
"Lakukan saja sesuai perintah ku tidak perlu banyak tanya."
Suara berat Rangga terdengar dingin oleh lawan bicara di sebrang sana. Pria itu sedang melakukan panggilan pada salah satu bawahannya di perusahaan Dizhwar corporation.
Tangan kanan memegang ponsel yang diletakkan di telinga, dan satu tangan lagi dia tenggelamkan ke dalam saku celana. Matanya lurus ke depan melihat pemandangan hiruk pikuk kebebasan berkendara di kota besar dan lampu-lampu yang berpendar indah saat malam hari.
Rangga menghela napas dalam, lalu mematikan sambungan telepon. Seketika hatinya merasa sedikit gelisah setelah melakukan hal di luar batas yang kesekian kali pada sepupunya Rafan. Rangga berdalih ini adalah balasan untuk Rafan karena membuat dia harus berbagi perhatian papanya sejak kecil.
"Ini kamu yang mulai Rafan, jadi terima saja semuanya dengan lapang dada," lirih Rangga sambil meremas ponsel yang sedang dia pegang.
Terdengar suara pintu terbuka, Rangga menoleh dan mendapati Alexi masuk ke dalam ruang kerja yang ada di apartrmennya hanya menggunakan gaun hamil berwarna peach tanpa lengan. Perut yang semakin besar membuatnya sedikit kepayahan untuk melangkah.
Senyum Rangga merekah, tangannya direntangkan memberi isyarat agar perempuan itu mendekat dan memeluk hangat layaknya pasangan suami istri. Tapi Rangga harus menelan pil pahit, karena Alexi melewatinya begitu saja dan meletakkan sesuatu di atas meja kerja pria itu.
Dahi Rangga melipat melihat benda kecil persegi panjang di atas meja. Pria itu menatap Alexi dengan tatapan bingung, wanita hamil itu kini sedang berdiri agak berjarak di hadapan Rangga dengan kepala menunduk.
"Apa ini?"
Tangan Rangga meraih benda kecil persegi itu lalu mengacungkannya ke udara. Alexi menghela napas lalu menatap suaminya lurus dengan tatapan penuh kebencian. Semenjak mereka menikah, Alexi memang tidak pernah menatap Rangga dengan tatapan lain.
Karena pria itu, dia harus kehilangan cintanya dan mengandung anak yang sama sekali tidak dia harapkan karena milik pria yang tidak pernah ia cintai.
"Bicaralah! mau mu apa Lexi?"
Melihat sorot mata kebencian dari istrinya, Rangga sangat kesal dan merasa tidak nyaman. Meski begitu, dia masih menjaga intonasi nada bicara dan perilakunya di hadapan Alexi hanya karena wanita itu sedang mengandung anaknya.
Rangga melemparkan dengan acuh benda kecil persegi itu kembali ke atas meja hingga menimbulkan bunyi, benda tak bernyawa itu tergeletak begitu saja di sana.
Mata Alexi sempat membulat melihat benda kecil itu terlempar begitu saja. Alexi menatap sengit Rangga yang sedang berdiri bersandar pada ujung meja dan melipat tangan di dada, terlihat begitu tenang dan santai.
"Kenapa harus melakukan hal sejauh ini?" tanya Alexi dengan sorot mata berkilat marah.
Rangga hanya mengangkat bahunya cuek lalu tersenyum miring sambil menatap lekat istrinya yang sudah dikuasai emosi.
"Tenanglah, aku hanya melakukan hal baik untuk kepentingan anak kita dan keluarga kecil kita saja."
"Keluarga kecil kita?" tanya Alexi dengan nada melengking tinggi.
"Jangan harap Ngga! karena setelah anak ini lahir, aku bakal ninggalin kamu!"
Alexi berbalik namun langkahnya berhenti karena lengan Alexi di cekal kuat oleh Rangga dari belakang.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" bentak Rangga sambil menyentak tubuh Alexi kembali menghadapnya.
"Dengar ya Lexi, jaga sikap mu itu! Jangan sampai kesabaranku habis dan berhenti memperlakukan mu dengan baik."
Alexi tidak gentar dan malah menatap nyalang bola mata Rangga yang sudah diliputi rasa marah.
"Aku tidak takut Ngga."
Alexi mundur dua langkah lalu berbalik. Namun sebelum berhasil meraih gagang pintu, langkahnya terhenti mendengar ucapan Rangga.
"Jika perasaanmu begitu dalam pada pria manja itu, setidaknya bersikaplah baik sebagai seorang istri. Karena bagaimana nasib Rafan, bergantung pada sikap mu sebagai istriku."
Rangga mendahului Alexi membuka pintu dan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Alexi yang masih berdiri membeku dengan perasaan yang tidak menentu.
***
"Al, dipanggil pak Betrand ke ruangannya."
Dahi Alsava berkerut mendengar ucapan rekan kerjanya. Tangan Alsava yang sedang cekatan membereskan salah satu meja yang baru digunakan pelanggan berhenti seketika.
"Ada apa ya?" tanya Alsava ragu. Melihat Alsava yang kebingungan, rekan kerjanya hanya mengangkat bahu lalu meninggalkannya begitu saja.
Berdehem beberapa kali lalu dengan ragu mengetuk pintu ruangan Betrand. Melenan ludah dengan berat karena tak kunjung mendapat respon. Dengan tangan yang sudah gemetaran dia mengulang ketukan di daun pintu dengan lebih keras dan durasi yang lebih lama.
"Masuk!"
Suara berat Betrand dari dalam ruangan membuat dada Alsava semakin berdebar saja, dia takut kehilangan pekerjaannya sekarang. Entahlah dia selalu merasa akan diberhentikan bila di panggil ke ruangan atasan.
Setelah mengucapkan 'permisi', Alsava membuka pintu secara perlahan lalu menutupnya kembali dengan rapat. Alsava berdiri dengan kepala menunduk dan tangan meremas bagian samping bajunya.
"Tidak usah gugup dan takut Al, aku masih manusia bukan hantu."
Betrand terkekeh geli berusaha mencairkan suasana yang entah kenapa berubah tegang saat Alsava masuk.
"Ba-baik Pak."
"Apa nanti malam kamu ada acara?"
Alsava mengangkat kepala lalu menatap Betrand dengan dahi berkerut. Betrand hanya tersenyum geli melihat tingkah Alsava.
"Hari ini kamu gajian, dan restoran belum memiliki no rekening kamu. Jadi aku sendiri yang memberikannya secara tunai."
__ADS_1
Betrand meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja. Mata Alsava langsung berbinar melihat amplop coklat itu tergeletak. Dengan ragu Alsava mengambil amplop coklat itu lalu menekuk dan memasukkannya pada saku celana yang dia kenakan.
"Jadi apa ada traktiran untuk gajian pertama?"
Betrand menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar. Meski pria tampan di hadapannya sangat menawan, namun tidak berbanding lurus dengan ekspresi wajah Alsava yang menatapnya terkejut penuh tanya.
***
Rafan duduk bersandar seraya bergerak pelan ke kanan dan kiri menggunakan kursi ergonomi miliknya. Matanya sejak tadi tidak lepas menatap buku tabungan yang tergeletak begitu saja di atas meja. Bahkan waktu sudah berlalu dua jam sejak bola mata itu tidak pernah beralih menatap ke arah lain.
Semenjak dapat penolakan dari dewan direksi, Rafan memilih mempelajari perusahaan di dalam ruang kerja di rumahnya saja. Hanya beberapa kali datang ke kantor untuk menemui paman Yo dan bertanya ini itu. Rafan memilih mempersiapkan diri dan memantaskan diri sebelum kepercayaan dewan direksi memihak Rafan sepenuhnya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rafan tentang perusahaan dan perasaannya. Pria itu membenahi posisi duduk lalu menyimpan buku tabungan ke dalam laci kecil meja kerjanya.
"Masuk!"
Terlihat Arman masuk lalu menundukkan kepala. Rafan menelan ludahnya berat bersiap mendengar hal yang akan dikatakan oleh Arman. Dia sudah tahu kalau supirnya sampai berani mengganggu waktu tenangnya, pasti ada hal baru dari hasil penyelidikan yang pemuda itu temukan.
"Ada apa Arman?"
Ternyata Rafan gemas juga karena sejak tadi Arman hanya diam mematung dan tidak mengeluarkan suara. Dengan takut Arman mulai mengangkat kepala lalu menatap lurus majikannya dengan sendu.
"Tuan, apa tuan yakin tidak mengingat ingatan tentang kecelakaan itu?" tanya Arman ragu, namun Rafan menggeleng dengan yakin sebagai jawaban.
"Ada apa? bilang saja!" Rafan berusaha tenang, dia harus berani dan tegar mendengar hal yang buruk sekali pun.
"Ada kemungkinan Tuan di pindahkan dari tempat kejadian kecelakaan dan ditinggalkan begitu saja sampai ada seorang gadis menemukan tubuh Tuan."
Rafan mengangguk karena sudah tahu cerita bagian ini dari Alsava saat dijemput oleh paman Yo.
"Dan.. "
Arman menelan ludahnya berat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Saya menemukan kalau orang yang memindahkan Tuan dari tempat kecelakaan adalah... Nona A-alexi."
Kepala Arman menunduk dalam setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Apa?"
Rafan bangkit berdiri seraya menggebrak meja sampai menimbulkan bunyi yang nyaring.
__ADS_1