
Hari sudah beranjak sore saat Alsava sampai di kosannya yang dulu dia tempati. Berkat bantuan Asep dan membayar sebagian uang sewa pada ibu pemilik kos. Akhirnya Alsava bisa kembali tinggal di kosan itu dengan barang-barang lama yang masih tersimpan rapih di dalamnya.
Saat tiba di kos, Asep sudah berada di depan pintu menyambut kedatangan sahabatnya dengan senyuman hangat. Pemuda itu dengan sigap mengambil tas travel yang dibawa Alsava lalu sedikit mengangguk pelan pada Roman sebagai sapaan.
"Perjalanannya lancar?" tanya Asep ramah.
"Alhamdulillah lancar," jawab Alsava singkat dengan senyuman tipis.
Dengan gerakan pelan memasukkan anak kunci, memutarnya lalu membuka daun pintu dengan cukup lebar.
"Masuk Sep! Ayo Bang."
Alsava masuk ke dalam kos seraya menggandeng Roman yang sejak tadi hanya diam. Mungkin pria itu cukup lelah sudah melalui perjalanan yang cukup jauh. Sepanjang perjalanan Roman memang tertidur, hanya satu jam terakhir mendekati tujuan dia mulai terjaga.
Kaki Roman yang masih belum pulih benar terasa kaku karena tertekuk lebih dari 6 jam. Setelah membersihkan kasur sekedarnya, Alsava mendudukkan Roman di pinggir ranjang.
"Abang istirahat ya, aku mau ngobrol sebentar sama Asep di depan."
Roman hanya mengangguk dan tidak banyak bicara. Pria itu mengangkat kakinya perlahan lalu terlentang di atas kasur Alsava yang tidak begitu luas.
"Makasih Sep," ucap Alsava duduk lesehan di dekat Asep yang sedang bersandar di dinding dengan dua tas travel di hadapannya. Pria itu membenahi posisi duduk lalu tersenyum ke arah Alsava.
"Sama-sama, kamu udah dapat kerjaan Va?" tanya Asep seraya tersenyum.
Entah kenapa, suasana hatinya hari ini sangat baik. Meski lumayan capek karena baru pulang kerja, tapi pemuda itu dengan semangat menyambut kepulangan Alsava. Sedikit kesal karena Alsava datang bersama pria yang katanya sudah menyandang status sebagai suami sirih Alsava. Tapi tak apa, yang penting sekarang dia bisa sering bertemu dengan sahabatnya.
"Belum sih Sep, tapi mau dicoba dateng ke tempat laundry bu Inggit. Siapa tahu masih mau nerima aku kerja disana."
Alsava mendesah pelan tidak semangat. Asep mengerutkan dahinya samar mendengar ******* Alsava dan ekspresi lesu gadis itu.
"Kenapa?"
Alsava menoleh pelan ke arah Asep lalu terdiam cukup lama.
"Enggak apa-apa Sep," jawab Alsava pada akhirnya setelah sebelumnya dia berperang dengan dirinya sendiri untuk bercerita atau tidak pada Asep tentang kegelisahan hatinya ini.
Asep menatap Alsava penuh tanya, meski penasaran dia tidak mau mendesak Alsava dan membuat gadis itu tidak nyaman, lalu membuat pertemanan mereka renggang seperti sebelumnya.
"Kalau butuh teman cerita kamu tahu aku selalu ada Va." Akhirnya memilih kalimat bijak untuk mengekspresikan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Alsava tulus seraya tersenyum tipis.
"Beberapa hari lalu Pak Wiryo nanyain kamu, katanya kenapa menghilang dan tidak pernah mampir ke rumahnya setelah putus kontrak. Pak Wiryo juga kelihatan sedih kamu nggak ngabarin dia selama empat bulan ini."
Alsava menghela napas pelan mendengar penuturan Asep mengenai Pak Wiryo. Alsava tahu pria paruh baya penolongnya itu pasti merasa sedih dan kecewa karena Alsava seperti menjauh dan menjaga jarak. Apalagi ibu Wiryo yang sempat beberapa kali menanyakan kabar lewat pesan singkat namun tidak pernah Alsava tanggapi.
Bukan karena kecewa karena tidak di bela hingga dia kehilangan pekerjaan, alasan Alsava sedikit membuat jarak dengan pak Wiryo dan istrinya itu karena takut pernikahan sirihnya dan keberadaan Roman mereka pertanyakan.
Sepasang suami istri itu pasti kecewa dan tidak setuju dengan tindakan Alsava yang melibatkan Roman dalam hidupnya yang sulit dan rumit. Kalau pak Wiryo tahu semua yang dia jalani selama empat bulan ini, bisa-bisa dia akan dapat ceramah sehari semalam.
Ah... Membayangkannya saja sudah sangat melelahkan.
Alsava mendesah dengan cukup keras hingga bisa terdengar oleh Asep. Pemuda itu menoleh dan menatapnya penuh tanya.
"Kenapa?"
"Nggak papa, biar nanti aku berkunjung ke rumah Bapak. Siapa tahu Bapak ada kerjaan buat aku."
Senyum Alsava lebar di akhir kalimat membuat Asep pun tersenyum lega.
"Aku pernah dengar dua bulan yang lalu bu Wiryo baru buka rumah makan sunda, katanya usaha kateringnya lumayan maju jadi pas dapet sewaan ruko yang lumayan luas dan murah langsung buka rumah makan itu. Cepet deh kamu kesana siapa tahu masih ada lowongan kerja."
***
"Abang tidur?" tanya Alsava seraya mengguncang pelan tubuh Roman yang berbaring miring menghadap tembok membelakanginya.
Alsava menghela napas karena Roman tidak menjawab, gadis itu tahu kalau Roman tidak tidur dan mungkin sedang merajuk saja. Tapi merajuk karena apa? batin Alsava bertanya-tanya.
"Bang," panggil Alsava lembut dengan suara yang mendayu di balik telinga Roman.
Bulu kuduk Roman bahkan sampai berdiri. Pria itu menggeliat pelan karena merasakan tengkuknya meremang seketika.
Dengan sekejap tubuh Roman berbalik hingga membuat Alsava kaget dan memundurkan wajah. Jarak wajah Alsava dan Roman kini hanya beberapa senti saja. Bahkan napas keduanya terasa hangat menerpa wajah masing-masing.
Alsava menelan ludahnya dengan berat, secara perlahan menarik wajah lalu menegakkan punggung yang semula sedikit membungkuk. Tatapan tajam Roman membuat Alsava semakin bertanya-tanya.
"Abang kenapa lihatin akunya gitu?" tanya Alsava ragu.
Roman mendengus tidak suka lalu memalingkan wajah. Dahi Alsava berkerut, gadis itu hampir menyerah dan ingin bangkit berdiri. Tapi gerakan Alsava tertahan karena pergelangan tangannya dicekal oleh Roman, ditarik pelan hingga badannya membungkuk kembali.
__ADS_1
Tidak hanya sampai situ, dengan cepat Roman sudah mengecup singkat bibir Alsava hingga membuat otak gadis itu mendadak berhenti bekerja.
"Abang nggak suka kamu terlalu dekat dengan pria lain, abang cemburu!" ucap Roman dengan ketus dan tatapan yang masih tajam.
Mata Alsava berkedip linglung, otaknya dipaksa mengolah kata dan mengerti situasi tentang yang Roman ucapkan.
Cemburu? Pria lain siapa? Apa Asep?
Bola mata Alsava lincah bergulir ke kiri dan ke kanan, lalu mengerjap beberapa kali. Dengan pelan menegakkan punggung lalu menatap lembut suaminya dengan senyuman tipis yang tersungging.
"Asep itu temen aku Bang, kami udah kenal hampir tiga tahun. Selama ini dia tulus bantuin aku begitu pun sebaliknya. Jangan khawatir kami cuma berteman." Berkata santai berusaha menenangkan.
Roman mendengus lalu memalingkan wajah. Bangkit terduduk melipat tangan di dada.
Ternyata masih merajuk, tapi kok ya lihat dia gini sedikit gemesin.
Bibir Alsava berkedut hampir meledakkan tawa melihat tingkah Roman yang menggemaskan menurutnya.
"Ya sudah abang istirahat aja."
Memilih menghindar dan mulai bebenah kamar kos nya yang sudah empat bulan tidak dibersihkan.
***
"Buat semuanya seperti kunjungan biasa, tidak terlalu mencolok dan membuat gadis itu merasa tersinggung atau malah ketakutan. Bagaimana pun dia udah merawat Rafan dengan baik meski sebenarnya memanfaatkan keadaan Rafan."
Paman Yo berucap tenang seraya menatap pemandangan di balik jendela ruangan kerjanya. Kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana dengan gaya santai tidak terlihat bahwa hatinya sedang merasa gusar.
"Baik Pak."
Pria berjaket kulit hitam dengan topi yang berwarna senada mengangguk paham dengan yang dikatakan oleh atasannya itu.
"Kita lakukan besok saat gadis itu berada di samping Rafan."
"Baik."
Pria itu kembali mengangguk.
"Rafan? Apa dia sudah ditemukan?"
__ADS_1
Kedua pria yang sednag terlibat obrolan yang cukup serius itu pun menoleh ke sumber suara dengan ekspresi yang berbeda.