Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh tiga


__ADS_3

"Haaacchiww!"


Alsava menggosok hidungnya yang gatal karena udara dingin. Gadis itu sedang duduk di kursi taman di halaman belakang rumah Rafan. Alsava menghela napas dalam lalu mengeratkan selendang yang dia pakai untuk membalut tubuh yang sedang menggunakan gaun dengan pundak terbuka.


Kepala gadis itu menengadah menatap langit yang cerah oleh cahaya bulan purnama dan taburan bintang berkelap-kerlip. Lagi, Alsava menghela napas lalu menyandarkan kepala dengan lemas di sandaran kursi.


Dia masih belum mengerti dengan apa yang sudah dilalui sejak siang tadi. Yang Alsava tahu, dia hanya akan bekerja di rumah Rafan sebagai pelayan untuk melunasi bunga pinjaman. Tapi kenapa semua yang terjadi tidak sesuai dengan rencana awal?


Siang tadi saat Alsava tiba, Rafan langsung memaksanya menikah tanpa bisa menolak. Tentu dengan ancaman harus mengembalikan bunga pinjaman saat itu juga kalau tidak bersedia. Akhirnya tanpa bantahan gadis itu setuju di dandani dan menikah.


Lalu beberapa jam setelahnya, rumah Rafan sudah di penuhi banyak orang yang datang entah dari mana, katanya acara dilanjutkan untuk memperkenalkan istri baru dari Rafan--yang sudah tentu itu Alsava.


Entahlah, semua terjadi dengan cepat tanpa memberikan otaknya waktu untuk berfikir. Bahkan Alsava tidak diberi kesempatan mengkonfirmasi siapa wanita cantik menggendong bayi tampan yang ikut menyaksikan mereka menikah.


Apa wanita tadi istri pertamanya?


Semua hal yang terjadi hari ini serba tidak masuk akal dan tiba-tiba menurut Alsava. Bagaimana tidak, dia merasa seperti kejatuhan rejeki nomplok yang dalam sekejap berubah dari gadis miskin menjadi istri seorang Rafan Coman Dizhwar--pewaris tunggal Dizhwar Corporatins yang memiliki lini bisnis di seluruh penjuru negeri.


Angin malam berhembus cukup kencang menerpa tubuh Alsava, gadis itu semakin mengeratkan selendang yang membalut tubuhnya. Meski terasa cukup tebal namun hawa dingin masih bisa menembus kulitnya bahkan terasa menusuk hingga tulang.


"Dingin banget," desisnya dengan suara sedikit bergetar. Alsava mengulum bibir lalu menghela napas.


"Nona Alsava, ternyata anda di sini. Maaf Nona... ditunggu Tuan di dalam."


Tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang kursi yang Alsava duduki. Alsava menoleh dan mendapati Arman yang sedang berdiri menjulang dengan kepala menunduk.


"Dia nyariin aku?" tanya Alsava heran.


Setahu Alsava, sejak tadi dia hanya diabaikan di sana. Bahkan mirip seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Alsava memang diperkenalkan sebagai istri sah dari Rafan, tapi sejak tadi dia merasa terasing dari segi keberadaan maupun dari percakapan Rafan dengan semua tamu nya. Karena itulah, Alsava memilih keluar rumah dan duduk termenung di sini.


"Iya Nona, Tuan khawatir dengan keberadaan Nona. Mari nona kita masuk!"


"Arman."


Panggilan Alsava membuat langkah Arman terhenti, tubuh Arman kembali memutar menghadap Alsava.

__ADS_1


"Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, maaf karena sudah mencemarkan nama baik mu sebagai perjaka ting ting."


Alsava bangkit berdiri lalu menatap pemuda yang lebih muda dua tahun darinya. Gadis itu pun mengulas senyum ke arah Arman membuat pemuda itu hanya mengerjapkan mata bingung.


"Maaf Nona, dari mana anda tahu kalau saya perjaka yang masih ting ting?" tanya Arman bingung.


"Tahu saja, karena wajahmu menjelaskan bahwa kamu jomblo seumur hidup," ucap Alsava enteng seraya berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Arman yang melongo dengan mulut terbuka.


"Apa Nona Alsava baru bilang aku tidak laku?" gumam Arman kesal dengan kesimpulannya sendiri atas ucapan Alsava.


***


"Kamu datang dari mana? Putri dari keluarga siapa? kok bisa Rafan menikahi kamu?"


Pertanyaan yang menyudutkan dari wanita cantik yang masih menggendong bayi tampan, membuat langkah Alsava terhenti sebelum masuk ke ruang tengah rumah tempat pesta masih berlangsung.


Alsava membalikkan badan lalu melangkah mendekat ke arah wanita itu yang sedang duduk di sebuah kursi di sudut ruangan perbatasan dapur dan ruang tengah.


"Halo Nona, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Alsava Pramista, saya yatim piatu dan memiliki seorang adik tiri. Mendiang orang tua saya hanya seorang petani. Senang bertemu dan menyapa anda Nona."


"Cuma gadis miskin dan yatim piatu?"


Pertanyaan bernada merendahkan dari Alexi membuat senyum di bibir Alsava surut. Gadis itu menghela napas dan merasa maklum kalau Alexi membencinya.


Tentu, mana ada istri pertama yang tidak membenci istri kedua yang dinikahi suaminya demi melunasi bunga pinjaman.


Alsava malah kasihan dan menatap sendu pada Alexi. Gadis itu melangkah mendekat lalu menatap wajah bayi tampan yang sedang tertidur lelap. Terlihat lucu dan menggemaskan.


"Namanya siapa Nona? ya tuhan.. dia lucu sekali."


Alsava meremas udara karena gemas dengan bayi yang sedang Alexi gendong.


"Kenapa nanya-nanya? Awas sana jauh-jauh nanti anakku terkena virus lagi!" usir Alexi dengan ketus seraya mengibaskan telapak tangan agar tubuh Alexi bergeser menjauh. Meski merasa tidak nyaman, Alsava mundur secara perlahan.


Alsava menghela napas lalu menatap sendu Alexi yang terlihat sedih karena pernikahannya.

__ADS_1


"Nona saya minta maaf kalau-"


"Kenapa lama sekali Va?"


Alsava menoleh ke sumber suara dan menemukan Rafan berdiri menjulang dengan balutan jas berwarna abu tua membuatnya tampak lebih tampan dan gagah.


Jambang, kumis dan janggut sudah dia cukur habis tadi pagi, belum lagi potongan rambut baru membuat ketampanannya lebih bertambah sekarang.


Sejenak Alsava tertegun seolah ada cahaya terang dari balik punggung Rafan yang membuatnya terlihat seperti seorang pemerann drama di tayangan televisi dan menambah efek ketampanannya.


Oke, harus Alsava akui hatinya memang tertarik dengan ketampanan milik Rafan.


Gadis itu berdehem beberapa kali untuk menyadarkan diri sendiri. Ini bukan situasi yang tepat untuk jatuh cinta, begitu hatinya memekik kesal mengingatkan. Alsava memgeratkan selendang yang dia kenakan lalu memalingkan wajah, berusaha menutupi rona di pipinya.


Ya ampun, aku membenci pria tampan dan seluruh pesonanya!


"Kenapa lama sekali?"


Alsava tersentak kaget karena suara Rafan sekarang terdengar tepat di samping telinganya, bahkan tubuh mereka menempel tanpa jarak. Tubuh gadis itu sempat berontak dan oleng, kaget karena tiba-tiba di rangkul mesra dan pinggangnya di kuasai lengan Rafan dengan posesif.


Kepala Alsava mengedar ke tempat dimana Alexi berada sebelumnya, namun nihil dia tidak dapat menemukan keberadaan wanita cantik yang dia duga istri pertama Rafan itu.


"Tu-tuan maaf, apa tidak berlebihan kalau kita seperti ini?"


Tangan Alsava berusaha melepaskan belitan lengan Rafan dari pinggangnya, kepala mengedar gugup entah karena takut dilihat Alexi dan orang lain atau karena merasa kurang nyaman dengan posisi tubuh mereka yang menempel tanpa jarak.


"Kenapa? Apa tidak boleh memeluk istri sendiri?"


Sebuah kecupan ringan hinggap di pipi kiri Alsava, membuatnya melotot kaget.


Mata gadis itu mengerjap beberapa kali menatap heran dan kaget secara berdamaan pada Rafan. Otaknya masih kosong tidak bisa bekerja cepat seperti biasanya.


Alsava menelan ludah berat saat melihat senyum Rafan yang begitu mempesona, tatapan tajam yang pria itu berikan membuat Alsava terhayut dalam pesona Rafan sepenuhnya.


Ya tuhan, aku berdosa sekali malah merasa bahagia di atas penderitaan istri pertama.

__ADS_1


Alsava masih berkubang dengan pemikirannya sendiri, kalau dia hanya istri kedua yang dinikahi dengan alasan membayar bunga pinjaman. Sadar mu kapan Va!


__ADS_2