
"Mana jatah sewa motor aku?"
Baru saja Alsava mematikan mesin motor di depan rumah, suara Tedi yang menagih upah sewa motor sudah terdengar hingga membuat Alsava mencebik pura-pura kesal.
Dengan perlahan Alsava turun lalu membantu Roman turun dari motor seraya memapah suaminya. Setelah memastikan Roman sudah berdiri dengan baik bersandar pada salah satu penyangga rumah yang terbuat dari kayu, Alsava mengambil semua kantong kresek yang di gantung di depan motor. Memilahnya sebentar lalu memberikan dua kantong kresek berisi martabak dan empat bungkus bakso pada Tedi.
"Nih, sekalian buat orang rumah. Makasih ya pinjaman motornya! Jangan lupa besok antar kakak ke terminal bus."
Tedi menerima dua kantong kresek itu dengan mata berbinar. Namun saat mendengar kalimat terakhir Alsava, binar di mata Tedi meredup. Remaja itu kini menatap kakanya dengan sendu.
"Apa Kakak harus ke kota?" tanya Tedi dengan suara pelan.
Alsava menyunggingkan senyum lalu menepuk pelan lengan adiknya itu.
"Belajar yang rajin biar bisa jadi orang pintar dan dapat pekerjaan yang mapan. Biaya sekolah kamu akan Kakak transfer tiap bulan. Janji loh ya sekolah yang serius jangan pacaran mulu."
Memilih tidak menjawab pertanyaan Tedi dan menggantinya dengan kalimat panjang penuh nasehat. Setelah Bapak meninggal Alsava memang jadi lebih dengan dengan Tedi dari pada Dea dan bu Dewi. Mereka saling menyayangi sebagai seorang adik kakak.
"Oh iya Kakak masuk dulu, pulang gih udah malem!"
Senyum Alsava mengembang diakhir kalimat, memilih melarikan diri dari pada lebih lama menatap wajah sedih Tedi yang tidak mau ditinggal pergi ke kota.
Dengan tergesa membuka kunci rumah lalu masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Roman hanya menatap punggung Alsava yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Bang."
Roman menoleh ke arah Tedi yang kini sudah berada di hadapannya, mereka hanya berjarak dua langkah saja. Roman hanya bergumam sebagai jawaban.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa? Aku nggak punya uang Ted," jawab Roman agak takut bila diminta macam-macam oleh adik iparnya sementara dia tidak pegang uang. Roman tersenyum jahil melihat perubahan ekspresi wajah Tedi.
"Aku nggak butuh apapun, aku cuma mau titip Kak Sava. Semenjak Bapak meninggal Kak Sava berjuang seorang diri dan menderita. Tolong mulai sekarang buat dia bahagia."
Roman sedikit tertegun mendengar permintaan Tedi yang dia ucapkan dengan tulus. Roman menghela napas pelan lalu tersenyum tipis ke arah adik iparnya.
"Pasti, abang pasti jagain kakak kamu."
Semilir angin malam menerpa lembut wajah Tedi dan Roman, hadir sebagai saksi bisu perjanjian dua pria beda usia itu.
"Tedi bilang apa?" tanya Alsava saat Roman sudah masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi samping Alsava.
__ADS_1
"Urusan lelaki."
Alsava berdecih tidak suka mendengar jawaban suaminya itu. Roman hanya mengulum senyum merasa senang berhasil menggoda Alsava.
***
"Apa tidak ada yang tertinggal?" tanya Roman saat Alsava mengunci pintu rumah.
"Sudah semua kok," jawab Alsava.
Mata gadis itu memindai dua tas travel yang ditengteng di kedua tangannya. Satu tas punggung kecil juga melekat di punggungnya. Sementara Roman, pria itu tidak membawa apapun karena memang dilarang oleh Alsava mengingat kakinya yang belum sembuh total.
"Alsava."
Alsava mengangkat kepala lalu sedikit tersentak saat melihat beberapa tetangga berkumpul di depan rumahnya.
"Ada apa ibu-ibu?" gadis itu meletakkan kedua tas travel di tanah lalu melangkah mendekat ke arah ibu-ibu.
Begitu Alsava mendekat, bu Tini orang pertama yang merangkul dan memeluk Alsava lalu mengucapkan salam perpisahan. Setelah bu Tini, lalu ibu-ibu yang lain memeluknya secara bergantian. Mereka itu adalah para pelanggan setia Alsava baik saat berjualan makanan maupun saat menawarkan jasa. Hati Alsava menghangat mendapat perlakuan seperti ini.
"Kak?"
Alsava menoleh ke sumber suara, senyum yang sejak tadi tersungging surut saat melihat seseorang mendekat seraya menggendong bayi. Alsava menatap datar orang yang menghampirinya tanpa berniat mengeluarkan suara.
Dea menunduk merasa malu pada diri sendiri atas perlakuan jahatnya pada sang kakak yang masih saja peduli dan mau membantu saat dia berada di masa sulit.
"Aku juga minta maaf atas semua perilaku burukku." Semakin tertunduk saja kepala Dea.
"Dewasalah, sekarang ada anak yang jadi tanggung jawab kamu," tutur Alsava menasehati seraya menyentuh pipi halus anak Dea yang usianya baru genap satu bulan.
"Ayo kita berangkat!"
Alsava mengangkat kepala menatap Tedi yang sudah berdiri di samping Bahri, rupanya anak itu datang dengan angkot sewaan yang biasa disupiri oleh Bahri sebagai pekerjaannya dua minggu terakhir.
Alsava mengambil tas travel lalu mulai melangkah masuk ke dalam angkot, dari belakang Roman mengikuti dengan pelan dan sedikit tertatih. Gadis itu melambaikan tangan pada ibu-ibu yang masih belum beranjak saat mobil angkot bergerak perlahan.
"Kamu bolos sekolah Ted?" tanya Alsava pada Tedi yang duduk di samping Bahri, sementara dirinya dan Roman duduk di belakang.
"Hehe.. "
Bukannya menjawab Tedi malah cengengesan. Dasar anak itu, gumam Alsava dalam hati seraya menggeleng pelan.
__ADS_1
Beberapa puluh menit berlalu mereka akhirnya sampai di sebuah terminal, Alsava berpelukan dan berpamitan kembali dengan Tedi begitu pun yang Roman lakukan. Sementara dengan Bahri Alsava tidak banyak bicata hanya mengangguk dan tersenyum saja.
Alsava dan Roman akhirnya naik bus antar kota yang akan mengantarkan mereka ke kota besar, berharap nasib lebih baik akan segera menyapa. Selama perjalanan, Alsava yang duduk di samping jendela hanya diam seraya menatap pemandangan di balik jendela.
Sementara Roman memilih untuk tidur mengisi waktu perjalanan yang akan memakan enam sampai tujuh jam lamanya.
Saat terdiam begini, Alsava jadi ingat kejadian dua hari yang lalu.
Alsava yang baru pulang bekerja dari kedai bakso berjalan tergesa karena merasa diikuti oleh seseorang. Semenjak satu minggu terakhir dirinya pun merasa sedang diawasi. Dengan hati gelisah dan dada yang berdegub kencang, Alsava berusaha berfikiran positif dengan terus mempercepat langkah.
Hari masih sore, langit bahkan belum gelap. Tapi Alsava rasa suasana semakin mencekam apalagi jalanan yang dia lewati mendadak sepi. Biasanya di jam begini masih ada beberapa ibu dan anak yang sedang duduk di halaman rumah, tapi hari ini entah kenapa tidak ada satu orang pun di luar rumah.
Sampai di sebuah tikungan yang terdapat tanah kosong terbengkalai, ada yang menarik lengan Alsava dengan kuat lalu menyeretnya pergi ke sebuah pos kambling yang tidak jauh dari sana.
"Ka-kamu siapa?" tanya Alsava terbata, gadis itu sedikit gemetar sambil memeluk lengannya sendiri.
Kepala gadis itu menoleh ke kiri dan kanan berharap ada orang lewat yang bisa dimintai tolong.
Ya ampun kemana semua orang? Kenapa sepi banget hari ini?
Pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam lengkap dengan topi dan masker berwarna senada terlihat menatapnya penuh intimidasi membuat Alsava semakin gemetar kegakutan.
"Apa mau kamu? Aku hanya gadis miskin yang nggak punya uang." Sekuat tenaga Alsava menutupi kegugupannya saat berkata.
"Tolong kembalikan tuan muda Rafan kembali ke tempatnya."
Deg
Tiba-tiba jantung Alsava seperti berhenti berdetak, napasnya mendadak sesak mendengar ucapan pria di depannya. Suara pelan namun penuh penekanan membuat bulu kuduk Alsava berdiri.
Apa katanya tadi? tuan muda Rafan? Apa dia Roman, pria yang dia temukan malam itu? Pria yang sekarang jadi suaminya? batin Alsava berperang sendiri dengan banyak pertanyaan.
"Setelah sampai di kota hubungi nomor ini, kami akan menjemput tuan muda Rafan secepatnya."
Pria itu menyodorkan secarik kertas yang Alsava ambil dengan tangan gemetar. Setelah itu pria berjaket hitam pergi meninggalkan Alsava yang mendadak lemas luruh duduk berjongkok di tanah.
Alsava melirik wajah lelap Roman yang bersandar di bahunya. Menatap lelaki yang selama empat bulan lebih menemani hari-harinya.
Ternyata sudah saatnya Abang pulang. Pulang ke tempat Abang seharusnya berada.
Satu bulir bening jatuh begitu saja, ternyata hatinya sudah merasa nyaman dengan kehadiran Roman hingga tidak rela kalau pria itu pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Setelah Abang tahu semuanya, Abang pasti bakal membenci aku.
Mengetahui kemungkinan Roman yang akan membenci saat tahu kebohongan yang dia buat, membuat dada Alsava sesak. Gadis itu menangis tanpa suara di sisa perjalanan mereka menuju kota.