Nona Kecil

Nona Kecil
Part 10 Wejangan


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Di teras Ambar menangis melepas kepergian putri sulungnya yang kemarin telah menikah.


"Wes toh, Nduk. Ojo nangis. La wong Cah Ayu Raras omahe cedak," kata Eyang Uti dengan sabarnya. [ Sudah toh, Nduk. Jangan menangis. La, Raras rumahnya dekat ]


"Lah namanya anak, Bu. Ya Ambar rasanya berat," isaknya sambil mengusap air mata.


"Sudah Bu, jangan menangis. Raras akan sering berkunjung ke sini." Raras menghentikan tangisnya.


"Cah Ayu, ingat pesan Eyang. Kowe wes dadi istri. Sing patuh, nurut karo bojomu. Saiki kowe ana tanggung jawabe. Yen kowe gelut ( tengkar) karo bojomu. Ndak oleh di gawa sampai sesuk. Ojo mulih nang omah iki lan nangis. Rampungno karo bojomu ning omah." Eyang Uti memberi wejangan kepada cucu pertamanya.


"Iya Eyang Uti. Raras akan ingat semuanya," kata Raras sambil sungkem dengan Eyang dan ayah ibunya sesaat sebelum pergi.


"Dek, ingat pesan Mbakyu. Jangan membantah orang tua, ya. Nurut sama orang yang lebih tua. Jaga kesehatanmu." Pesannya kepada Ave.


"Iya." Jawaban Bagas singkat, padat dan jelas.


"Okelah Mbak. Ave selalu ingat."


"Salim, Mbak titip keluarga ini, ya terutama Ave."


"Iya Mbak Raras," kata Salim sambil membantu Bayu memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


Mereka berpelukan erat. Mobil yang telah mengantar Raras dan suaminya telah berlalu.


"Bu, emang kalau kita sudah punya suami nggak boleh sering pulang ke rumah ibu, ya?" tanya Ave ingin tahu.


"Bukannya nggak boleh, Ve. Jika kamu sudah menjadi istri dan bertengkar atau memiliki masalah dengan suamimu jangan pulang ke rumah dengan menangis sampai menginap di rumah orang tua. Selesaikan masalah kalian berdua di rumah kalian bukannya lari ke rumah orangtua." Ambar memberi penjelasan.


Ave memagutkan kepalanya tanda mengerti.


"Nah nanti kalau kamu menikah dengan Salim. Jadilah dewasa sedikit. Kasihan suamimu nantinya. Masa punya istri tapi manja." Bagas mengomentari adiknya.

__ADS_1


"Ibu ... Mas Bagas ini loh," teriaknya memanggil Ambar yang sudah berada di anak tangga.


"Nah itu. Kelihatan toh manjanya," goda Bagas dengan gemas.


Ave memukul pundak kakaknya.


"Bagas jangan suka gangguin adikmu, Nak." Ambar menghentikan langkahnya saat Bagas meringis sakit dicubit Ave.


Ave menjulurkan lidahnya mengejek karena mendapatkan pembelaan dari ibunya.


"Ayo, Bu. Kita masuk. Ave lapar." Ave segera naik anak tangga sambil menggandeng lengan ibunya.


"Awas kamu, ya, dek. Mas nggak akan kasih uang jajan."


"Biarin ...." Teriaknya dari atas.


Salim yang berdiri saja dari tadi hanya tersenyum melihat kedua kakak beradik ini.


"Apa sih yang kamu suka dari si manja itu, Lim?" Bagas terlihat dongkol.


"Banyak, Mas Bagas."


"Ckckck... untung cewekku nggak kayak Ave," lanjut Bagas sembari pergi.


******


"Ayah ... ayah di mana?" Suara si cempreng Ave dari luar.


"Ada apa toh, Nduk? Kok anak gadis teriak-teriak," jawab Brata dari ruang tamu membaca koran.


"Ayah tahu tidak siapa yang datang ke rumah kita?"


"Siapa toh, Nduk? Ayah nggak bisa nebak."


"Calon menantu perempuan ayah datang mengunjungi ayah. Ayahnya Mbak Dian juga datang, ingin tahu ayah," k?ata Ave sambil mengangkat ke dua alisnya.


Brata segera keluar menyambut sang tamu.


"Nduk, panggil Eyang Yaya dan ibumu, ya." Perintah Brata kepada Ave.

__ADS_1


Dian dan keluarganya mengunjungi kediaman Jayanatra siang ini. Ave tak diijinkan mendengar percakapan para orang tua. Dasar Ave semakin dilarang, ia akan semakin ingin tahu dan mencuri dengar dari balik tembok.


"Non, ngapain di sini?"Salim melihat Ave yang sedang sembunyi.


"Hus ...." Ave memberi tanda agar diam.


Ave mendengar setiap detail percakapan mereka. Ayahnya Dian ingin menikahkan anaknya dengan Bagas. Nggak kebalik tah?


Dian dan Bagas sudah saling mengenal dan menjalin kasih selama dua tahun.


"Pak Brata, mungkin kami terkesan kurang baik, ya. Semestinya keluarga bapak yang meminta putri kami. Akan tetapi, bapak juga mengetahui mengenai adat kita, bukan?" tanya Pak Cahyadi.


"Anak kita sudah berpacaran selama dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kami ingin segera menikahkan anak kami segera agar tak terjadi apa pun selama mereka pacaran. Bapak tahu sendiri bagaimana adat kita mengenai pernikahan anak perempuan. Anak perempuan tidak boleh berpacaran terlalu lama, bukan?" Lanjut Pak Cahyadi.


"Iya Pak Cahyadi. Kami mengerti dengan situasi ini. Namun, kami baru saja menyelenggarakan pernikahan anak pertama kami kemarin," sahut Brata.


"Iya saya tahu Pak Brata. Kami tak tergesa-tergesa menikahkan anak kami. Kami ingin memperjelas hubungan mereka saja."


"Maksude sampeyan? Tunangan disik," ucap Eyang Yaya menengahi.


"Inggih, Eyang," jawab Pak Cahyadi.


"Bagaimana jika selenggarakan pertunangan mereka dua bulan lagi? Bersamaan dengan acara pertunangan adiknya?"


"Maksud Pak Brata? Bapak juga ingin mengadakan pertunangan untuk adiknya Bagas?" Kata Pak Cahyadi.


"Iya benar Pak Cahyadi. Kami akan mengadakan pertunangan adiknya Bagas. Makanya itu bagaimana jika kita mengadakan tunangan bersama?" Pak Brata memberi saran.


"Boleh juga itu, Pak Brata. Saya menyetujuinya." Pak Cahyadi akhirnya setuju.


"Wes mari ngrungoake wong ngomong, Nduk?" Eyang Uti mengejutkan Ave dan Salim. (Sudah selesai mendengarkannya?)


"Oh, Eyang Uti," jawab mereka serempak malu ketahuan.


"Ora sopan, Nduk. Ana wong ngomong aja melu nguping." Eyang Uti memberi pengertian. (Tidak sopan ada orang bicara ikut menguping)


"Iya Eyang. Kami salah. Kami minta maaf." Ucapan maaf terlontar dari bibir Salim saja. Ave hanya terdiam. Tak berani menatap mata Eyangnya.


"Yo wes. Saiki tulungono Eyang gawe ketupat." Ave membuntuti Eyangnya dari belakang bersama Salim.

__ADS_1


\=Bersambung\=


Ave dan Salim mau tunangan. Mau nggak, ya? Yuk ... simak terus cerita ini.


__ADS_2