
"Apa tidak mau dipertimbangkan lagi?" tanya Betrand dingin. Pria itu menatap tajam Alsava yang sedang berdiri seraya menundukkan kepala. Alsava menghela napas pelan lalu menatap Betrand dengan berani.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pihak restoran sudah memberikan kesempatan pada saya untuk bekerja di sini walau hanya lima bulan. Dan.. Maaf pak saya sudah punya pekerjaan yang baru jadi tidak bisa lanjut kerja di sini," tutur Alsava dengan tenang.
Jawaban Alsava membuat hati Betrand tiba-tiba berdenyut nyeri. Entahlah, bayangan tidak akan pernah bertemu lagi dengan Alsava membuat hati pria itu tidak nyaman.
"Apa kamu yakin?" Alsava mengangguk seraya tersenyum.
"Terima kasih atas bimbingan dan semua hal baik yang Pak Ben berikan pada saya. Maaf bila selama saya kerja banyak melakukan kesalahan."
Senyuman Alsava semakin lebar saat ingatan tentang hari pertamanya kerja tergambar jelas di pelupuk mata. Betrand selalu ada untuk membela dan mendukungnya waktu itu.
"Baiklah, semoga kamu sukses di luar sana." Mereka berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.
***
"Kamu yakin akan melakukannya Va? apa ibu bilang ke bapak untuk mencoba bicara pada pak Rafan?"
Wajah bu Wiryo sangat cemas saat mendengar cerita Alsava tentang penagihan bunga pinjaman dan cara membayarnya, gadis itu bercerita persis seperti perkataan Rafan waktu itu. Ya, tentu dengan menghilangkan adegan lamaran dalam cerita.
"Nggak papa Bu, lagi pula itu hutang Sava. Uang tabungan Bapak dan Ibu saja belum sepenuhnya Sava kembalikan kan. Jadi, biar masalah ini Sava yang atasi sendiri."
Senyuman lembut yang Alsava berikan tidak bisa menghilangkan kekhawatiran di hati bu Wiryo sepenuhnya.
"Tapi Va, ibu-"
"Percaya sama Sava Bu, tolong bantu doa saja."
Alsava menggenggam tangan bu Wiryo dengan lembut, bibirnya tersenyum upaya menenangkan hati ibu angkatnya ini.
Hari ini Alsava memutuskan berkunjung ke rumah pak Wiryo untuk memberitahukan rencana pembayaran bunga pinjaman dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Rafan. Alsava hanya tidak mau kedua orang tua angkatnya kembali kecewa karena tidak dilibatkan dalam masalah ini lagi.
Lagi pula Bapak dan Ibu Wiryo adalah satu-satunya kerabat yang sudah Alsava anggap keluarga sendiri di kota ini.
"Ibu nggak nyangka kalau orang se-kaya pak Rafan bisa kikir begini. Hmm.. Masih menagih bunga pinjaman dari gadis miskin seperti kamu," dumel bu Wiryo dengan wajah di tekuk membuat Alsava tersenyum melihatnya.
"Sava pamit ya Bu, sekali lagi maaf dan terima kasih. Salam buat Bapak."
Alsava bangkit berdiri sambil menyampirkan tas selempang berwarna coklat miliknya.
"Kamu nggak mau makan dulu?"
Bu Wiryo ikut bangkit lalu menggenggam tangan Alsava seolah enggan membiarkannya pergi.
__ADS_1
"Nggak usah Bu makasih."
Alsava tersenyum lembut seraya menyalami bu Wiryo. Dalam hati tidak pernah putus bersyukur karena bapak dan ibu Wiryo sudah begitu baik dan tulus menyayangi padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sedikit pun.
Alsava mengayun langkah menuju jalan utama, gadis itu mengutak-atik ponsel mengetikkan pesan singkat pada nomor Rafan. Mengabarkan bahwa dia akan menuju rumahnya dan meminta diberikan akses agar tidak dipersulit security komplek perumahan.
Tak lama ponselnya memekik tanda notifikasi pesan masuk, pesan balasan dari Rafan kalau dia sudah memberikan akses dan Alsava hanya harus menunjukkan pesan singkat ini pada pihak security komplek.
Alsava menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas selempang setelah melakukan pemesanan ojeg online. Setelah ojek pesanannya datang, Alsava langsung berangkat menuju komplek perumahan dimana kediaman keluarga Dizhwar berada.
Sepanjang jalan hati Alsava berdebar, tangannya berkeringat dingin. Entahlah, tiba-tiba dia merasa cemas atas alasan yang tidak jelas.
"Aku cuma bekerja di rumah itu tidak lebih," gumam Alsava seraya mengurut lembut dada yang masih saja berdebar.
"Kenapa Mbak?" Mas driver ojek online yang ditumpangi Alsava bertanya, ternyata gumaman Alsava juga terdengar olehnya meski tidak begitu jelas.
"Tidak apa-apa Mas," jawab Alsava sekenanya.
Sisa perjalanan, Alsava memutuskan diam tidak lagi mengelurkan suara. Takut membuat mas driver ojek salah paham kembali. Otak pintarnya sejak tadi bekerja keras menciptakan skenario pertahanan diri yang akan digunakan selama bekerja di rumah mewah Rafan.
Terlalu lama hanyut dalam pikiranya sendiri, Alsava sampai tidak sadar kalau sudah sampai di depan gerbang komplek perumahan.
"Mbak sudah sampai."
Suara mas driver ojek membuat kesadaran Alsava pulih. Gadis itu mengedarkan pandangan melihat sekitar.
Tanpa melepas helm Alsava turun dari motor lalu menghampiri pos jaga security.
"Dengan Mbak Alsava?"
Sebelum Alsava menyapa salah seorang security berwajah ramah menyapanya, ini bukan security yang Alsava temui waktu ini.
"Iya Pak, saya mau ke kediaman pak Rafan Dizhwar apa beliau sudah memberi info?" tanya Alsava berhati-hati.
Security itu tersenyum ramah dan mengatakan kalau Rafan secara pribadi sudah memberikan informasi lengkap mengenai nama dan menunjukkan foto Alsava. Alsava mengangguk dan maklum kalau security ini bisa ramah bahkan mengetahui namanya segala.
Ternyata Tuan Rafan sudah memberi tahunya.
Alsava kembali menghampiri ojek online tadi, lalu meminta untuk masuk ke kawasan komplek dan mengantar sampai depan rumah kediaman Dizhwar. Meski sedikit bingung, akhirnya mas driver ojek mengangguk dan mulai melajukan motornya.
"Terima kasih Mas, ini sedikit buat beli kopi."
Alsava menyelipkan uang pada tangan mas driver sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantarnya tanpa banyak protes. Sempat menolak tapi akhirnya uang itu diterima juga dengan ucapan terima kasih. Alsava mengangguk dan menatap punggung driver ojek yang menjauh.
__ADS_1
Alsava berbalik menatap rumah mewah yang menjulang tinggi di depannya. Rumah yang biasanya hanya dapat dia lihat di tayangan televisi dan sempat berkunjung dua kali waktu itu. Entah kenapa kegelisahan itu masih saja belum pergi dari hatinya.
Menghela napas dalam sebelum melangkah pelan menuju pos penjagaan rumah. Seorang pria paruh baya yang sempat dia temui di kunjungan terakhir menyambutnya dengan ramah, Alsava sampai mengerutkan dahi mendapat perlakuan itu.
Bukankah terakhir kali berkunjung kesan yang dia tinggalkan tidak baik ya? Kok bisa penjaga rumah menyambutnya dengan ramah kali ini? Pertanyaan demi pertanyaan menjamur di kepala Aslava. Masih belum paham dengan situasi yang dia hadapi sekarang.
Dengan kepala meneleng dan dahi berkerut, Alsava masuk ke dalam halaman rumah melewati gerbang tinggi menjulang. Langkahnya sempat terhenti saat melihat dekorasi rumah Rafan yang terlihat seperti sedang berlangsung acara pesta.
Beberapa juntai kain berwarna peach dengan rangkain bunga dibuat seperti kanopi menghiasi jalan dari halaman sampai depan pintu rumah. Apa ada acara makanya aku diminta datang untuk bekerja sebagai pelayan? hanya kalimat masuk akal itu yang muncul di otaknya.
Dengan langkah pelan sambil mengagumi dekorasi, Alsava melangkah ke arah pintu. Sedikit ragu mengetuk daun pintu dan mengucapkan kata 'permisi' berharap akan dibukakan pintu.
Sebenarnya mang Diman--penjaga rumah yang menyambutnya tadi--sudah mengatakan kalau Alsava hanya tinggal masuk tanpa mengetuk, tapi dia kira itu akan tidak sopan dan kurang ajar.
Dengan pertimbangan itu, akhirnya Alsava mengikuti naluri dan melakukan prosedur bertamu dengan baik. Tak berselang lama, pintu besar itu terbuka dan menampilkan bi Asih dengan senyuman ramah.
"Masuk Nona."
Untuk beberapa saat Alsava tertegun dengan sapaan bi Asih yang menurutnya aneh. Bi Asih menuntun langkah untuk masuk ke dalam rumah, meski ragu Alsava pun mengekor tepat di belakang bi Asih.
"Oh ternyata mempelai wanitanya sudah datang!"
Tubuh Alsava membeku saat sampai di ruang tengah rumah Rafan--yang ternyata sudah di dekorasi dengan cantik--sudah berkumpul beberapa orang yang tidak dia kenal.
Alsava menatap bingung ke arah bapak paruh baya berpeci hitam dan berkemeja batik lengan panjang yang menyebutnya mempelai wanita.
Sebentar... situasi macam apa ini?
"Benar pak, dia mempelai wanitanya."
Alsava menoleh ke belakang, mendapati Rafan yang sedang berjalan menuruni tangga dengan pakaian rapih berwarna biru muda. Pria itu mendekat ke arahnya lalu tersenyum.
"Bi Asih bisa tolong bantu Alsava berganti pakaian."
Rafan dengan tenang memberi perintah, sama sekali tidak menghiraukan kebingungan yang tercetak jelas di wajah Alsava.
"Mari Nona!"
Bi Asih berusaha menggiring Alsava namun tubuh gadis itu kaku tidak bergerak se inci pun. Sedangkan Rafan sudah berlalu dan mendekat ke arah pria paruh baya berpeci hitam dan berkemeja batik tadi.
"Ada acara apa ini Fan?"
Belum sempat Alsava mengeluarkan suara untuk bertanya akan kebingungan yang dia alami. Gadis itu sudah dibuat kaget dengan kemunculan seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang bayi tampan.
__ADS_1
"Sebentar.. siapapun tolong bisa jelasin ini ada apa?"
Akhirnya dengan keberanian yang setipis bawang, Alsava berhasil menyuarakan kebingungan hatinya akan situasi yang sedang berlangsung.