Nona Kecil

Nona Kecil
Part 33 Maafkan Aku


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya


°


°


°


Mata sayu Ave terbuka dengan perlahan. Ia terlihat silau dengan paparan sinar lampu. Masih bingung dengan keadaan di sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Kamar yang di tempati sekarang berwarna putih di mana-mana. Ave masih pening di kepalanya.


"Ya Allah, kamu sudah sadar, Nduk?" tanya dari ibunya mengalihkan perhatiannya sejenak.


"Ya Gusti Allah matur suwun. Cah Ayu wes sadar," lanjut eyang Yaya melihat cucu kesayangannya.


"Apa yang terjadi dengan Ave, Bu?" Lontar Ave saat terbangun dari alam sadarnya.


"Nduk, kamu sudah tidur selama tiga hari. Ibu takut, Nduk. Ibu takut nggak bisa lihat kamu lagi." Tangis Ambar pecah.


"Aja ngomong mengkono, Cah Ayu," sergah Eyang Yaya. [ Jangan bicara seperti itu, Cah Ayu ]


"Ambar takut, Pak. Sudah tiga hari Ave nggak sadar." Pilu Ambar melihat anaknya terbaring koma tiga hari.


"Bu, di mana Salim?"


"Salim sama ayahmu dan ayah Jaka akan ke sini sebentar lagi. Sabar, ya," ujar Ambar sambil berdiri dan mengambil segelas air.


"Bu, apa dulunya Ave tidak bisa melihat?" Pertanyaan mendadak dari Ave membuat Ambar menjatuhkan gelas yang dipegangnya.


Eyang Yaya langsung tak bergerak menuju pintu.


"Kamu ngomong apa toh, Nduk?" Kata Ambar dengan gelisah.


"Apa benar mata Ave ini adalah pemberian dari ibunya Salim?"


Ambar terlihat panik. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Eyang Yaya memberi jawaban.


"Kenapa kalian diam semuanya? Apa benar yang Ave katakan, Bu?" Kata Ave dengan ingin rasa tahu.


"Bu, lebih baik kita berbicara dengan Ave sejujurnya kali ini," ujar Brata tiba-tiba masuk yang di ikuti oleh Salim dan ayahnya.


"Tapi Mas---." Sanggah Ambar tak ingin Ave tahu.


"Aku tak ingin Ave tahu yang sebenarnya. Sudah cukup ia memiliki jantung yang tak sehat. Aku tak ingin membebaninya," sela Ambar.


"Mbak Ambar mungkin ini saatnya Ave mengetahui kenyataan yang sebenarnya," cetus Jaka di sela pembicaraan mereka.


Eyang Yaya mengangguk saja.


"Bu, Ave ingin tahu apa yang terjadi?" Pinta Ave memaksa.


Ambar menatap putri kecilnya dengan sendu.


"Baiklah. Ambar akan membiarkan Ave tahu kenyataan yang sebenarnya." Pasrah Ambar akhirnya.


"Biarkan Salim dan saya yang mengatakannya, Mbak Ambar." Pinta Jaka yang di-iyakan oleh mereka semua.


******


Salim's Pov


"Waktu Ave berusia empat bulan. Ave memang tidak bisa melihat. Dokter mendiagnosa Ave menderita kebutaan, tetapi menurut dokter, Ave bisa menerima donor mata. Ketika usia Ave genap dua tahun Ave dapat melihat lagi. Hingga suatu ketika saat Ave berusia lima tahun. Ave jatuh dari atas pohon. Dokter terpaksa mencari donor mata lagi untuk Ave karena mata Ave terbentur batu." Ayah berhenti sejenak menghela napas.


"Kenapa Ave tak ingat kejadian itu ayah Jaka?" Ave terlihat bingung.

__ADS_1


"Biar ayah selesaikan dulu ceritanya ya?" Cegah ayah menenangkan Ave.


"Saat itu juga ibu Salim sakit. Ibu Salim terkena kanker stadium akhir yang tak bisa diobati. Suatu hari ibu Salim meminta ayah untuk memberikan matanya kepadamu, Nak. Beliau sangat menginginkanmu bisa melihat dunia lagi dan kami berhutang budi kepada Eyang Yaya yang selalu menolong kami. Nyawa ibunya Salim tak terselamatkan. Akhirnya dokter mengoperasi matamu lagi dan sekarang kamu bisa melihat lagi," sela ayah terdiam sejenak.


"Mengenai Ave tak ingat soal kejadian itu karena Ave masih kecil saat itu," lanjut ayah sambil memegang tangan Ave.


"Apakah Salim dan ayah tak membenci Ave?" tanya Ave sambil melihatku.


"Tidak, Nak. Untuk apa kami membencimu?" Kata ayah lembut.


"Karena ibu meninggal karena Ave?"


Ayah terkekeh mendengar perkataan Ave.


"Nak, itu sudah takdir. Kami yang seharusnya berterima kasih kepada keluargamu."


Ave tersenyum manis di depan ayah dan ayah menoleh ke arahku. Menyunggingkan seulasan senyum.


"Ayah tinggal dulu, ya. Berbicaralah  dengan Salim. Tiga hari Ave membuat Salim khawatir," ujar ayah dan pergi meninggalkan kami.


"Bagaimana Salim menemukan Ave?"


"Salim banyak mata-matanya, loh." Aku menyombongkan diri.


"Apa ayah dan ibu tidak marah sama Salim?" Tuturnya pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Mereka marah sama Salim bahkan sampai eyang Yaya memukul Salim." Aku bercanda sedikit.


"Benarkah? Biar nanti Ave yang marahin mereka," ujarnya antusias.


Aku tertawa mendengarnya.


"Kok Salim tertawa? Ave salah ya?" Mimik wajahnya menunjukkan wajah innocent.


"Mereka nggak marah sama Salim kok. Eyang juga nggak memukul Salim."


"Iya maafkan Salim." Aku terkekeh saja.


"Salim, ..."Panggilnya pelan.


"Iya ada apa, Ve?"


"Maafkan Ave, ya?"


"Untuk apa?" Aku melihatnya heran berbicara seperti itu.


"Karena Ave sudah mengambil matanya ibu Salim."


Aku ingin sekali menertawainya tapi melihat wajah polosnya membuat aku urung melakukannya.


Aku hanya mengacak -acak rambutnya.


"Salim malah berterima kasih kepada ibu karena Salim masih bisa melihat ibu di matanya Ave dan ibu menjaga Ave selama ini." Aku memberinya pengertian.


Ia mulai menitikkan air matanya.


"Sudah jangan jadi anak cengeng. Masa pewaris Jayanatra gadis yang cengeng." Aku menggodanya.


Ave langsung memelukku erat.


"Terima kasih sudah membantu Ave selama ini. Ave sayang Salim."


Aku mengulum senyum. "Salim juga sayang dengan Ave." Lanjutku sembari mengelus rambutnya.

__ADS_1


*****


Ave's Pov


Tiga hari membuat keluargaku khawatir karena aku tak kunjung bangun dari tidur. Menurut Ayah, Ibu dan Salim tak hentinya menjagaku terutama Ibu yang tiap hari menangis. Hari ini aku diperbolehkan pulang ke rumah. Aku sungguh rindu rumah.


Aku tidak pernah ingat kejadian masa kecil hingga menyebabkan kedua mata iniharus menerima donor. Salim baru mengetahui ketika usia Salim berusia lima belas tahun. Selama beberapa tahun ayah Jaka menyembunyikan kebenaran dari Salim.


Aku sangat berterima kasih kepada ibunya Salim karena begitu ikhlas dan rela mendonorkan matanya untukku. Sayang beliau sudah tiada.


Jika mengingat kejadian waktu itu saat Dimas membisikkan ke telinga. Aku sangat syok dan jantungku berdegup kencang.


"Kedua matamu itu bukan milikmu, tetapi milik ibunya Salim."


"Kamu itu dulunya tak bisa melihat alias buta, Nona."


"Arghh ....."Aku merebahkan kepalaku di atas bantal.


"Avelienaku sayang." Teriak duo ratu sekolah yang terkenal.


"Lu kagak apa-apa kan?" Berondong Ayu dengan segala macam pertanyaannya.


"Lu udah sehat kan, Vel?"Sahut Rani dengan suara cemprengnya. Dan tak lupa ia pasti mencomot pisang goreng Eyang Yaya di depan.


"Ave baik-baik saja kok." Aku menjawabnya santai walaupun kepala masih pening.


"Bagaimana ceritanya Vel sampai Salim nolongin lu?" Cerocos Ayu dengan antusias. Rani hanya mengangguk saja dan asyik degan pisang cokelatnya.


"Salim tahu di mana Ave dibawa. Lalu Salim menyusul kesana deh," ujarku seraya melihat Rani yang tak habisnya makan.


Sadar tingkahnya diperhatikan. Ia malah cengir saja. Duh teman-temanku yang unik.


"Ayo ceritain sama kita dong Vel sampai lu pingsan tiga hari itu?" tanya Ayu ingin tahu.


"Iya Vel. Kita pengin tahu nih," timpal Rani dengan mulut yang masih dipenuhi keripik Doritos kesukaannya.


"Ye elu Ran. Makan aja dari tadi kerjaannya. Tutup tuh mulut lu," sela Ayu yang kesal lihat kelakuan Rani.


Aku menanggapi mereka hanya tersenyum melihat kelakuan mereka yang tak habisnya.


Akhirnya aku menceritakan bagaimana Salim menemukanku, Kang Rustam yang ikut membantu dan aku yang tak sadarkan diri selama tiga hari.


"Jadi bagaimana nasib mereka si duo congek itu?" tanya Ayu sambil mengambil keripik di pangkuan Rani. Rani memukul tangannya.


"Ya kalian tahu sendiri mereka tak mengakui perbuatan mereka. Mereka berpura-pura menolongku karena ada yang menculik."


"Pasti deh mereka di bantu sama bokap mereka yang kaya. Ya uang bisa membeli hukum," ucap Ayu agak emosi.


"Sudah jangan dipikirkan. Ayo Ave ajak kalian makan siang di sini." Aku mengajak mereka keluar dari kamar menuju dapur.


Saat aku menuju dapur yang dekat dengan teras depan. Aku melihat Eyang Yaya mencari pisang gorengnya yang dimakan Rani tanpa permisi. Memang Rani ini tak bisa kalau tidak lihat makanan.


"Sum, ning endi pisang coklatku?" Akhirnya Eyang memanggil Mbok Sum.


Aku hanya menepuk jidat. Rani malah langsung berlari ke dapur.


Aku sungguh bahagia dengan kehidupanku sekarang. Aku bisa melihat orang-orang yang aku sayangi.


"Terima kasih Allah atas anugerah ini." Aku membatin.


Apakah tamat?


Belum ya. Kisah ini belum tamat.

__ADS_1


Masih banyak halangan yang membuat Ave dan Salim saling bahu membahu mengatasi rintangan yang ada.


Nantikan terus cerita ini ya. Terima kasih atas dukungan kalian kepada cerita saya.


__ADS_2