
Di sebuah kamar kos tiga petak, seorang gadis sudah rusuh sejak bangun tidur. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah kedai makanan cepat saji atas bantuan pak Wiryo.
Mulai hari ini Alsava bertekad melanjutkan hidupnya dan move on dari semua hal menyangkut pria yang pernah hidup bersama dengannya selama empat bulan terakhir. Rasanya sudah cukup satu minggu ke belakang dia hanya mengurung diri di kosan bergelung dengan rasa rindu dan bersalah yang mendalam.
Seminggu ini, Alsava memang seperti kehilangan dirinya sendiri. Dia lebih banyak diam dan tidak semangat mencari pekerjaan, tidak seperti biasanya yang gila kerja. Alsava menyisir rambutnya rapih lalu mengikatnya tinggi. Sebuah ikatan ekor kuda yang tinggi dia buat pagi ini agar menambah semangat di hari pertama bekerja.
"Ya ampun gara-gara semalam bergadang jadi bangun kesiangan, semoga nggak telat sampe sana."
Berkata dengan pelan, menggerut keningnya seraya mondar mandir di dalam kamar kos bersiap untuk pergi bekerja.
"Oke apa sudah rapi seperti ini?"
Bertanya pada pantulan dirinya sendiri di cermin. Mengelus seragam yang tampak pas sekali di badannya. Melakukan beberapa gerakan bibir dan senam wajah agar mengurai rasa gugup yang sejak bangun tidur dia rasakan.
"Baiklah Alsava, semangat!"
Sedikit meninggikan suara untuk menyemangati diri sendiri, kepalan tangan dia ayunkan di udara.
Bergegas menggunakan sepatu snekers kawe yang dia beli di pasar kaget dnegan harga diskon. Mengunci pintu kamar lalu menghembuskan napas pelan seraya bangkit berdiri, menatap pintu kamar kos sejenak sebelum mengayun langkah menuju sebuah halte bus.
Kedua telapak tangan menggosok di depan dada, kepalanya celingukan ke kiri dan kanan. Baru saja lima menit Alsava menunggu di halte bus, tapi berasa sangat lama bagi gadis itu. Senyum Alsava merekah kala melihat sebuah bus mendekat dengan gerakan melambat.
Sama seperti beberapa orang lainnya, Alsava menaiki bus dengan tertib. Gadis itu menghembuskan napas kasar saat tahu tidak kebagian tempat duduk.
Pagi ini, bus sangat penuh hingga Alsava dengan beberapa orang yang naik dari halte bus yang tadi harus berdiri cukup berdempetan. Meski begitu, Alsava tetap berusaha menikmati waktu perjalanannya menuju tempat kerja dengan penuh rasa syukur dan semangat.
Ya sudahlah, yang penting nggak telat sampe tempat kerja. Hibur Alsava dalam hati.
Tubuh kurusnya sedikit bergoyang ke kanan dan kiri menyeimbangkan gerakan bus yang sesekali berbelok dan mengerem memperlambat laju bus.
***
"Apa kamu sudah siap Nak?"
Paman Yo melogokan kepala di sela daun pintu kamar Rafan yang tidak dia buka sempurna. Seorang pemuda tampan dengan setelan jas rapih berwarna abu-abu berbalik dan tersenyum ke arahnya.
Hati paman Yo bergetar melihat senyum Rafan pagi ini.
__ADS_1
Senyuman tipis mengembang di bibir paman Yo kala mengingat wajah mendiang kakaknya tergambar jelas di wajah Rafan pagi ini.
Rafan mirip sekali dengan kamu Kak.
"Apa sudah siap?"
Kembali mengulang pertanyaan yang belum sempat Rafan jawab.
"Sudah paman," jawab Rafan seraya melangkah mendekat.
Kedua pria dewasa beda usia itu melangkah keluar kamar lalu masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dasar rumah. Saat tiba di lantai dasar keduanya di sambut oleh pemandangan yang tidak biasa.
Alexi, wanita dengan perut besarnya sudah menunggu kedatangan Rafan dengan senyuman terbaiknya. Wanita itu mendekat dan langsung bergelayut manja di lengan Rafan saat pintu lift terbuka.
Rangga yang melihat itu memalingkan wajah seraya mendengus tidak suka. Sementara paman Yo hanya menghela napas pelan melihat tingkah Alexi yang dia rasa terlalu agresif. Pria paruh baya itu jelas sudah tahu anak yang dikandung Alexi adalah benih milik Rangga yang berarti cucunya sendiri.
Meski begitu, paman Yo sampai hari ini masih menahan diri untuk tidak mengatakannya pada Rafan. Bukan bermaksud untuk menutupi, hanya dia memiliki rencana lain untuk membuat Rafan memahami situasinya saat ini.
Akan ada waktunya kamu tahu semuanya Nak.
Rafan yang memang mengira Alexi mengandung anaknya, menuruti semua keinginan wanita itu tanpa protes termasuk menyuapi gadis itu makan.
Membiarkan lengannya terus digelayuti oleh Alexi sampai masuk ke dalam mobil. Hari ini dirinya akan mulai belajar bekerja di perusahaan sesuai perintah paman Yo.
Seminggu kemarin yang Rafan lakukan hanya berdiam diri di kamar dan ruangan kerja yang ada di rumahnya, melihat-lihat album foto lalu bertanya pada kepala pelayan tentang silsihlah keluarga dan bagaimana dirinya sejak kecil.
Rafan sempat kaget saat tahu kalau dulu dia adalah anak manja yang sempat nelarikan diri dari tanggung jawab saat ayahnya meninggal dua tahun lalu.
Ada rasa kesal dan marah pada diri sendiri mendengar fakta itu, betapa dia dulu sangat tidak bertanggung jawab sebagai seorang anak dan pria dewasa.
Rafan duduk bersandar seraya menghembuskan napas pelan. Matanya sejak tadi menatap pemandangan di balik jendela mobil, membiarkan Alexi bersandar manja di lengannya. Rafan melirik sekilas pada wanita di sampingnya, lalu melirik perut buncit Alexi yang kontras dengan tubuh kurus wanita itu.
Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya saat melihat perut buncit Alexi. Dia tidak merasakan getaran keterikatan batin dengan calon anak yang masih ada dalam rahim wanita itu, apa karena tidak menemani wanita itu sejak awal kehamilan? pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dalam benaknya.
"Sayang, apa siang nanti kita bisa makan siang bersama?" tanya Alexi memecah keheningan di yang tercipta di dalam mobil sejak kuda besi itu melaju dari kediaman Rafan.
"Belum tahu, hari ini sepertinya aku akan sibuk seharian," jawab Rafan tenang tanpa menoleh.
__ADS_1
Pandangannya masih lurus ke samping, menatap pemandangan di balik jendela mobil.
"Yah... Padahal aku masih kangen sama kamu, mau terus sama kamu dan menebus empat bulan yang terlewati tanpa ada kamu di sisi kami."
Alexi mendesah kecewa, wanita itu melepaskan rangkulannya lalu duduk tegak dan mengelus lembut perut buncitnya seraya menunduk kecewa. Rafan menolehkan kepala menatap Alexi saat mendengar nada bicara wanita itu yang terdengar sedih.
Tangan Rafan terulur mengelus lembut rambut kecoklatan milik Alexi. Wanita itu mengangkat pandangan kala merasakan elusan lembut di kepalanya. Keduanya saling mengunci pandangan beberapa saat.
"Nanti aku usahakan ya, akan aku kabari kamu sebelum jam makan siang."
Senyum Alexi mengembang mendengar jawaban Rafan yang disampaikan dengan nada lembut. Dada Alexi berdesir, matanya seketika mengkilat merasa terharu bisa mendengar lagi suara lembut Rafan yang penuh perhatian seperti saat ini.
"Makasih."
Alexi menghambur ke pelukan Rafan yang disambut baik oleh pria itu. Dia ingin menyalurkan semua rindu dan rasa bersalahnya melalui sebuah pelukan hangat yang sudah satu minggu ini dia tahan karena dilarang bertemu dengan Rafan oleh paman Yo.
Alexi mulai merasa serakah saat ini. Biarlah urusannya dengan Rangga dan calon anaknya dia pikirkan nanti. Saat ini wanita itu ingin egois dan menikmati kebersamaan dan kasih sayang Rafan sebelum pria itu kembali mengingat memorinya yang sempat hilang.
Tangan Rafan naik turun dengan lembut mengelus punggung Alexi dengan sayang. Untuk saat ini dia hanya akan mengikuti arus saja sebelum dia benar-benar menemukan keputusan yang tepat mengenai hubungannya dengan Alexi.
Semenjak dia mendengar Rangga yang mengigau dalam keadaan mabuk seminggu yang lalu, keyakinannya untuk menikahi Alexi semakin memudar.
Entah karena terpengaruh dengan ucapan Rangga atau karena dia juga tahu kalau sebenarnya Rangga dan Alexi sudah merencanakan sebuah pernikahan dalam waktu dekat.
"Tok tok tok, permisi!"
Lamunan Rafan terganggu oleh ketukan di kaca mobil tepat di samping kursi pengemudi. Rafan menolehkan kepala ke kiri dan kanan, memindai situasi yang ternyata mobilnya sedang berhenti di lampu merah.
Perlahan pak supir menurunkan kaca mobil, lalu ada seorang gadis bertubuh kurus menyodorkan selebaran ke dalam mobil.
"Silahkan Pak, hari ini sedang ada diskon pembukaan cabang baru. Ditunggu kedatangannya, makasih."
Dada Rafan berdetak kencang mengenali suara siapa yang begitu renyah menyapa pendengarannya. Pria itu menajamkan penglihatan, matanya terkunci pads seorang gadis yang sedang tersenyum ke arah pengendara mobil lain, ada rasa rindu yang membuncah saat Rafan melihat wajah ceria gadis itu.
Alsava
Hati kecilnya menyerukan sebuah nama yang sejak seminggu ini memenuhi pikirannya tanpa dia sadari.
__ADS_1