Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Empat puluh dua


__ADS_3

"Kalian mau jelasin atau tetap diam dan bapak cari tahu sendiri?"


Pak Wiryo menyorot tajam Alsava dan Asep secara bergantian. Alsava masih bungkam begitu pun Asep, keduanya memilih menunduk dalam sejak tadi.


Alsava tidak menduga kalau pak Wiryo dan istrinya akan datang ke kontrakan dan mendengar pembicaraannya dengan Asep. Alsava menelan ludahnya berat lalu mengangkat kepala secara perlahan.


Pandangan pertama yang dia lihat adalah kekecewan yang tercetak jelas di wajah pak Wiryo begitu pun istrinya.


"Maaf Pak, Bu, kalau Sava membuat kalian kecewa." Alsava kembali menunduk lalu menghela napas dalam.


Selanjutnya gadis itu memilih menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Dari mulai pertemuannya dengan Rafan empat bulan yang lalu dan pernikahan singkat demi melunasi hutangnya di kampung. Dan yang terakhir dia juga menjelaskan identitas suami yang hanya ia nikahi selama empat bulan itu.


"Apa kamu serius Va, pria itu bernama Rafan dari keluarga Dizhwar?" tanya pak Wiryo sedikit tercengang mendengar cerita Alsava tentang identitas suami singkatnya. Alsava hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


Pak Wiryo dan istrinya saling pandang lalu sama-sama menghela napas dalam. Sementara itu Asep sejak tadi hanya duduk di pojokan dan memperhatikan. Dia juga ingin tahu cerita sebenarnya tentang pernikahan Alsava.


Saat mengetahui semuanya, ada sedikit perasaan lega dalam hati Asep. Entah kenapa dia merasa bahwa perasaannya pada Alsava kembali ada peluang untuk diperjuangkan, setelah mengetahui semua cerita tentang pernikahan gadis di depannya itu.


Bilang saja Asep ingin memanfaatkan situasi, biarlah dia juga tidak akan menyangkalnya. Yang jelas kalau proses pendekatannya dengan Alsava berhasil, dia sudah punya banyak rencana yang mau diwujudkan bersama dengan Alsava.


Ah, hati Asep bahkan sudah berbunga hanya dengan memikirkannya, bibirnya bahkan mengulas senyum yang cukup lebar sekarang.


Sementara Asep tenggelam dalam lamunannya, pak Wiryo dan istrinya mulai menjelaskan pada Alsava siapa Rafan dari keluarga Dizhwar yang pernah dia nikahi.


"Apa kamu tahu siapa Rafan dari keluarga Dizhwar itu Va?" tanya pak Wiryo sambil menatap lekat wajah gadis yang sudah dia anggap sebagai putri sendiri.


Alsava menggeleng. "Yang jelas dia orang yang kaya Pak. Beberapa hari kemarin Sava pernah papasan di jalan dan di restoran cepat saji, dia terlihat menggunakan pakaian mewah dan naik mobil mewah," jawab Alsava polos.


Istri pak Wiryo menepuk pelan punggung tangan Alsava lalu menatapnya lembut. Istri pak Wiryo bersyukur Alsava tidak sampai dituntut karena pernah menyembunyikan keberadaan sang pewaris keluarga Dizhwar.


"Dia tidak hanya kaya Va, tapi sangat kaya. Apa kamu tahu? Dia pewaris tunggal perusahaan Dizhwar corporation. Salah satu perusahaan terkemuka yang bidang bisnisnya sudah menggurita di negara ini." Alsava tersengang mendengarkan penjelasan pak Wiryo.


"Dia juga calon pimpinan di perusahaan tempat Bapak kerja, tempat kamu kerja dulu."

__ADS_1


Kalimat penutup dari bu Wiryo semakin membuat hati Alsava gelisah tidak karuan. Tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa berurusan dengan orang kalangan atas seperti Rafan. Dia bahkan pernah menyeret pria itu hidup serba kekurangan di kampung.


Alsava menggigit bibit bawahnya dengan gelisah. Menatap pak Wiryo dan bu Wiryo secara bergantian. Menelan ludahnya berat sebelum berucap dengan gugup.


"Pak, Bu, apa yang harus Aslava lakukan sekarang? Alsava masih punya hutang yang sangat banyak pada Rafan. Alsava juga mau segera memutus hubungan secara total dengannya, agar bisa hidup tenang." Tangan Alsava saling meremas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Hati Alsava merasakan gusar, meski begitu merasa bersyukur dia tidak sampai dilaporkan ke pihak berwajib karena telah menyembunyikan keberadaan Rafan selama empat bulan terakhir. Dia juga bersyukur tidak dituntut dengan tuduhan penggelapan dana karena menggunakan uang Rafan tanpa ijin.


"Berapa hutang mu pada pak Rafan?" Alsava menelan ludahnya dengan berat mendengar ucapan pak Wiryo.


"Sekitar... "


Bola mata Alsava berkeliaran dengan lincah, berusaha mengingat jumlah uang yang sudah dia gunakan. Alsava beranjak lalu mengambil buku tabungan dan catatan uang yang dia gunakan beserta uang yang sudah disisihkan untuk mencicil dari dalam lemari plastik.


"Ini rinciannya Pak."


Alsava menyodorkan buku tabungan dan catatan hutang dengan gemetar ke arah pak Wiryo. Bu Wiryo yang meraih benda itu terlebih dahulu.


Sepasang suami istri itu membuka dan membacanya dengan cukup teliti lalu saling melempar pandangan. Keduanya juga merasa terkejut dengan semua yang Alsava ceritakan tadi. Niat hati ingin memberikan kejutan dengan berkunjung karena gadis itu ulang tahun, tapi malah mereka yang dapat kejutan.


"Bapak dan ibu punya tabungan, pakailah itu untuk melunasi hutangmu pada pak Rafan," ucap bu Wiryo memecah keheningan di kontrakan tiga petak milik Alsava itu.


"Tapi Bu, -"


"Lebih baik kamu berhutang pada bapak dan ibu dari pada harus terus berurusan dengan keluarga berpengaruh seperti Dizhwar."


Ucapan pak Wiryo yang terdengar dingin membuat Alsava pasrah mengangguk menyetujui.


"Segeralah kembalikan uang pak Rafan saat kamu libur bekerja." Alsava kembali mengangguk dengan kepala menunduk.


"Ya sudah mending kita makan dulu, ini ibu buatin nasi tumpeng beserta lauk yang enak-enak sebagai syukuran bertambahnya usia kamu Va."


Bu Wiryo meraih rantang berisi makanan, ia mulai membuka dan menyajikannya.

__ADS_1


Aroma lezat yang menyapa indra penciuman Alsava dan Asep membuat perut keduanya keroncongan. Tanpa memikirkan ketegangan yang sempat terjadi di ruangan itu, Asep dan Alsava mulai menyantap hidangan itu dengan lahap.


Keduanya juga sangat menikmati setiap suapan dan tidak terburu-buru, karena kebetulan hari ini Asep libur bekerja sedangkan Alsava masuk kerja siang.


Pak Wiryo menatap lekat Alsava yang sedang makan dengan lahap, jujur masih tersisa rasa khawatir dalam hatinya memikirkan nasib Alsava. Dia tahu betul siapa keluarga Dizhwar dan apa yang bisa keluarga itu lakukan pada orang kalangan menengah kebawah seperti dirinya dan Alsava.


Pak Wiryo berharap tidak akan ada lagi masalah yang timbul setelah Alsava mengembalikan uang milik Rafan--pewaris keluarga Dizhwar.


Meski diawali ketegangan, akhirnya suasana mencair saat semua hidangan yang dibawa oleh bu Wiryo habis mereka santap.


***


"Persiapkan dirimu dengan baik untuk rapat dewan direksi dua hari lagi Fan."


Ucapan paman Yo membuat Rafan mengangkat pandangan menatap pamannya dengan terkejut. Paman Yo menghela napas mengerti arti tatapan yang Rafan berikan padanya.


"Sudah saatnya kamu mengambil alih posisi yang sudah sejak lama kamu miliki."


Rafan menghela napas berusaha menghalau kekhawatiran yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Pria itu menimbang cukup lama dalam diam, memilah kata yang akan diucapkan agar tidak menyinggung pamannya.


Beberapa hari lalu, Rangga sudah menikah dengan Alexi secara sederhana. Menikahi wanita yang sedang hamil besar bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibagi ke khalayak ramai.


Maka dari itu, kedua keluarga sepakat mengadakan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga inti tanpa mengundang keluarga besar dan kerabat. Mereka bersepakat akan menggelar pernikahan cukup pantas setelah Alexi melahirkan nanti.


Rangga sudah menang dalam hal menikahi dan memiliki Alexi. Tapi Rafan tidak yakin, sepupunya kemudian akan rela memberikan posisi yang sudah dia tempati selama dua tahun terakhir.


Menurut penyelidikan yang masih terus dilakukan Arman secara diam-diam, Rangga menyimpan banyak rahasia dan dendam pada Rafan.


Bahkan penyelidikan terakhir yang berhasil Arman temukan, ada kemungkinan Rangga terlibat dalam perencanaan kecelakaan yang sempat Rafan alami beberapa bulan lalu.


Rafan bersyukur memiliki Arman sebagai supirnya. Meski tidak berpendidikan tinggi dan berasal dari kampung, Arman memiliki dedikasi dan etos kerja yang baik. Bahkan Rafan tidak menduga sebelumnya kalau Arman berbakat dalam hal menyelidiki sesuatu seperti ini.


"Fan."

__ADS_1


Panggilan paman Yo membuat lamunan Rafan buyar sepenuhnya. Rafan membenahi posisi duduk lalu menatap lurus pamannya.


"Baiklah Paman, aku akan mempersiapkan diri sebaik mungkin."


__ADS_2