Nona Kecil

Nona Kecil
Part 25 Terkejut


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Salim's Pov


"Ave,...."Aku terkejut saat Ave sudah berdiri di depan pintu. Terlihat sekali dari wajahnya yang ingin menangis.


Ave berlari menjauhi.


"Ave, dengarkan Salim." Aku memanggil dan mengejarnya.


Sekilas aku melihat pandangan Paman Husni yang memandangiku dengan sorot matanya yang licik.


Aku terus mencari keberadaan Ave di taman atau di tempat biasa yang disukai. Aku khawatir dengan keadaannya saat ini dan tak menyangka ia mendengarkan pembicaraan kami. Ternyata ada di dalam mobil dan menangis sesenggukan. Perlahan aku membuka pintu. Dengan matanya yang masih basah karena ia tangisannya, ia menatapku sendu.


"Jadi Salim sudah tahu kenapa mbak Mustika meninggal?" tanya Ave terbata-bata.


Aku berdehem.


"Jadi hanya Ave yang tidak tahu?"Ulangnya lagi dengan suara yang tersendat.


"Maafkan Salim, Ve." Hanya kata maaf yang terucap di mulutku.


"Tapi mengapa Mbak Mustika yang menjadi korban? Bahkan Ave tak pernah melihat wajahnya. Ayah dan Ibu tak pernah menyimpan foto Mbak Mustika."


"Karena mereka ingin menyimpan rahasia ini selamanya, tetapi Eyang Yaya tak mau menyimpan rahasia ini. Beliau ingin memberitahu Ave suatu saat nanti," jelasku memberitahunya.


"Jika Ave ingin mengetahuinya lebih banyak. Tanyalah kepada Eyang Yaya dan ayah. Mereka akan memberitahu Ave."


"Apakah ini maksud Salim kalau Ave tidak boleh dekat-dekat dengan Bisma dan Dimas? Apakah keluarga Dimas juga terlibat dalam masalah ini?" tanya Ave beruntun.


"Salim tidak tahu tentang keluarga Dimas. Tanyalah kepada Eyang Yaya."


"Ve, apapun yang terjadi suatu saat nanti jangan pernah khawatir. Salim akan selalu menjaga Ave."

__ADS_1


"Sudah jangan menangis. Nanti kita bertemu Eyang." Aku menghapus air matanya yang masih keluar. Dasar cengeng.


"Lebih kita pulang, ya. Biar Salim yang mengambil tas Ave di kelas," ujarku seraya keluar dari mobil menuju kelas.


Aku mengambil ponsel dan menghubungi orang rumah untuk memberitahu jika Ave sudah mengetahui kenyataan sebenarnya.


"Eyang Yaya, Ave sudah mengetahuinya," ucapku singkat dan dari seberang telepon aku bisa mendengar suara Eyang yang berdehem.


******


Ave's Pov


Aku tak sengaja mendengar percakapan antara Salim dan pamannya-lebih tepat ayahnya Bisma. Sebegitu kejamnya paman Husni mencelakai seorang anak kecil hanya untuk sebuah warisan. Mengapa Eyang dan Ayah tak melaporkan ini sejak dulu? Aku pikir mereka diancam.


"Ibu,..."Panggiku dari luar setelah sampai rumah.


"Iya ada apa, Nduk?" tanya Ibu seperti biasa yang keluar dari dapur.


"Kenapa Ibu merahasiakan ini semua dari Ave? Apa hanya Ave yang tidak tahu?" Cerocosku langsung.


"Sek tok Nduk. Kowe ngomong apa? Eyang ora ngerti." Eyang Uti tiba-tiba muncul dari dalam. [ Tunggu dulu. Kamu bicara apa? Eyang tidak paham ]


"Bu, Ave wis ngerti perkara Mustika," sahut ibu kepada Eyang Uti yang langsung terduduk.


"Sapa sing kandani kowe, Nduk?" Raut wajah Eyang Uti berubah sedih. (Siapa yang memberitahu kamu)


"Ave tidak sengaja mendengar Salim dan Paman Husni bertengkar di kampus."


"Untuk apa orang gila itu ke sana?" Ibu terlihat marah.


"Paman Husni diundang pihak kampus untuk berpidato motivasi."


"Motivasi?" Ibu tertawa sinis. "Tak pantas ia memberikan pidato semacam itu. Jika semua orang tahu akan perbuatannya dulu, ia akan dihujat," geram ibu dengan mengepalkan kebayanya.


"Bu, apa benar yang dikatakan Salim jika Mbakyu Mustika diculik oleh Paman Husni?" Aku bertanya pelan agar Ibu maupun Eyang bisa mendegar jelas.


Ibu mengelus pipiku dengan lembut. "Maafkan ibu, Nak. Seharusnya sejak dulu kami memberitahumu," ujar ibu meminta maaf.


Aku memeluk ibu memberi kekuatan.

__ADS_1


"Nduk, mulai saiki kowe nggak usah lunga dewean. Kudu ana kancamu. Salim atawa Bowo-suami Mira." Pesan eyang Uti agar segera dipatuhi.


*****


"Mbak Mira kenal sama kakakku? Mbakyu Mustika?"Aku bertanya kepada Mbak Mira waktu di dalam kamar karena tahu ia mengetahui sesuatu.


Mbak Mira sedikit terkejut dengan perkataanku.


"Non Ave tahu dari mana?" Mbak Mira duduk di sebelahku.


"Mbak, ceritakan tentang Mbakyu Mustika, ya?" Aku merajuk ingin tahu.


Mbak Mira mengeluarkan selembar foto berukuran kecil dari balik kain jariknya. Memberikannya kepadaku foto itu. Seketika aku tahu foto anak kecil itu adalah Mbakyu Mustika.


"Mirip dengan nona Ave, kan?" Kata mbak Mira memandang sedih.


"Hanya selembar foto itu yang mbak punya. Sejak kematian nona Tika semua fotonya ditaruh di gudang oleh eyang Uti agar ibu Ambar tak mengingatnya lagi."


Jadi itu alasannya kenapa tidak ada foto Mbakyu Mustika yang terpasang di dinding. Sekali lagi aku melihat foto itu. Kakakku ini memang mirip denganku. Ia memakai kebaya kecil dengan rambut yang di sanggul. Aku tersenyum melihatnya walaupun tak pernah mengenalnya.


"Mbak Mira sudah bekerja di tempat nona sejak mbak berusia sepuluh tahun. Waktu itu mbak Mira di minta untuk menjaga dan mengasuh nona Mustika yang berusia tiga tahun. Nona Mustika itu cantik sama seperti nona Ave. Di usia yang masih batita nona Tika sudah pandai berbicara, bernyanyi dan membaca. Kami semua menyayanginya." Mata mbak Mira nanar mengenang masa lalu.


"Lalu bagaimana bisa Mbakyu Mustika sampai diculik?" Aku semakin penasaran.


"Andai waktu itu mbak ikut sama ibu Ambar ke pasar pasti kejadian itu tak akan terjadi. Ibu Ambar ditemukan pingsan di pinggir jalan dan nona Tika hilang. Semua warga desa sini segera berpencar mencarinya, tetapi hasilnya nihil. Sampai suatu ketika Pak Brata mendapatkan sebuah pesan ancaman," sesal Mbak Mira yang sudah menangis.


"Lalu bagaimana Mbak?" Aku memegang lengannya, ingin cepat tahu.


"Hanya itu yang mbak tahu, Non. Waktu ayahnya nona dapat surat ancaman tersebut. Bapak sama Eyang langsung pergi. Tahu-tahu bapak menghubungi kami dua jam kemudian. Mereka berada di rumah sakit dan mendapati kenyataan pahit jika nona Tika sudah meninggal," isak mbak Mira menutup mulutnya agar tak menangis.


"Jika nona ingin tahu yang sebenarnya tanyalah eyang Yaya," kata Mbak Mira seraya pamit ke dapur.


Mengapa mbak Mustika yang diculik? Apa ada hubungannya dengan ayahnya Bisma dan Dimas?


Lebih baik aku tanya kepada ayah atau eyang Yaya. Aku ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya.


\=Bersambung\=


Banyak rahasia di keluarga Ave, ya? Penasaran? Simak saja terus cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2