Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Empat puluh tujuh


__ADS_3

"Kamu yakin dengan yang kamu sampaikan Man?"


Tubuh Rafan terduduk lemas di kursi, matanya menatap kosong ke sembarang arah. Entahlah, ada perasaan tidak percaya saat mendengar ucapan Arman barusan. Hati menolak percaya namun logikanya tentu saja dengan mudah percaya.


Masih menurut hasil penelitian Arman, kalau Rangga dan Alexi sudah bersama sejak Rafan masih di luar negeri. Beberapa bulan sebelum Rafan kembali ke indonesia lebih tepatnya, dan semua itu dipertegas dengan kehamilan Alexi yang sudah menginjak bulan kesembilan saat ini.


Rafan menghela napas dalam untuk menetralkan kecamuk dalam dada. Otaknya langsung menyusun puzzle informasi yang Arman berikan, terciptalah sebuah siluet kebenaran yang sempurna saat informasi hari ini Arman berikan.


Ternyata kecurigaan ku memang benar.


Awalnya hati Rafan masih bingung menilai perasaannya sendiri pada Alexi dan Alsava. Namun saat sebuah kebenaran sesuai penyelidikan terpercaya hadir di depan mata, sekarang Rafan yakin akan kemana tujuan hatinya berlabuh.


Kembali Rafan menghela napas dalam, kali ini otak meminta dirinya untuk mengenyampingkan dulu soal perasaan dan hati. Kalau memang benar Rangga adalah dalang dari kecelakaan beberapa bulan lalu yang menimpanya, maka tidak ada alasan kuat untuk Rafan menolak kecurigaan dari Arman selanjutnya. Rangga mungkin saja mengincar perusahaan Dizhwar corporation sepenuhnya.


Kedua tangan Rafan mengepal kuat kala pikiran itu hadir, untuk yang satu ini dia tidak bisa mengalah pada Rangga. Kalau tentang Alexi, biarlah dia mengalah toh mereka berdua juga sudah akan memiliki anak. Tapi, jika menyangkut perusahaan, Rafan tidak akan tinggal diam.


Bukan karena takut miskin dan serba kekurangan, toh selama empat bulan dia sudah merasakan hidup kekurangan bahkan sering menahan lapar karena tidak memiliki makanan. Ini soal perjuangan kakek dan ayahnya saat membangun dan mengembangkan perusahaan, dan itu harus Rafan jaga sekuat tenaga. Karena dengan itu dia merasa bisa lebih berguna untik keluarganya.


Meskipun Rangga adalah putra sulung paman Yo, namun dia bukan pewaris sah Dizhwar corporation. Paman Yo diadopsi kakek saat usianya sepuluh tahun, itulah kenapa paman Yo bersikeras Rafanlah yang harus memimpin perusahaan bukan Rangga. Padahal kepiawaian Rangga dalam memimpin perusahaan sudah teruji selama dua tahun.


Menurut paman Yo, itu bukan hak Rangga tapi hak Rafan sejak awal. Meski pun Rangga terbilang cakap, namun paman Yo harus menepati janji pada mendiang kakaknya, yaitu menjadikan Rafan seorang pimpinan perusahaan yang sama handal dengan ayahnya.


Paman Yo sempat menasehati Rangga untuk mengalah saja dan menyerahkan kursi CEO pada Rafan--pemilik sesungguhnya, namun putra sulungnya menolak dengan tegas. Paman Yo sempat membujuk Rangga untuk memimpin perusahaan yang didirikannya saja.


Meski tidak sebesar Dizhwar corporation, tapi itu perusahaan yang dibangun dari awal oleh paman Yo beberapa tahun terakhir tanpa campur tangan Dizhwar corporation.


"Tu-tuan?"


Arman dengan takut bersuara, kakinya sudah pegal sejak tadi hanya berdiri di sudut ruangan. Setelah mendengar informasi yang juga membuat Arman terkejut, atasannya hanya diam termenung dan sepertinya lupa akan keberadaannya.


Dengan pertimbangan kondisi kakinya, Arman pun memilih berusara. Semoga dengan begitu Rafan akan sadar bahwa masih ada Arman yang menunggu sejak tadi.

__ADS_1


"Tuan?"


Kembali berusra dengan nada lebih tinggi dan tegas karena panggilan pertama tidak membuahkan hasil.


"Hmm?"


Rafan bergumam seraya menoleh ke arah Arman dengan kedua alis terangkat. Rafan menegakkan posisi duduk lalu berdehem beberapa kali seolah tersadar dan merasa tidak enak sudah mengabaikan keberadaan supirnya itu.


"Maaf Man, kamu boleh keluar sekarang dan kalau tidak ada yang penting jangan ganggu saya sampai besok."


Arman mengangguk sopan lalu keluar dari ruangan kerja Rafan dengan tenang berusaha tidak menimbulkan suara saat membuka dan menutup pintu agar tidak merperkeruh perasaan Rafan. Arman menghembuskan napas lega saat daun pintu berhasil tertutup sempurna, ada perasaan iba yang menjalar di hati pemuda itu untuk sang majikan.


Pak Rafan orang baik, tapi kenapa orang-orang malah berbuat jahat padanya?


Arman menggelengkan kepala seraya melangkah, tidak mengerti dengan jalan pikiran orang kalangan atas seperti Rangga dan Alexi. Ah.. Bagi rakyat kecil seperti Arman mendapat gaji tiap bulan dengan lancar saja sudah bersyukur. Sudahlah jangan terlalu ikut campur urusan majikan, begitu gumamnya dalam hati mengingatkan diri sendiri.


***


"Gimana Pak Ben? suasananya nyaman bukan?" tanya Alsava dengan senyum yang mengembang. Betrand menatap tidak percaya pada Alsava, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, pria itu terpaksa mengangguk lalu tersenyum kaku.


Ya, akhirnya dengan pertimbangan yang matang Alsava memutuskan mengajak atasannya untuk makan malam. Tapi tentu saja bukan makan malam sesuai bayangan Betrand. Makan malam ala Alsava, begitu tagline yang gadis itu sematkan saat mereka baru tiba di warung akringan beberapa menit yang lalu.


Memang kamu pikir aku mampu ngajak makan malam dimana dengan gaji pegawai rendahan sepertiku?


Alsava tersenyum miring di sela kunyahannya, menatap penuh cemooh pada Betrand yang tampak tidak nyaman dan berusaha keras menelan makanan yang dia kunyah dengan ogah-ogahan.


"Makanannya nggak enak ya Pak?" tanya Alsava berusaha memancing Betrand untuk mengutarakan ketidaknyamanannya.


"Enggak kok enak, makasih ya sudah mau traktir."


Betrand bertingkah seolah menyukai makanan di hadapannya, meski masih terlihat jelas itu terpaksa.

__ADS_1


Ck, akting yang buruk.


Alsava hanya bisa mencela dalam hati melihat tingkah atasannya ini. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Betrand tertarik padanya dan sedang melakukan pendekatan. Tidak hanya menurut intuisinya saja, tapi beberapa kali memergoki Betrand menatapnya tanpa berkedip dan memberi perhatian yang berlebih.


Jujur, Alsava tidak nyaman apalagi ada beberapa rekan kerja wanitanya yang terang-terangan membicarakan dan mengumpatnya dengan cukup lantang. Tentu kalimat 'gadis seperti kamu itu tidak pantas untuk pak Ben' terdengar jelas dengan tanpa basa basi di telinga Alsava.


Ah.. Ingin sekali dia meledak marah dan ikut memaki rekan kerja yang terlihat begitu membencinya. Tapi tidak, Alsva harus bijak dalam bertindak dan tentu belajar dari pengalaman yang dulu. Tidak mau lagi kehilangan pekerjaan akibat tidak bisa menahan diri seperti sebelumnya.


Dia akan melakukan penolakan secara halus sampai Betrand sendiri yang mundur teratur tanpa paksaan. Sungguh Alsava ingin hidup damai tanpa gangguan masalah roman picisan seperti ini. Dia hanya ingin bekerja dengan fokus dan bisa memiliki tabungan yang banyak. Cuma itu visinya sekarang.


"Pak Ben," panggil Alsava setelah melihat Betrand menghabiskan makan malamnya yang terlihat tidak nyaman. Pria itu bergumam dan menatap Alsava dengan alis yang terangkat.


Pria itu menggeser piring kotor ke samping, lalu meletakkan tangan yang saling bertaut di atas meja. Menatap Alsava dengan tatapan menghanyutkan, ia akan memulai rayuan agar Alsava tahu perasaan sukanya.


"Pak Ben."


Sekali lagi memanggil dengan tegas karena tidak nyaman dengan tatapan dan senyuman Betrand sekarang.


"Kenapa Al?" Bulu kuduk Alsava merinding mendengar suara lembut mendayu dari Betrand.


Kenapa sih suaranya gitu? Please! Aku merinding dengernya.


"Sebenarnya... "


"Sebenarnya... "


Alsava dan Betrand berucap secara bersamaan dengan kata yang sama. Betrand tersenyum manis tidak jadi melanjutkan kalimat.


"Ladies first." Alsava mengangguk yakin, dia ingin segera mengakhiri drama roman picisan ini.


"Pak Ben, sebenarnya aku janda."

__ADS_1


"Apa?"


Suara Betrand melengking tinggi dengan mata melotot mendengar kalimat menohok Alsava.


__ADS_2