Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Tiga puluh tiga


__ADS_3

Sepanjang hari Rafan mempelajari dokumen tentang perusahaan, profil perusahaan serta sejarah berjalannya bisnis yang didirikan oleh kakek dan dikembangkan oleh papahnya. Tiba-tiba perasaan bersalah mencuat dalam hatinya.


Betapa dulu dia sangat tidak bertanggung jawab karena memilih melarikan diri dari pada memperjuangkan perusahaan yang sudah dibangun oleh kakek dan papanya dengan kerja keras dan susah payah. Tangan Rafan mengepal merasa kesal dan marah pada diri sendiri.


Aku akan memperbaiki diri Pa, aku janji. Aku akan berjuang semampu ku untuk tetap membuat perusahaan yang kalian perjuangkan berdiri dengan tegak di tengah persaingan.


Rafan meraba permukaan gambar foto papanya yang terpangpang di halaman terakhir dokumen yang sedang dia baca. Senyuman papanya terlihat gagah dan penuh wibawa. Dia jadi ingat foto keluarga yang terpajang di ruang kerja di rumahnya.


Di foto itu ada Kakek yang sedang duduk memangku Rafan yang berusia sekitar 10 tahun dan kedua orang tuanya yang sedang berdiri di belakang mereka seraya tersenyum. Ah... meski ingatannya belum kembali, Rafan bisa merasakan hangat menjalar ke seluruh permukaan hatinya.


Aku harus bisa memimpin perusahaan keluarga ku dengan baik.


Tiba-tiba Rafan teringat dengan ucapan Rangga saat sedang mabuk seminggu yang lalu. Rafan menghela napas dalam lalu menutup dokumen yang dia baca dan meletakkannya di atas meja. Melakukan gerakan kecil untuk meringankan rasa pegal karena terlalu lama duduk.


Rafan mengedarkan pandangan ke ruangan paman Yo yang terlihat kosong, paman nya memang pamit menghadiri pertemuan dengan salah satu klien dan akan langsung pulang setelah pertemuan itu berakhir.


Tinggalah Rafan seorang diri sejak tadi siang di ruangan paman Yo--yang masih berada satu lantai dengan ruangan CEO yang kini ditempati oleh Rangga. Dahi Rafan mengernyit, samar dia mendengar keributan di luar ruangan.


Karena rasa penasaran yang tinggi serta berniat sekalian pulang--berhubung hari sudah sore--Rafan memutuskan untuk keluar ruangan. Namun baru sedikit daun pintu itu terbuka, Rafan menghentikan gerakan karena melihat pemandangan yang membuatnya terkejut.


Rafan mengurungkan niatnya untuk keluar, malah terdiam di balik daun pintu yang sedikit terbuka, dengan begitu dia bisa mendengar percakapan dua orang di lorong tepat di depan ruangan paman Yo dan ruangan CEO.


Sepanjang mendengarkan percakapan dua orang itu, dada Rafan bergemuruh. Detak jantungnya berdetak kencang dengan kedua tangan mengepal menahan emosi yang mendidih sampai ke ubun-ubun.


Tak berselang lama kedua orang itu masuk ke dalam lift yang berada di ujung lorong. Rafan menghela napas dalam, berusaha menenangkan diri.


"Baiklah, akan aku ikuti semua permainan kalian," gumam Rafan seraya duduk kembali di sofa.


Dia menghela napas beberapa kali, meminum segelas air putih yang dia tuang dari dispenser air yang berada di dalam ruangan. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan diri sebelum pulang. Rafan akhirnya memutuskan mencari tahu fakta tersembunyi dibalik pembicaraan dua orang tadi.


Rafan tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Karena kalau salah langkah, maka dia akan kehilangan sesuatu yang mulai ingin diperjuangkan.


"Kamu harus kuat Rafan, jangan tunjukkan rasa takut mu di depan semua orang."


Begitu kalimat penyemangat yang dia gumamkan untuk meyakinkan diri sendiri. Rafan sekali lagi menghela napas dalam lalu bangkit berdiri.


Merapihkan bajunya sebentar lalu benar-benar melangkah keluar ruangan, memutuskan pulang dan beristirahat. Hari ini semua tenaganya terkuras habis untuk mempelajari beberapa dokumen dan mendengar sesuatu yang mengaduk-aduk perasaannya.

__ADS_1


"Aku harus menyelidikinya sendiri," gumamnya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Apa tuan akan langsung pulang?" tanya supir yang tadi pagi juga mengantarnya.


"Kita langsung ke rumah."


Pria muda yang duduk di balik kursi kemudi itu mengangguk seraya melirik sekilas sang majikan yang duduk di bangku belakang. Perlahan mobil mewah yang ditumpangi oleh Rafan bergerak keluar dari kawasan perusahaan Dizhwar corp.


"Arman."


Rafan memanggil nama pria muda yang sedang fokus mengemudi. Tiba-tiba ada ide cemerlang untuk memulai penyelidikan tentang hal yang ingin dia pastikan.


"Iya Tuan muda?" jawab Arman, dahinya menunjukkan lipatan samar karena Rafan memanggil seraya menatap pemandangan di balik jendela.


"Apa kau sudah lama bekerja jadi supirku?"


Kali ini Rafan menatap lurus ke depan, pandangannya sempat bersirorok dengan Arman yang melirik lewat kaca spion tengah.


"Belum lama Tuan, saya baru bekerja saat anda pulang dari luar negeri sekitar lima bulan lalu."


"Siapa yang mempekerjakanmu? Apa Paman Yo?"


"Selama aku menghilang apa yang kamu kerjakan?" tanya Rafan lagi, nada bicaranya santai hingga Arman tidak merasa seperti diintrogasi.


"Saya dipekerjakan menjadi supir perusahaan yang bertugas mengantar staf yang berpergian menghadiri pertemuan atau peninjauan lapangan."


Rafan bergumam dan mengangguk sebagai respon.


Obrolan diantara keduanya mengalir begitu saja, bahkan Arman bercerita tentang keluarganya. Ayah dan ibunya seorang petani di kampung dan dia memiliki dua orang adik perempuan yang masih sekolah.


"Arman, berapa gaji mu selama ini?" Rafan bertanya dengan tenang.


Mobil mulai berbelok masuk ke dalam kawasan perumahan elit dimana rumah Rafan berada. Lampu taman terlihat menyala di beberapa rumah mewah yang mereka lewati.


"Gaji yang saya terima sudah lebih dari cukup Tuan, sebanding dengan pendidikan saya yang hanya tamatan SMA."


Rafan kembali mengangguk, menyukai sikap Arman yang dirasa tidak serakah atau mudah disuap oleh uang.

__ADS_1


"Arman, aku akan menggandakan gaji mu. Tapi tolong bantu aku mengerjakan satu pekerjaan lagi selain menjadi supir pribadiku."


"Pekerjaan apa Tuan?"


"Nanti kau akan tahu."


Rafan membenarkan posisi duduk bersiap keluar mobil setelah Arman memarkirkan mobil miliknya dengan baik di garasi rumah.


***


"Lepasin!" seru Alexi dengan napas memburu.


Tangan Alexi mencengkram kuat lengan Rangga yang mendekap lehernya dari belakang. Sekuat apapun mencoba cengkraman itu tidak mengendur barang sedikit pun.


"Aku nggak akan pernah ngelepasin kamu Lex!" geram Rangga dengan penuh emosi.


Meski begitu, pria itu masih berfikir jernih dan tidak membahayakan janin yang sedang Alexi kandung.


Air mata Alexi luruh begitu saja membasahi pipi, cairan itu mengalir deras meski isakan tidak terdengar. Jujur dia merasa takut dengan tindakan Rangga saat ini.


"Tolong Ngga, lepasin!"


Kali ini suara Alexi rendah terdengar lembut. Dan berhasil, cengkraman itu mengendur secara perlahan dan terlepas pada akhirnya. Alexi menghirup napas lega lalu tubuhnya luruh terduduk lemas di sofa yang berada di dekatnya.


Awalnya Alexi datang ke gedung perusahaan untuk mencari Rafan yang telah melupakan janji makan siang bersama. Pria itu bahkan tidak mengangkat telepon atau membalas pesan singkat yang Alexi kirim.


Itulah kenapa Alexi nekat datang ke gedung perusahaan Dizhwar corp. Tapi naas bukannya menemukan Rafan, Alexi malah bertemu dengan Rangga--orang yang selama satu minggu ini dia hindari.


Alexi dan Rangga sempat berdebat hebat di lorong perusahaan, sampai pada akhirnya Rangga berhasil memaksa Alexi untuk mengikutinya pergi ke apartemen milik Alexi yang sudah seminggu ini tidak ditempati.


"Jangan pernah berfikir untuk menghindar atau pergi dari ku, Lex!" seru Rangga penuh ancaman membuat Alexi dengan susah payah menelan ludah.


Tubuh ibu hamil itu bergetar menahan takut, dia tahu betul Rangga bisa berbuat nekat kala merasa tersudut. Rangga mencengkram bahu Alexi lalu merendahkan kepalanya dan berbisik tepat di telinga kiri wanita itu.


"Alexi sayang, apa kamu yakin Rafan tetap menerima mu setelah tahu benih siapa yang kamu kandung? dan... Ah mungkin sebentar lagi Rafan akan ingat bagaimana kamu meninggalkannya setelah kecelakaan itu terjadi."


Dada Alexi berdebar, napasnya memburu dengan tenggorokan yang tercekat. Wanita itu mendelik tajam ke arah Rangga yang sedang menampilkan seringai yang terlihat mengerikan.

__ADS_1


Bagaimana Rangga bisa tahu?


__ADS_2