Alexi. Pria itu dengan sayang dan penuh kelembutan mengelus perut Alexi hingga membuat wanita itu terharu dengan hati yang menghangat.


"Baiklah kita masuk."


Alexi memimpin langkah membuka pintu kaca, dengan menggandeng tangan Rafan dia masuk dengan riang. Matanya liar mencari meja kosong, lalu setelah menemukannya langsung berjalan menghampiri dengan mata berbinar.


"Kamu tunggu di sini ya, biar aku aja yang pesen," ucap Alexi antusias membimbing Rafan duduk.

__ADS_1


"Loh, biar aku aja yang.. "


Belum sempat Rafan menyelesaikan kalimatnya, Alexi sudah melangkah menjauh menuju tempat pemesanan makan. Tapi baru saja Rafan menurunkan pandangan menatap ponsel, sudah terdengar pekikan Alexi yang menghardik seseorang dengan kata-kata yang terdengar kasar.


Dengan susah payah Rafan bangkit berdiri, lalu mengayun langkah menuju Alexi yang tampak sedang bersitegang dengan seorang pelayan restoran.


"Ada apa Lex?" tanya Rafan lembut berusaha memahami situasi. Alexi dengan segera menghampiri lalu bergelayut manja di lengannya.


"Pelayan tidak tahu diri ini menumpahkan minuman di gaunku, lihat kan jadi basah! untung saja minumannya dingin kalau panas bisa bahaya untuk anak kita," adu Alexi dengan nada manja dan mendayu. Rafan menghela napas mendengar Alexi menyebutkan kata 'anak kita' seolah sengaja memberi tahu dunia kalau dia sedang mengandung anak Rafan.


Dengan perlahan Rafan mengangkat pandangan menatap gadis pelayan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Deg.


Saat matanya bersirorok dengan mata gadis pelayan itu, hatinya berdesir dan bergetar dengan cukup kencang. Mata Rafan mengedip perlahan menikmati sorot mata bening yang dia rindukan. Tapi sedetik kemudian perasaannya berubah menjadi gelisah saat menyadari bola mata bening itu menatapnya dengan berkaca-kaca.


Tersirat kekecewaan dan rasa putus asa dari sorot mata gadis pelayan yang ternyata adalah Alsava. Rafan mengedipkan mata lalu memutuskan kontak mata diantara keduanya. Berusaha menatap benda apapun selain mata Alsava


"Kamu nggak papa Al?"


Tiba-tiba datang seorang pria jangkung dengan wajah tampan kulit bersih mengkilap menghampiri ketiganya. Sorot mata dan gestur pria tampan itu terlihat mengkhawatirkan Alsava dan hal itu membuat hati Rafan mendidih seketika.


Terlihat Alsava menunduk lalu menggeleng pelan. Pria bernama Betrand yang mengaku sebagai manager restoran itu memohon maaf kepada Rafan dan Alexi setelah meminta Alsava kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Aku tidak minta kalian mengganti gaunku, hanya saja mood ku untuk makan sudah hilang," keluh Alexi penuh drama tidak mau menerima permintaan maaf Betrand begitu saja.


"Sekali lagi kami memohon maaf kepada Ibu dan Bapak atas ketidak nyamanannya." Betrand membungkukan badan sebagai bentuk permohonan maaf.


"Ada hubungan apa anda dengan gadis pelayan tadi?"


Pertanyaan Rafan yang tiba-tiba dan tidak terprediksi oleh Betrand sebelumnya membuat pria itu mengangkat pandangan dan menatap terkejut pada Rafan. Sementara Rafan masih terlihat tenang menunggu jawaban dari Betrand.

__ADS_1


Tidak akan ku biarkan seorang pun mengkhawatirkan Alsava sebegitunya selain diriku, suaminya!


__ADS_2