Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Empat puluh empat


__ADS_3

Hari minggu buat sebagian orang adalah harinya untuk bersantai dan memilih bangun siang atau berdiam diri di rumah untuk beristirahat dari kesibukan bekerja. Beberapa orang yang lain, menyambutnya dengan semangat karena akan pergi berlibur untuk mendapatkan penyegaran fikiran.


Sebagian lagi, akan bangun pagi untuk berolah raga di tempat publik. Entah benar-benar olah raga atau sekedar cuci mata dan memperlebar pergaulan. Semangat Alsava tidak kalah menggelora, hari minggu ini kebetulan libur kerja tapi memilih bangun lebih pagi. Bersiap untuk menjemput kehidupan damai aman sentosa.


Hari ini dia berencana mengunjungi rumah Rafan untuk membayar hutang. Sebenarnya sudah sejak bagun tidur dada Alsava berdebar tidak karuan. Dia merasa gugup kalau nanti bisa bertemu langsung dengan Rafan, entah kalimat apa yang akan dia lontarkan.


Apa permintaan maaf dulu? Atau ucapan terima kasih karena tidak membawa kasus kemarin ke jalur hukum? Alsava menghela napas dalam dan menghembuskan nya perlahan, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.


Merapihkan pakaian santainya yang tidak berantakan, sekali lagi menghela napas seraya melakukan peregangan ringan.


"Semoga tidak terjadi masalah di sana nanti," gumam Alsava seraya menyampirkan tas selempang nya membelah dada.


Setelah memastikan ojeg online yang dia pesan sudah sesuai pesanan aplikasi, Alsava melaju bersama driver ojek online menuju alamat Rafan setelah memastikan alamat tujuannya. Sepanjang perjalanan Alsava melamun, berfikir keras menyusun kalimat yang akan disampaikan pada Rafan nanti.


"Sudah sampai Mbak."


Suara driver ojek online--yang mengantarnya--membuyarkan lamunan Alsava sepenuhnya. Gadis itu turun dari motor seraya membuka helm. Dengan mengerutkan dahi Alsava menatap bingung driver ojek online di depannya.


"Loh Bang, kenapa turun di sini?" Alsava menyerahkan helm lalu driver itu menerimanya lalu menyimpan di depan jok motor.


"Ini kawasan perumahan elite Mbak, jadi nggak bisa sembarangan masuk kalau tidak punya akses."


"Akses apa?"


"Selain penghuni perumahan ini, ya para pekerja di sini saja yang bisa masuk ke kawasan ini Mbak, maaf setahu saya memang seperti itu."


Alsava tidak lagi menghiraukan ucapan driver ojek online tadi, mata Aslava liar menatap gapura mewah pintu masuk ke kawasan perumahan elite tempat tinggal Rafan.


Dulu dia diperbantukan dari kantor, jadi dia datang dan pergi menggunakan mobil kantor. Dan kedatangannya sudah dikonfirmasi langsung ke pihak security perumahan.


Driver ojek online tadi sudah melaju sejak tadi, namun Alsava masih berdiri mematung di depan gapura perumahan. Dengan ragu dia melangkah menuju pos security perumahan.


"Permisi Pak, mau bertanya apa benar ini perumahan zamrud estate?"


"Iya benar Mbak, kenapa ada yang bisa di bantu?" Seorang security muda berbadan tinggi kurus melangkah mendekat ke arah Alsava.

__ADS_1


"Mmm.. Begini saya ada kepentingan untuk ke alamat keluarga Dizhwar, apa.. saya boleh masuk?" tanya Alsava berhati-hati.


Security tadi mengerutkan dahi lalu masuk ke dalam pos penjagaan dan mengobrol dengan security lebih senior berbadan tambun dengan perut yang sedikit membuncit.


"Ada apa ya?"


Security berbadan tambun keluar dari pos jaga lalu menghampiri Alsava, dibelakangnya security muda mengekor ikut berhadapan dengan Alsava sekarang.


"Saya ada keperluan pada keluarga Dizhwar, apa saya boleh masuk?" Alsava mengulang lagi pertanyaannya pada security tadi.


Security berbadan tambun mengamati penampilan Alsava. Matanya jeli menelisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia tahu kalau keluarga Dizhwar tidak mungkin bisa berurusan dengan gadis sederhana di hadapannya.


Menurutnya, Alsava tidak termasuk kategori kerabat atau orang yang memiliki hubungan pertemanan dengan salah satu anggota keluarga Dizhwar. Security berbadan tambung itu berdehem sebentar lalu menghela napas dalam.


"Silahkan pergi Mbak, saya tahu seperti apa keluarga Dizhwar itu. Dan menurut saya Mbak bukan termasuk orang yang bisa berurusan dengan keluarga itu," ucap security berbadan tambun ketus seraya berbalik kembali masuk ke pos jaga.


Alsava berdecih seraya bertolak pinggang. Wajahnya tersenyum penuh cemooh, ah kenapa juga status sosial itu penting untuk dihargai orang? Lagi-lagi Alsava mendengus tidak suka, entah karena tersinggung dikatain tidak pantas karena orang biasa, atau karena hal lain. Padahal tidak semua status orang itu membuat dirinya bahagia.


Alsava termenung duduk berjongkok, bola matanya lincah berkeliaran mencari cara agar bisa diijinkan masuk ke kawasan perumahan elite ini. Tiba-tiba ide cemerlang melintas begitu saja dalam pikirannya. Seketika itu bibirnya tersenyum lebar lalu mengangguk-anggukan kepala.


Kedua security yang berada di dalam pos jaga dengan sigap berlari menghampiri Alsava yang sudah duduk berselonjor kaki di depan gerbang perumahan. Wajah yang memerah dan air mata yang terus menetes, Alsava berhasil menarik simpati kedua security yang sedang menatapnya bingung.


"Maaf Mbak ada apa sebenarnya?" tanya security berbadan kurus seraya melangkah pelan mendekat ke arah Alsava.


"Hiks.. Hiks... Hiks..!" Alsava memilih terus tersedu dan belum menjawab.


Security berbadan tambun menoleh ke kanan dan kiri lalu dengan ragu melangkah ikut mendekat. Menelan ludahnya berat lalu saling berpandangan dengan security berbadan kurus.


"Mbak nya tenang dulu, coba jelasin ada apa? Kita bicara di dalam pos jaga saja bagaimana?" usul security tambun mencoba menenangkan. Alsava melirik kedua security itu secara bergantian lalu sedikit memelankan suara tangisnya.


Napasnya sedikit tersendat-sendat akibat tangis yang tersedu. Mengerjapkan kelopak mata berusaha terlihat polos dan menyedihkan.


"Sa-saya hamil Pak."


Kedua security itu saling pandang dengan terkejut saat mendengar kalimat Alsava yang cukup provokatif. Gadis itu berusaha membuat kedua security ini iba dan mebiarkannya masuk ke dalam kawasan perumahan.

__ADS_1


"Maksudnya gimana Mbak?" tanya security tambun seraya menoleh ke kanan dan kiri.


"Ayo Mbak cerita di dalam pos saja!" ucap security berbadan tambun. Ia mencoba mengangkat tubuh Alsava untuk berdiri. Alsava menurut dengan pasrah seraya menundukkan kepala.


***


Hari minggu adalah salah satu hari yang ditunggu oleh Arman karena bisa bersantai seraya mengenakan kain sarung sampai siang. Akhir-akhir ini Rafan jarang sekali berpergian keluar rumah di akhir pekan--terutama hari minggu.


Arman sedang duduk mengangkat satu kaki di pos security bersama mang Diman penjaga rumah Rafan. Keduanya sedang menikmati pagi bersama kopi hitam dan pisang goreng buatan bi Asih tadi.


"Sryupuut...ck..Ah.. "


Arman menyeruput kopi hitamnya dengan nikmat. Rasa pahit dan harum dari kopi hitam yang masih hangat kuku langsung meluncur nikmat di tenggorokannya.


"Nggak niat pulang kampung Man? Saya lihat sejak bekerja beberapa bulan lalu kamu nggak pernah minta libur untuk pulang kampung." Mang Diman bertanya dengan santai seraya memakan pisang goreng.


Hari minggu pagi yang cerah dan cukup tenang membuat mang Diman dan Arman bisa bercakap-cakap santai menghabiskan waktu.


"Belum Mang, belum mau." Arman melahap habis satu pisang goreng lalu menyeruput kembali kopi hitam miliknya yang hanya tinggal satu pertiga gelas.


"Bilang aja nggak ada yang dikangenin di kampung," seloroh mang Diman menyindir Arman yang memang masih jomblo.


"Sembarangan!"


"Bang, kamu harus tanggung jawab! Aku hamil!"


Belum sempat Arman melontarkan sangkalan atas kalimat mang Diman, tiba-tiba ada seorang gadis yang turun dari motor security perumahan memekik dan mengaku dia hamil. Pisang goreng yang sudah menempel di bibir mang Diman jatuh begitu saja.


Wajah mang Diman dan Arman sama-sama tegang dan terkejut, mereka saling melempar pandang dengan bingung.


"Bang Arman, aku hamil anakmu Bang!"


Arman tersedak ludahnya sendiri mendengar pekikan selanjutnya dari gadis dihadapannya ini.


"Arman jadi kamu?"

__ADS_1


Mang Diman menatap Arman penuh cemooh sambil menyipitkan mata.


__ADS_2