
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Ave's Pov
"Duh, ngapain juga sih pake upacara segala. Kita bukan anak kecil lagi." Ayu dengan wajah yang kesal tak terima di usianya yang hampir memasuki kepala dua masih upacara di kampusnya.
"Ingat kagak waktu kita sekolah di dulu. Tiap senin kan pasti upacara. Nah yang bikin gue kesel waktu si pak Killer berpidato. Ya ampun lamanya. Kita kayak kerupuk yang dijemur." Ayu mengibaskan tangannya karena gerah.
"Tapi kamu kangen, 'kan Yu?" Aku bercanda dengan mengedipkan mataku ke arahnya.
"Kangen sama siapa?" Omelnya karena aku mencandainya.
"Sama si pak Killer." Jawabku yang mendapat respon mengerikan dari Ayu.
"Awas kamu ya Vel." Ayu mengumpat sambil mengejarku.
Bruk.....
"Auw..." Aku tak sengaja menabrak seseorang.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya pemuda yang barusan aku tabrak. Ayu malah menertawaiku.
"Maaf kak. Aku nggak sengaja," ucapku sambil membungkukkan badan.
"Tidak apa-apa Vel. Saya baik-baik aja kok." Aku mendongakkan kepala. Tampan, atletis, hitam manis. Sepertinya aku tahu siapa pemuda ini tetapi lupa.
Sifat pelupaku kambuh dadakan nih.
"Kok kakak tahu nama saya?"
"Saya dan adik kembar saya pernah datang ke pestanya mbak Raras. Ingat nggak?"
Tunggu biarkan aku berpikir dulu.
"Oh ya. Aku ingat sekarang. Kakak kembarnya si jahat Gayatri, kan?
"Jahat?" Ups..salah ngomong deh aku.
"Maafin Ave ya kak....."
"Dimas. Panggil aja kak Dimas. Nggak apa-apa. Gayatri memang seperti itu orangnya tetapi baik kok."
Ya la wong saudara. Pasti bela saudaranya.
"Sudah ya kak. Kami mau ke lapangan dulu. Takutnya nanti dosen Hadi marah." Pamitku sambil menyeret Ayu menuju lapangan.
Di kampusku setiap tahunnya mengadakan upacara bendera. Aku berdiri di barisan kedua dari tengah. Aku bisa melihat dengan jelas Salim yang menjadi komandan upacara. Suaranya yang lantang membuat teman di belakangku berbisik kepada teman sebelahnya jika ia menyukai suara Salim.
Sudah cukup lama kami berteman. Jika aku tak salah ingat waktu umurku tujuh tahun. Maaf aku ini pelupa berat. Ayah memperkenalkan kepadaku. Waktu itu Salim berusia delapan tahun. Jika ingat itu aku ingin tertawa saja. Si kecil Salim dulu begitu ceking alias kurus sekali. Sampai eyang Uti membuat ramuan jamu untuk membuat Salim gemuk. Salim selalu menemaniku bermain bola, bulu tangkis, voli tetapi aku selalu kalah. Ia juga selalu membelaku saat eyang Yaya marah kepadaku jadinya Salim yang menerima hukuman. Tidak ada uang jajan selama seminggu.
"Senyum-senyum sendiri. Napa lu, Vel?" Rani memperhatikanku yang berdiri di samping kiri. Posisiku berada di tengah.
"Tau tuh si nona ini. Senyum aja dari tadi. Siapa sih yang lu senyumin?" Ayu ikut menimpali.
__ADS_1
"Yang pastinya bukan si gendut Alfan." Ayu cengir menahan tawanya.
"Bukan. Ayu sok tahu ah."
Kami menghentikan pembicaraan ketika Pak Hadi berdehem waktu berpidato. Untungnya upacara ini tak berlangsung lama. Aku akhirnya bisa pulang karena pelajaran hari ini di tiadakan.
"Vel, boleh tidak kapan-kapan aku berkunjung ke rumahmu?" Kak Dimas menghampirimu saat aku hendak pulang.
"Hmm...boleh sih kak tapi jangan sendiri ya. Bawa teman kakak atau kak Gayatri." Tuturku karena Eyang Yaya tak akan memberi ijin jika yang datang lelaki sendirian pula. Bisa gawat nantinya.
"Terima kasih ya Vel." Kak Dimas mengucapkan terima kasih sambil membungkuk. Dasar kayak di film aja.
"Kamu pulang sama siapa? Kakak anterin, ya?"
"Tidak usah, Kak. Ada yang jemput aku kok. Itu orangnya." Aku menunjuk Salim dari kejauhan yang akan mengambil mobil.
"Oh Salim. Ya sudah. Kapan-kapan saja,ya," pamitnya sambil mengendarai motor Tigernya.
Boro-boro naik sepeda motor naik sepeda ontel aja harus Salim yang bonceng.
"Non, mampir ke perkebunan dulu ya. Jemput eyang Yaya di sana." Kata Salim saat aku sudah duduk di dalam mobil.
Aku hanya berdehem saja. Aku sedang melihat Salim yang menyetir. Ia memakai baju warna putih dengan dasi yang di lilitkan di lehernya. Aku menyadari jika teman masa kecilku dulu sudah menjelma menjadi lelaki yang dewasa. Tahun ini ia berusia 21 tahun dan akan lulus karena otaknya yang sangat cemerlang sehingga ia mengikuti kelas Akselerasi.
Kapan otakku cemerlang sebening embun ya? Eh salah maksudnya sebening kaca.
"Salim,..." Aku memanggilnya dengan pelan.
"Iya non ada apa?" Ia menoleh sesaat kebelakang.
"Bisa nggak sih kamu jangan panggil aku nona terus? Panggil nama aja gitu." Aku memprotesnya karena ia jarang memanggil namaku.
"Biar aku yang bicara sama pakde Malik. Aku bosan kamu panggil aku dengan sebutan nona sejak aku kecil."
"Tapi non Ave......"
"Kalau kamu nggak mau. Aku lompat dari mobil ini." Aku sedikit mengancam padahal ya aku takut sih.
Salim mengerem mendadak.
"Jangan nona. Nanti Salim kena marah loh."
"Jangan panggil nona, Salim." Aku mulai kesal dengan Salim yang tak kunjung paham maksudku.
"Iya non..eh Ave."
"Nah gitu donk. Jadi enak kan?"
"Ayo cepat jalan. Nanti Eyang Yaya marah karena jemputnya telat."
"Iya Ve..."
Aku senang jika menggodai Salim. Ia akan selalu menurut apa yang aku katakan. Jika aku pura-pura mengancamnya. Ia akan ketakutan sendiri dan menurut.
*****
Salim's Pov
Nona kecilku ini memang terkadang menyebalkan tetapi entah kenapa dengan karena sifatnya itu yang membuat aku mencintainya dan ingin menjaganya dari siapapun. Seperti hari ini. Dimas teman sekelasku mencoba mendekati nona kecilku. Apakah aku cemburu? Tentu saja. Lelaki mana yang tak cemburu saat melihat calon istrinya dekat dengan lelaki lain.
__ADS_1
Untungnya nasib baik berpihak kepadaku. Ketika Dimas ingin main ke rumah Ave. Ave melarang jika ia pergi sendiri harus ada teman satunya lagi.
Kami masih memegang teguh adat istiadat sejak dulu. Di mana seorang wanita yang belum menikah atau sudah menikah di larang berbicara atau pergi berduaan dengan seorang lelaki jika bukan suami atau keluarganya. Pernah waktu nonaku kedatangan segerombolan teman lelaki SMAnya naik sepeda motor. Eyang Yaya yang keluar menemui mereka. Bukannya di marahi malah Eyang Yaya memberi wejangan. Akhirnya mereka kapok ke rumah lagi. Jika datang ke rumah, mereka akan beramai-ramai dengan teman wanita juga. Eyang Yaya sangat menjaga cucu-cucunya.
Saat kami menjemput eyang Yaya di perkebunan. Kami bukannya pulang malah di suruh eyang Yaya menuju kantor. Ada hal yang akan di bicarakan.
"Cah Ayu, bapakmu pengin ngomong karo kowe lan Salim."
"Di mana ayah, Eyang? Kebiasaan nona Ave selalu tidak mengucap salam.
"Yo salam sek toh. Ojo sakarep dewe, Cah Ayu."
Nona Ave langsung mundur langkahnya dan mengucap salam kepada Eyang Yaya.
"Pakde, ada apa memanggil kami ke sini?" Aku bertanya saat kami sudah sampai di dalam kantor Pakde Brata.
"Loh ayah juga di sini?" Aku kaget karena ayah juga ada di kantor Pakde Brata.
"Duduk dulu kalian. Ada yang ingin kami bicarakan." Sahut ayah yang berada di sofa.
"Ayah ada apa sih? Manggil Ave sampai ke sini."
"Nak, nanti dua minggu lagi kalian bertunangan bebarengan dengan pertunangannya Bagas dan Dian." Ujar pakde Brata to the point.
Nona Ave tersedak dengan makanannya. Aku segera menepuk bahunya karena ia batuk.
"Kok cepat banget sih, yah?" Nona Ave mulai bawel.
"Anak wadon ora oleh sue-sue pacaran. Kudu tunangan sek terus kawin." Eyang Yaya tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Emangnya kambing disuruh cepat kawin?" Omel nona Ave yang hanya didengar aku di sampingnya.
"Nanti setelah tunangan. Ayah ingin kamu dan Salim setiap Jumat dan Sabtu latihan bekerja di sini." Perintah Pakde Brata tak dapat di bantah.
"Di sini? Di perkebunan? Kan ada mas Bagas, yah?" Cerocos nona Ave tanpa jeda.
"Mas Bagas ayah tugaskan di cabang kota, Cah Ayu."
"Kata eyang Yaya dulu. Anak perempuan nggak boleh kerja." Sela nona Ave.
"Yang ini pengecualian kata eyang Yaya. Kamu harus belajar artinya mencari uang. Susahnya seperti apa? Nanti kalau ayah sudah pensiun. Perkebunan ini milik kamu dan Salim."
"Bagaimana dengan mas Bagas, pakde?" Aku balik tanya karena aku tak ingin ada iri hati di hati Bagas.
"Bagas sudah bicara sama pakde. Dia nggak mau kerja di perkebunan. Dia mau kerja di cabang kota saja. Kamu tahu sendiri, bukan? Jika Bagas itu tipekal pemuda yang tidak betah kerja kantoran?"
"Menurut ayah bagaimana?" Aku meminta persetujuan ayah.
"Ayah menyetujui usul Pak Brata dan Eyang Yaya." Ayah menyetujui usulan mereka.
"Jika itu yang eyang Yaya dan pakde inginkan. Kami akan melaksanakannya."
"Itu yang kami harapkan, Salim. Kamu yang akan mengajari Ave untuk bisa menjalankan bisnis keluarga ini," tukas Pak Brata mengakhiri rapat kecil hari ini.
"Ayo kita pulang sekarang. Ayah tak sabar memakan masakan ibumu. Oh, ya anak ayah yang cantik ini bisa masak nggakm ya?" Pakde Brata mencandai anaknya yang berwajah kesal sejak tadi.
"Ih ayah ini..." Nada bicara nona Ave yang terlihat manja membuat aku ingin mencubitnya.
\=Bersambung\=
__ADS_1
Bisa tidak tuh Ave belajar masak dan bekerja, ya? 😊😊