Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Dua puluh tujuh


__ADS_3

Hari sudah beranjak siang, matahari sudah meninggi. Waktu sudah bergulir beberapa jam setelah Rafan meninggalkan kamar kos Alsava dengan pintu yang terbuka. Tapi Alsava, gadis itu masih duduk memeluk lutut dengan pandangan kosong menatap buku tabungan yang tergeletak di depannya.


Air mata sudah tidak lagi menetes, meski jejaknya sangat jelas terlihat. Mata dan hidung yang memerah dengan rambut yang sedikit berantakan. Alsava merenungi semua tindakan yang dia ambil tanpa pikiran matang empat bulan yang lalu.


Alsava menghela napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Menyesali semua perbuatan dan keputusan yang dia ambil empat bulan yang lalu meskipun tidak bisa mengubah apapun.


"Kruyuk!"


Bunyi perut Alsava terdengar nyaring memecah keheningan di kamar kos tiga petak itu. Perlahan mengelus lembut perut masih dengan tatapan yang belum fokus.


"Bang Roman pergi dengan perut kosong." Alih-alih mengkhawatirkan diri sendiri, dia jistru mengkhawstirkan pria yang beberapa jam lalu membentak dan mendorongnya hingga tersungkur.


Tidak pernah Alsava sangka kalau perpisahannya dengan Rafan bisa se-dramatis tadi. Meski sudah mempersiapkan diri ternyata hatinya cukup lemah untuk menolak rasa sakit.


Gadis pembohong!


Dua kata itu kembali terngiang di kepala Alsava, menari-nari dengan pelan lalu berputar berkali-kali layaknya sebuah radio rusak. Hati Alsava kembali berdenyut sakit kala mengingat wajah merah padam milik Rafan yang menghardiknya dengan nada tinggi dan kata-kata menyayat hati.


"Dia pantas marah kok, siapa juga yang tidak marah kalau dipermainkan seperti ini," gumam Alsava pada diri sendiri.


Tangan Alsava terulur mengambil buku tabungan yang sejak tadi dia pandangi. Membuka lalu mengeluarkan secarik kertas di dalamnya.


"Banyak juga uang yang aku pake, siapa yang nggak akan marah kalau uangnya dipake sebanyak ini tanpa ijin," ucap Alsava tenang.


Angin sepoy membelai wajahnya dengan lembut seolah berusaha menenangkan dan menghibur hati gadis yang sekarang sedang kacau.


"Aku harus bisa mengembalikan semua uang yang aku pake secepatnya."


Alsava bangkit lalu menutup pintu kamar kos, semangatnya terpantik kala menemukan alasan untuk kembali bangkit, memutuskan berjuang mencari pekerjaan agar bisa mengembalikan uang pria kaya yang selama empat bulan dia rawat.


"Oke kita mulai dari mana?" Bertolak pinggang seraya menyapukan pandangan ke seluruh penjuru kamar kos.


***


"Kamu sudah bangun?" Rafan beringsut duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan mengucek mata.


Mata melirik jam dinding dengan ornamen mewah lalu menyadari kalau dirinya cukup lama tertidur. Tidur di ranjang yang empuk dan nyaman membuat tubuh ku sedikit lupa diri, gumamya dalam hati seraya tersenyum tipis.


"Paman sejak kapan di sini?" tanya Rafan dengan suara lengket, menatap Paman Yo yang sedang berdiri seraya menatap pemandangan di balik jendela kamar Rafan.

__ADS_1


"Sekitar lima belas menit yang lalu."


Rafan mengangguk lalu meminum air putih yang entah sejak kapan berada di atas nakas dekat ranjang.


"Permisi Tuan."


Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang masuk ke dalam kamar Rafan setelah sebelumnya mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh paman Yo.


"Makan siangnya Tuan muda."


Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi sepiring nasi beserta lauk dan segelas air putih di atas nakas sebelah kanan Rafan.


"Makasih."


Rafan mengangguk seraya berterima kasih, wanita paruh baya itu tersenyum tipis lalu pergi setelah mengangguk hormat kepada Rafan dan paman Yo.


Dengan lahap Rafan memakan makanan yang menurutnya sangat mewah dibandingkan makanan yang selalu dia makan selama empat bulan terakhir. Setiap suapan terasa begitu nikmat, bukan hanya karena makanannya yang enak tapi perutnya juga lapar karena belum makan sejak pagi.


Rafan mendengus kesal karena lagi-lagi kenangan empat bulan lalu memenuhi ingatannya.


"Paman sudah makan?"


"Paman sudah makan tadi."


Duduk di samping ranjang menatap Rafan dengan sendu.


"Kamu nggak pernah makan yang seperti ini selama di kampung?" tanya paman Yo penuh haru saat melihat cara makan Rafan. Rafan menggeleng ragu menahan malu.


"Kehidupanku di kampung sangat susah, hanya makanan sederhana yang selalu Alsava buat. Kami juga jarang makan sampai kenyang karena harus berbagi untuk berdua. Hidupku selama empat bulan ini cukup sulit meski Alsava terlihat banting tulang bekerja cari uang. Tahunya uang aku juga yang dia pake." Tersenyum sinis di akhir kalimat.


Entah kenapa hatinya selalu saja sesak kala mengingat dirinya dibodohi cukup lama.


"Sekarang kamu bebas mau makan apa aja Nak, kamu nggak akan mendadak miskin kalau mau makan makanan mewah yang tarafnya internasional sekali pun," ucap paman Yo membuat Rafan semakin mengembangkan senyum.


"Makasih Paman."


Paman Yo bangkit berdiri lalu membenahi pakaiannya sejenak.


"Lanjutkan istirahat mu, nanti malam akan ada pertemuan keluarga jadi bersiap-siap ya. Kalau butuh apapun kamu bisa panggil paman atau pelayan rumah."

__ADS_1


Selepas mengatakan itu Paman Yo pamit keluar kamar Rafan. Rafan masih saja merasa asing dan aneh dengan kehidupannya yang sekarang. Jauh sekali dengan kehidupannya empat bulan lalu.


Rafan mengayun langkah menyusuri penjuru kamar, dia menatap sebuah pigura yang terpajang di salah satu dinding. Ada dirinya sedang berdampingan dengan seorang gadis berambut pendek sedang tersenyum ke arah kamera, sama-sama memamerkan cincin yang melingkar di jari manis. Dirinya dan gadis itu tampak bahagia.


"Dia siapa? Kenapa senyumnya tidak asing? Apa dia tunanganku? Atau istriku? Tapi Paman Yo tidak bilang apapun," guman Rafan bertanya-tanya dengan jemari meraba permukaan foto seolah meraba wajah gadis cantik di dalamnya.


"Selain fakta bahwa aku anak yatim piatu, apa aku juga tidak punya saudara?" masih menggumamkan pertanyaan yang melintas dalam benaknya, melangkah perlahan menyusuri sebuah ruangan tempat pakaian dan semua asesorisnya tersimpan.


"Pakaiannya banyak sekali."


Rafan tersenyum kecut kala mengagumi setiap pakaian mahal yang berjejer rapih di depannya. Empat bulan ini dia hanya punya pakain yang tidak lebih dari hitungan kedua jari tangannya, itu pun Alsava beli di pasar dengan harga diskon. Tapi sekarang, di hadapannya berjejer baju-baju mahal yang banyaknya seperti satu toko.


"Gadis pembohong," lirih Rafan dengan rasa benci separuh hati.


Bahkan hatinya pun mengkhianati karena tidak bisa membenci Alsava sepenuh hati, karena separuh hatinya lagi malah merasakan perasaan yang mati-matian dia sangkal sejak tadi.


Merasa lelah berdebat dengan hatinya sendiri, Rafan memutuskan masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk pertemuan keluarga sekaligus makan malam. Sempat terkagum melihat isi kamar mandi hingga memakan waktu cukup lama sampai dia keluar dari kamar mandi.


Untuk bersiap mengenalan pakaian pun butuh waktu lama karena dia merasa hampir semua pakaian yang ada di dalam lemarinya sama sekali bukan seleranya. Rafan mendesah kesal.


"Sepertinya kehidupan sederhana sudah melekat dalam alam bawah sadar ku tanpa aku sadari," bergumam kesal pada diri sendiri.


Akhirnya dia memilih menggunakan pakaian yang cukup santai yaitu celana chino berwarna gelap dengan sweter rajut berwarna pastel. Rafan menyisir rambutnya rapih hingga memancarkan ketampanan yang selama ini tersembunyi di balik wajah sederhana seorang pemuda yang tinggal di kampung.


"Aku tidak menyangka kalau bisa setampan ini." Sedikit terkekeh saat menarsiskan diri seraya bercermin.


"Sudah siap?" Paman Yo datang setelah sebelumnya mengetuk pintu. Pria paruh baya itu berdiri mematung di ambang pintu dengan tangan yang masih bertengger di handel pintu. Paman Yo menyunggingkan senyuman lebar kala Rafan berbalik dan mendekat.


Dua pria berbeda generasi itu melangkah keluar kamar lalu masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar rumah Rafan. Kata paman Yo sudah ada beberapa orang yang menanti kehadirannya di sana, Rafan hanya mengangguk sebagai respon.


"Ra-rafan!"


Saat pintu lift terbuka tiba-tiba ada gadis dengan perut buncit berjalan cepat ke arahnya seraya melafalkan nama Rafan dengan terbata. Dengan sekejap gadis itu sudah merengkuh tubuh Rafan dengan erat meski sedikit terhalang oleh perutnya yang sudah membesar.


Gadis itu menangis tersedu dengan tubuh yang bergetar. Dengan ragu Rafan membalas pelukan seraya mengelus lembut punggungnya untuk menenangkan.


"Rafan aku minta maaf," ucap gadis itu masih tersedu.


"Ka-kamu siapa?"

__ADS_1


Rafan bertanya dengan ragu, Alexi segera mengurai pelukan lalu menatap pria di depannya dengan bingung dan terkejut.


__ADS_2