Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Tiga puluh enam


__ADS_3

Seperti hari sebelumnya Rafan sudah terbangun jam lima pagi. Padahal dirinya tidur cukup larut kemarin malam, tapi tetap terjaga di jam yang sama.


Penghuni rumah kecuali para pelayan masih tertidur lelap. Rafan seperti mengikuti jam para pelayan bukan lagi seperti tuan rumah yang bisa bangun kapan saja.


Rafan memutuskan berkeliling rumah memperhatikan para pelayan membersihkan rumah. Meski terlihat tidak terlalu peduli, namun para pelayan menggunjingnya, tentu tanpa sepengetahuan Rafan. Merasa aneh dengan perubahan yang terlihat dari majikannya terutama jam bangun tidur.


Kebiasaan lain juga membuat para pelayan keheranan. Dulu Rafan terkenal manja dan arogan, dia bukan majikan yang berlaku ramah pada para pelayan tapi juga tidak jahat dan suka menindas. Semua kebutuhannya sudah harus tersedia sesuai seleranya.


Kalau pelayan tidak melakukan sesuai perintahnya dia akan marah dan membentak tapi tidak sampai main tangan. Tapi sekarang, Rafan jadi sering menyapa dan berlaku ramah pada para pelayan tanpa kecuali.


Sering mengajak ngobrol bahkan perasa penasaran dengan yang dikerjakan pelayan. Pernah satu hari Rafan pergi ke dapur dan mencuci piring kotor yang ada di wastafel, bi Asih sampai memberi hukuman pada pelayan yang bertanggung jawab.


Padahal pelayan itu hanya pergi ke kamar mandi sebentar, tapi saat mau melanjutkan pekerjaan malah sudah dikerjakan oleh majikannya sendiri.


Jangankan para pelayan yang merasa heran, Rafan sendiri pun merasa keanehan dalam dirinya. Mungkin hidup jadi seorang pemuda miskin, menjalani hidup yang sulit selama empat bulan membuat pria itu merubah pola pikir dan perilakunya.


"Tuan muda sudah bangun?"


Suara bi Asih mengagetkan Rafan yang sedang berdiri di salah satu balkon rumah. Rafan berbalik lalu tersenyum dan mengangguk.


"Apa kalian para pelayan menggunjing ku akhir-akhir ini?" tanya Rafan dengan santai.


Saat berjalan-jalan keliling rumah tadi, dia sempat mendengar bisikan para pelayan yang menyebut namanya, hanya tidak bisa memastikan pembicaraan mereka karena dilakukan dengan suara pelan dan berbisik-bisik.


Bi Asih terlihat sedikit tercengang, entah kaget karena ada yang berani menggunjing majikannya atau karena Rafan tahu para pelayan sering menggunjingnya setelah empat bulan menghilang.


"Saya akan mendisiplinkan para pelayan, mohon maaf atas ketidaknyamanan Tuan."


"Bukan begitu," sangkal Rafan seraya mengibaskan telapak tangan.


"Huhm.. Hanya berfikir kalau saya orang yang menyebalkan di masa lalu, mungkin banyak pelayan yang sakit hati dan mengumpat saya di belakang. Apa Bibi juga sering saya buat kesal?" tanya Rafan berusaha mengemukakan perasaannya pada bi Asih. Bi Asih hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan.


"Lebih baik Tuan muda kembali ke kamar dan istirahat. Mungkin pagi ini Tuan Yo akan kembali meminta ikut ke perusahaan lalu ke rumah sakit untuk pemeriksaan kaki Tuan."


Rafan menghela napas sebelum menjawab. Tatapannya masih lurus ke depan, menatap semburat kemerahan yang perlahan muncul berpendar tanda sang mentari dengan malu-malu mulai menampakkan diri.


"Bi, menurut Bibi lebih baik nyaman tapi menderita atau hidup gamang tapi berkecukupan?"

__ADS_1


Pertanyaan Rafan membuat wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya samar hingga memperjelas garis halus yang sudah ada di beberapa bagian wajahnya.


"Tuan, lebih baik anda kembali ke kamar. Karena anda masih sakit, jadi tidak perlu turun ke bawah biar saya bawakan makanan ke kamar Tuan."


Rafan mengangguk, mengikuti saran bi Asih untuk masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.


***


Alsava menguap dengan lebar seraya melakukan peregangan ringan. Ah, kemarin malam lagi-lagi dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan Rafan.


Gadis itu menghela napas dalam, memalingkan wajah memperhatikan pemandangan dibalik jendela bus yang sedang berjalan.


Meskipun hari masih pagi tapi jalanan utama sudah mulai padat dengan berbagai kendaraan, baik transfortasi umum maupun kendaraan pribadi berupa motor maupun mobil.


Huhm... Beginilah hidup di kota besar, setiap orang berambisi mencari uang sebanyak-banyaknya demi hidup nyaman bahkan rela menggadaikan hal yang paling berharga baginya.


Begitu pun Alsava, dia harus mengakui diri sendiri sebagai budak kapitalis karena terlalu berambisi mencari uang hingga memiliki pekerjaan lebih dari satu. Menggadaikan waktu istirahat dan rela mengenyampingkan rasa lapar, terkesan abai memberi penghargaan pada diri sendiri.


Huft!


Alsava bersandar lelah seraya menghela napas, gadis itu memperhatikan punggung tangannya yang terlihat kurus dengan urat-urat berwarna biru yang terlihat menonjol. Kadang dia merasa iri bila melihat tangan gadis lain yang putih mulus dengan jemari yang lentik.


Kemarin Tedi menelepon dan bilang kalau Alsava tidak usah lagi mengirim uang, karena adik laki-lakinya itu sudah bisa menghasilkan uang dengan bekerja paruh waktu di salah satu bengkel milik tetangga. Alsava awalnya merasa keberatan dan meminta Tedi untuk fokus belajar jangan dulu bekerja.


Namun, adiknya bersikeras hingga membuat Alsava menyerah. Akhirnya perdebatan diakhiri dengan kesepakatan bahwa uang sekolah tetap Alsava penuhi sampai Tedi lulus, dan adiknya itu harus berjanji lulus dengan nilai yang baik meski pulang sekolah masih harus bekerja.


Lamunan Alsava buyar kala laju bus yang dia tumpangi melambat. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ternyata sudah sampai di halte bus dekat dengan tempat kerjanya. Bergegas turun dari bus bersama penumpang yang lain.


"Cuacanya cerah sekali."


Alsava menghirup udara dengan dalam seraya mengayun-ayunkan tangan ke depan dan belakang.


"Pagi!"


Tubuh Alsava terlonjak, otot yang tadinya rilek berubah kaku seketika. Kepala Alsava menoleh cepat ke sumber suara, lalu menatap datar pelaku yang malah sedang tersenyum lebar tanpa dosa.


"Kok sapaannya nggak dijawab Al?"

__ADS_1


Alsava hanya melanjutkan langkah tanpa menyahut pertanyaan Betrand.


Meski diabaikan, Betrand malah terkekeh. Tidak tersinggung ataupun terganggu dengan sikap acuhnya Alsava. Pria itu mengiringi langkah Alsava dalam diam. Sesekali senyuman tipis teesungging di bibirnya.


Betrand sengaja datang lebih pagi lalu pergi menunggu di halte bus dekat restoran setelah memarkirkan mobilnya dengan baik di parkiran restoran. Pria itu tersenyum geli menertawakan diri sendiri menyadari tingkah konyolnya sekarang.


Entah kenapa, dirinya merasakan kembali sensasi menggelitik di hati seperti cinta pertamanya dulu. Semalaman Betrand tidak nyenyak tidur terbayang wajah dan tingkah menggemaskan Alsava.


Pria itu menghela napas saat sudah sampai di dalam restoran dan sudah berada di ruang loker karyawan, itu tandanya dia sudah tidak bisa mendekati Alsava dengan bebas. Saat bekerja mereka berdua hanyalah atasan dan bawahan.


Itu artinya, mereka harus menjaga ke profesionalan dalam bekerja. Betrand tidak mau ada rumor tidak baik beredar tentang mereka, hanya karena dia tidak bisa menahan diri


Alsava bekerja dengan cukup baik tanpa kendala. Meski hari ini pelanggan yang datang cukup banyak, tapi tubuhnya sudah terlatih untuk bekerja dengan gesit dan teliti.


Dari pagi sampai siang tidak ada masalah berarti, sampai tanpa sengaja dia menabrak wanita hamil yang entah datang dari mana dan menumpahkan minuman ke gaunnya.


"Hey dasar pegawai rendahan! kamu bisa kerja nggak?" hardik wanita hamil itu dengan wajah galak dan mata melotot.


Meski menunjukkan ekspresi yang menyeramkan, tapi Alsava masih bisa melihat kecantikan di wajah wanita itu.


"Ma, maaf Nyonya saya tidak sengaja!" ucap Alsava sedikit terbata.


Tidak menyangka bisa melakukan kesalahan yang cukup fatal di hari keduanya bekerja. Dengan serampangan dia mengambil tisu lalu mencoba mengeringkan baju bagian perut atas wanita hamil itu.


Bersyukur minuman yang dia tumpahkan dalam keadaan dingin, tidak bisa dibayangkan kalau dalam keadaan panas. Pasti keadaan akan lebih kacau.


"Maaf nyonya, maafkan saya!"


Alsava tidak berhenti terus meminta maaf, dengan kepala menunduk dan tangan gemetar berusaha memperbaiki kekacauaan yang dia buat. Wanita hamil itu mendengus lalu menepis tangan Alsava.


"Sudah tidak usah!" ucap wanita itu ketus, terlihat sekali dirinya kesal.


"Ada apa Lex?"


Tubuh Alsava menjadi kaku mendengar suara yang sangat dia kenali. Secara perlahan mengangkat kepala dan memastikan dugaan yang melintas dalam fikirannya tentang sang pemilik suara.


Dada Alsava berdesir saat matanya bertemu pandang dengan pria tegap yang lengannya dirangkul manja oleh wanita hamil tadi. Dada Alsava berdetak dengan kencang, sebagian hati berdenyut nyeri saat melihat pemandangan romantis di depannya.

__ADS_1


Alsava kamu harus tahu diri!


Makinya dalam hati.


__ADS_2