
Hari masih terlalu pagi untuk Roman mendapat kejutan yang begitu luar biasa. Matahari bahkan belum begitu terik saat dadanya terasa sangat panas, mengetahui kalau selama empat bulan ini dia menjalani kehidupan orang lain--sosok karangan Alsava.
Selama empat bulan ini tidak pernah Roman--yang sekarang sudah kembali menjadi Rafan--sangka kalau dirinya adalah seorang pewaris salah satu perusahaan ternama di negeri ini.
Rafan menghela napas dan bersandar di kursi mobil mewah. Pria itu menatap jalanan yang dilewatinya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang jauh ke kejadian beberapa saat lalu.
"Jadi maksudmu kamu bohongin aku dan manfaatin keadaan aku Va?" Rafan sudah tidak bisa berfikir jernih, dia berteriak meninggikan suara di depan Alsava. Hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan selama empat bulan ini.
"Maaf."
Hanya kata itu yang terus Alsava ulang-ulang saat Rafan memojokkannya dengan kalimat yang menyakiti hati gadis itu.
"Aku menjalani hidup susah sampai tidak punya harga diri ternyata kamu mempermainkan aku Alsava!" Bentak Rafan lagi hingga membuat Alsava mengkerut takut dan mulai terisak pelan.
"Sudahlah Nak, kita pulang saja. Paman tahu kamu pasti merasa tertipu dan terperdaya tapi setidaknya gadis ini sudah merawat kamu selama ini."
"Tapi ini tidak benar Paman," elak Rafan masih dengan emosi yang meluap-luap.
Alsava melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan seraya menahan isakan. Dia melirik wajah Rafan yang terlihat merah padam dan menegang. Sudah tidak ada lagi Roman yang lemah lembut dan berbicara padanya penuh kasih sayang.
Yang ada di depannya sekarang adalah tuan muda Rafan yang arogan sang pewaris tahta perusahaan besar milik keluarga Dizhwar.
"Maaf saya sudah jual jam tangan mahal Abang, tapi waktu itu aku bingung karena harus bayar biaya operasi dan perawatan Abang. Ini buku tabungan beserta Atm sisa uang penjualan jam tangan, di dalamnya ada secarik kertas berisi pin dan rincian uang Abang yang aku pake."
Rafan mendengus tidak suka, dia bahkan memalingkan wajah seolah tidak sudi menatap wajah Alsava yang kini sedang menatapnya sendu. Alsava menyodorkan buku tabungan lebih dekat ke arah Rafan. Pria itu diam enggan menerima dan malah bersidekap dada.
"Aku janji Bang, semua uang yang aku pake secepatnya aku ganti."
"Hebat kamu Va, selama ini membuatku tidak punya harga diri karena menjadi suami yang tidak mampu menafkahi. Rupanya uang yang kamu pake punya ku juga." Rafan tertawa hambar di akhir kalimat.
"Maaf."
Hanya kata itu yang terproses oleh otak Alsava, gadis itu menunduk dalam. Rafan lagi-lagi tidak menoleh dan merespon. Rasa kecewa yang dia rasakan membuat rasa sayang yang tumbuh untuk gadis itu sirna dan berubah menjadi rasa benci yang mendalam.
__ADS_1
Paman Yo yang sudah malas melihat drama antara Rafan dan Alsava pun mulai berdiri.
"Rafan ayo kita pulang!" ajaknya seraya membantu Rafan berdiri.
Alsava yang melihat itu tidak tinggal diam, dia mengambil buku tabungan yang tergrletak di lantai lalu bangkit berdiri bergegas mengejar Rafan yang sudah berada di ambang pintu.
"Abang aku minta maaf, aku mohon terima ini Bang. Sisanya aku janji bakal ganti." Alsava mencekal lengan Roman dan mendesakkan buku tabungan itu ke pria yang masih menampilkan aura yang tidak bersahabat.
"Tidak perlu, ambil itu anggap saja upah kamu yang sudah mau merawatku dengan cukup baik." Rafan menarik lengannya kuat hingga membuat tubuh kurus Alsava terhempas ke belakang.
Pria itu melangkah pasti mengikuti paman Yo dan orang suruhannya meski dengan cara berjalan yang belum normal.
"Dia pasti sangat membenciku, bahkan tidak menoleh sampai akhir," lirih Alsava dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi, gadis itu menatap nanar punggung Rafan yang semakin menjauh dari jangkauan penglihatannya.
"Salahmu sendiri Va, maka tanggunglah semua resikonya," gumamnya seraya menangis tersedu, air mata berjatuhan membasahi lantai dan buku tabungan yang dia pegang.
"Dasar wanita pembohong!" desis Rafan, kedua tangan mengepal di atas lutut. Paman Yo yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan tidak berniat menenangkan.
Pria paruh baya itu malah menatap pemandangan di balik jendela, membiarkan Rafan menikmati gejolak emosinya sekarang.
***
"Ayo turun Nak, kita sudah sampai!" ajak paman Yo saat Rafan masih belum turun dari mobil padahal mesin mobil sudah mati sejak lima menit yanng lalu.
Pria paruh baya itu membuka pintu mobil di samping Rafan.
"Ayo Nak! jangan bingung, ini itu rumah kamu peninggalan dari kedua orang tuamu."
Rafan mengerjap tersadar dari lamunannya yang terpana dengan bangunan megah yang didominasi oleh cat berwarna putih dan sedikit polesan warna emas. Dengan perlahan Rafan turun dari mobil, tidak langsung melangkah namun tertegun beberapa saat. Lagi-lagi terpana dengan hunian mewah di depannya.
"Ayo Nak!"
Sekali lagi Rafan tersentak oleh ajakan paman Yo yang sudah berada di ambang pintu. Dengan sedikit kepayahan Rafan menaiki undakan teras rumah lalu mulai mengikuti langkah paman Yo masuk ke dalam.
__ADS_1
Lagi-lagi Rafan terpukau dengan keindahan rumah dan design interior yang mewah, serta tata letak perabotan yang sepertinya sudah difikirkan dengan matang.
"Paman antar ke kamar mu Nak!" Paman Yo terus menggiring Rafan masuk ke dalam lift menuju kamarnya di lantai tiga.
"Masuklah dan beristirahat." Rafan masih tidak mengeluarkan suara saat paman Yo membuka pintu sebuah kamar yang luas dan tidak kalah mewah. Perlahan Rafan masuk dengan bola mata lincah memindai setiap sudut kamar.
"Kalau ada apa-apa panggil Bi Asih melalui sambungan telepon atau bisa panggil pelayan yang lain," ucap paman Yo sebelum menutup pintu kamar dan mendapat anggukan dari Rafan.
Perlahan Rafan melangkah mendekat ke arah Ranjang yang terlihat luas dan rapih. Warna sprei senada dengan warna cat kamar yang didominasi warna putih dan abu, kombinasi warna monokrom yang menimbulkan kesan maskulin dan rapih.
Rafan duduk di pinggir ranjang lalu meraba permukaan ranjang yang lembut dan empuk. Entah kenapa hatinya tiba-tiba mengingat kasur tipis yang selama empat bulan dia tiduri saat berada di rumah reyot milik Alsava di kampung.
Bibirnya tersungging sinis, merutuki hatinya sendiri karena membandingkan kenyamanan tidur di kasur butut dan ranjang super mewahnya sekarang. Rafan sedikit membanting tubuhnya terlentang di atas kasur, tubuh yang sedikit bergoyang naik turun menunjukkan betapa empuk kasur yang dia tiduri sekarang.
Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Meski rasa benci, kecewa dan marah mendominasinya tadi hingga mampu berbuat kasar bahkan membentak Alsava, jauh di sudut terkecil hatinya Rafan sudah merindukan gadis itu padahal mereka belum lama berpisah.
"Aku harus bisa melupakan gadis pembohong itu, dia hanya memanfaatkan ku demi kepentingannya sendiri." Mengingat semua itu kedua tangan Rafan mengepal kuat di atas kasur. Dadanya kembali bergemuruh menahan emosi yang kembali mencuat.
"Breng.sek!" umpat Rafan penuh kekesalan karena sebesar apapun rasa marah dan kecewanya pada Alsava, sudut hati kecilnya tidak bisa sepenuhnya membenci meskipun otaknya mau.
"Ini hanya masalah waktu, ya aku yakin seiring berjalannya waktu aku akan lupa sama gadis itu," gumam Rafan seraya menghela napas pelan.
***
"Iya kenapa Yo?" tanya Bu Cathrine--ibunya Alexi--menyapa paman Yo lewat sambungan telepon.
Mata wanita paruh baya--dengan rambut merah terang--itu menatap putrinya yang sedang fitting baju pengantin di bantu beberapa staf butik. Ya, akhirnya pernikahan Alexi dan Rangga sedang dipersiapkan setelah minggu kemarin Rangga melamar Alexi secara resmi pada kedua orang tuanya.
Wajah bu Cathrine seketika pias saat mendengar penuturan rekan bisnisnya di telepon. Dia menatap putrinya yang sekarang sedang menyunggingkan senyum menatap pantulan dirinya dalam balutan gaun pengantin di cermin.
"Baik, nanti aku sampaikan kabar ini ke Alexi." Bu Cathrine menelan ludahnya dengan berat, rasa khawatir mulai menjalar ke seluruh hatinya tentang kabar yang baru saja dia dengar.
"Apa yang akan terjadi nanti kalau,-"
__ADS_1
"Siang tante, wah... Aku jadi yakin ternyata kecantikan Alexi memang turun dari maminya." Ucapan bu Cathrine mengantung di udara saat tiba-tiba Rangga datang menyapa dengan senyumannya yang hangat.
Bu Cathrine tidak bisa berkata-kata, berusaha tersenyum kaku sebagai respon ucapan Rangga.