Nona Huru-hara, I Love You!

Nona Huru-hara, I Love You!
Lima puluh tujuh


__ADS_3

"Hai janda kembang."


Sapaan menyebalkan itu membuat Alsava menoleh dengan wajah cemberut. Menatap tajam sang pelaku yang anehnya malah cengengesan nggak jelas.


"Sembarangan! Aku masih punya suami kalau kamu lupa."


Alsava melengos memalingkan wajah kembali. Asep--pelaku sapaan yang menyebalkan tadi--malah tersenyum tipis lalu ikut duduk di bangku taman tepat di samping Alsava.


"Apa lagi sih Va, nikah baru dua bulan udah kabur-kaburan aja," tanya Asep dengan gaya santai membuka bungkusan permen lalu memakannya. Alsava melirik Asep sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Aku kira hidup jadi istri orang kaya itu enak, ternyata ngebosenin," keluh Alsava seraya menghela napas.


"Kok kayak yang nggak bersyukur ya? Dulu aja ngeluh katanya capek jadi miskin dan banyak hutang. Sekarang malah.. Ck.. Ck.. "


Asep menggelengkan kepala tidak habis fikir. Alsava diam tidak menimpali, hatinya menyetujui apa yang diucapkan sahabatnya itu.


Asep menghela napas laku melirik Alsava yang masih menatap lurus ke depan, dia membenahi posisi duduk menjadi lebih santai dan bersandar nyaman di sandaran kursi.


"Ngeliat kamu yang udah nikah malah banyak masalah, aku jadi takut untuk nikah."


Asep menengadah menatap langit siang hari yang cukup terik, beruntung mereka duduk di bangku yang berada di bawah pohon beringin yang rimbun, sehingga masih terasa teduh. Ditambah semilir angin yang sesekali menerpa tubuh keduanya membuat suasana sejuk dan nyaman.


"Aku juga ngiranya gitu Sep, hidup bahagia setelah nikah ternyata... "


Ucapan Alsava menggantung di udara, tatapannya kini mengarah pada segerombolan awan yang berarak pelan tertiup angin.


"Apalagi sekarang?"


Asep yang memang sudah jadi teman curhat Alsava sejak dulu, tentu tahu banyak hal tentang gadis itu termasuk kehidupan rumah tangganya. Bagaimana tidak kalau Aseplah tempatnya bercerita dan meminta saran selama ini.


"Aku nggak yakin buat lanjutin pernikahan ini Sep."


Alsava menoleh menatap Asep yang masih menengadah menatap langit. Daun yang bergoyang tertiup angin tak luput dari perhatian Asep sekarang.


"Kenapa?"


"Aku nggak yakin Bang Rafan cinta sama aku Sep, aku orang miskin dan tidak berpendidikan. Tidak cantik dan bisa dibandingkan dengan mantannya," tutur Alsava seraya menghela napas lalu menunduk.


"Mungkin hanya pemikiran kamu saja Va."


Kali ini Asep menatap Alsava saat berbicara. Berharap melihat ekspresi sahabatnya saat mengatakan ingin mengakhiri pernikahannya dengan pria kaya bernama Rafan.


"Hari ini aku minta pulang kampung dan hidup terpisah sementara. Dia marah sampe nggak mau lihat muka ku Sep. Aku samperin ke kantornya, eh.. dia malah sibuk buka-buka baju sama sekretarisnya." Ketus Alsava menggebu penuh amarah.

__ADS_1


"Serius?"


Asep menggeser posisi duduk sampai menghadap Alsava sepenuhnya. Menurut Asep, cerita ini sudah lebih menarik dari yang sebelumnya, karena ada kemungkinan suaminya Alsava berselingkuh.


Entah kenapa dia yang selalu dianggap tempat curhat yang nyaman oleh Alsava, malah bahagia mendengar kalau hubungan suami istri antara Alsava dan Rafan sedang bermasalah.


"Jadi kamu mergokin suami kamu lagi ekhem-ekhem?"


Wajah Asep berubah antusias menanti jawaban Alsava. Alsava menghela napas lalu mendorong kening Asep dengan ujung jari telunjuknya.


"Enggak juga, belum... Soalnya tadi pas masuk yang aku lihat hanya Bang Rafan yang bertelanjang dada dan sekretarisnya lagi pengang kemeja milik Bang Rafan."


"Ck.. Sayang sekali!"


Asep malah kecewa tidak pada tempatnya, hati yang sempat berbunga karena baru bertemu dengan Alsava pun kembali merasa sedih. Ck.. Aneh.


"Jadi rencana mu apa Va?" Asep membenahi posisi duduk menjadi menghadap lurus ke depan.


"Menurut mu?" Alsava malah balik bertanya. Asep mengangkat bahu lalu bangkit berdiri dan berlalu tanpa berpamitan.


"Ck.. Dasar! paling dia mau kencan." Alsava mencibir, gadis itu menatap lekat punggung Asep yang menjauh. Dalam hati Alsava bersyukur karena Asep masih bisa bersikap baik padanya, padahal pernyataan cinta pemuda itu selalu Alsava tolak.


"Aku juga setidaknya harus pulang kan?" Bergumam, bertanya pada diri sendiri seolah meyakinkan keputusan yang telah dia ambil.


Dia berniat naik kendaraan umum untuk pulang hingga mengharuskannya untuk menyebrang jalan. Alsava dengan santai menyebrang karena melihat jalanan lenggang.


"Aaaaa.....Bruk...!!!"


"Tiiitt....!"


Suara klakson mobil melengking tinggi memenuhi seluruh jalan raya. Tanpa dikomandoi, beberapa orang mengerumuni jalan yang terjadi kecelakaan tersebut. Satu korban tergeletak dengan darah yang bersimbah menggenang di aspal.


***


Sementara itu Rafan mengacak rambutnya dengan frustasi. Pria itu duduk membungkuk di sofa dengan napas yang pendek-pendek.


"Kenapa jadi sepeeri ini sih?" gumamnya pelan.


Baru saja tadi pagi dia marah pada Alsava karena minta pulang kampung dan hidup terpisah sementara. Jelas Rafan marah, karena Alsava tidak memikirkan perasaannya jika menginginkan hidup terpisah.


Pagi tadi Rafan menganggap Alsava sangat egois, lalu apa yang telah dia lakukan tadi? hum.. hati istrinya pasti sangat sedih sekarang karena memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.


"Kenapa pake acara ketumpahan kopi segala?" gerutu Rafan seraya menyugar rambut ke belakang, badannya bersandar dengan kepala menengadah.

__ADS_1


Kejadian sebenarnya tadi, dia meminum kopi yang dibawakan sekretarisnya langsung tanpa berfikir kalau itu masih panas. Saat bibirnya menyentuh permukaan air yang masih sangat panas, Rafan reflek menjatuhkan cangkir yang dia pegang dan menumpahkannya ke bagian dada dan perut.


Hal itu membuatnya terkejut dan merasa kepanasan, dengan gerakan reflek melepas kemeja yang dia pakai lalu dengan sigap sekretarisnya mengambil kemeja itu dan mendekapnya di dada. Dan adegan itulah yang dilihat oleh istrinya tadi.


"Alsava pasti salah paham dan berfikir yang tidak-tidak."


Rafan menghela napas, menatap kosong langit-langit ruang kerjanya. Badannya masih belum memakai baju, biasanya selalu ada kemeja cadangan, namun hari ini dia tidak membawanya karena berangkat dengan marah tadi pagi.


"Halo, belikan saya satu set baju kantor lengkap. Saya tunggu segera!"


Rafan melakukan panggilan pada Arman, saat telepon tersambung langsung memberi perintah tanpa basa basi dan ucapan terima kasih seperti biasa.


Arman di sebrang sana sempat melongo karena kaget, namun segera berangkat ke butik tempat biasanya Rafan membeli pakaian.


Selain karena sudah langganan, butik itu juga sudah tahu ukuran tubuh Rafan dengan baik. Jadi memudahkan Arman untuk mendapatkan apa yang majikannya minta tanpa butuh waktu lama.


***


"Ini pakaian yang Tuan minta."


Dengan hati-hati Arman meletakkan paper Bag berlogo butik langganan Rafan di atas meja kerja pria itu. Arman mengernyitkan dahi samar saat melihat penampilan Rafan yang bertelanjang dada.


Mata Arman berkeliling memindai isi ruangan yang terlihat berantakan dengan kemeja dan jas yang Rafan pakai tadi pagi tersampir di bahu sofa. Arman menelan ludah saat otaknya memikirkan hal di luar batas sebagai seorang jomblo.


Tidak mungkin kan Tuan?


"Makasih bajunya Man, kamu boleh keluar." Rafan meraih paper bag lalu mulai memakai kemeja yang ada di dalamnya.


Arman tersentak kaget saat lamunanya buyar. Tidak hanya karena suara Rafan namun juga getaran dari ponsel yang berada di saku celananya. Pemuda itu membungkuk lalu berbalik badan seraya mengangkat telepon.


"Halo Bi, Apa? Nyonya di rumah sakit?"


Sapaan Arman yang terdengar terkekut membuat tangan Rafan yang sedang mengancingkan kemeja menggantung di udara. Pria itu langsung berjalan cepat dan meraih ponsel dari tangan Arman.


Dengan dada yang berdetak cepat, Rafan mendengarkan setiap kata yang diucapkan bi Asih di sebrang sana. Tangannya gemetar lalu ponsel Arman jatuh begitu saja.


"Kenapa Tuan? Nyonya... "


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Tanpa memperhatikan penampilannya, Rafan memimpin langkah keluar dari ruangan. Sebelum melangkah, Arman mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di lantai. Matanya memindai ruangan kerja Rafan yang tanpak berbeda dari biasanya.


Semoga dugaanku salah.

__ADS_1


Arman si perjaka ting ting semakin tenggelam dalam prasangka negatif terhadap majikannya.


__ADS_2