
"Rafan? Apa dia sudah ditemukan?"
Kedua pria yang sedangg terlibat obrolan yang cukup serius itu pun menoleh ke sumber suara dengan ekspresi yang berbeda.
Paman Yo melangkah mendekat ke arah orang yang kini sedang terkejut karena tidak sengaja mendengarkan pembicaraan dengan orang suruhannya. Pria paruh baya itu menghela napas lalu memegang lembut pundak wanita cantik yang telah memberikannya dua orang anak.
Paman Yo melirik sebentar pada pria berjaket kulit warna hitam, memberi isyarat untuk meninggalkannya dan sang istri. Isyarat pun ditangkap dengan baik, pria berjaket kulit warna hitam itu mengangguk lalu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suara.
"Jawab aku Pa, apa Rafan sudah ditemukan?" desak bibi Bella. Paman Yo mengangguk, kedua tangan masih bertengger lembut di kedua bahu istrinya.
"Lalu apa yang akan terjadi pada Rangga anak kita Pa?" Kali ini terlihat kekhawatiran yang besar saat membahas Rangga sang putra sulung yang telah melakukan kesalahan.
Paman Yo sekali lagi menghela napas lalu melepas pundak sang istri dan duduk di sofa yang berada di ruangan kerjanya. Bibi Bella ikut duduk di samping suaminya dengan gerakan gelisah.
"Jawab Pa, apa yang akan terjadi pada Rangga saat Rafan kembali?" Mata bibi Bella sudah berkaca-kaca, nada bicaranya sedikit bergetar menyiratkan rasa takut dan khawatir secara bersamaan.
Paman Yo merangkul bahu istrinya lalu membawa tubuh berisi itu untuk jatuh dalam pelukannya. Sebagai seorang ayah, dia pun memiliki rasa khawatir yang sama. Tapi apapun alasannya tindakan Rangga itu tidak bisa dibenarkan.
"Rafan hilang ingatan," ucap paman Yo setelah diam beberapa saat. Bibi Bella terkejut lalu sedikit membuat jarak demi melihat apa ada kebohongan di mata suaminya.
"Apa itu artinya kita tidak perlu khawatir tentang Rangga?"
"Tergantung perilaku putramu."
***
"Mau kemana?" tanya Roman pada istrinya yang pagi-pagi sekali sudah rapih dan bersiap untuk pergi.
"Sarapan Abang sudah aku siapin ya ada di dapur, aku buru-buru mau cari kerja."
Berbicara tanpa menoleh ke arah Roman dan sibuk memakai sepatu snikers berwarna putih, katanya sepatu import yang Alsava beli di pasar kaget.
"Abang nggak ijinin kamu pergi," ucap Roman tegas seraya melangkah masuk lagi ke dalam kosan.
Mata Alsava mengerjap beberapa kali, tangan yang sibuk memberi simpul di tali sepatu berhenti bergerak. Dalam beberapa saat Alsava hanya diam tidak melakukan apapun. Menghela napas lalu melepas sepatunya kembali. Melangkah masuk menyusul Roman yang kini sedang duduk di pinggir ranjang.
Dengan perlahan Alsava mendekat lalu duduk di samping suaminya. Gadis itu awalnya hanya diam, dia bingung harus melakukan apa untuk membujuk suaminya.
"Bang."
Memanggil dengan suara pelan mendayu. Meski begitu, Roman belum menoleh ke arah Alsava juga tidak merespon panggilannya.
__ADS_1
"Abang masih marah soal yang kemarin?" Bertanya dengan hati-hati takut membuat Roman semakin tersulut emosi.
"Aku udah minta maaf kan Bang." Alsava beringsut semakin medekat hingga mereka tidak berjarak, dengan ragu memeluk Roman dari samping seraya menghela napas.
Waktu itu juga dipeluk langsung luluh.
Alsava ingat waktu masih tinggal di kampung Roman pernah marah dan hanya dengan pelukan amarah pria itu kembali mereda. Semoga kali ini juga begitu, doa Alsava dalam hati.
"Bang." Alsava menelan ludahnya dengan berat karena ternyata pelukan saja masih belum cukup membuat pria itu menoleh apalagi meredakan emosinya.
"Maaf Bang." Memilih meminta maaf padahal tidak tahu salahnya dimana.
"Lepas." Roman melepas paksa pelukan Alsava lalu masuk ke kamar mandi membuat Alsava bengong dan mengerjapkan mata bingung.
"Dia sebenernya kenapa?" lirih Alsava.
Karena takut Roman semakin marah, akhirnya Alsava mengurungkan niat untuk pergi hari ini. Lagi pula Roman tidak akan lama lagi di sini. Sedikit bersikap manis dan memberi kenangan indah saat bersamanya mungkin bisa membuat pria itu memberikan pengampunan saat mengetahui kebohongan yang Alsava buat.
Alsava sudah menghubungi nomor yang pria misterius itu minta saat sampai di kota beberapa saat yang lalu. Mungkin sebentar lagi pria itu akan dijemput oleh keluarganya dan kembali ke kehidupan yang sebenarnya tanpa ada lagi Alsava di sekitarnya.
Mengingat itu, hati Alsava selalu terasa sesak. Ada rasa tidak rela akan ditinggalkan, merasa tidak siap kalau Roman akan berbalik membencinya nanti.
"Ya sudah dihadapin aja," lirih Alsava seraya menghela napas.
Alsava menelan ludahnya dengan susah payah, dadanya berdebar dengan kencang. Matanya tidak melepaskan pergerakan Roman saat berusaha memakai pakaiannya. Saat pria itu akan menanggalkan handuk di pinggangnya Aslava dengan segera berbalik memunggungi, jantungnya semakin berdetak kencang tidak karuan.
Ya ampun, jantung apa kamu aman?
Alsava mengelus lembut dadanya berharap bisa meredakan debaran yang terasa menggila.
"Ayo berangkat!" Suara ajakan Roman membuat Alsava kembali tersadar dari lamunannya. Gadis itu menoleh cepat ke arah Roman yang kini sudah terlihat rapih dengan switer rajut berwarna tosca dan celana jeans berwarna biru muda.
Ya ampun, emang beda kalau wajah orang gedongan. Pakai baju sebuluk apa juga tetep aja ganteng.
"Kenapa?" Dahi Roman berkerut samar menyadari Alsava yang hanya bengong tidak merespon ajakannya.
"Apanya?" Berucap pelan dengan masih linglung.
Roman sedikit terkekeh melihat tongkah Alsava yang bengong menatapnya dengan pipi yang sedikit bersemu merah. Pria itu duduk di hadapan Alsava lalu menggenggam tangan istrinya lembut. Alsava masih tidak melepaskan pergerakan Roman dari tatapan matanya.
"Apa Abang ganteng?" tanya Roman usil.
__ADS_1
"Banget."
Roman tergelak mendengar jawaban cepat dari Alsava. Ternyata tawa Roman menular pada Alsava yang kini juga menarik kedua ujung bibirnya. Rasanya ingin terus menjalani hidup bersama pria tampan di depannya.
Tapi Alsava tidak boleh egois, keluarga Roman sedang menanti kepulangan pria itu dengan segera. Sudah cukup menahan pria itu selama empat bulan terakhir, biarlah sekarang pria itu bebas dan menjalani kehidupan yang sebenarnya pria itu miliki.
"Aku sayang Abang," ucap Alsava seraya menghambur kepelukan pria yang tidak akan lama lagi ada di hidupnya.
"Abang tahu." Senyum Roman mengembang mendengar ungkapan perasaan Alsava yang diutarakan tanpa malu-malu.
"Kalau Abang sayang nggak sama aku?" Alsava memberi jarak tanpa melepas pelukan demi menatap wajah tampan milik Roman. Roman tersenyum tipis lalu memeluk Alsava erat.
"Abang,-"
Belum selesai Roman mengutarakan perasaannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kosan Alsava dengan cukup teratur dan terdengar tidak sabar.
Alsava dan Roman mengurai pelukan lalu saling melempar pandangan.
"Biar aku yang buka." Alsava bangkit berdiri lalu melangkah menuju pintu. Roman yang juga penasaran mengikuti langkah Alsava dari belakang.
"Cari siap,-"
Lidah Alsava kelu, suaranya tercekat di tenggorokan. Tidak mampu melanjutkan kalimat melihat siapa yang sedang berdiri di ambang pintu kamar kos nya.
"Siapa Va?" Alsava tidak bereaksi saat suara Roman terdengar mendekat. Gadis itu berdiri terpaku dengan tangan mencengkram daun pintu.
Ini kah saat nya? Kenapa begitu cepat?
Hati Alsava berdenyut nyeri, merasa tidak rela kalau sebentar lagi harus membiarkan pria yang dia sayangi pergi.
"Terima kasih karena sudah menghubungi segera," ucap Pria berjaket kulit di depan Alsava. Alsava diam tidak bereaksi, sementara Roman sudah mengerutkan dahinya dalam, penasaran dengan siapa pria yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Rafan, itu kamu Nak?" Tiba-tiba ada seorang pria paruh baya yang menerobos tubuh pria berjaket kulit dan juga Alsava. Dengan cepat memeluk Roman dengan erat.
Rafan.
Roman terpaku mendapat perlakuan yang tidak dia prediksi dari orang yang tidak dikenal. Pria paruh baya mengurai pelukan lalu meletakkan tangan di kedua bahu Roman, menatap haru keponakan yang sudah empat bulan menghilang.
"Siapa?" tanya Roman terbata.
"Dia keluarga kamu," lirih Alsava seraya menunduk. Roman mengerutkan dahi menatap Alsava penuh tanya.
__ADS_1
"Maksud kamu Va?"