
Hawa sejuk dari pendingin ruangan menyapu pundak Alexi yang terbuka. Wanita dengan perut buncit itu menangis tersedu sejak tadi. Tangannya terulur mengelus lembut perut yang sudah membuncit cukup besar.
Berharap tindakannya bisa mengurangi kram dan tegang pada perutnya akibat tindakan memaksa Rangga beberapa saat lalu. Alexi menatap dingin pria yang sedang duduk di sofa dengan bertelanjang dada. Pria itu terlihat terlelap dengan posisi duduk kepala bersandar.
Cih!
Alexi memalingkan wajah tidak sudi melihat pria yang beberapa saat lalu telah menggagahinya dengan paksa. Isakan lirih masih terdengar memenuhi ruangan kamar bernuansa merah marun, warna kesukaan Alexi.
Gumaman terdengar dari arah sofa, membuat dada Alexi berdebar karena takut. Dia menarik tubuhnya meringkuk menempel pada kepala ranjang. Mencengkram kuat pada ujung selimut yang menutupi dada.
Langkah kaki terdengar mendekat membuat Alexi dengan susah patah menelan ludah. Tubuhnya bergetar karena takut Rangga kembali melakukan hal yang tidak terduga. Dengan segera memeluk perut buncitnya kala Rangga duduk di pinggir ranjang dan menatapnya.
"Kenapa takut? Apa aku sudah menyakiti mu dan anak kita?" tanya Rangga polos tidak ingat dengan tindakan di luar batas yang telah dia lakukan pada Alexi.
Alexi mendengus tidak suka seraya memalingkan wajah. Air mata masih belum kering dan terus mengalir meski tanpa isakan.
"Breng sek!" lirih Alexi mengumpat Rangga dengan suara bergetar.
Tawa Rangga menggelegar memenuhi ruangan, pria itu bangkit seraya memegang perut. Terbahak seolah mendengar lelucon yang amat lucu. Mata Alexi menatap nyalang Rangga dengan penuh dendam.
"Kalau mau menuntaskan hasrat cari saja wanita pemuas nafsu, bukan malah menyiksa wanita yang sedang hamil besar," ketus Alexi dengan berani.
Rasa takutnya sedikit memudar saat melihat tawa menyebalkan dari Rangga. Dirinya wanita tangguh sebelum mengalami kehamilan ini, dia harus kembali menjadi Alexi yang kuat seperti dulu agar bisa menghadapi manusia breng sek seperti Rangga.
"Bukankah kita pernah melakukannya dulu hingga ada dia? Lalu kenapa kamu kesal saat ayah dari anak yang kamu kandung ingin menjenguknya dengan baik?"
Rangga kembali terbahak seolah apa yang dilakukannya tujuh bulan lalu dan beberapa saat tadi bukanlah sebuah kesalahan. Seingat Alexi, Rangga dulu adalah pria yang baik. Rangga, Rafan dan Alexi memang berteman baik sejak mereka masih remaja.
Tumbuh dalam lingkungan yang sama karena memiliki latar belakang keluarga yang setara, belum lagi orang tua mereka adalah rekanan bisnis yang membuat mereka selalu bersama dalam beberapa kondisi.
"Berhentilah menangis Lex!" seru Rangga dengan gusar.
Bagian hatinya yang lain merasa sakit saat melihat wanita yang dia puja menangis tersedu dengan tubuh meringkuk hanya berbalut selimut.
"Pergi!" usir Alexi dengan suara lirih di sela isakannya.
__ADS_1
Rangga mengepalkan tangan mendengar Alexi mengusirnya, bahkan setelah banyak hal yang dia lakukan untuk wanita itu, Alexi masih enggan melihatnya. Sama seperti dulu saat mereka masih remaja.
Rangga selalu mendekati Alexi dan memperlakukan wanita itu dengan istimewa, tapi sialnya Alexi hanya menatap Rafan yang bahkan sejak dulu tidak menoleh ke arahnya. Kecemburuan Rangga semakin besar kala Rafan dan Alexi dijodohkan. Dia bertekad akan merebut Alexi bagaimanapun caranya.
Dan terbukti, dia sudah berhasil memiliki raga Alexi hingga membuat wanita itu hamil anaknya. Tapi kenapa Alexi masih tidak mengerti perasaannya? dan kenapa sekarang wanita itu malah terkesan membencinya? pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti memenuhi otak Rangga.
"Pergi!"
Sekali lagi suara usiran lirih dari Alexi terdengar hingga membuat Rangga mendengus lalu menyambar kemeja dan memakainya asal. Memilih mengalah dan memberikan Alexi waktu untuk memikirkan kembali keputusan dengan siapa dia akan menikah.
Rangga berharap Alexi tidak mengambil tindakan bodoh yang justru akan membahayakan dirinya dengan kembali pada Rafan. Karena kalau sampai Wanita itu nekat, Rangga pun akan mengambil langkah yang jauh lebih nekat.
"Aku mencintai mu dan anak kita."
Rangga mengelus lembut perut Alexi dan membisikkan kalimat yang membuat tubuh Alexi kaku. Setelah kecupan sayang mendarat di kening Alexi, barulah Rangga melangkah keluar dari kamar dan apartemen Alexi. Meninggalkan wanita itu dengan banyak pertanyaan berdesakkan dalam otaknya tentang kalimat yang baru saja dia dengar.
***
Demam Rafan masih tinggi meski tidak sepanas tadi, kakinya masih terasa sedikit nyeri namun pria itu memaksakan diri untuk tidak berisitirahat dan mendengarkan setiap kata yang bi Asih ceritakan.
Bi Asih menghela napas pelan setelah menceritakan secara garis besar mengenai kisah hidup anak majikannya itu. Tentu dia bercerita dengan tenang meski hatinya merasa gelisah memikirkan hukuman yang akan dia terima karena mengabaikan perintah dari paman Yo.
Bukan bermaksud menutup-nutupi, paman Yo hanya berniat menceritakan apa yang sudah bi Asih ceritakan secara bertahap pada Rafan seraya mengajarinya agar segera siap memimpin perusahaan dengan baik.
"Kenapa Paman Yo melarang bibi cerita sekarang?" Dahi Rafan berkerut samar dengan pikiran yang mulai negatif.
"Tuan Yo ingin yang terbaik untuk Tuan muda." Menjawab dengan tenang karena memang itu kenyataannya.
"Dengan terus mengulur waktu untuk aku mengingat semua?" Bertanya dengan nada suara yang ketus bercampur kecewa.
Bi Asih menepuk pelan punggung tangan Rafan untuk menenangkan, senyuman tipis juga dia sematkan. Berusaha membuat Rafan kembali tenang dan tidak berfikiran negatif. Wanita paruh baya itu duduk di pinggir ranjang berhadapan dengan Rafan sejak dia memulai cerita.
"Tuan Yo sangat menyayangi Tuan muda seperti anak sendiri, bahkan Tuan muda Rangga sering merasa iri."
Ucapan bi Asih membuat Rafan menoleh ke arahnya dengan cepat, dia jadi ingat racauan Rangga seminggu yang lalu dan perdebatan dua orang di lorong perusahaan sore tadi.
__ADS_1
"Jadi apa yang Tuan muda rasakan sekarang setelah mendengar semua yang ingin Tuan muda dengar?"
"Entahlah Bi, yang jelas justru aku merasa sedang menajalani kehidupan orang lain. Mungkin alam bawah sadarku sudah terkontaminasi sebagai pria miskin yang tinggal di kampung kecil." Rafan tersenyum kecut di akhir kalimat.
"Setidaknya pria miskin itu membuat Tuan muda berubah menjadi lebih baik dan bertanggung jawab. Lalu... bibi rasa Tuan muda sekarang jadi lebih bijak dalam bertindak. Maaf kalau saya lancang." Bi Asih dengan ragu berkata lalu menunduk dan meminta maaf karena merasa sudah lancang mencampuri urusan majikan.
"Apa seperti itu?"
Rafan bertanya dengan ragu meski hati kecilnya mengiyakan, kalau kondisi kehidupanya empat bulan terakhir memang merubah dirinya jadi mandiri dan dewasa dalam bertindak. Termasuk dalam mengambil keputusan untuk fakta mengejutkan yang baru dia ketahui.
***
"Mie ayam baso plus ceker!"
Asep menoleh dengan kaget ke arah Alsava yang datang sambil menyerukan pesanan lalu duduk di sampingnya dengan tenang. Asep menelan kunyahan baksonya dengan berat. Tiba-tiba hatinya merasa khawatir takut Alsava minta ditraktir.
"Nggak usah gitu mukanya, aku nggak minta kamu traktir." Ucapan Alsava membuat Asep bernapas lega lalu kembali melahap bakso dengan nikmat.
"Gimana hari pertama kerja?" tanya Asep di sela kunyahannya, sesekali pemuda itu menyeruput kuah bakso yang gurih dan hangat. Ah.. mantap! gumamnya dalam hati saat kuah bakso itu membasahi kerongkongannya.
"Buruk!"
Alsava meraih mangkok yang diserahkan oleh penjual bakso gerobakan langganannya. Gadis itu menuangkan saus, kecap lalu sedikit sambal. Setelah mengaduk hingga tercampur lalu menyesap kuahnya sedikit memastikan rasanya sudah sesuai dengan seleranya.
Mulutnya mengecap beberapa kali lalu menambahkan kecap sedikit, mengaduknya lagi kemudian melahap mie ayam dengan toping bakso dan ceker ayam.
"Kenapa?" Asep bertanya dengan acuh meski dia penasaran.
"Aku ketemu Bang Rafan, dia udah balik ke kehidupannya dulu. Dia memang bukan orang sembarangan." Kepala Alsava menggeleng pelan, masih khusyuk makan meski obrolan sudah masuk ke inti curhatan.
"Lalu?" tanya Asep setelah menggeser mangkok Bakso yang sudah tinggal kuahnya menjauh.
Alsava mengangkat bahunya cuek.
"Entahlah!"
__ADS_1
Memberi jawaban yang diri sendiri tidak tahu pasti maksudnya apa.