
Apa yang terbayang dari kata pengantin baru dan malam pertama? Malam yang bergelora penuh cinta? Atau bayangan pergumulan panas penuh adegan erotis? Mungkin untuk kebanyakan pasangan lain iya, tapi sayangnya tidak terjadi dengan Alsava dan Rafan.
"Menurut mu apa yang akan dilakukan pengantin baru di malam pertama?"
Rafan tersenyum penuh arti menatap wajah tegang Alsava, pria itu diliputi rasa bahagia yang besar hari ini. Menghela napas dalam lalu menatap wajah istrinya yang terlihat lelah dan bingung. Sudah cukup mengerjainya untuk malam ini, begitu hati mengingatkan diri sendiri.
Rafan bangkit dari tempat tidur lalu membuka lemari dan mengambil sepasang pakaian tidur yang memiliki warna yang sama, warna coklat muda.
Yang satu dia letakkan di atas tempat tidur lalu yang lainnya langsung dia pakai di sana tanpa rasa canggung, setelah sempat membersihkan diri dulu di kamar mandi.
Setelah selesai berpakaian dengan rapih dan memasukkan pakaian kotor di keranjang cuci, Rafan naik ke atas ranjang bersiap untuk tidur. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Alsava yang belum bergerak sejak tadi.
Rafan bangkit terduduk lalu beringsut mendekat ke arah Alsava. Mengguncang pelan pundak istrinya lalu tersenyum lembut.
"Va, bersih-bersih dan ganti baju dulu biar tidurnya nyenyak. Oh iya itu baju tidur buat kamu."
Alsava tersentak seperti sudah tersadar dari lamunan panjangnya. Dia menatap lugu pada Rafan, masih terlihat jelas kalau gadis itu memiliki kebingungan yang belum terurai.
Melihat Alsava yang belum sepenuhnya bisa memahami situasi, Rafan beringsut lebih mendekat lalu duduk bersila di hadapan Alsava. Meletakkan tangan di kedua pundak Alsava lalu mengguncangnya pelan.
"Masih ada yang mau kamu bicarakan? yang masih mengganjal di hatimu?" Alsava mengangguk pelan.
"Banyak."
"Baiklah, utarakan biar hati mu tenang dan bisa tidur nyenyak."
Alsava termenung sebentar, tampak menimbang kalimat yang akan dia lontarkan.
"Kenapa Abang menikahiku? Bukannya Abang sudah punya istri yang cantik dan anak yang lucu?"
Rafan mengangguk pelan lalu melepaskan tangan yang semula bertengger di pundak gadis itu. Pria itu menghela napas sebelum mulai mengeluarkan suara.
"Maaf sudah menikahimu dengan cara seperti ini Va." Rafan berhenti sejenak lalu menggenggam tangan Alsava lembut berusaha menyalurkan kasih sayang.
"Waktu itu abang marah sama kamu karena sudah berbohong dan memanfaatkan kondisi abang. Tapi, setelah abang menyelidikinya sendiri dan menemukan banyak hal tentang ingatan yang hilang. Rasa marah itu berubahjadi rindu yang mendalam." Alsava diam masih belum mengerti arah pembicaraan Rafan.
"Setelah pertemuan kita di restoran cepat saji, hari itu juga abang tahu kalau anak yang dikandung Alexi, gadis yang kamu temui tadi bukan anak abang melainkan anak Rangga, sepupu abang sendiri. Alexi memang tunangan abang tapi sudah berselingkuh dan hamil muda saat abang mengalami kecelakaan dan akhirnya hilang ingatan."
Tatapan Rafan kosong menatap ke langit-langit kamar. Rasa pedih dan kecewa karena dikhianati oleh tunangan dan sepupu sendiri ternyata masih meninggalkan bekas meski dia sudah memberi maaf. Entahlah, mungkin maaf bisa diberikan tapi sulit untuk melupakan.
"Jadi dia bukan istri pertama abang?" tanya Alsava yang hanya fokus pada satu hal saja dari sekian panjang kalimat Rafan. Rafan menggeleng lalu menatap ke dalam bola mata Alsava.
__ADS_1
"Empat bulan lalu, Alexi sudah menikah dengan Rangga, sepupuku."
Alsava mengangguk, diam-diam hatinya merasa lega mendengar Rafan bukan suami dari siapapun sebelum menikahinya hari ini.
Tinggal memastikan apa pernikahan ini hanya untuk membayar bunga pinjaman seperti rencana awal atau tidak.
"Ingatan sebelum kecelakaan dan saat kejadian itu terjadi sampai sekarang belum kembali Va, tapi abang bertekad tidak memaksa untuk ingat. Sekarang fokus abang hanya menata masa depan bersama kamu." Rafan mengeratkan genggaman tangannya lalu tersenyum lembut.
Alsava terdiam seraya menatap genggaman tangan dan wajah Rafan bergantian. Dia ingin bertanya namun ragu, tapi kalau tidak diutarakan sekarang, Alsava khawatir akan jadi masalah baru di masa depan. Dia harus memastikan status pernikahan ini, baru kemudian akan memutuskan harus bagaimana menyikapinya.
"Maaf Bang, apa alasan menikahiku untuk mengobati luka abang sekaligus membayar bunga pinjaman?"
Dengan polos bertanya hingga membuat Rafan terdiam mendengarnya.
"Apa masalah hidup mu hanya seputar hutang?" tanya Rafan gemas karena selalu kata 'hutang' saja yang Alsava bahas dengan dirinya.
"Maaf Bang, tapi kalau bukan karena alasan itu lalu karena apa? aku tahu Abang pasti bisa menikahi wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku hanya gadis yatim piatu dan tidak pantas untuk-"
"Berhenti!"
Nada bicara Rafan meninggi, dia tidak suka dengan kalimat Alsava yang merendahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana pun kamu dan latar belakang keluargamu, yang terpenting mulai hari ini kamu sudah sah jadi istri seorang Rafan Dizhwar yang bisa mengubahmu menjadi wanita berkelas dan dihormati orang. Jangan rendah diri, tegakkan kepalamu di depan semua orang."
"Apa? Apa lagi?" tanya Rafan geram.
"Aku tidak pantas buat Abang yang-"
"Siapa bilang?" Suara Rafan semakin meninggi hingga membuat Alsava terjingkat kaget, gadis itu menatap heran ke arah suaminya seraya mengerjapkan mata.
"Cepat mandi bersih-bersih dan ganti baju!"
Berkata dengan kalimat tegas yang tidak bisa dibantah. Pria itu menatap tajam Alsava yang sudah mulai bergerak. Membuka selendang, meraih baju tidur di atas ranjang lalu berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Rafan menggeleng seraya terkekeh.
"Dengan semua hal, apa kamu tidak bisa membaca alasanku menikahimu Va," gumam Rafan seraya menghela napas dalam.
"Dasar gadis pembuat onar yang tidak peka!"
Mengumpat orang yang masih di dalam kamar mandi dengan seenak hati.
Sisa malam itu hanya mereka lalui dengan tertidur pulas tanpa aktivitas menguras keringat layaknya pasangan pengantin baru saat melewati malam pertama.
__ADS_1
***
"Apa hari ini akan pulang larut?" tanya Alsava seraya mengikat simpul dasi di leher suaminya.
Rafan hanya bergumam sebagai jawaban. Alsava memghela napas lalu melangkah dan duduk di pinggir ranjang setelah menyelesaikan tugasnya memakaikan dasi pada Rafan.
Rafan mengerutkan dahi lalu membenahi penampilannya sebentar di depan cermin.
"Kenapa?"
Memutuskan melangkah mendekat dan duduk di samping wanita yang sudah dia nikahi selama dua bulan terakhir. Merapihkan anak rambut di dahi Alsava dan menatap penuh cinta. Waktu bergulir begitu cepat sampai tidak terasa dua bulan sudah berlalu dari hari mereka menikah.
Setelah berbicara dari hati ke hati saat malam pertama, pernikahan mereka berjalan baik, bahkan sudah mulai bergelora penuh cinta dan hasrat layaknya pengantin baru pada umumnya.
Meski Rafan selalu sibuk dari pagi sampai malam di kantor, namun di malam hari mereka selalu bisa menghabiskan waktu bersama.
Begitu pun dengan akhir pekan, Rafan membersamai Alsava dari bangun sampai tidur lagi, melakukan berbagai kegiatan menyenangkan seperti kencan dan belanja bersama. Tidak ada yang Rafan khawatirkan lagi sekarang.
Meski keluarga paman Yo masih belum mau mengakrabkan diri dengan Alsava, tapi Rafan yakin pamannya tidak akan sampai hati mengganggu rumah tangganya.
Biarlah waktu yang akan membuat semuanya baik, Alsava pasti bisa berbaur dan menyesuaikan diri saat mendamlinginya. Dia hanya perlu belajar, begitu hatinya selalu membuat pembelaan.
Alsava sebenarnya orang yang menyenangkan dan ramah, wanita itu bahkan sudah mulai akrab dengan bi Asih dan para pelayan. Dia pun sudah berteman baik dengan Arman dan mang Diman.
Kini Rafan sudah mendapatkan keluarga dan rumah ternyaman untuk pulang. Hal yang sudah sejak lama dia cari.
"Kenapa sayang?"
Rafan mengulang pertanyaan seraya menenggelamkan Alsava dalam pelukan. Istrinya ini nampak lebih manja dan sensitif akhir-akhir ini. Tangan Rafan bergerak lembut naik turun di punggung Alsava.
"Aku kesepian tahu Bang, tiap hari cuma keliling rumah ngerumpi sama para pelayan. Terus udah.. bosen banget tahu," rengek Alsava seraya mendongak menatap Rafan tanpa melepaskan pelukan.
"Kamu kan banyak kegiatan juga meski cuma di rumah. Bantuin bi Asih masak sama belanja ke pasar, kamu juga sering bantuin beres-beres rumah dengan para pelayan. Dan... satu lagi, suka jahilin para pelajan kan? Arman kemarin protes katanya baru beberapa hari lalu kamu kerjai."
Rafan mengeratkan pelukan lalu mencium pucuk kepala Alsava beberapa kali. Aroma segar dari sampo yang Alsava pakai menguar lembut di indra penciuman Rafan.
"Isssh... tapi udah bosen tahu Bang." Masih melanjutkan rengekannya dengan alasan yang belum jelas.
"Ya udah jadi kamu mau apa sekarang?" Alsava melepaskan pelukan lalu menatap Rafan dengan penuh binar.
"Janji ya kabulin apa yang aku mau?"
__ADS_1
Glek!
Tiba-tiba Rafan merasakan firasat buruk atas permintaan istri ajaibnya ini. Terima nasibmu Fan!