
"Sudah diselesaikan semua?"
Pertanyaan yang datang dari arah pintu membuat Alsava menoleh ke belakang. Gadis itu tersenyum pada bu Gendhis lalu mengangguk.
"Tinggal 3 potong baju lagi Bu," jawabnya seraya berbalik dan kembali menyelesaikan pekerjaanmenyetrika baju di tempat laundrynya bu Gendhis.
Beruntung sekali bu Gendhis belum mendapatkan pengganti Alsava selama dia pulang kampung kemarin, hingga saat gadis itu datang dan meminta pekerjaan bu Gendhis dengan mudah menyetujui.
Selain karena sudah mengenal Alsava dengan cukup baik, bu Gendhis juga cocok dengan hasil kerja Alsava. Bu Gendhis wanita dewasa yang tampak manis dengan pakaian syar'i nya itu tersenyum ke arah Alsava lalu mengelus lembut pundaknya.
"Jangan terlalu berat bekerja Va, sesekali kamu boleh istirahat. Lagi pula pekerjaan laundry juga nggak mesti harus beres dalam sehari."
Alsava menoleh ke arah bu Gendhis yang ternyata masih berdiri di ambang pintu, atasannya itu menasehati dengan lembut karena tahu selama ini dia sudah bekerja terlalu keras dengan mengambil pekerjaan lebih dari satu dalam satu waktu.
"Nggak papa Bu, lagi pula saya senang bekerja."
Alsava melipat baju yang sudah rapih disetrika lalu mengambil baju yang lain dan mulai menyetrikanya. Bu Gendhis masuk, menarik kursi plastik dan duduk di dekat Alsava, supaya gadis itu bisa menatapnya saat diajak berbicara.
Sebetulnya bu Gendhis masih penasaran dengan alasan gadis itu menghilang selama 4 bulan. Apalagi kabar tentang Alsava yang sudah menikah, tentu sangat mengganggu fikirannya.
"Hmmm... Va, kamu pernah bilang sudah menikah. Tapi kenapa masih bekerja sekeras ini? Maaf ya, apa suamimu mengijinkan kamu bekerja samapai selarut ini?" tanya bu Gendhis berhati-hati.
Alsava tersenyum di sela kegiatannya, kali ini dia tidak menatap bu Gendhis namun hanya menunduk. Terlihat khusyuk dengan pekerjaannya.
"Saya memang sudah menikah Bu, tapi kami sudah berpisah lagi." Baju berikutnya sudah Alsava lipat dan dia letakkan di atas tumpukan. Tangannya cekatan mengambil baju terakhir yang harus dia setrika.
"Loh kenapa? Kalau ada masalah jangan buru-buru pisah Va, mungkin ada jalan keluar yang lain." Sekali lagi bu Gendhis menasehati dengan lembut. Pembawaannya yang tenang dan keibuan membuat Alsava tidak keberatan sama sekali mendengarkan setiap nasehat dari ataasannya ini.
Tidak biasanya memang, bu Gendhis menunggui Alsava menyelesaikan semua pekerjaannya. Wanita itu bilang merasa kesepian di rumah karena sang suami sedang ada urusan di luar. Dia memutuskan menyibukkan diri di tempat usaha laundry sebelum sang suami menjemput pulang setelah menyelesaikan urusannya.
"Suami ibu belum jemput?" Alsava berusaha menghindar dari pertanyaan bu Gendhis selanjutnya. Dengan senyuman manis Alsava memberi isyarat kalau dia tidak bisa bercerita lebih jauh masalah pribadinya. Bu Gendhis menghela napas lalu bangkit berdiri.
"Kalau semuanya sudah selesai tinggalin saja, biar di packing besok sama pegawai yang lain." Bu Gendhis mengelus pelan lengan Alsava berusaha memberikan penghiburan. Meski tidak dijelaskan dengan rinci, sedikit banyak bu Gendhis bisa membaca kalau pernikahan Alsava tidak berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Nggak papa Bu, biar saya selesaikan saja soalnya tanggung. Biar besok tidak ada gantungan pekerjaan."
Alsava melipat baju terakhir yang dia setrika dan menyimpannya di tumpukan paling atas. Gadis itu merapihkan peralatan dan memastikan semua dengan baik sebelum beranjak mengambil tumpukan baju dan masuk ke ruangan untuk mempackingnya ke dalam plastik.
Bu Gendhis berjalan mengikuti Alsava lalu mengambil tempat duduk di sampingnya bersiap membantu. Namun baru saja meraih beberapa baju yang akan dia masukkan ke dalam plastik, suara seru mesin mobil yang berhenti di depan ruko membuatnya berhenti.
"Ibu pulang saja, suami ibu sudah jemput kayaknya. Biar ini saya yang kerjakan semua."
Bu Gendhis menatap Alsava sebentar lalu meletakkan kembali tumpukan baju yang belum sempat dimasukkan ke dalam plastik.
"Tapi ini sudah larut va, kamu juga harus segera pulang." Bu Gendhis sudah bangkit berdiri namun masih enggan beranjak pergi.
"Nggak papa Bu, ini nggak akan lama. Sebentar lagi juga selesai dan saya bisa langsung pulang."
"Janji ya?" Alsava mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.
Akhirnya bu Gendhis pamit pulang setelah mengatakan kalau Alsava harus memastikan semua colokan tercabut dan lampu padam sebelum mengunci ruko dan pulang. Alsava hanya menjawab 'baik' dengan patuh.
Suara deru mobil yang menjauh dari ruko menandakan bahwa bu Gendhis sudah pulang bersama suaminya. Alsava menghentikan kegiatan lalu menghela napas dalam.
Sepulang dari bekerja Alsava memang langsung datang ke tempat laundry bu Gendhis dan menyibukkan diri dengan bekerja hingga waktu bergulir malam. Alsava menolehkan kepalanya pada jam bulat yang menggantung di sudut ruangan.
"Sudah jam sepuluh lewat," gumam Alsava pelan.
Tangannya kembali cekatan menyelesaikan pekerjaan. Setelah semua pekerjaan selesai, Alsava mencabut semua colokan dan memastikan semua lampu sudah dia matikan sebelum mengunci ruko dan pergi pulang.
Bu Gendhis memang memberikan salah satu kunci cadangan ruko pada Alsava agar gadis itu bisa mengunci ruko setelah bekerja, hal itu karena jam kerja Alsava yang tidak menentu dan kebanyakan selesai di waktu malam hari saat semua pegawai dan bu Gendhis sudah pulang.
Memandang bangunan ruko yang terlihat gelap karena semua lampu dia matikan kecuali satu lampu di teras ruko, Alsava berusaha mengingat-ngingat takut ada perintah dari bu Gendhis yang terlewat dia kerjakan.
Saat dirinya yakin tidak melakukan kesalahan, gadis itu melangkah menyusuri trotoar berjalan pulang menuju kontrakan. Sepanjang perjalanan dia hanya diam dan sesekali melihat beberapa kendaraan yang masih berlalu lalang melintas di jalanan.
Meski malam sudah cukup larut, namun jalanan yang Alsava lewati memang terlihat lebih ramai dari biasanya. Gadis itu merapatkan jaket saat terpaan angin tiba-tiba terasa dingin menusuk menerpa permukaan tubuhnya.
__ADS_1
Langkah Alsava sempat terhenti di samping bak sampah tempat dia menemukan Rafan empat bulan yang lalu. Ingatan tentang peristiwa itu kembali hadir meski tidak begitu lama karena Alsava segera tersadar.
Kembali berjalan gontai lalu masuk ke dalam kontrakan. Alsava menekan saklar hingga cahaya lampu berpendar dan membuat penglihatannya jelas. Mengunci pintu dengan rapat lalu melempar tubuhnya di atas kasur yang tidak begitu empuk tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
Matanya sayu menatap langit-langit kontrakan. Alsava menghela napas dalam berusaha menghilangkan bayangan Rafan beserta istrinya yang sedang mengandung yang tercetak jelas di pelupuk mata.
Saat berdiam diri begini, bayangan itu selalu muncul dan menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam hatinya kembali mencuat. Berbeda saat dia sibuk bekerja, semua ingatan dan perasaan tidak nyaman itu tidak pernah ada.
"Sepertinya aku harus cari pekerjaan tambahan lagi, biar nggak kebayang terus sama kejadian pagi ini."
Tubuh Alsava berguling ke samping kiri, memeluk guling dengan gemas lalu mencari posisi ternyaman untuk tidur. Mungkin karena kelelahan tidak butuh waktu lama untuk Alsava jatuh tertidur.
Malam itu Alsava tertidur dengan perasaan tidak nyaman karena rasa bersalah telah memisahkan Rafan dari keluarganya empat bulan lalu. Satu harapan yang dia gumamkan sebelum terlempar ke alam mimpi, ingin segera melunasi hutangnya pada Rafan dan kembali menjalani hidup dengan tenang.
Semoga waktu itu memang tidak akan lama lagi.
***
"Brengsek!"
Rangga menarik badcober hingga terlempar ke sudut kamar, beberapa bantal dan guling pun ikut terlempar hingga membuatnya berserakan di atas lantai kamar. Napas Rangga memburu, pria itu meyugar rambut ke belakang lalu menariknya cukup kencang.
"Brengsek!"
Memekik sekali lagi seraya menendang udara dengan kesal. Wajah tampan Rangga terlihat sangat frustasi. Matanya merah dengan napas yang memburu, hatinya masih terasa panas mendengar pengakuan cinta Alexi pada Rafan, apalagi melihat dua orang itu saling berpelukan dan memberi penghiburan tadi.
Setelah melihat drama percintaan yang menyedihkan antara Rafan dan Alexi, Rangga memutuskan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu kembali pulang ke apartemennya dengan mengendarai mobilnya cukup cepat dan tidak terkendali.
Beruntung tidak terjadi kecelakaan sampai dia berhasil memarkirkan mobilnya di bassment apartemen. Dengan tergesa melangkah masuk ke dalam gedung apartemen.
Setelah masuk ke dalam unit apartemennya sendiri, dia mengamuk dan melempar benda apa saja yang terlihat hingga apartemen yang semula rapih kini seperti kapal pecah yang tidak tertolong. Sangat berantakan sama dengan suasana hatinya sekarang.
"Alexi kamu membuatku ingin melakukan hal lain pada sepupuku tercinta."
__ADS_1
Seringai jahat terbit di wajahnya saat menemukan ide baru yang akan dia berikan pada Rafan. Rasa iri yang berubah jadi kebencian yang mendalam mendorong Rangga melakukan hal-hal di luar kendali. Kejadian malam ini mematik kembali amarahnya pada Rafan yang sempat meredup beberapa hari terakhir.
"Kamu tunggu saja Fan!"