Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh empat


__ADS_3

Rafan melepaskan jas lalu melemparkannya asal ke sebuah kursi di sudut ruangan, pria itu mengambil remot AC lalu mengatur suhunya agar tidak begitu dingin. Di ruangan yang sama, Alsava duduk dengan gelisah di pinggir ranjang melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh Rafan.


"Apa masih terlalu dingin?"


Rafan duduk di samping Alsava membuat gadis itu bergeser menjauh sambil mengeratkan selendang yang membalut tubuhnya. Rafan berusaha menarik ujung selendang itu namun Alsava memegangnya erat.


Rafan mengerutkan dahi merasakan tangan Alsava begitu kuat mempertahankan selendang itu.


"Apa masih sedingin itu?"


Pria itu dengan santai membuka semua kancing kemeja sampai dada dan perutnya terlihat. Dada Alsava berdesir lalu jantung terasa mau lompat dari tempatnya. Gadis itu sekali lagi bergeser perlahan dengan wajah berpaling ke samping.


Ya tuhan, tolong kuatkan hati hamba.


Rafan melepaskan kemeja dan meletakkannya di atas ranjang, masih sabar menunggu kata pertama yang akan Alsava ucapkan. Dia sejak tadi memang menantikan itu, sungguh Rafan heran setelah mereka menyelesaikan prosesi akad nikah, Alsava memang tidak banyak mengeluarkan suara.


Bahkan sekarang pun dia harus mengulang dua kali pertanyaan yang sama tapi masih belum dapat jawaban. Rafan menghela napas lalu menjatuhkan sebagian tubuhnya di atas tempat tidur dengan kaki yang masih menjutai.


Keduanya masih terperangkap kebisuan di dalam kamar itu. Belum ada yang mau memulai obrolan hanya sekedar memperjelas situasi dan rencana masa depan tentang pernikahan ini. Mereka semakin hanyut dalam kesalahpahaman yang tercipta. Rafan dengan cinta bertepuk sebelah tangan dan Alsava dengan pemikiran bunga pinjaman.


Di luar pesta sudah usai, para tamu sudah pulang dan menyisakan banyak pekerjaan untuk para pelayan kerjakan. Mungkin malam ini para pelayan harus bergadang untuk bekerja. Meski lelah, namun mereka ikut merasakan kebahagiaan atas pernikahan majikannya.


Begitu pun dengan paman Yo dan istrinya, meski tidak begitu menyetujui karena Rafan menikahi Alsava. Namun, sebagai keluarga, mereka ikut bahagia atas kebahagiaan yang Rafan rasakan. Tak lupa pasangan suami istri yang juga ikut menginap di salah satu kamar tamu di rumah itu, Rangga dan Alexi berkunjung di waktu yang tepat meski tidak mendapat undangan.


Yang membuat keduanya ikut menyaksikan pernikahan Rafan yang digelar sederhana hari ini. Rangga hanya bereaksi biasa saja menanggapi pernikahan ini, berbeda dengan Alexi yang merasa tidak nyaman. Jujur saja, hati kecilnya masih tidak rela melepas Rafan--pria baik yang dulu sangat mencintainya--bersanding dengan gadis yang bahkan tidak lebih baik dari dirinya.


Ya, harga diri Alexi terlukai karena Rafan malah menikahi gadis yang tidak sepadan dengan Alexi sebagai pendahulu dalam menempati hati Rafan. Meski begitu, dia tidak bisa berbuat banyak, apalagi dengan statusnya sekarang yang sudah menjadi istri dan seorang ibu.


Hubungannya baru saja membaik dengan Rangga, dan tentu tidak ingin kembali memburuk karena dia masih belum berdamai dengan masa lalu. Ada masa depan yang harus dia perjuangkan yaitu kebahagiaan putranya. Cukuplah menutup semua lembaran masa lalunya di sini, besok lembaran baru akan dia buka dengan suka cita.


Di sudut rumah mewah itu, masih terduduk diam seorang pemuda di temani pria paruh baya. Keduanya duduk berdampingan di pos penjagaan rumah. Ditemani dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap putih dan sepiring biskuit.


"Mang, menurutmu bagaimana dengan majikan baru kita?" tanya Arman sambil memalingkan wajah ke arah mang Diman yang semula menatap bulan di langit.

__ADS_1


"Ya nggak gimana-gimana," jawab mang Diman santai seraya menyesap kopi hitam miliknya lalu memakan biskuit, hanyut dalam rasa nikmat yang membuat lidahnya mengecap.


Arman memalingkan wajah menatap kembali bulan di langit, kini bintang pun jadi sasaran tatapannya. Masih terselip rasa tidak suka pada istri baru majikannya. Tentu Arman masih ingat cara istri majikannya mencoreng nama baik miliknya beberapa waktu lalu, dan hari ini dia malah dikatai tidak lalu juga.


Ah, kalau saja Arman bisa protes, dia akan jadi orang pertama yang menentang pernikahan ini. Sungguh dia tidak bisa membayangkan akan se repot apa bila harus melayani dan menghadapi istri majikannya itu. Belum apa-apa Arman sudah malas saja dibuatnya.


"Kenapa emang?"


Pertanyaan mang Diman membuat Arman menoleh menatap pria paruh baya di sampingnya.


"Nggak papa."


Memilih diam dan tidak menyuarakan isi hati, salah-salah dia bisa dipecat dari pekerjaan. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan karena rasa kesal pada istri majikan. Sudahlah toh aku bekerja pada tuan Rafan, tuan kan orang baik. Begitu kalimat penghiburan yang hatinya berikan dan ternyata bisa membuat dirinya sedikit tenang.


"Sudahlah masuk Man, bukannya besok masih harus kerja?"


Mang Diman beranjak berdiri setelah menghabiskan kopi hitam miliknya. Melakukan peregangan ringan dengan menolehkan badan ke kiri dan kanan, berusaha menghalau rasa pegal yang sejak tadi mendera.


"Ya Mang sebentar lagi."


Malam sudah mulai merangkak naik, namun dua manusia berbeda jenis kelamin di sebuah kamar masih betah dengan kebisuan dan kesunyian. Tubuh Alsava sudah kaku karena belum bergerak sejak tadi, sementara Rafan hatinya yang pegal karena Alsava masih belum mau mengeluarkan suara.


Rafan bangkit terduduk lalu bergeser dan memeluk Alsava dari belakang, menyandarkan dagu dengan nyaman di pundak Alsava. Tubuh Alsava menegang mendapat perlakuan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya sekarang.


Dulu, mereka sudah sering berpelukan seperti ini. Bahkan Alsava sendiri yang selalu mencari kehangatan dan kenyamanan di dada bidang milik Rafan. Dulu dia merasa nyaman karena menganggap Rafan sebagai pria biasa sama sepertinya.


Tapi sekarang, bagaimana mungkin Alsava bisa merasa nyaman? Selain karena strata sosial dan latar belakang keluarga mereka yang sangat jauh bak langit dan bumi, kenyataan bahwa dia hanya istri kedua membuat hati Alsava tidak bisa sepenuhnya merasa nyaman dan mensyukuri keadaan yang menurutnya aneh ini.


Aku seperti bermimpi yang sadar semua ini akan berakhir.


"Bicaralah Va, abang kangen dengar suara cerewet mu kayak dulu."


Rafan mengeratkan pelukan seraya membaui aroma tubuh Alsava yang selalu membuatnya tenang. Dia merasa kembali pulang, nyaman dan lega sama seperti yang selalu dia rasakan saat mereka berpelukan seperti ini di kampung Alsava dulu.

__ADS_1


"Maaf Tuan, kira-kira kapan bunga pinjaman saya lunas?"


Rafan mencebik lalu melepaskan Alsava dengan kesal. Alsava menelan ludah melihat perubahan raut wajah Rafan. Jelas saja pria itu marah, sudah sejak tadi menunggu Alsava bersuara tapi kalimat yang keluar dari mulut Alsava terus saja masalah hutang dan bunga.


Apa di otaknya hanya ada kata hutang dan bunga? merusak suasana saja!


"Tu-tuan maaf jangan marah dulu, saya hanya-"


"Aku suamimu bukan tuan mu!" Rafan memotong kalimat Alsava dengan nada ketus membuat wajah Alsava pias seketika.


"Panggil aku dengan benar. Panggil.. aku 'abang' kayak dulu." Intonasi suara Rafan sudah berubah lembut dengan nada yang pelan. Sebenarnya merasa malu karena masalah panggilan saja harus dia yang meminta.


Alsava mengerjap bingung awalnya, tapi dia berusaha tenang dan menguasai situasi. Gadis itu bergumam beberapa kali lalu membenahi posisi duduk agar menghadap Rafan sepenuhnya.


"Baiklah Bang, apa kita bisa memperjelas situasi yang sedang terjadi? jujur aku bingung kenapa sekarang malah duduk di sini dan berstatus sebagai istri."


Keberanian Alsava sudah kembali, gadis itu menatap Rafan dengan tenang tanpa gemetar seperti tadi. Cengkraman tangan di ujung selendang sudah mengendur begitu pun otot tubuh sudah sepenuhnya lentur dan tidak lagi kaku.


Rafan menyunggingkan senyum, merasa bahagia mendengar panggilan dan nada bicara Alsava yang sudah berubah akrab tak berjarak lagi sesuai keinginannya.


"Apa yang harus abang jelaskan Va?"


Dengan iseng malah balik bertanya, memancing Alsava untuk banyak bicara. Ah, Rafan sangat rindu pada Alsava yang cerewet seperti dulu. Alsava menghela napas lalu melayangkan tatapan tajam sebelum berkata.


"Yang pertama tolong jelaskan kenapa kita menikah padahal anakm masih bayi? Dan kedua, apa yang harus aku lakukan dengan pernikahan ini yang katanya sebagai pembayaran bunga pinjaman?"


Rafan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan pertama dari Alsava. Namun kemudian saat otaknya bisa menggabungkan potongan ingatan kalau Alsava sempat bertemu dengan Alexi yang sedang menggendong anaknya, Rafan jadi yakin kalau Alsava mengira Alexi adalah istrinya juga.


Huhm.. Dasar gadis pembuat onar! ternyata kamu tidak sepintar yang aku kira.


Senyum Rafan semakin lebar saat menemukan ide cemerlang untuk kembali mengerjai istrinya. Dia menggeser posisi duduk hingga menempel dengan tubuh Alsava. Pria itu mencondongkan kepala sampai bibir menempel di daun telinga istrinya.


"Menurut mu apa yang akan dilakukan pengantin baru di malam pertama?"

__ADS_1


Tubuh Alsava menegang mendengar bisikan Rafan di telinganya. Dengan berat gadis itu menelan ludah, kali ini otaknya sudah bekerja dengan cepat menampilkan semua hal tentang pengantin baru dan malam pertama.


Ya ampun,, tidakkk...!


__ADS_2