Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Dua puluh dua


__ADS_3

"Besok ibu pesen dua bungkus pepes ayam dan satu bungkus pepes ikan ya Va," ucap bu Tini tetangga Alsava yang selalu membeli dagangannya.


Termasuk sekarang, tetangga Alsava itu memborong pepes ayam dan ikan sampai lima bungkus.


Alsava tersenyum manis seraya membereskan dagangannya.


"Maaf Bu, besok nggak bisa soalnya aku mau berangkat ke kota."


"Loh ke kota mau apa? Kontrol kaki suami kamu?" tanya bu Tini sambil berjalan ke dalam rumah lalu tak berselang lama kembali ke luar dengan sepiring nasi putih.


"Bukan Bu,"


Alsava sudah membereskan dagangan, menyimpan di samping tubuhnya lalu duduk berselonjor kaki.


"Terus?"


Bu Tini membuka salah satu bungkusan pepes ikan lalu memakannya dengan lahap bersama nasi putih. Alsava sempat menelan ludahnya tergiur dengan cara makan bu Tini yang terlihat sangat menikmati.


"Pepes kamu enak loh Va," pujinya seraya menyesap tulang ikan setelah daging ikannya sudah habis dia makan.


"Makasih Bu."


"Oh iya, terus kamu ke kota mau apa?"


Bertanya seraya mengamati sisa daging ikan yang masih terselip di bungkusan pepes yang terbuat dari daun pisang.


"Mau cari kerja Bu," jawab Alsava singkat.


Bu Tini manggut-manggut seraya menjilati tangan lalu minum air putih satu gelas penuh.


Duh jadi laper lihat bu Tini makan. Sekali lagi Alsava menelan ludahnya.


"Emang kalau di sini kenapa? Kamu cukup rajin kerja terus sekarang malah jualan pepes," ucap bu Tini, kini wanita berbadan gempal itu sudah membuka satu bungkusan pepes ayam lalu dia makan tanpa nasi.


"Mau cari kerja yang gajinya tetap aja Bu, biar bisa nabung kalau-kalau nanti punya anak, hehe..."


Alsava menjawab asal sambil terkekeh di akhir kalimat.


"Iya ya Bener itu, punya anak itu harus dipersiapkan."


"Ya sudah aku pamit Bu," pamit Alsava seraya bangkit, melanjutkan berkeliling kampung untuk berjualan. Bu Tini hanya mengangguk sambil meneruskan makan.


Alsava berkeliling kampung berharap dagangannya akan habis terjual, hari sudah semakin siang dengan matahari yang cukup terik membakar kulit. Tapi semua itu tidak membuat semangat Alsava surut.


Dari rumah ke rumah Alsava menawarkan dagangannya sampai waktu sudah bergulir semakin siang dan dagangan Alsava hanya tersisa dua bungkus pepes ayam saja.


"Makasih ya Bu," ucap Alsava pada salah satu tetangga yang membeli dua bungkus pepes ikan.


Langkah Alsava ringan dengan senyum yang mengembang. Hari ini daganganku laris, gumamnya dalam hati seraya melirik tas jingjing yang tadi dia gunakan membawa dagangan. Melihat ke dalam tas lalu tersenyum puas.

__ADS_1


"Tinggal dua, lumayan buat makan siang sama Bang Roman," gumam Alsava riang sambil mengayun langkah menuju rumah.


"Assalamualaikum," ucap Alsava riang saat berada di depan rumah.


Tampak Roman tersenyum menyambut kedatangan istrinya. Pria itu sedang duduk berselonjor kaki di teras rumah.


"Waalaikumsalam."


"Capek?" tanya Roman sambil menyeka bulir keringat di dahi Alsava yang kini duduk di sampingnya. Alsava mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Lumayan."


Alsava duduk berselonjor seperti Roman, lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya dengan manja, menghela napas pelan dengan tatapan lurus ke depan.


Bibir Roman sedikit berkedut menampilkan senyum tipis melihat tingkah manja istrinya. Roman menautkan jemari keduanya lalu menyimpan di pangkuan. Sejenak keduanya terjebak dalam keheningan dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.


"Cuacanya cerah ya?"


Suara Roman memecah keheningan. Alsava hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, kepalanya masih bersandar manja di bahu Roman.


Alsava menghela napas pelan lalu mengeratkan tautan jemari keduanya.


"Makasih banyak untuk semuanya ya Bang, dan... Maaf."


Rasa bersalah semakin tumbuh di dada Alsava, karena telah melibatkan Roman dalam masalah hidupnya dan membuat pria itu menjalani hidup yang serba sulit.


"Harusnya abang yang bilang itu Va, maaf ya sebagai suami abang tidak bisa diandalkan."


"Aku sayang Abang," lirih Alsava bersamaan angin sepoi menerpa wajah keduanya.


Roman menyunggingkan senyum bahagia mendengar ungkapan sayang dari istrinya.


Maaf Bang atas semua kebohongan yang aku lakukan. Saatnya Abang aku pulangkan ke kehidupan Abang yang sesungguhnya.


Alsava memeluk Roman dengan hangat hingga membuat Roman tergelak.


"Sayang banget sama abang ya?" tanya Roman di tengah gelak tawanya. Alsava mengangguk sambil bergumam.


"Nanti malam kita ke pasar malam ya jalan-jalan," ucap Alsava masih enggan melepas pelukan.


"Boleh."


Akhirnya sisa hari itu mereka habiskan dengan saling bercengkrama setelah sebelumnya makan siang dengan dua bungkus pepes ayam--sisa dagangan Alsava.


"Abang pake baju apa aja keren."


Alsava mengangkat dua jempol jari dengan tatapan kagum melihat Roman mengenakan baju hodie warna abu-abu dan celana jeans berwarna biru gelap--baju yang bulan lalu Alsava beli dari pasar dengan harga diskon.


Roman menyunggingkan senyuman manis ke arah Alsava. Dengan langkah pelan dan tertatih pria itu menghampiri lalu memeluk gemas tubuh kurus istrinya, menggoyangkan ke kiri dan kanan lalu membuat jarak tanpa mengurai pelukan.

__ADS_1


"Kamu juga istri abang yang paling cantik," ucap Roman seraya tersenyum.


"Iyalah, emang istri abang kan cuma aku," seloroh Alsava sedikit jumawa.


Gadis yang malam ini mengenakan dres selutut motif bunga-bunga kecil dengan bando berwarna hitam di kepalanya, menyunggingkan senyuman manis yang mampu membuat hati Roman sedikit berdesir.


Alsava ingin membuat kenangan manis malam ini sebelum besok mereka kembali ke kota. Berniat mengembalikan Roman ke kehidupan sesungguhnya yang pria itu miliki, bukan sebagai Roman mantan security suami sementaranya lagi.


Sebelum aku pulangin Abang, aku mau punya kenangan indah bersama sebagai pasangan suami istri.


Alsava menatap Roman sendu, merasa bersalah dan takut kehilangan secara bersamaan.


"Kenapa lihatin abangnya gitu?"


Roman mencubit hidung minimalis milik Alsava pelan dengan gemas. Tersenyum menggoda saat memergoki istrinya menatap dengan cara yang tidak biasa.


"Aku sayang Abang."


Alsava menghambur ke pelukan Roman dan menyandarkan kepalanya manja di dada pria itu. Roman tergelak lalu mengusap pelan punggung Alsava.


"Abang tahu," lirihnya dengan hati yang menghangat.


Malam itu mereka lewati dengan berjalan-jalan ke pasar malam menggunakan motor bebek milik Tedi yang Alsava pinjam sore tadi. Alsava mengendarai motor bebek itu pelan dengan Roman yang duduk di belakang--dikarenakan pria itu tidak bisa mengendarai motor terlebih kondisi kakinya yang belum kembali normal.


Pria itu sempat merajut tidak mau. Tapi berkat bujukan Alsava, akhirnya Roman pun bisa menikmati acara jalan-jalan mereka meski harus menahan gengsi karena harus dibonceng oleh Alsava.


Malam itu, keduanya mengukir kenangan manis bersama di sebuah pasar malam yang terasa begitu romantis dengan lampu-lampu temaram. Berbelanja pakaian dan sepatu dengan harga diskon, menaiki beberapa wahana sederhana, lalu menutupnya dengan berwisata kuliner makanan khas pasar malam.


"Makasih Bang, malam ini aku bahagia."


Roman hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Alsava yang terdengar tulus.


Alsava dan Roman pulang dengan hati yang bahagia. Memutuskan kembali ke rumah sebelum malam semakin larut. Motor bebek milik Tedi melaju pelan menuju rumah dengan beberapa kantung kresek tergantung di bagian depan berisi pakaian dan jajanan yang mereka beli dari pasar malam.


***


"Gimana?"


Paman Yon, pria paruh baya yang masih berpakaian jas rapih sedang melakukan panggilan telepon dengan orang kepercayaannya mencari keberadaan Rafan semenjak menghilang.


"Bagus."


Paman Yo mengangguk dengan senyuman tipis di bibir.


"Selanjutnya bagaimana?"


Paman Yo diam sebentar mendengarkan orang kepercayaannya berbicara.


"Apa gadis itu bisa mengerti?" Paman Yo mengangguk yakin lalu menutup sambungan telepon setelah mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Pria paruh baya itu menghela napas dengan pandangan lurus ke depan--menatap pendar cahaya lampu di balik jendela kaca ruang kerjanya--setelah menyimpan ponsel ke dalam saku celana yang dia kenakan.


"Tunggulah sebentar lagi Nak, sampai paman menjemputmu pulang," lirihnya dengan mata menerawang jauh.


__ADS_2