
Rafan menekuk wajahnya mendengar keputusan di ruang rapat direksi siang tadi. Pria itu mengunci mulutnya sejak tadi. Masih enggan membuka suara apalagi memasukkan makanan atau minuman barang sedikit pun padahal hari sudah beranjak gelap.
Pria itu sedang duduk termenung di taman belakang rumahnya. Duduk bersandar di kursi panjang, Rafan menyapu pandangan menatap beberapa tanaman hias yang terlihat indah di depannya. Pendar dari cahaya lampu taman membuat pemandangannya semakin indah dan nyaman.
Hembusan angin yang cukup dingin terasa menusuk permukaan kulit diabaikan begitu saja. Hatinya sedang merasa resah, bahkan mengalami krisis kepercayaan diri sekarang.
"Meski pun Dizhwar corporation didirikan oleh keluarga Dizhwar, namun kami tidak bisa percaya pada bocah yang lari dari tanggung jawab dua tahun lalu. Kami menolak pengangkatan CEO baru meski dia pewaris tunggal keluarga Dizhwar!"
Ucapan tegas dari para sesepuh direksi pemegang saham terbanyak terus berulang-ulang di kepala Rafan layaknya sebuah kaset kusut. Mendapat penolakan hampir dari seluruh direkai membuat Rafan tidak berkutik dan sempat membela diri.
Ah.. Rafan lupa dirinya memang salah, dua tahun lalu sudah gegabah dan bersikap kekanakan. Kini dia terpuruk sendirian tanpa keluarga, teman, tunangan bahkan tidak dipercaya menempati posisi sebagai CEO di perusahaan yang kakeknya bangun dengan susah payah.
"Tuan.. "
Rafan menoleh ke belakang dan menemukan bi Asih sedang memegang nampan berisi sebuah cangkir yang masih mengepulkan asap.
"Kemari Bi, letakkan di sana saja," titah Rafan seraya menunjuk sebuah meja kecil bundar tidak jauh dari jangkauannya. Memberi isyarat agar bi Asih meletakkan nampan itu disana dan bi Asih pun menurut.
Wanita paruh baya itu menatap sendu wajah anak majikannya. Ada perasaan iba sekaligus khawatir melihat kondisi Rafan yang seperti ini. Karakter Rafan jauh berubah saat kembali setelah menghilang selama empat bulan.
Tuan muda yang suka main perintah dan tidak mau tahu akan kesulitan seseorang, berubah jadi sosok majikan yang mandiri dan memiliki rasa empati yang cukup baik pada lingkungan sekitar. Cara dia menghadapi masalah pun cukup mengalami perubahan yang signifikan.
Kalau Rafan dulu pasti akan mengamuk dan menghancurkan barang saat keinginannya tidak bisa terwujud. Tapi sekarang, Rafan hanya diam dan termenung.
Bi Asih dan beberapa pelayan wanita di rumah ini sempat punya pemikiran, kalau mungkin saja Rafan tertukar dengan orang lain saat ditemukan beberapa minggu lalu.
Meski sempat terbawa arus asumsi para pelayan wanita, nyatanya bi Asih mampu mengenali Rafan yang sudah dia asuh sejak kecil meskipun tanpa ciri tertentu. Rafan tetaplah anak majikannya yang berhati lembut dan hangat, meski perubahan karakter yang cukup mencolok namun kebiasaan dasarnya tetaplah sama.
Rafan rapuh dari dalam sejak dulu. Tubuhnya memang terlihat sehat dan kuat namun menyimpan kepedihan mendalam saat harus kehilangan sosok ibu di usia remaja, lalu kehilangan sosok ayah yang selalu tenggelam dalam pekerjaan.
Beruntunglah Rafan tidak terjerumus pada pergaulan yang salah, anak itu tidak suka minum alkohol maupun main perempuan. Dulu ayahnya sangat ketat menjaga pergaulan anaknya meski dia sibuk dengan pekerjaan.
Dan Rafan termasuk anak yang penurut meski memendam semua sendiri. Sejujurnya Rafan adalah orang yang haus akan kasih sayang. Makanya saat dia dijodohkan dengan Alexi, pria itu menerima dengan baik dan menjadikan Alexi dunia sekaligus sumber kebahagiaannya.
__ADS_1
Dan sekarang, bi Asih semakin prihatin dengan apa yang menimpa Rafan. Dia terpuruk sendirian karena ditinggalkan tunangan menikah dengan sepupunya sendiri dan tidak diterima menjadi pewaris perusahaan keluarganya sendiri.
Bi Asih menghela napas lalu memberanikan diri mendekat pada Ragan yang masih menatap kosong ke sembarang arah.
"Mmm.. Tuan."
Rafan menoleh dengan ekpresi datar. Bi Asih menelan ludahnya berat, bola mata berkeliaran lincah sebelum berucap.
"Cuacanya dingin, lebih baik Tuan masuk ke dalam." Kepala bi Asih menunduk takut Rafan meledak marah karena sudah lancang menasehati.
"Apa Bibi punya anak?"
Bi Asih mengangkat kepala menatap Rafan dengan terkejut, sama sekali tidak memprediksi pertanyaan Rafan.
"Sa-saya punya Tuan, anak saya ada dua dan sudah menikah semua. Cucu saya bahkan sudah mau empat."
Bibir bi Asih mengulas senyum kala menceritakan anak dan cucunya. Setiap hari libur bekerja, wanita paruh baya itu akan mengunjungi kedua anaknya secara bergantian. Melepaskan rindu dan saling bercengkrama akrab.
"Maaf Tuan."
"Kenapa minta maaf Bi? aku senang Bibi masih punya orang yang bisa diajak berkumpul dan saling menyayangi. Tidak seperti aku." Suara Rafan melemah di akhir kalimat membuat bi Asih kembali menatapnya iba.
"Tuan... "
"Mari masuk Bi, setidaknya aku harus sehat buat menghadapi hari esok. Karena aku hanya sendirian sekarang, jadi harus pandai menjaga diri."
Rafan bangkit berdiri, membenahi pakaian lalu mulai melangkah masuk ke dalam rumah seraya membawa cangkir berisi teh buatan bi Asih.
"Segeralah menikah Tuan, agar rumah besar ini jadi ramai."
Ucapan bi Asih memang sedikit lancang untuk ukuran seorang kepala pelayan, namun membuat hati Rafan menghangat mendengarnya. Ternyata masih ada yang perhatian pada dirinya. Rafan berbalik menatap lurus bi Asih.
"Doakan Bi, semoga disegerakan bertemu jodoh yang tepat."
__ADS_1
Kalimat yang tidak panjang ataupun pendek, jadi penutup sebelum langkahnya benar-benar masuk ke dalam rumah dan hilang dibalik pintu lift yang merangkak naik ke lantai tiga.
"Semoga kebahagiaan Tuan segera datang," lirih bi Asih sebelum menutup pintu belakang rumah dan menguncinya rapat.
***
Alsava tidak menyangka kalau membayar hutang akan serumit ini. Beberapa hari lalu kesulitan karena uangnya belum terkumpul. Tapi sekarang, saat uangnya sudah ada masalah lain muncul. Bagaimana dan kemana Alsava harus mengantarkan uang milik Rafan ini? Mungkin kalau gadis itu mengetahui nomor rekening Rafan akan jauh lebih mudah tinggal ditransfer saja.
Tapi mana mungkin gadis sepertinya bisa mendapatkan nomor rekening seorang pewaris perusahaan ternama. Alsava terduduk lemas di lantai teras ruko laundry milik bu Gendhis. Semilir angin malam yang berhembus cukup kencang membuat tubuh gadis itu bergidik kedinginan dan merapatkan jaket yang dia kenanan.
Dengan lesu bangkit berdiri lalu menatap sekali lagi ruko laundry yang sudah dia kunci dengan rapat. Menghela napas lalu mengayun langkah pulang ke kontrakan.
Sesampainya dikontrakan, fikiran Alsava masih saja pusing memikirkan caranya membayar hutang pada Rafan. Kalau keluarga Dizhwar sehebat yang pak Wiryo ceritakan, Alsava semakin gusar dan ingin segera memutus hubungan dengan keluarga itu.
Dia hanya gadis yatim piyatu yang miskin dan tidak mau menambah kesulitan hidup bila terus berurusan dengan para penguasa seperti keluarga Dizhwar. Sempat terlintas dalam fikirannya untuk datang saja ke kantor tempat pak Wiryo bekerja dan membayar hutangnya pada Rafan.
Pria itu mungkin saja sudah bekerja dan mengambil alih perusahaan. Tapi fikiran itu segera Alsava tepis karena untuk itu, dia harus melewati birokrasi yang cukup panjang dan melelahkan.
Alsava menghela napas dalam lalu bersandar di kepala ranjang.
"Mungkin aku harus datang ke rumahnya." Alsava manggut-manggut setelah menemukan sebuah ide cemerlang barusan.
"Eh tapi, aku kan tidak tahu alamatnya dimana." Kepala Alsava mendongak melempar tatapan kosong ke langit-langit kontrakan.
"Ahaa!"
Seketika tubuh Alsava melompat turun dari ranjang, tangannya cekatan mengobrak-abrik sebuah tumpukan buku usang yang sudah beberapa lembar lepas.
"Seingatku, aku pernah diperbantukan ke rumah Tuan Dizhwar untuk membantu membersihkan rumah yang kekeurangan pelayan waktu itu," gumam Alsava tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Syukurlah ketemu," pekik Alsava riang setelah menemukan secarik kertas berisi alamat Rafan.
Hati gadis itu riang tanpa beban karena berfikir sebentar lagi bisa memutus hubungan dengan keluarga Dizhwar untuk selamanya.
__ADS_1
"Tapi... apa nggak masalah aku datang langsung?" lirih Alsava bimbang.