
Angin sepoi menerpa wajah Alsava, senyuman lebar yang sejak tadi menghiasi wajahnya kini hilang tanpa sisa. Air matanya sudah menggenang siap tumpah saat kelopak mata itu mengerjap.
Tadi saat memberikan selebaran di kursi kemudi, tanpa sengaja dia melihat Rafan dengan jelas. Memakai pakaian mahal dengan rambut tertata rapih, terlihat tampan dan berkelas sesuai dengan jati diri Rafan yang sesungguhnya.
Hati Alsava sempat merasa bahagia saat melihat wajah yang selama seminggu ini dia rindukan. Tapi belum sempat rasa bahagia itu sempurna, ekor matanya menangkap wajah cantik seorang gadis yang sedang bergelayut manja di lengan Rafan. Mereka terlihat mesra dan serasi sekali.
Mengetahui situasi yang dihadapinya, dengan cepat Alsava menghindar lalu pura-pura membagikan selebaran pada pengemudi lain dengan memasang senyum yang cukup lebar. Berusaha menutupi keresahan hati saat melihat Rafan sudah kembali pada kehidupan yang sesungguhnya bersama seseorang yang tentu spesial bagi pria itu.
"Dia sudah bahagia dengan hidupnya, sia-sia saja air mata dan perasaanku selama seminggu ini," lirih Alsava seraya menghapus satu bulih air mata yang berhasil lolos tanpa bisa dicegah.
"Hahh... Kamu fikir dia siapa? Dan kamu siapa? Berani-beraninya berharap yang mustahil."
Alsava memukul kepalanya sedikit kencang untuk menghilangkan harapan dan fikiran bahwa Rafan masih mengingat atau bahkan merindukannya.
"Sudah cukup nge-halunya. Hidup terus berlanjut, semangatlah bekerja Alsava!" sambil seraya mengayunkan kepalan tangan di udara menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa orang yang berada di trotoar sempat melirik Alsava dengan tatapan heran dan bingung saat mendengar pekikan gadis itu. Meski tahu sudah jadi pusat perhatian, Alsava pura-pura tidak peduli padahal sebenarnya merasa malu juga karena lupa sedang berada di tempat umum.
"Saya suka semangat mu."
Tubuh Alsava terlonjak kaget mendapat tepukan di pundak sebelah kiri. Gadis itu segera menoleh ke belakang dan menatap pria berkulit putih bersih sedang tersenyum ke arahnya.
"Te-te-terima kasih Pak."
Alsava menunduk tidak berani mengangkat wajah setelah matanya sempat bersirorok dengan Betrand, pemuda bermata sipit supervisor Alsava di tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Tidak apa, ayo lanjut lagi bekerja." Pria bernama Betrand itu berbalik setelah sebelumnya memberikan senyuman terbaiknya pada Alsava.
***
"Apa Rangga di dalam?" Paman Yo bertanya pada staf sekretaris Rangga, gadis muda itu bangkit berdiri memberi hormat padanya dan Rafan yang memasang wajah datar di samping paman Yo.
"Ada Pak, tapi... Pak Rangga masih ada tamu," jawab sekretaris itu sedikit ragu.
Paman Yo mengangguk lalu berlalu menuju ruangan kerjanya sendiri, Rafan sendiri hanya diam dan terus mengikuti langkah paman Yo tanpa mengeluarkan suara. Entahlah, suasana hati pria itu berubah kacau sekarang.
Dia pikir akan baik-baik saja setelah tanpa sengaja melihat Alsava di tengah perjalanan menuju kantor, terlebih dia bersama Alexi--wanita yang dia fikir sedang mengandung anaknya. Semuanya di luar prediksi karena ternyata hati Rafan kacau dan merasa khawatir berlebihan saat melihat Alsava yang masih harus pontang panting mencari uang.
Kenapa dia nggak pakai sisa uang penjualan jam tangan saja? Dasar gadis keras kepala!
Rafan hanya dapat memaki Alsava dalam hati. Sementara itu paman Yo mulai bercerita tentang banyak hal, mengenai masa kecil Rafan hingga dewasa. Paman Yo kira Rafan sedang mendengarkannya, padahal fikiran dan jiwa Rafan masih tertinggal bersama gadis bernama Alsava, itulah kenapa dia jadi pendiam sejak tadi.
Hanya kalimat terakhir paman Yo yang bisa Rafan dengar, selebihnya entahlah Rafan tidak tahu. Rafan merespon dengan gelengan kecil seraya menunduk, terlihat sedih dan frustasi. Paman Yo menatap keponakannya dengan sendu.
Merasa kasihan karena berfikir kalau Rafan sedang putus asa belum bisa mengingat memorinya yang hilang. Padahal sebenarnya tidak juga, Rafan sedih dan frustasi karena melihat kondisi Alsava, rupanya dia masih sangat mengkhawatirkan gadis pembohong itu.
"Dari mana Paman tahu kalau aku bersama Alsava selama ini? Waktu pertama kali membuka mata empat bulan lalu, tidak ada satu pun identitas yang bisa menunjukkan bahwa aku adalah seorang pewaris perusahaan ternama."
Bertanya hal yang mengganjal di fikiran sejak paman nya menjemput Rafan dari kamar kos Alsava. Dahi Rafan berkerut samar, menatap lurus paman Yo yang juga sedang menatapnya.
Pria paruh baya itu bangkit dari duduk, menghampiri meja kerja dan membuka laci kecil di sebelah kiri meja. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dengan kotak hitam dalam genggaman, paman Yo kembali duduk di sofa samping Rafan yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan kecil yang pamannya lakukan.
__ADS_1
Paman Yo meletakkan kotak hitam kecil itu di tangan Rafan yang dia tarik lembut. "Seorang penanggung jawab toko jam tangan menelepon memastikan kalau jam tangan ini memang milikmu." Paman Yo menjeda kalimatnya lalu tersenyum tipis ke arah Rafan yang terlihat bingung.
"Jam tangan itu dipesan khusus oleh Papamu sebagai kado kelulusan kamu saat sarjana. Selain merupakan edisi terbatas, ada gravity inisial nama mu di balik jam tangan itu."
Rafan membuka kotak itu secara perlahan, mengeluarkan jam tangan lalu mengamati sambil membulak-balikannya berusaha memperhatikan setiap detail tanpa terlewat.
"Satu bulan pertama, paman hampir putus asa mencari kamu, karena setelah mengerahkan banyak orang pun jejak kamu seperti hilang ditelan bumi. Tiba-tiba penanggung jawab toko itu menelepon dan bertanya mengenai jam tangan, kecurigaan penanggung jawab toko terjadi karena melihat laporan bulanan yang dibuat oleh stafnya sendiri."
"Setelah melihat fisik jam tangan, penanggung jawab toko itu semakin yakin untuk menghubungi. Dia yakin jam tangan itu punya kamu karena dulu dia sendiri yang mengurus transaksi pembelian jam tangan itu."
"Dari sana paman memperluas pencarian dan melihat cctv toko untuk mengetahui orang yang sudah menjual jam tanganmu dan itu membawa paman untuk menemukan mu. Mulai mengirim orang untuk mengamati dan menjagamu dari jauh."
"Mengikutiku sampai ke kampung Alsava?" Paman Yo mengangguk sebagai jawaban.
Paman Yo mengakhiri cerita sambil duduk bersandar, tatapannya kosong menatap langit-langit ruangan. Pria paruh baya itu terlihat banyak pikiran.
"Secara tidak langsung Alsava yang mempermudah jalan Paman menemukan ku?" Paman Yo mengangguk pasti.
"Pelajari semua dokumen ini dulu, baru setelah itu kita belajar hal baru."
Paman Yo menyerahkan setumpuk dokumen yang dia letakkan di atas meja di hadapan Rafan, mendorong tumpukan dokumen pelan agar lebih dekat dengan Rafan. Pria itu hanya menatap tumpukan dokumen di hadapannya dengan tatapan nanar.
Tiba-tiba Rafan mengingat beberapa kalimat yang Rangga ucapkan dalam keadaan mabuk satu minggu yang lalu. Tanpa mengeluarkan suara, Rafan mulai membaca salah satu dokumen paling atas dari tumpukan itu. Paman Yo menatap Rafan dengan helaan napas lega.
Empat bulan ini sudah banyak merubah kamu Nak.
__ADS_1
Rasa syukur itu tiba-tiba menjalar hangat memenuhi dada paman Yo melihat perubahan yang positif dari keponakannya--Rafan.