Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh


__ADS_3

Suara derit roda blangkar bersama beberapa derap langkah yang tergesa menggema di lorong sebuah rumah sakit. Wajah pria berusia tiga puluh tahun itu tampak sangat cemas, pipinya basah karena air mata dan keringat. Rambut di kepala tak kalah kusut dari raut wajah yang mendadak terlihat banyak kerutan itu.


Napas Rangga memburu setelah berhasil mengantar blangkar yang ditiduri Alexi masuk ke dalam ruang tindakan. Pria itu menarik rambut kebelakang dengan gemas, tampak sangat frustasi. Lalu Rangga duduk dengan gelisah di kursi tunggu tak jauh dari ruangan tindakan.


Mata sayunya menatap langit yang masih gelap meski hari sudah mulai berganti, walau terlalu dini bila disebut sudah pagi. Tadi malam sepasang suami istri itu kembali adu mulut. Tindakan Rangga yang menurut istrinya sudah keterlaluan memang jadi pemicu utama di setap pertengkaran.


Membawa lari uang perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit, memanipulasi seolah bersembunyi di luar negri agar sulit dicari. Lalu bersembunyi di sebuah desa kecil di pinggiran kota bersama istri yang sedang hamil besar, itu sudah sangat keterlaluan menurut Alexi tapi tidak bagi Rangga. Pria itu masih teguh dengan anggapan melakukan hal yang benar.


Alexi yang sejak awal tahu rencana Rangga, sudah menolak dan berusaha berontak namun tetap tidak bisa melawan. Malam ini kemarahan yang sudah bertumpuk pun meledak tentu menyulut emosi Rangga yang akhir-akhir ini entah kenapa bersumbu pendek.


Pertengkaran tak terelakan hingga mereka saling dorong dan melakukan gerakan fisik lain yang cukup kasar. Sampai tidak sengaja tubuh Alexi terhempas ke lantai akibat dorongan Rangga, wanita itu meringis merasakan sakit.


Rangga kaget, lalu berusaha membantu Alexi bangun. Pria itu semakin panik karena tak lama Alexi jatuh pingsan dengan banyak darah yang sudah mengalir di sela-sela kakinya.


Dengan mengendarai mobil minibus--yang sengaja disediakan untuk mobilitas di tempat persembunyiannya--Rangga membawa Alexi ke klinik terdekat.


"Dengan keluarga pasien?"


Seorang perawat menyapa Rangga yang sedang menelungkupkan wajah diantara kedua telapak tangan. Kepala Rangga terangkat dengan wajah yang terlihat cemas lalu berdiri dengan perlahan.


"Iya saya Sus, bagaimana kondisi istri dan calon anak saya?"


Perawat itu menelisik ekspresi Rangga yang terlihat kacau dari segala sisi. Menghela napas sebentar lalu berusaha menjelaskan keadaan dengan kalimat yang baik.


"Istri Bapak mengalami komplikasi kehamilan, salah satunya karena stres dan tekanan darah yang tinggi. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi agar tidak membahayakan ibu dan anaknya."


Tubuh Rangga lemas, kakinya tidak punya tenaga untuk menopang berat badan. Pria itu terduduk lemas di kursi tunggu. Air mata meluncur dari sudut mata yang menatap kosong ke sembarang arah.


"Sabar dulu Pak, hmm.. Maaf klinik ini tidak memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tindakan, jadi pasien akan kami rujuk ke rumah sakit yang lebih besar." Meski sedikit tidak tega, perawat itu berusaha menyampaikan informasi dengan lengkap.


"Lakukan yang terbaik Sus, saya mohon tolong!"


Suara Rangga parau dengan penuh keputusasaan. Kepalanya menunduk setelah menyelesaikan kalimat, membiarkan perawat berlalu setelah berkata akan segera melakukan proses rujukan agar Alexi bisa segera ditangani.


Hati Rangga bak dihujai ribuan belati, terasa sakit yang menusuk. Menyesal telah melibatkan Alexi dalam ambisinya untuk membalas dendam pada Rafan. Kalau saja dia tetap berada di kota besar, mungkin Alexi akan segera menerima pertolongan dengan fasilitas kesehatan yang memadai.


Kalau saja dia tidak terpancing dan bertengkar, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Masih banyak kata 'kalau saja' yang bermunculan dalam pikiran Rangga sekarang. Namun semua tidak bisa diubah, yang harus dipikirkan sekarang bagaimana agar Alexi dan calon anaknya selamat. Hanya itu.


Rangga menghela napas beberapa kali lalu menelan ludahnya dengan berat.

__ADS_1


"Aku berjanji setelah ini akan memperlakukanmu dengan baik dan menghentikan semua rencana jahat. Aku ingin membahagiakanmu dan anak kita, hidup bersama selamanya meski harus kehilangan harta."


Rangga berucap pelan seraya menggenggam tangan Alexi yang terkulai lemah. Alexi mengangguk, meski tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya wanita itu menyetujui kalimat yang diucapkan Rangga.


Setelah banyak hal dan pertengkaran yang mereka lalui, Alexi akan berusaha menerima pernikahan ini dengan Rangga sebagai sandaran hidupnya.


Sepasang suami istri itu saling berpegangan tangan di dalam sebuah mobil ambulan yang melaju cukup kencang. Berharap tidak terjadi hal buruk pada calon anak mereka. Sebuah harapan dan doa-doa baik terucap dari mulut keduanya untuk buah hati tercinta.


***


Dibelahan bumi lain, di kota besar dengan segala hiruk pikuk yang selalu sibuk. Di sebuah senja di akhir pekan, seorang gadis kurus dengan rambut terikat kucir kuda sedang memakan coklat di pelataran rumah makan cepat saji.


Masih terlihat berjajar rapih beberapa mobil dan motor di lahan parkir. Seorang petugas parkir tampak sibuk mengatur keluar masuk kendaraan.


Sudah dari setengah jam yang lalu Alsava duduk termenung di sana setelah menyelesaikan jam kerjanya. Gadis itu menatap kosong beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya di depannya.


"Ayo dong Yang, kita jadi nonton kan?"


Alsava menoleh ke sumber suara, terlihat seorang gadis--rekan kerjanya--sedang mengapit lengan Betrand dengan posesif. Kedua orang itu tidak menyadari keberadaan Alsava yang tidak jauh dari mereka.


"Iya jadi," jawab Betrand terdengar datar dan tidak bersemangat.


Pria itu sempat tertegun saat matanya bersirorok dengan manik coklat milik Alsava. Menghela napas dalam lalu memalingkan wajah dan tersenyum manis menatap gadis cantik di sampingnya.


Suara Betrand terdengar lembut mendayu seraya menggandeng mesra kekasihnya. Semenjak satu bulan lalu, Betrand memutuskan memacari salah satu bawahan yang sudah lama dengan terang-terangan mengejarnya.


Misi pria itu hanya satu, ingin segera melupakan perasaannya pada Alsava dengan memulai hubungan baru bersama gadis lain.


Meski terlihat sangat mesra dan kasmaran, nyatanya hubungan Betrand dengan gadis cantik--yang kini sudah duduk di kursi penumpang--belum bisa mengikis perasaan sukanya pada Alsava.


Betrand menghela napas, melirik ke arah Alsava sebentar lalu mulai menyalakan mobil dan berlalu dari sana untuk pergi menonton film sesuai keinginan kekasihnya.


Melupakan rasa suka ternyata tidak semudah rasa itu hadir. Ya kalimat itu tentu berlaku bukan hanya untuk Betrand tapi juga untuk beberapa orang termasuk Alsava.


Gadis itu diam-diam selalu berdiri di balik jendela kamar kontrakan atau nongkrong di depan pintu terbuka hingga larut malam, berharap seseorang datang dan memenuhi janjinya.


Namun sampai waktu bergulir cukup jauh, seseorang yang Alsava nanti tak kunjung hadir. Tiga bulan sudah berlalu sejak terakhir kali pertemuannya bersama Rafan. Alsava masih menunggu pria itu menepati janji yang sempat terlontar.


Merasa bodoh karena percaya dan menunggu selama ini. Bahkan ungkapan perasaan Asep yang kesekian kali Alsava tolak karena hati masih berharap pada Rafan. Sampai sahabatnya itu menyerah dan menganggap mereka bukan jodoh.

__ADS_1


Alsava tersenyum pada seorang pemuda yang baru datang dengan motor bebek kesayangannya. Pemuda itu ikut tersenyum ke arah Alsava setelah mematikan mesin dan memarkirkan motor.


"Sudah lama nunggu?" sapa pemuda itu ramah.


"Lumayan, mana Siti, Sep?"


Kepala Alsava celingukan mencari keberadaan gadis bertubuh mungil berambut ikal--kekasih Asep.


Setelah menyerah karena perasaan cintanya terus ditolak oleh Alsava. Asep memutuskan menerima cinta Siti--gadis penjual soto dekat kontrakannya. Gadis mungil berambut ikal itu memang sudah lama menyukai Asep dan dengan tidak malu mengejarnya, tapi tidak pernah Asep gubris.


Sampai dua minggu lalu, Asep akhirnya menerima cinta Siti saat gadis itu mengantarkan pesanan Soto ke kontrakannya.


"Masih jualan soto. Ayo cepet nanti keburu hujan."


Kepala Asep menengadah melihat gumpalan awan hitam yang berarak pelan. Alsava mengangguk lalu naik ke atas motor Asep.


Mereka berdua berboncengan pulang, lebih tepatnya Alsava minta diantar Asep pulang saat pemuda itu mengabarkan sedang berada di daerah dekat tempat Alsava kerja.


"Makasih Sep, salam buat Siti."


Asep mengangguk lalu pergi tanpa banyak bicara. Sebenarnya perasaan suka Asep pada gadis bernama Alsava tidak semudah itu hilang. Dia selalu berusaha menghindari pertemuan, namun Alsava seolah tidak membiarkannya pergi begitu saja dengan tenang.


Mengatas namakan persahabatan, Alsava selalu saja bisa membuat Asep tidak menolak ajakan atau permintaan gadis itu. Sungguh definisi kekejaman yang sesungguhnya, begitu gerutu Asep dalam hati.


Pria itu memacu motor bebek miliknya menuju tempat jualan Siti, berharap bisa menetralkan perasaan sekaligus memupuk cinta pada kekasihnya itu.


Alsava mengayun langkah menuju kamar miliknya, namun langkah kaki tiba-tiba terhenti saat pintu kamar hanya berjarak tiga meter saja. Gadis itu menelan ludah dengan dada yang berdebar, mengenali sosok pria yang sedang berdiri memunggunginya.


Mendengar pergerakan tidak jauh dari tempatnya berdiri, pria itu berbalik dengan senyuman tersemat. Alsava tertegun menatap wajah familiar namun tampak sangat berbeda. Wajah yang dulu tampan kini tampil lebih kurus dengan cekungan di matanya. Jambang yang menebal lengkap dengan kumis dan janggut.


Pria di depan Alsava tampak lebih tua dari usianya, padahal mereka hanya tiga bulan tidak berjumpa. Dada Alsava semakin berdebar kencang saat pria itu mulai melangkah mendekat. Semakin dekat, semakin dekat hingga jarak yang tersisa dua langkah saja.


"Bu-buat apa Tuan kemari?"


Meski sudah berusaha tenang, tetap saja suara Alsava bergetar karena gugup. Pria di depannya tersenyum sebelum menjawab.


"Menepati janji yang aku buat tiga bulan yang lalu."


Menjeda kalimat karena ingin menikmati ekspresi terkejut milik Alsava.

__ADS_1


"Mari kita menikah!" lanjut pria itu.


Mata Alsava melotot karena kaget mendengarnya.


__ADS_2