
Hujan baru saja turun dengan lebat sebelum Alsava pulang, gadis itu tertahan di pelataran restoran cepat saji tempatnya bekerja. Sebenarnya jam kerja gadis itu sudah selesai dari tadi sore, tapi dia ikut menyibukan diri dengan membantu rekan kerja satu shift setelahnya. Kebetulan pelanggan yang datang sangat banyak dan membuat kewalahan.
Tangan Alsava terulur menadahi tetesan hujan yang jatuh dari atap restoran. Menatap kosong setiap buliran air yang menyentuh telapak tangannya. Setelah sempat lupa dengan perasaannya yang kacau tadi pagi, kali ini hatinya kembali tidak karuan saat memandang hujan yang turun dengan lebat.
Lembek banget sih kamu hati! maki Alsava dalam hati merujuk diri sendiri.
Alsava menarik tangannya kala hujan turun semakin deras, mundur beberapa langkah hingga tubuhnya mentok ke dinding, berusaha mengindari cipratan air hujan.
"Kenapa belum pulang?"
Tubuh Alsava terlonjak kaget mendengar suara yang bertanya di dekat telinganya. Gadis itu mundur lalu menolehkan kepala menatap Betrand yang sedang tersenyum lebar di sana.
Heran deh ngagetin mulu dari tadi.
"Kenapa selalu kaget kalau saya sapa?" tanya Betrand dengan penasaran, tangannya menggaruk kepalanya terlihat seperti gugup dan salah tingkah.
Ni orang kenapa sih?
Alsava belum menjawab dan masih menatap Betrand dengan bingung. Betrand tersenyum ke arah Alsava dan menatap lurus gadis itu dengan lekat. Mereka baru berkenalan pagi tadi sebagai atasan dan bawahan, jelas Alsava bingung saat atasannya itu selalu mengajaknya bicara santai di setiap kesempatan.
"Saya kaget karena Pak Betrand selalu datang dan berbicara di belakang saya." Alsava mundur beberapa langkah membuat keduanya semakin berjarak. Betrand tersenyum lagi ke arah Alsava dengan manis.
kenapa dia senyum mulu sih?
Betrand tertawa lebar mendengar penuturan Alsava yang terdengar kaku dan malah terlihat menggemaskan di mata Betrand. Bukan rahasia umum lagi pria berdarah tionghoa ini memang sangat tampan terlebih dia masih punya hubungan kekerabatan dengan pemilik langsung restoran cepat saji.
Makanya banyak karyawan perempuan yang berusaha mendekatinya dengan berbagai cara, berbeda dengan Alsava yang terlihat cuek dan tidak banyak tingkah. Itulah kenapa Betrand jadi penasaran pada Alsava, kenapa gadis itu tidak jatuh juga dalam pesonanya? Hah sebagai orang yang sering dikejar harga dirinya sedikit terusik saat ada orang yang tidak tertarik padanya.
"Jangan terlalu formal kalau sudah bukan jam kerja."
Betrand tersenyum lagi di akhir kalimat. Betrand memang memiliki pesona luar biasa dengan kulit bersih, hidung mancung, dagu lancip serta halis tebal meski matanya sipit. Semua yang ada dirinya terlihat sempurna dan bersinar apalagi saat tersenyum, belum lagi dengan perawakan tinggi dan potongan rambut yang tertata rapih.
Harus Alsava akui kalau atasannya ini sangat memukau, siapa saja pasti ingin mendekatinya. Tapi tidak dengan Alsava, dia bertekad untuk fokus bekerja agar bisa segera melunasi hutangnya pada Rafan. Setelah hutangnya lunas dia berharap tidak lagi berurusan dengan orang yang pernah jadi suami sementaranya itu.
Aku harus fokus agar hutangku segera lunas dan bisa melanjutkan hidup dengan tenang.
__ADS_1
"Pulangnya kemana?" Lamunan Alsava buyar mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Betrand.
"Ke sana!"
Dengan sembarang menunjuk arah agar tidak ditanyain lagi. Betrand kembali terkekeh mendengar jawaban Alsava yang terkesan jutek namun menggemaskan.
"Kamu orangnya lucu ya?"
Tertawa lagi dengan lebih kencang. Alsava hanya tersenyum kaku sebagai respon.
Hujan, tolong cepatlah reda aku mau cepat pulang! Alsava berdoa tulus dalam hati.
Mungkin Tuhan sedang berbaik hati padanya dan mendengar doa tulusnya. Karenatak berselang lama hujan mulai mengecil dan bahkan reda.
"Syukurlah reda!" seru Alsava riang.
Betrand tidak pernah bosan tersenyum saat melihat pergerakan kecil dari Alsava. Entahlah, mungkin pria itu seperti menemukan mainan baru yang bisa membuatnya selalu tersenyum.
"Aku antar pulang ya!"
Alsava menoleh terkejut ke arah Betrand. Matanya mengerjap berkali-kali hingga membuat Betrand semakin gemas.
Mengibaskan telapak tangan beberapa kali untuk menguatkan penolakan. Tanpa menunggu persetujuan Betrand, Alsava segera berlari saat melihat sebuah bus melintas. Tanpa rasa malu berteriak untuk memberhentikan bus lalu segera naik saat bus sedikit melambatkan lajunya.
"Gadis yang menarik," gumam Betrand sengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Sementara itu di kediaman Dizhwar.
"Tuan Rafan bisa datang langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh."
Seorang dokter paruh baya sedang membereskan beberapa peralatannya setelah memeriksa kondisi Rafan yang tiba-tiba demam tinggi dan kakinya yang belum sepenuhnya sembuh terasa kram dan sakit.
"Terima kasih dokter." Dokter itu terlihat mengangguk lalu tersenyum.
"Cepat sembuh dan lanjutkan perjuangan papa kamu."
__ADS_1
Rafan tersenyum sebagai jawaban. Dokter di depannya ini memang sahabat lama papanya sekaligus dokter keluarga Dizhwar.
Setelah memberikan resep obat dan nasehat untuk berisitirahat, dokter yang memiliki gelar profesor itu pamit pulang.
"Bi Asih."
Bi Asih yang sedang membereskan piring bekas makan malam Rafan tertegun lalu menoleh menatap Rafan yang setengah berbaring bersandar di kepala ranjang.
"Iya Tuan muda."
"Apa Bi Asih menyaksikan aku tumbuh?" Bi Asih mengangguk lalu tersenyum.
"Menurut Bi Asih, apa anak yang dikandung Alexi adalah anakku? Apa Bibi percaya aku bisa melakukan hal itu di luar nikah?" Pertanyaan Rafan membuat bi Asih terdiam cukup lama.
Sebenarnya sebagai orang yang melihat dan mendampingi Rafan tumbuh, bi Asih sedikit menyangsikan apa yang ditanyakan oleh Rafan. Pasalnya wanita paruh baya itu tahu betul watak Rafan. Meski dulu Rafan tumbuh jadi pria yang manja dan angkuh, tapi bi Asih tidak pernah sekali pun melihat Rafan bermain perempuan atau melakukan hal di luar batas.
Bahkan dulu, waktu Rafan melarikan diri ke luar negri bi Asih pun ikut serta untuk mendampingi anak majikannya itu. Dan selama dua tahu mereka di luar negri, tidak sekali pun Rafan terlihat bergaul dengan bebas atau melakukan hal yang melanggar norma ketimuran.
Alexi sempat beberapa kali berkunjung dan menginap di apartemen Rafan di luar negri, namun bi Asih tidak pernah merlihat mereka melakukan hal asusila di hadapannya. Tapi, dia pun tidak bisa memastikan karena bisa saja mereka melakukannya tanpa sepengetahuan bi Asih.
"Bi Asih tidak tahu Tuan muda." Akhirnya menjawab dengan tenang setelah beberapa saat terdiam.
"Bi, dulu aku orang yang seperti apa?"
Bi Asih jelas terkejut dengan pertanyaan terakhir yang dilontarkan Rafan, terlebih anak majikannya itu terlihat sangat frustasi saat bertanya.
"Saya permisi kembali ke dapur Tuan." Memilih tidak menjawab dan berusaha melarikan diri.
Rafan menghela napas dalam lalu menatap bi Asih dengan lekat. Meski ingatannya belum kembali, namun ada perasaan tenang yang Rafan rasakan saat bersama dengan bi Asih. Hal itu sudah cukup membuat Rafan yakin kalau asisten rumah tangga yang sudah mengabdi selama puluhan tahun pada keluarganya ini memang orang baik dan menyayanginya dengan tulus.
"Apa bisa Bibi ceritakan bagaimana aku dibesarkan?"
Pertanyaan Rafan menahan langkah bi Asih yang sudah berada di ambang pintu. Wanita paruh baya itu menoleh lalu tersenyum.
"Boleh saya simpan ini dulu Tuan? Setelahnya saya akan kembali."
__ADS_1
Akhirnya bi Asih mengambil keputusannya sendiri, mengabaikan perintah yang beberapa hari lalu diberikan oleh paman Yo.
"Baiklah."