
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Ave's Pov
Hari ini semua orang di rumah terlihat sibuk menyiapkan pernikahan Mbakyu Raras besok. Hampir seminggu Mbakyu Rarasku di pingit di dalam rumah. Tidak boleh keluar rumah atau menemui calon suaminya. Awalnya ia tidak mau mengikuti peraturan adat ini. Ya, namanya tradisi mau tidak mau harus ditaati. Benar tidak? Bayangkan selama seminggu di rumah terus tidak boleh keluar dan hanya boleh mendengar suara calon suaminya di telepon. Seperti saat ini aku sedang menggoda dirinya. Aku mengintip di balik pepohonan ketika telepon dengan kekasih hatinya.
"Dek, mbak tahu, loh, ya kamu sedang mengintip. Apa nggak digigit nyamuk di sana?" Goda Mbakyu Raras yang tahu aku mengintip.
"Kok Mbak tahu, sih?" Aku keluar dari persembunyian dan duduk di sampingnya di Gazebo.
"Bagaimana Mbak nggak tahu, kamu sembunyi di pohon mawar? Emangnya kamu anak kecil?" Gelak tawa Mbak Raras sampai wajahnya memerah.
Aku memanyunkan bibir.
"Ada apa Dek Raras?" Suara Mas Bayu di seberang telepon kaget mendengar suara tawa Mbak Raras.
"Ups ... maaf Mas. Ini loh si Ave. Ketahuan ngintip aku telepon sama Mas. Mana sembunyinya di balik pohon mawar lagi. Ya, kan ketahuan." Mbak Raras tertawa lagi.
"Mas Bayu jangan dengerin apapun kata Mbak Raras." Aku berbicara di telepon saat aku dengar Mas Bayu juga tertawa.
Uh ... tahu begitu aku nggak sembunyi.
"Ya, sudah Mas. Nanti Raras telepon lagi, ya. Ini Raras mau godain Ave lagi," kata mbak Raras menutup saluran teleponnya.
"Ada apa toh, dek? Pakai acara ngintip segala. Kangen, ya sama Mbakmu yang cantik ini?" Mulut manisnya merayu.
"Sudah toh, Mbak. Iya Ave tadi mau mengintip. Kan besok Mbak ...." Kalimatku terputus aku tak ingin kebersamaan dengan Mbak Raras akan berakhir.
"Dek, besok memang Mbak sudah menjadi istri orang, tetapi bukan berarti Mbak akan pergi selamanya. Mbak akan tetap menjadi Mbakmu dan Bagas. Mbak akan tetap menjadi anak dari ayah dan ibu. Kapanpun kamu dan Bagas mau ketemu sama Mbak. Ya, datang saja. Rumah kita hanya terpaut beberapa gang saja." Mbak Raras membelai rambutku.
"Kamu sudah besar ya, dek. Nggak sadar waktu cepat berlalu. Seandainya masih ada Mustika. Kamu nggak akan kesepian," sahut mbak Raras dengan sedih.
"Sebenarnya Mbak Mustika sakit apa sih, Mbak?" tanyaku penasaran tentang kakak yang tak pernah aku kenal.
"Kalau yang itu tanya sama ibu saja," tutur mbak Raras tak mau menjawab.
__ADS_1
Setiap kali aku bertanya tentang kakakku yang meninggal tak ada satupun yang mau menjawabnya. Aku juga ingin tahu.
*****
Di sebuah ruangan yang disulap menjadi tempat riasan pengantin wanita dan pengiringnya terlihat Ave yang sedikit kesal karena baju kebayanya tak sesuai keinginan. Ia menyukai warna ungu, tetapi eyang Yaya menolak.
"Ungu iku warna janda, Cah Ayu. Eyang ora ngijino kowe pake ungu." Itu kata Eyang Yaya kemarin. [ ungu itu warna janda, Cah Ayu. Eyang tidak mengijikanmu pakai itu ]
Akhirnya Ave mengalah. Ia memakai kebaya modern khusus remaja rancangan desainer ternama ibu kota.
"Mbak Mira, aku cantik nggak?" tanya Ave dengan pedenya.
"Cantik kok, Non," kata mbak Mira sambil memakaikan riasan di wajah nonanya.
"Tapi aku tetap nggak suka dengan warna bajunya, Mbak." Ave mulai cemberut.
"Yo wes toh Nduk. Sampeyan iku ayu tenan. Pake klambi apa wae tetap ayu." Eyang Uti memberitahu dengan bijak. [ Sudah, Nduk. Kamu itu cantik. Mau pakai apa saja tetap cantik ]
Ave sudah tak bisa berkata apa lagi selain menurut saja yang di katakan Eyang Uti. Kualat jika kita tak mendengarkan orang tua.
"Ini perkenalkan calon cucu menantu saya. Salim Tubagus Malik." Eyang Yaya memperkenalkan Salim di hadapan temannya. Salim memberi salam.
"Oh, ya saya tahu Eyang. Salim ini teman kampusnya anak saya Gayatri dan Dimas," sahut Pak Adam.
Salim membiarkan para tetuah melanjutkan pembicaraan mereka. Ia sedang mencari nona kecilnya yang belum terlihat sejak pagi.

"Kamu ngapain di sini, Ve? Diundang juga, ya?" tanya Gayatri tiba-tiba saat menghentikan langkah Ave di jembatan kecil menuju podium.
"Kalau iya memangnya kenapa?" Jawab Ave sekenanya.
"Duh rasanya kamu nggak pake pantas baju itu, deh," ejeknya penuh hinaan.
Kepala Ave rasanya panas mendengar perkataan Gayatri. Jika bukan karena ini pernikahan kakaknya. Ia akan mendorong si mulut nyinyir ke kolam ikan.
Sabar ... sabar ...
"Loh, Non Ave di sini rupanya? Dicari Eyang Yaya, Non," kata Salim mengambil napas panjang.
__ADS_1
"Kamu kok di sini juga Salim?"
"Emang aku di sini," ketus Salim memandang Gayatri.
"Pura-pura tahu atau sengaja sih anak ini." Gumam Ave kesal di dalam hatinya.
"Ya, sudah Lim. Tinggalin aja si nyinyir ini," dengkus Ave seraya pergi.
Gayatri terlihat kesal dari mimik wajahnya. Ia nggak suka dengan perlakuan Salim kepada Ave.
"Tri, dicari malah di sini kamu," sahut seseorang yang wajahnya mirip dengan Gayatri.
"Ih ... ada apa, sih? Aku ini lagi kesal sama Ave."
"Ave? Oh gadis yang digandeng sama cowok itu, ya?" Dimas menunjukkan jari telunjuknya.
"Iya kesal aku. Ngapain juga ia di sini." Gayatri menghentakan kakinya.
"Loh ya harus di sini toh. La, si Ave temanmu itu putri dari Jayanatra yang punya acara. Bagaimana kamu,sih, Dek?"
Gayatri melongo tak percaya.
"Jadi benar beritanya? Aku kira bohongan."
Dimas tak memperdulikan omongan adiknya yang melantur. Ia beranjak pergi karena sang pengantin akan segera datang.
******
Pernikahan Raras dan Bayu terlihat sederhana saja. Tidak ada kemewahan walau kedua belah pihak adalah golongan keluarga yang kaya.
Raras terlihat cantik dengan pakaian pengantin yang di pakainya. Senyum terus mengembang di bibir kecilnya.

Di hari bahagia ini membuat Ave meneteskan air mata ketika acara sungkeman berlangsung. Mbakyu Raras yang ia sayangi dan selalu membelanya akan ikut bersama suaminya.
"Doa Ave selalu menyertai Mbak Raras." Doa Ave tanpa suara.
\=Bersambung\=
Eh ... ada cowok lagi si kakaknya Gayatri? Dia suka nggak, ya sama Ave? Yuk ... ikuti cerita ini.
__ADS_1