
"Jadi siapa yang kamu hamili Arman?"
Arman menelan ludahnya dengan berat, kepalanya menunduk dengan jari tangan saling meremas di atas pangkuan. Sementara gadis yang berteriak hamil dengan lantang tadi, sudah di amankan oleh bi Asih ke dalam rumah.
Entahlah apa yang akan diperbuat majikannya pada gadis pembuat onar itu. Yang jelas, Arman tidak peduli dan bahkan berdoa dalam hati semoga gadis itu mendapat hukuman yang berat. Karena telah menyebar isu dan mencoreng nama baiknya sebagai pemuda sopan yang masih perjaka ting-ting.
"Jawab!"
Sebenarnya suara Rafan tidak meninggi bahkan hanya terdengar datar tanpa intonasi. Tapi menurut Arman, justru nada bicara majikannya ini terdengar dingin dan lebih menakutkan.
"Maaf Tuan Rafan, saya berani bersumpah kalau masih perjaka ting ting yang masih polos dan belum pernah pacaran."
Arman menjawab dengan suara tegas namun belum berani mengangkat kepala.
Jawaban polos Arman membuat bibir Rafan berkedut menahan tawa. Sebenarnya dia hanya ingin bersenang-senang dengan terus bertanya pada Arman, karena sebenarnya Rafan sudah tahu siapa gadis yang sudah membuat hari minggunya kacau dengan drama receh khas dirinya.
Ck, dasar gadis itu!
Rafan menghela napas berusaha meredakan tawa yang sangat ingin dia ledakkan sekarang. Ah,, dia belum puas mengerjai Arman meski sudah merasa iba pada pemuda di hadapannya ini.
"Coba tebak, bagaimana reaksi orang tuamu kalau tahu ada gadis yang mengaku hamil karena ulah mu?" tanya Rafan berusaha memancing emosi Arman.
"Jangan Tuan, saya mohon jangan kasih tahu orang tua saya. Saya tidak pernah bertemu apalagi mengenal gadis dekil tadi yan-"
"Gadis dekil?"
Belum sempat Arman menyelesaikan kalimatnya, Rafan sudah memotong dengan suara meninggi dan mata melotot. Melihat ekspresi majikannya, Arman mengangguk pelan seraya menelan ludah dengan berat. Pemuda itu heran dengan respon Rafan yang demikian.
Mungkin Tuan Rafan tidak suka saya mencela orang.
Arman mengangguk yakin dengan fikirannya sendiri. Lalu menatap Rafan dengan tatapan polos bak seorang anak meminta pengampunan orang tuanya.
"Maafkan saya Tuan, tidak seharusnya saya berkata seperti itu." Dengan tulus meminta maaf seraya membungkukkan badan.
Rafan menghela napas lalu menepuk pundak Arman beberapa kali.
"Baguslah! Lebih baik jangan diulangi lagi karena gadis tadi cepat atau lambat akan sering kamu temui."
Rafan masuk ke dalam rumah meninggalkan Arman yang melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Maksud Tuan Rafan apa?
Rafan melangkah lebar masuk ke dalam rumah, bermaksud menemui gadis pembuat onar dan bersiap memberikannya hukuman. Namun, langkahnya terhenti di tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah.
__ADS_1
Terdengar suara orang yang sedang berbincang hangat di sana. Rafan bersembunyi di balik tembok untuk menguping pembicaraan antara Alsava--gadis pembuat onar--bersama bi Asih.
"Udah berapa lama kerja di sini Bi? Apa gajinya besar?" tanya Alsava tanpa basa basi.
Gadis itu menyunggingkan senyum saat bertanya. Matanya terlihat lincah berkeliling memindai setiap sudut ruangan.
Bi Asih tersenyum menanggapi pertanyaan gadis di depannya. Dia sempat heran kenapa ada orang yang bisa masuk dan membuat onar di lingkungan elit ini.
Lebih heran lagi karena majikannya malah meminta membawa gadis ini masuk ke dalam rumah bahkan meminta bi Asih untuk menjamu dengan banyak makanan.
"Bibi nggak mau jawab ya? takut saya ngelamar kerja di sini?"
Alsava tertawa lebar dengan pertanyaannya sendiri. Sebenarnya dia sejak tadi merasa gugup dan serba salah tapi berusaha menutupinya dengan banyak bertanya meski tidak semua pertanyaan di jawab oleh wanita paruh baya di depannya ini.
Alsava mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri lalu beringsut maju mendekat ke arah bi Asih yang duduk di depannya.
"Bi, sebenarnya saya ke sini mau bertemu dengan tuan Rafan," bisik Alsava dengan suara pelan.
Telapak tangan sebelah kiri dia gunakan untuk menghalangi gerak bibir. Bi Asih terkejut lalu menatap Alsava dengan bingung.
"Saya mau bayar hutang Bi."
Kalimat Alsava berikutnya membuat lipatan di kening bi Asih bertambah banyak.
Suara Alsava sudah kembali normal bahkan postur tubuhnya sudah kembali duduk tegak di posisi sebelumnya. Memutuskan tidak melanjutkan acara bisik-bisik karena melihat respon bi Asih yang hanya diam dengan dahi berkerut.
Bahu Alsava merosot lesu dan memilih diam setelah mengatakan niatnya datang kesini meski dengan drama yang membuat semua orang tercengang.
Dia juga sedikit merasa bersalah pada pemuda bernama Arman yang dia tuduh sembarangan untuk melengkapi drama yang dia buat.
"Maaf Bi, saya sudah buat kekacauan di depan tadi."
Alsava menunduk mengucapkan permintaan maaf dengan penuh penyesalan.
"Saya terpaksa berbuat begitu supaya diijinkan masuk ke kawasan perumahan ini. Kalau tidak begitu mana bisa sa-"
"Baguslah kalau kamu sadar apa yang kamu lakukan itu salah!" ucap Rafan dingin seraya masuk ke dalam ruang tengah rumahnya yang cukup luas. Pria itu duduk dengan anggun di sofa single di sudut ruangan.
Alsava tersentak kaget melihat Rafan masuk secara tiba-tiba. Apalagi melihat gestur tubuhnya yang sangat kaku dan tidak bersahabat.
Gadis itu menelan ludah dengan berat lalu menundukkan kepala, keberanian yang berapi-api saat memainkan drama tadi menguap begitu saja.
Tahu betul kalau orang yang sedang menatapnya kini bukanlah orang sembarangan dan memiliki kuasa untuk melakukan apa saja pada orang dari kalangan rakyat jelata seperti dirinya.
__ADS_1
Bersikaplah dengan bijak Va, jangan sampai mempersulit hidupmu yang sudah sulit.
Alsava mengangguk yakin setelah meneguhkan hati lalu beringsut membenahi posisi duduk. Dengan perlahan mengangkat kepala lalu menatap lurus pria di hadapannya yang sedang duduk menyilangkan kaki.
Alsava mengeluarkan buku tabungan--dengan selembar kertas dan kartu atm yang diselipkan di dalamnya--dari dalam tas slempang miliknya.
"Ini uang hasil penjualan jam tangan waktu itu, uang yang sempat saya gunakan sudah saya kembalikan semua Tuan."
Tangan Alsava terulur meletakkan buku tabungan di atas meja kaca di depannya.
Rafan mendengus tidak suka, bukan karena Alsava mengembalikan uang yang sudah dia berikan pada gadis itu, tapi karena panggilan 'tuan' yang Alsava berikan padanya. Telinganya sudah nyaman menerima panggilan akrab 'abang' dari Alsava.
Makanya, saat gadis itu memanggil dengan sebutan baru yang terdengar kaku dan formal membuat Rafan merasakan jarak yang tercipta antara dirinya dan Alsava. Jujur Rafan tidak nyaman dengan itu.
"Kalau mau bayar hutang, lakukanlah dengan benar!"
Alsava menelan ludahnya berat saat mendengar ucapan Rafan yang terkesan ketus itu. Gadis itu tahu letak kesalahannya dengan datang ke sini bersama drama konyol yang dia buat. Itulah kenapa sekarang Alsava tidak berani lagi membantah dan hanya meminta maaf dengan kepala menunduk.
"Maaf, sekali lagi maafkan saya Tuan!"
Rahang Rafan mengetat mendengar Alsava memanggilnya dengan sebutan Tuan untuk kedua kalinya. Pria itu lantas berdiri dan segera meninggalkan Alsava begitu saja. Melihat Rafan yang meninggalkannya dengan tidak ramah, Alsava menoleh ke arah bi Asih yang masih duduk terdiam sejak tadi.
"Saya titip sama Bibi saja ya."
Alsava menggeser buku tabungan untuk lebih dekat ke arah bi Asih. Bi Asih yang sebenarnya masih bingung dengan hubungan antara Rafan dan gadis asing di depannya itu hanya menatap buku tabungan dalam diam.
"Kalau begitu saya pamit pulang Bi, sekali lagi saya mohon maaf karena datang kemari dengan cara yang tidak baik."
Melihat reaksi bi Asih yang hanya diam, Alsava memilih bangkit berdiri dan pamit pulang.
"Bila berkenan, tolong sampaikan juga permintaan maaf saya pada Tuan Rafan Bi."
Alsava keluar rumah tanpa menunggu respon bi Asih. Bahu gadis itu merosot lesu dengan kepala menunduk.
"Hey gadis aneh! Apa kamu kira bisa pergi begitu saja setelah menyebar fitnah tak berdasar!"
Langkah Alsava terhenti mendengar pekikan Arman dari dalam garasi rumah. Alsava berbalik lalu menatap pemuda yang sedang berdiri bertolak pinggang di hadapannya dengan tenang.
"Maaf ya," ucap Alsava tenang terkesan tanpa penyesalan. Arman mendengus lalu memalingkan wajah.
"Loh Man, jadi gadis itu tidak jadi hamil anakmu?"
Pertanyaan konyol dari mang Diman membuat Arman dan Alsava menoleh ke arahnya dengan ekspresi yang berbeda.
__ADS_1