
"Rafan aku minta maaf," ucap gadis itu masih tersedu.
"Ka-kamu siapa?"
Rafan bertanya dengan ragu, Alexi segera mengurai pelukan lalu menatap pria di depannya dengan bingung dan terkejut.
"Ra-Rafan kamu bilang apa? Aku Alexi, tunanganmu."
Tidak sadar mengakui masih sebagai tunangan Rafan, padahal seminggu yang lalu sudah menerima lamaran Rangga. Rangga tersenyum kecut di balik tubuh Alexi. Dia pun sama terkejutnya dengan yang lain mengetahui Rafan sudah kembali ke sini dengan sehat tanpa kurang satu apapun.
Pria itu sempat mendengus dengan dua tangan mengepal di samping tubuhnya. Merasa kesal dan marah pada orang suruhannya yang tidak becus bekerja dalam mencelakai Rafan.
Beberapa waktu lalu dia juga sempat menanyakan keberadaan Rafan pada orang suruhannya. Merasa aneh karena sepupunya itu menghilang tanpa kabar jadi korban penganiayaan atau pembunuhan yang sudah dia rancang.
Orang suruhannya bilang sudah membereskan semua tanpa jejak. Awalnya Rangga masih bisa santai dan tenang saat Papanya masih saja mencari, menganggap semua usaha Paman Yo akan sia-sia. Tapi ternyata dia salah, orang suruhannya sudah mengelabui dan membawa uangnya yang tidak sedikit.
Brengsek!
Meski pun marah dan kecewa, Rangga tetap harus tersenyum. Memakai topengnya dengan baik, berperan jadi sepupu yang baik. Pria itu melangkah mendekat ke arah Rafan dan Alexi yang masih berhadapan dengan dekat.
Sedikit mendengus mendengar bahwa Alexi mengakui dirinya masih sebagai tunangan Rafan, padahal sudah jelas seminggu yang lalu dia menerima lamaran Rangga. Tadi siang bahkan mereka fitting baju pengantin bersama.
Lalu dengan mudah Alexi masih mengakui dirinya sebagai tunangan sang sepupu? Oh ayolah! Apa wanita itu juga lupa kalau dia sedang mengandung darah daging Rangga?
Memuakkan!
"Hai Fan, syukurlah kamu pulang dengan selamat." Ucapannya terdengar santai tanpa emosi berarti, bahkan Rangga menambahkan ekspresi senyum di akhir kalimat, membuat orang yang dia sapa menatapnya segera.
"Kamu siapa?" Rangga tercengang untuk beberapa saat karena Rafan tidak mengenalinya. Dia menatap papanya yang menampilkan ekspresi datar masih enggan menjelaskan.
"Lebih baik kita makan dulu. Ayo Nak!" ajak Paman Yo melerai genggaman tangan Alexi dan Rafan lalu menggiringnya untuk duduk di meja makan.
Semua orang pun ikut duduk di meja makan dengan Paman Yo di kursi utama, di samping kanannya Bibi Bela, sedangkan di samping kirinya duduk Rangga. Rafan duduk di samping bibi Bela dan Alexi di sebelah Rafan.
__ADS_1
Kedua orang tua Alexi yang ikut hadir duduk di samping Rangga. Pak Betrand di samping kiri Rangga lalu bu Cathrine di samping suaminya.
Mereka bertujuh makan malam dalam diam, hanya terdengar suara denting sendok dan garpuh saja. Beberapa dari mereka sangat menikmati makan malam kecuali tiga orang, yaitu Alexi yang sejak tadi mengelus perutnya gelisah, Rangga yang menahan emosi agar tidak meledak lalu bu Cathrine yang khawatir dengan nasib putrinya.
"Jadi begini, seperti yang kalian lihat Rafan sudah kembali dalam keadaan sehat dan kuat."
Paman Yo memulai obrolan saat semua orang tampak menyudahi makan malamnya.
"Dan saya harap semua permasalahan akan segera selesai dengan kembalinya Rafan." Paman Yo melirik Rafan yang juga melihatnya dengan tanda tanya di kepalanya.
Permasalahan apa sebenarnya? batin Rafan.
Sial!
Rangga mendengus tidak suka lalu memalingkan wajah. Dia tahu apa yang dilakukan papanya adalah untuk menghukum dirinya.
Bu Cathrine melirik suaminya yang juga menoleh ke arahnya. Kedua orangtua itu jelas mengkhawatirkan nasib Alexi. Secara status di depan dunia dia masih tunangannya Rafan terlebih putrinya sedang mengandung tujuh bulan.
Tapi yang membuat keduanya semakin khawatir adalah seminggu yang lalu mereka sudah menerima lamaran Rangga dan persiapan pernikahan memang sudah selesai hampir tujuh puluh persen.
"Tapi sepertinya Rafan sejak tadi merasa bingung dan tidak mengenali yang ada di sini. Apa yang sebenarnya terjadi Pah?"
Rangga bertanya memecah keheningan, semua orang kini memusatkan perhatian pada paman Yo yang masih terlihat tenang. Dari bawah meja bibi Bela menggenggam tangan paman Yo dengan erat, berusaha memberi kekuatan dan ketenangan. Paman Yo melirik sekilas ke arah istrinya dan mengangguk pelan.
"Rafan kehilangan sebagian besar ingatan bahkan dia tidak mengingat identitasnya sendiri," ucap paman Yo yang kini menatap Rafan dengan sendu.
Sementara yang di tatap memang sedang menunduk sejak tadi. Rafan malah berfikir keras tentang perut Alexi yang terlihat besar dan membuncit.
Apa wanita ini hamil anakku? Katanya dia tunanganku jadi kemungkinan besar... Ya tuhan aku sudah sangat berdosa!
Di tengah ucapan paman Yo yang menjelaskan keadaan Rafan dan berada dimana dirinya selama empat bulan terakhir. Rafan malah sibuk dengan pemikirannya sendiri, merasa bersalah atas kemalangan Alexi yang harus hamil tanpa suami karena dirinya yang menghilang.
Ini semua gara-gara gadis pembohong itu!
__ADS_1
Mendengus kesal, tangannya mengepal geram dengan kebohongan Alsava yang telah membuatnya jauh dari Alexi dan membuarkan wanita itu menanggung beban sendiri atas kehamilannya. Tatapannya masih menyala dengan emosi kala mengingat Alsava, tapi kemudian berubah sendu kala menatap perut buncit Alexi.
Anakku, maafkan Papa Nak!
Tanpa sadar Rafan semakin tenggelam dalam rasa berslah yang tidak seharusnya dia miliki.
"Untuk sementara perusahaan tetap kamu dan papa yang pegang Ga, dan untuk Alexi." Paman Yo menjeda kalimatnya dan melirik Rafan yang kini sedang menatap Alexi. Pria paruh baya itu menghela napas lalu menatap Rangga dengan lekat.
"Biar Rafan sendiri yang memutuskan." Berucap tenang meski tahu Rangga sudah tersulut emosi.
"Pah!"
Rangga meninggikan suara dengan geram. Dia bahkan menggebrak meja dengan cukup keras hingga membuat semua orang memperhatikannya.
"Begini Pak Yo, bukannya kami tidak setuju dengan keputusanmu yang menyangkut nasib putri kami. Tapi, bukankah persiapan pernikahan Rangga dan Alexi sudah hampir rampung? Kita tidak bisa membuat semua pihak bingung Pak," tutur bu Cathrine memaklumi kemarahan Rangga saat ini.
Setelah bu Cathrine selesai berbicara semua orang terjebak dalam keheningan dan larut dalam pikiran masing-masing. Alexi semakin menundukkan kepala merasa serba salah sendiri dengan situasi yang dihadapi.
"Aku akan bertanggung jawab dan menikahi Alexi. Bila dia memang anakku."
Suara Rafan memecah keheningan, tangan pria itu terulur mengelus lembut perut buncit Alexi. Alexi yang tidak siap dengan sikap lembut Rafan tubuhnya sempat kaku, tapi entah kenapa setelah melihat ketulusan di mata Rafan Alexi bisa sedikit lega.
Setidaknya sekarang Rafan mengira anak ini miliknya. Biarlah, lagi pula rasa ini masih tetap utuh untuk mu Rafan, batin Alexi menenangkan diri sendiri.
"Tidak bisa seenaknya begitu kamu Fan, Alexi sekarang adalah calon istriku. Kami bahkan sedang merencanakan pernikahan yang akan digelar dua minggu mendatang."
Rangga meledakkan bom yang sudah sejak tadi membuatnya gemas ingin bersuara.
"Terima kasih sudah menjaga Alexi selama aku menghilang. Sekarang tanggung jawab atas Alexi aku ambil alih."
Berucap tenang tidak tahu kalau dia sudah membuat lawan bicaranya sangat marah.
"Tapi,-"
__ADS_1
"CUKUP!"