
Mohon saran dan kritiknya...
°
°
°
Ave's Pov
Sejak kejadian di tempat parkir itu hampir semua orang di kampus berbisik aneh dan melihatku dengan tatapan seperti alien.
"Kok mau ya Salim sama Ave."
"Salim bodoh mau sama Ave."
"Si bodoh bertemu sama si anak sopir."
Rasanya aku pengin menyumpal mulut mereka dengan lakban agar diam. Untung aku diberi kesabaran oleh Allah. Jika tidak bisa kutendang mereka dari kampus.
Aku melangkah menuju ke kelas dengan malas saat aku berpapasan dengan Bisma cs.
"Hei anak manja! Seharusnya si babu-mu itu nggak layak sekolah sini," ejek Bisma dengan tatapan menghina.
"Emang urusannya dengan kamu apa, ya?" Aku sudah tak perlu memanggilnya dengan embel-embel "kakak" lagi. Aku jengah melihat tingkahnya.
"Urusanku?" Bisma melotot dan maju selangkah ke depan tubuhku. "Yang namanya babu ya tetap babu. Selamanya tak bisa menjadi majikan." Tawanya menyeringai dengan diikuti oleh teman csnya. Si cerewet Gayatri, si kutilang Ariwanto dan si Babon Lukman yang gemuknya kayak kebo.
"Kok bisa sih kamu suka sama anak babu itu?" Cerocos Lukman sambil makan camilannya.
"Emang kagak boleh ya? Itu kan bukan urusan kalian?" Kesal aku melihat mereka ini.
"Aku sangat tak menyukai sopirmu itu," bisik Bisma penuh ejekan.
"Apa sih yang kalian nggak suka dari Salim?" tanyaku dengan wajah sebal.
"Banyak sekali. Ingatkan Salim jangan macam-macam denganku," ancam Bisma dengan angkuhnya sambil berlalu dari hadapanku.
__ADS_1
Aku ingin menonjok Gayatri ketika ia memandangiku dari atas ke bawah dan tersenyum sinis.
Untung saja aku masih diajari bagaimana menjadi seorang wanita. Jika tidak aku bisa menjambak rambutnya. Dasar penggoda.
"Sudah jangan dengarkan mereka, Vel," ucap Kak Dimas berdiri di belakangku.
"Tenang saja Kak. Aku nggak ambil pusing kok," jawabku sambil berjalan menuju kelas.
"Boleh tidak malam ini aku ke rumahmu lagi?" Pintanya dengan sedikit memaksa.
"Maaf Kak. Aku nggak bisa. Hari ini ada pertemuan keluarga."
"Ada saja acara di keluargamu, ya. Aku boleh ikut?" Candanya yang membuat aku jengah.
Aku tersenyum kecut. "Nggak boleh Kak." Aku melajukan langkah menuju kelas.
"Kapan-kapan kita kencan berdua, ya?" Teriaknya di lorong kampus.
"Ngapain lagi si gombal cinta itu ajak lu kencan, Vel?" Tanya Ayu di depan kelas yang mendengar teriakan Bisma.
"Sudah jangan urusin mereka. Lebih baik kita masuk sebelum Bu Nisa datang," ajakku dengan menggandeng kedua sahabat karib sejak masa sekolah.
Aku masih penasaran ada hubungan apa antara Salim dan Bisma. Mengapa Bisma tak menyukai Salim?
*****
Hari ini Ave akan mengukur kebaya untuk dikenakannya saat hari bertunangan. Eyang Uti dan Ambar sudah menunggu Ave yang masih sibuk memilih baju untuk pergi ke butik.
"Nak, ayo cepat. Nanti keburu hujan deras," ujar Ambar kepada putrinya yang masih belum turun.
"Ave sudah di sini, Bu."
"Ya Allah, nduk. Klambi opo sing sampeyan kanggo?" Eyang Uti kaget setengah mati saat melihat cucu bungsunya memakai hotpants dan baju lengan pendek saja. [Ya Allah, Nduk. Baju apa yang kamu pakai?]
Ambar melongo. Salim menelan ludahnya melihat penampilan Ave yang seksi menurutnya. Eyang Uti segera menyambar selendangnya menutupi paha Ave yang kelihatan.
"Lim, tutup mata sampeyan. Ora sopan."
__ADS_1
Salim segera menutup matanya dengan sekali-kali mengintip.
"Ya ampun, Nak. Kamu pakai celana apa? Celana ini kekurangan kain. Dapat dari mana kamu?" Cerca Ambar dengan marahnya.
"Dapat kado dari Mas Bagas, Bu," jawab Ave dengan polosnya.
Bagas baru datang dari tempat kerja langsung kena damprat Eyang Uti dan ibunya.
"Bagas, kalau kamu mau belikan adikmu baju. Jangan seperti ini. Apa ini? Celana kok kekurangan kain," omel Ambar.
"Aduh ibu. Itu namanya Hotpants. Banyak kok anak-anak jaman sekarang pakai itu. Makanya Bagas memberikannya kepada Ave agar modern." Bagas membela dirinya.
"Le, modern yo modern. Tapi ojo tuku klambi kayak ngene. Klambi iki nimbulake napsu wong lanang." Eyang Uti sangat marah kepada Bagas. [ Le, modern boleh saja. Tapi jangan beli baju yang bisa menimbulkan nafsu lelaki ]
Bagas memang salah. Membelikan Ave pakaian model seperti itu di mana pakaian itu tidak layak dipakai oleh kaum wanita di keluarga Jayanatra. Para tetua menganggap pakaian yang membuka aurat akan menimbulkan hawa napsu.
"Masa Ave hanya memakai rok dan celana panjang saja, Eyang. Kasihan Ave nggak pernah pakai seperti in," Dengkusnya tak terima.
"Le, ojo nglawan karo wong tua. Eyang iki kandani sampeyan. Wis jaman biyen Eyang karo ibumu ora oleh kanggo klambi sing pendek. Eyang Uti iki arep jaga adikmu. Ojo sampai wong lanang dadino adikmu napsu bejat. Ngerti kowe?" Eyang Uti memberi nasihat kepada Bagas yang dinilai tidak sopan. (Nak, kalau dikasih tahu orangtua jangan melawan. Sudah sejak dulu eyang dan ibumu tidak boleh memakai pakaian pendek. Itu akan membuat orang laki-laki bernapsu)
"Sudah eyang jangan marah sama mas lagi. Ave juga salah kok. Ave ganti baju dulu ya." Ave membela kakaknya yang sekarang kelihatan kikuk habis di marahi eyangnya.
Ave menggandeng tangan kakaknya masuk rumah.
"Maafin Mas, ya, Dek. Mas nggak sampai berpikir sejauh itu." Maafnya kepada Ave karena kecerobohannya.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Biar baju ini Ave simpan saja," balas Ave dengan tersenyum.
"Ya kamu simpan saja. Buat kamu dan Salim nantinya."
Ave merasa malu mendengar perkataan kakaknya. Wajahnya menjadi merah seperti buah apel.
Salim yang berdiri di belakang turut risih dan malu mendengar perkataan Bagas.
\=Bersambung\=
Untung masih ada Eyang Uti yang memberitahu. Itulah keluarga Jayanatra di mana anak perempuan tidak boleh membuka auratnya.
__ADS_1