Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh delapan


__ADS_3

Tanpa menunggu Arman memarkirkan mobil dengan benar, Rafan sudah melompat keluar bahkan saat mobil masih bergerak. Hal itu tentu membuat Arman khawatir dan heran. Fikiran negatif yang sejak tadi menggelayut di otaknya menjadi goyah dengan kenyataan yang dia lihat.


"Apa mungkin suami yang bucin begitu bisa selingkuh atau main serong?"


Arman menghela napas, mematikan mesin mobil lalu melangkah keluar. Pemuda itu mengikuti langkah Rafan yang sudah tidak terlihat. Dia hanya melangkah masuk mengikuti instingnya saja.


Saat tiba di depan ruang IGD rumah sakit, Arman menatap sendu majikannya yang terlihat kacau dan tidak tertolong. Dengan kemeja berantakan yang tidak terkancing dengan benar, rambut yang berantakan ditambah raut wajah khawatir bercampur takut, membuat siapa saja yang melihat tidak akan menyangka dia adalah Rafan Coman Dizhwar seorang CEO termuda dari perusahaan Dizhwar.


"Sus bagaimana istri saya?"


Saat ada perawat yang keluar dari ruang IGD, Rafan langsung menodongnya dengan pertanyaan. Perawat itu mengeryitkan dahi, jujur dia bingung harus menjawab apa karena pasien yang berada di dalam tidak hanya satu.


"Istri saya Sus bagaimana kondisinya?" Kembali bertanya dengan kesal karena perawat itu hanya diam menatapnya.


"Maaf Pak, dengan keluarga pasien siapa?"


Rafan diam, otaknya mendadak berhenti bekerja bahkan tidak bisa mengingat nama istrinya. Arman yang berada di dekat mereka ikut menyahut untuk mewakili majikannya yang sedang kalut.


"Namanya nyonya Alsava, korban kecelakaan di taman kota beberapa jam yang lalu."


Mendengar jawaban Arman, perawat itu bergumam seraya menganggukkan kepala beberapa kali.


"Oh yang itu, sudah ada di kamar mayat Pak, karena korban sudah dalam keadaan meninggal saat dibawa ke sini."


Duarrr!!!


Bagai petir yang menyambar saat Rafan mendengar penjelasan perawat di hadapannya. Lututnya lemas tidak mampu menopang berat badannya sendiri. Tubuh kekar itu luruh ke lantai dengan tatapan kosong ke depan.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," lirih Arman sambil menatap iba majikannya.


Dunia Rafan runtuh, hati dan fikiran mendadak kosong. Matanya mengerjap pelan merasakan hembusan angin yang terasa lembut menerpa wajahnya. Perkataan perawat tadi belum bisa jiwanya cerna dengan baik.


Bukankah tadi pagi dia masih berdebat dengan Alsava? lalu bagimana mungkin sekarang isttinya itu sudah tiada? Tidak ini tidak benar. Rafan menggeleng pelan dengan tatapan kosong. Berusaha bangkit berdiri namun selalu jatuh kembali.


Arman yang berada di dekatnya dengan sigap memapah majikannya untuk berdiri dan mendudukkannya di kursi tunggu tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Tangan Rafan mencengkram kuat lengan Arman berusaha menguatkan diri.


Ya ampun kasihan sekali Tuan, baru mantenan dua bulan sudah ditinggal mati istri.


Si perjaka ting ting ini malah salah fokus dengan keadaan yang ada. Dengan kemampuan seadanya, berusaha menenangkan Rafan yang terlihat seperti mayat hidup sekarang.


Wajah sayu, matanya menatap kosong ke sembarang arah. Arman mengelus lembut punggung Rafan naik turun berusaha menyalurkan kekuatan.


"Tuan apa mau melihat nyonya untuk memastikan?"


Pertanyaan Arman membuat Rafan menoleh ke arahnya, kesadaran Rafan kembali setelah berkelana entah kemana. Dentuman hebat terasa di dada, berlanjut dengan denyut menyakitkan saat otaknya sudah mulai selaras dengan kenyataan.


Istrinya sudah berpulang.


Rafan menghela napas. Air mata yang sejak tadi belum nampak, kali ini mengalir begitu saja melewati pipi. Jujur saja hatinya belum siap kalau harus melihat kondisi jasad istrinya.


Kalau saja dia tahu akan seperti ini, mungkin tadi pagi dia tidak akan pernah pergi meninggalkan Alsava.


Tidak akan marah sampai tidak mau menoleh ke arahnya. Kalau saja dia tahu pagi tadi terakhir kali bisa menatap wajah cantik Alsava, mungkin dia tidak pernah mau berpaling.

__ADS_1


Apa ini maksudnya dia mau hidup terpisah? Terpisah dalam dunia yang berbeda?


Hatinya masih berdenyut nyeri, air mata terus bercucuran meski tidak terdengar isakan. Kini Rafan terlihat sangat menyedihkan karena ditinggal oleh separuh hidupnya.


"Tuan?"


Arman bingung karena sejak tadi Rafan hanya diam dan tidak merespon ucapannya. Pria itu hanya duduk diam, menatap kosong dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


Di tengah kebingungan, Arman akhirnya memutuskan menelpon bi Asih mengabarkan keadaan yang telah terjadi. Pemuda itu berharap kalau bi Asih bisa melakukan hal yang seharusnya dilakukan yang Arman sendiri tidak tahu itu apa.


Selepas menelepon bi Asih, Arman akhirnya memutuskan duduk di samping Rafan yang sejak tadi belum bergerak. Pemuda itu sekali lagi menghela napas lalu menatap iba majikannya.


Ternyata harta bukan jaminan kebahagiaan. Lihatlah dia, meski hartanya banyak tapi dia sendirian tanpa keluarga dan baru saja ditinggal oleh istrinya. Malang sekali nasibmu Tuan.


Rafan dan Arman tenggelam dalam lamunan dan fikiran mereka masing-masing. Sejenak mengabaikan keadaan sekitar yang terlihat lalu lalang orang. Tanpa mereka berdua sadari ada seorang wanita menggunakan perban di kening menghampiri.


Wanita itu duduk di kursi kosong tepat di samping Arman. Duduk santai bersandar tanpa mengeluarkan suara. Menghela napas lalu meraba perban yang ada di keningnya.


"Tuan? Apa kita akan mempersiapkan pemakaman nyonya?"


Rafan menoleh dengan lemas ke arah Arman tanpa menjawab, pria itu masih terjebak dalam kesedihan yang mendalam.


"Pemakaman siapa? Emang siapa yang meninggal?"


Wanita yang duduk di samping Arman mulai bersuara. Arman dan Rafan sampai berjengit kaget mendengar suara siapa yang baru mereka dengar. Kedua pria itu saling pandang lalu menoleh secara perlahan ke sumber suara.


"Aaaaaaaaa... hantu..!"


Arman bangkit berdiri lalu berlari tak tentu arah. Berbeda dengan Rafan yang hanya diam mematung sambil mengerjapkan mata.


Kejadian beberapa saat yang lalu..


Saat Alsava akan menyebrang jalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada yang memanggil. Karena merasa jalanan sedang lenggang, wanita itu dengan santai menjawab panggilan sambil berjalan. Karena asyik dengan ponsel dia sampai tidak menyadari kalau sedang berdiri di tengah jalan.


Tak berselang lama tidak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah truk pengangkut pasir melaju dengan kencang. Supir truk sedang sangat mengantuk sekarang sampai pandangannya sedikit berkabut tidak jelas.


Di belakang Alsava, ada pemuda sedang berjalan kaki mengunakan headphone. Keduanya tampak asyik tanpa tahu bahaya yang sedang mengintai. Dan akhirnya kecelakaan itu tak terelakan. Keduanya tertabrak truk yang melaju dengan kencang.


Pemuda itu terkapar dengan banyak darah menggenang di aspal. Sedangkan Alsava terlempar jauh ke trotoar jalan, keningnya membentur batu hingga membuatnya kehilangan ke sadaran.


Supir truk juga mengalami luka yang parah karena sempat terhimpit badan mobil, mobil truk itu sempat melaju tak terkendali setelah menabrak dua pejalan kaki dan akhirnya berhenti setelah menabrak sebuah tiang listrik.


Semua korban dilarikan ke rumah sakit terdekat. Naas pemuda pejalan kaki tadi meninggal diperjalanan menuju rumah sakit. Begitu pun dengan supir truk yang masih di rawat di ruang ICU karena mengalami koma.


Berbeda dengan Alsava yang hanya luka ringan di bagian kening dan lecet di lengan bagian kanan. Wanita itu mendapatkan kesadarannya saat sedang mendapat pertolongan dari dokter.


Alsava beringsut turun keluar ruangan bermaksud menghubungi Rafan melalui rumah sakit, karena ponselnya entah terlempar kemana saat kecelakaan itu terjadi.


Saat keluar dari ruang IGD, dia tersenyum lega karena Rafan dan Arman sudah duduk di kursi tunggu. Alsava duduk tepat di samping Arman tanpa mengeluarkan suara, dia mendengar Arman membicarakan tentang pemakaman. Hatinya membatin, emang siapa yang meninggal?


"Abang, emang siapa yang meninggal?" tanya Alsava lugu seraya mengerjapkan mata.


Rafan sontak saja memeluk erat Alsava sambil terisak pelan. Pria itu bersyukur apa yang dia dengar tadi bukanlah kenyataan. Pria itu mengurai pelukan lalu meraba wajah Alsava dengan lembut, air mata masih mengalir dengan napas pendek berlomba dengan isakan.

__ADS_1


"Tidak ada, tidak ada yang meninggal."


Rafan kembali memeluk Alsava dengan penuh rasa syukur, berjanji dalam hati untuk terus membahagiakan gadis pembuat onar ini.


"Nona huru-hara, i love you!" bisik Rafan di telinga Alsava membuat dada wanita itu berdesir dan menerbitkan senyum di bibirnya.


Saat keduanya tenggelam dalam pelukan yang penuh rasa syukur, bi Asih datang bersama paman Yo dan istrinya.


Ketiganya mematung tidak jauh dari pasangan suami istri yang sedang berpelukan. Mereka bingung karena apa yang dilihat tidak seperti informasi yang mereka dengar.


"Maaf Tuan, apa Nyonya tidak jadi meninggal?"


Pertanyaan polos bi Asih membuat Rafan dan Alsava mengurai pelukan dan tersenyum ke arahnya. Keduanya tidak menjawab malah tersenyum manis saja. Paman Yo menatap istrinya dengan bingung, begitupun sebaliknya.


"Syukurlah Nyonya!"


Bi Asih menghambur memeluk Alsava, dia sangat bersyukur karena Alsava baik-baik saja. Terlebih ada kemungkinan calon penerus Dizhwar sedang tumbuh di dalam rahim wanita itu.


"Selamat Nyonya, selamat!"


Setelah mengurai pelukan, bi Asih malah memberi selamat untuk hal yang tidak Alsava mengerti.


"Kemungkinan Nyonya hamil."


Tanpa diminta bi Asih menyampaikan dugaannya. Rafan sempat bingung tapi kemudian langsung memeluk Alsava dengan penuh kasih. Kali ini air mata bahagia yang luruh di pipi Rafan.


Paman Yo kembali menatap bingung istrinya begitu pun sebaliknya. Sepasang suami istri paruh baya itu tidak mampu mencerna insformasi yang datang bertubi dan membuat mereka bingung.


"Jadi sebenarnya siapa yang meninggal?" tanya paman Yo.


"Terus siapa yang hamil?" Istri paman Yo terlihat sama bingungnya.


Keduanya menatap bingung pada Rafan, Alsava dan bi Asih yang sedang berpelukan merayakan hal yang masih belum terkonfirmasi.


--- TAMAT ---


Epilog :


"Kasihan ya suami korban kecelakaan tadi, kelihatan banget sangat terpukul dengan kepergian istrinya."


Perawat yang berjaga di ruang IGD--yang memberikan infornasi pada Rafan tadi--berbicara penuh prihatin pada rekan sejawatnya yang berjaga di kamar mayat. Perawat laki-laki itu menoleh ke arah temannya dengan dahi berkerut samar.


"Korban kecelakaan yang meninggal tadi seorang pria, kok bisa punya suami?" Dengan bingung menyuarakan fakta pada teman di hadapannya ini.


Perawat yang tadi berjaga di IGD terlihat kaget dan sangat menyesal karena sudah salah memberikan informasi.


"Masa? ya ampun!"


"Jadi apa mereka pasangan sesama jenis?"


Kalau perawat yang satu sudah sadar yang satu lagi malah tenggelam dalam kesalahpahaman yang lebih dalam.


Dan di sudut rumah sakit, ada seorang pemuda yang sedang duduk berjongkok dengan gemetar karena takut telah melihat hantu istri majikannya.

__ADS_1


"Apa setelah meninggal nyonya berubah jadi hantu yang jahil?" gumam Arman dengan gemetar.


__ADS_2