Nona Kecil

Nona Kecil
Part 19 Menginginkan Dirimu


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya


°


°


°



Aku tersenyum sendiri saat melihat pernikahan Eyang Yaya dan Eyang Uti di album pernikahan keluarga Jayanatra. Tua banget ya fotonya. Jadul. Beda dengan penampilan Ibu dan Ayah. Sudah tersentuh modern. Setiap ada pernikahan pasti fotonya akan terpasang di album ini. Begitu juga dengan aku dan Salim suatu saat nanti.


"Ibu lan ayahmu ora padha kenal biyen, Nduk. Awale ibu lan ayahmu ora trisna. Nanging suwi-suwi. Witing trisno jalarane seko kulina." Curhat eyang Uti mengenang masa lalu Ayah dan Ibu. (Ibu dan ayahmu dulu tidak saling kenal karena kebiasaan bertemu akhirnya mereka jatuh cinta)


"Nah padha karo awakmu karo Salim. Eyang percoyo awakmu isa trisna karo Salim," lanjut Eyang sambil menepuk bahuku. (Sama halnya dengan kamu dan Salim suatu saat eyang percaya kamu bisa cinta sama Salim)


Mungkin anak jaman sekarang tidak akan mau jika dijodohkan oleh keluarganya. Beda dengan halnya di keluargaku. Para tetua adat yang dipegang Eyang Yaya masih melakukan hal itu sampai sekarang. Untung bagi Mas Bagas karena tak perlu dijodohkan. Jodohnya datang sendiri sesuai kriteria keluarga Jayanatra. Bibit, bobot, bebet.


Ketika kami sudah bertunangan. Kami tak bisa seenaknya sendiri pergi keluar bersama yang lainnya harus ada yang menemani. Kata Eyang Uti itu pamali. Takut ada orang ketiga yang akan menghancurkan hubungan kami. Kuno kan pemikiran eyang Uti. Kami para wanita di rumah ini tak diperkenankan memakai pakaian pendek. Mbok Jum dan Mbok Sum memakai kebaya yang ada jariknya itu yang masih muda boleh tidak memakai kebaya asal sopan dan menutupi aurat kami.


Sedari kecil. Aku dan Mbakyu Raras diajari bagaimana menjadi wanita sesungguhnya. Berbicara sopan, tidak boleh keluar dengan lelaki yang tak dikenal, ada jam malam sampai pukul sembilan kecuali jika ada kegiatan, menghormati orang yang lebih tua, diajari menyulam dan hal lainnya khusus wanita. Itu membuat aku bosan. Tetapi untungnya aku memiliki Salim yang terus berada disampingku.


Dret ... dret ...


Dimas : "Ave, ketemuan sebentar yuk. Aku mau memberi sesuatu buat pertunangan kamu."


Aku : "Di mana?"


Dimas : "Di kafe dekat lampu merah."


Aku : "Oke tunggu sebentar.


Sebenarnya aku malas menemuinya apalagi tidak ada Salim yang mengantarkan aku. Berhubung Dimas tak bisa datang kemarin akhirnya mau tak mau aku akan menemuinya walau sebentar.


*****


Aku sudah sampai di kafe yang dikatakan Kak Dimas. Mataku menerawang mencari keberadaannya. Aku menemukannya ia sedang duduk di sudut dinding paling pojok. Aku segera menghampirinya.

__ADS_1


"Hai kak Dimas. Apa kabar liburan ini?" Sapaku sambil menanyakan kabar karena sudah seminggu libur kuliah UAS.


"Hai Vel. Semakin cantik aja sesudah tunangan," rayunya dengan kata-kata gombal.


"Oh, ya Kak. Katanya mau memberiku kado. Mana kadonya?" Tanyaku keburu.


"Wah kamu ini. Jangan keburu donk. Kita minum-minum saja dulu, ya," katanya dengan memanggil waitress.


Aku memesan Apple Juice karena aku tidak boleh minum bersoda atau kafein karena masalah jantung.


"Vel, aku menyukaimu," ucapnya tiba-tiba saat aku minum.


Aku nyaris tersedak.


"Maaf Kak. Aku nggak bisa," jawabku tegas.


"Karena kau sudah milik Salim?" Selidiknya penuh curiga.


Aku berdehem.


"Selama janur kuning belum mengembang. Aku pasti punya kesempatan donk buat merebut kamu." Bicaranya seenak jidat saja.


"Loh ya jangan marah donk. Aku memang seperti ini orangnya. Terus terang."


Terus terang sih nggak apa-apa asal bicaranya dijaga.


"Aku ingin lebih dekat denganmu, Vel bukan hanya sekedar teman biasa." Curhatnya dengan santai sekali.


"Tapi maaf Kak. Aku nggak bisa menerima Kakak. Aku nggak cinta sama Kakak," ungkapku jujur.


"Apa sih kelebihan Salim dibanding aku? Dia bukan orang kaya. Hanya saja dia beruntung punya tunangan kayak kamu," tuturnya dengan nada penuh hinaan.


"Memangnya kakak tahu apa tentang Salim? Kakak tidak tahu apa-apa tentang Salim," emosiku meningkat.


"Yang aku tahu. Salim itu pembantumu dan sopir keluargamu. Kok bisa sih keluargamu menjodohkanmu dengannya?" tanyanya dengan tatapan ejekan.


Aku berdiri dan hampir saja menggebrak meja.

__ADS_1


"Maaf Kak. Aku harus pergi. Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah tanpa ijin," sahutku melangkah pergi.


"Aku akan terus mengejarmu, Vel," teriaknya kencang yang jadi tontonan pengunjung.


Aku menutup kedua telingaku dan hampir menabrak dua orang. Ternyata dua orang itu adalah orang sangat menjengkelkan. Bisma dan Gayatri.


"Terima aja si Dimas. Kasihan dia sudah suka sama kamu sejak dulu," ucap Gayatri dengan melipatkan kedua tangannya sambil makan permen karet.


"Ya lagipula buat kamu sama pembantu," tambah Bisma dengan angkuhnya.


Aku menatap mereka penuh kesal dan menghiraukan kata-kata mereka selanjutnya yang aku tak dengar.


Aku mengayuh sepedaku menuju rumah dan hanya bilang sama Mbak Mira kalau hanya sekedar jalan-jalan. Jika keluargaku tahu kalau diriku sedang berbicara berdua dengan lelaki lain maka akan kena marah. Aku mengayuh dengan cepat. Mungkin karena terlalu cepat, roda sepeda terantuk batu dan terjatuh. Kepala ini berputar-putar dan dada terasa sesak. Aku mencari obat di tas,  tetapi tak menemukannya. Mataku berkunang-kunang. Sebelum jatuh pingsan. Terlihat bayangan Salim menuju ke arahku dibantu oleh teman-teman preman.


*****


"Nduk, wes sadar. Kuwi menyang endi toh? Kok isa sampai pingsan?" Sahut eyang Uti mendapati Ave pingsan tadi. [ Nduk, sudah sadar? Kamu ke mana saja? Kok bisa pingsan? ]


Untung Ambar dan Brata sedang tidak ada di rumah. Jika mereka mengetahui keadaan Ave maka mereka tidak akan jadi berangkat ke Malaysia untuk bisnis.


"Ave jalan-jalan, Eyang. Lalu roda sepeda terantuk batu," ujar Ave bohong.


"Wes rapopo sing penting kuwi slamet." Eyang Uti beranjak dari kamar Ave saat melihat Salim membawakan Jahe hangat untuknya. [ Sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat ]


"Kamu dari mana, Ve? Waktu Salim pulang ke rumah. Ave tidak ada di rumah. Rahman yang memanggil Salim katanya kamu jatuh."


"Ave tadi dari jalan-jalan. Bosan di rumah." Sekali lagi Ave tak bicara jujur.


"Maafkan Salim, ya. Tadi Salim sibuk jadi nggak bisa temani Ave di rumah." Rasa bersalah menyeruak di wajah Salim karena pergi terlalu lama.


"Tidak apa-apa kok. Aku sudah sehat sekarang," ujar Ave riang.


"Kalau mau ke manapun. Hubungi Salim. Biar Salim yang anter."


Ave hanya mengangguk saja menanggapi perkataan Salim.


*****

__ADS_1


\=Bersambung\=


Salim perhatian sekali dengan Ave. Apa bisa Salim melindungi Ave dari Dimas? Yuk ... ikuti kisah mereka.


__ADS_2