
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Ave's Pov
Jujur aku ada rasa cemburu saat si genit Gayatri memanggil namanya dan berusaha memeluk di hadapan semua orang. Salim itu milikku sekarang. Wajar jika aku cemburu, bukan?
"Aveliena ..." Ada seseorang meneriaki namaku dari teras. Aku segera keluar dari kamar dan menuju teras melihat siapa yang datang. Ternyata si Duo Congek.
"Le, etikamu ning endi? Ana wong tua ning kene, kowe bablas ae mlebu."(Nak, etikamu di mana? Ada orang tua di sini kamu masuk seenaknya.) Eyang Yaya sedang memarahi Dimas dan Bisma karena masuk melalui teras dengan menggunakan sepeda motor.
"Sorry opa," kata mereka dengan tertawa.
Aku hendak keluar, tetapi dicegah oleh Salim dan Mas Bagas. Mereka menyuruhku untuk tidak ikut campur.
"Iki kancamu tah, le? Tunjuk Eyang tak suka.
"IyaEeyang. Mereka teman Salim," jawab Salim sambil menatap mereka dengan tidak suka.
"Ora ana sopan karo wong tua. Eyang ora seneng karo kancamu, Le." Terlihat raut wajah eyang yang marah.
"Sudah Eyang. Biar Bagas yang bicara sama mereka," timpal Mas Bagas sembari menuntun Eyang masuk.
Sepertinya Eyang terlihat kesal dengan ketidaksopanan Dimas dan Bisma yang main nyelenong saja tanpa permisi. Kekesalan Eyang berada di puncaknya saat tahu Mas Bowo lupa menutup pagar sehingga si congek itu masuk tanpa permisi.
Aku hanya bisa mengintip pembicaraan mereka dari ruang tamu tanpa berani keluar. Mereka sepertinya terlibat pembicaraan serius.
*****
"Ada apa kalian ke sini?" Bagas pertama kali bertanya mengenai kedatangan mereka.
"Anda siapa, ya? Kami tidak ada urusannya dengan anda," kata Dimas menyeringai.
"Saya Bagas. Kakaknya Ave. Jika kalian tidak ada urusan dengan keluarga saya maka silakan keluar."
"Oh ini kakaknya Ave? Kami kira pengawalnya," ejek Dimas yang membuat Bisma tertawa pelan.
"Apa sebenarnya mau kalian?" Salim sudah hilang kesabarannya.
Bisma mengeluarkan sebuah amplop dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Lebih baik kau menandatangani dokumen itu yang menyatakan ayahmu maupun dirimu tidak akan menerima semua warisan keluarga Malik. Jika tidak aku yang akan bertindak," ancam Bisma sambil menyodorkan bolpoin agar aku memberi tanda tangan.
"Jangan pernah kamu tanda tangani surat itu, Lim. Kamu akan memyesal," kata Bagas tak terima.
"Tapi Mas Bagas? Bagaimana dengan Ave nantinya?" Ada gurat rasa bersalah dari diri Salim.
"Memberi tanda tanganmu atau tidak. Mereka akan tetap saja akan menghancurkanmu. Percayalah padaku." Bagas menyela perkataan Salim.
Salim menyodorkan kembali dokumen itu ke tangan Bisma. Dimas maupun Bisma hendak marah tetapi mereka tahu jika mereka melakukan tindakan di luar nalar hari ini maka usaha yang mereka rancang akan sia-sia.
__ADS_1
Bisma bangkit dari duduknya dan mengambil kembali dokumen itu dengan kasar.
"Suatu saat nanti kau akan melakukannya, Tubagus. Aku tak akan main-main dengan ucapanku," kecam Bisma beranjak pergi.
"Ingat sekali lagi waktumu untuk tanda tangan itu kurang dari dua bulan." Bisma memberi peringatan.
Salim dan Bagas saling memandang kepergian mereka dengan menggunakan sepeda motor Trail.
"Jangan kamu pedulikan kata-katanya. Ingat jangan pernah memberi tanda tanganmu di dokumen itu, Lim," kata Bagas sembari masuk ke dalam rumah.
Salim bingung dengan keputusan yang harus dibuatnya. Jika ia memberi tanda tangannya maka ia dan ayahnya tidak akan pernah boleh menggunakan nama Malik sebagai marga keluarga dan tidak akan pernah menerima warisannya. Sedangkan jika ia tak memberi tanda tangan di dokumen itu maka keluarga Jayanatra dan dirinya akan terancam. Khususnya Ave yang harus dlindungi. Salim tahu jika Paman Husni akan melakukan apa saja demi kekayaan dan kekuasaan. Dengan sikap kejamnya Paman Husni akan mencelakai Ave orang terdekat Salim.
Salim menengadahkan kepala agar Allah memberinya kekuatan untuk menjaga keluarganya dan keluarga Jayanatra. Ia memikul tanggungjawab yang besar.
*****
Ave's Pov
Hari ini akan ada ujian tengah semester yang harus aku hadapi. Salim tak bisa mengantarkan ke kampus. Dia pergi membantu Mas Bagas mengurusi pesanan teh untuk dikirim ke Palembang. Akhirnya Mas Bowo yang mengantar dan akan menjemputku sore nanti.
Brukk...
Sudah ke dua kalinya aku terjatuh di kamar mandi. Entah kenapa beberapa hari ini kepalaku berputar-putar dan jantung serasa berdetak lebih cepat. Jika belari kecil saja napasku akan terasa sesak. Apakah sakitku kembali datang?
Kuraih Inhaeler di dalam nakas. Benda kecil ini senantiasa berada di sampingku. Benda yang berfungsi membantu bernapas jika sakitku kambuh.
"Ya ampun Nona." Mbak Mira setengah menjerit saat aku melihatku jatuh.
Aku menutup mulutnya agar diam.
"Jangan bilang sama siapapun, Mbak. Ave tadi terpeleset," ucapku berbohong.
"Kenapa Non?" tanyanya panik.
"Mbak jika Ibu atau Eyang tahu pasti Ave nggak diijinkan masuk kuliah. Ave ada ujian hari ini," pintaku agar Mbak Mira merahasiakan ini.
"Tapi npNon. Wajah Non Ave pucat. Nanti tambah sakit," keluh mbak Mira lagi.
"Sudah Mbak. Ave nggak apa-apa kok. Tenang saja." Aku menyela perkataanya sembari menunjukkan wajah ceria.
"Yakin Non?" tanya Mbak Mira tak percaya.
"Yakin mbak Mira," kataku mantap.
Akhirnya dengan berat hati Mbak Mira mengijinkan aku ke kampus dan merahasiakan hal ini kepada semua orang.
*****
Salim's Pov
Ada perasaan tak nyaman saat aku tidak bisa mengantar Ave ke kampus. Mas Bagas memintaku membantunya mengirimkan pesanan daun teh ke Palembang. Awalnya aku tak bersedia, tetapi Ayahku dan Eang membujuk agar tak khawatir dengan Ave.
"Nak, sedari tadi kamu bengong saja. Ada apa?" tanya ayah saat melihatku melamun di ruang kerja.
"Nona Ave tidak apa-apa, Lim. Jangan khawatir. Sudah ada Bowo yang menjaganya," sahut Ayah lagi.
__ADS_1
"Jaka, kok yo seh nyebut mantumu Nona. Cah Ayu wes dadi mantumu. Aja nyebut Cah Ayu Nona maneh," tegur Eyang Yaya yang mendengarkan ayah masih menyebut Ave dengan nona. [ Jaka, kok masih sebut mantumu 'Nona' . Cah Ayu sudah jadi menantumu jadi jangan sebut seperti itu lagi ]
"Wes dadi kebiasaan eyang," jawab ayah.
Eyang Yaya hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Le, kowe iku kawatir karo Cah Ayu tah? Saka isuk sampai saiki kowe melamun ae." Eyang Yaya gantian menegurku. [ Le, kamu khawatir sama Cah Ayu, ya? Dari pagi hingga sekarang kamu melamun saja]
"Iya Eyang ada perasaan nggak enak di hati Salim tapi Salim nggak tahu perasaan apa itu."
"Yo wes. Kowe jemput Cah Ayu marine. Eyang mulih karo ayahmu numpak motor," saran Eyang yang membuat aku senang.
"Matur suwun, Eyang," sahutku sembari berpamitan.
Aku melajukan mobil CRV hitam menuju kampus Ave. Tadi Mbak Mira mengatakan sesuatu tentang Ave tapi aku tak sempat mendengar kata Mbak Mira. Yang aku tangkap adalah Ave sakit.
Sesampainya di kampus, aku mengarahkan mataku mencari mobil sedan yang biasa mengantar Ave ke kampus. Dari kejauhan terlihat Mas Bowo sedang kebingungan seakan mencari sesuatu. Aku segera menghampiri Mas Bowo.
"Mas Bowo lagi cari apa?" Aku bertanya karena penasaran.
"Salim?" Ucap Mas Bowo setengah terkejut.
"Di mana Ave?" Lanjutku kembali bertanya.
"Maafkan Mas Bowo, Salim," pintanya memelas.
"Ada apa, sih, Mas Bowo?"
"Salim, bagaimana ini? Nona Ave hilang," ucapnya panik dan takut.
"Apa maksud Mas Bowo?" Aku juga ikut panik.
"Tadi ada dua kawan Nona Ave menghampiri Nona sepulang kuliah. Saya kira mereka mengajak Mona Ave ke kelas untuk menyelesaikan tugas yang belum. Tapi saya tunggu lama Nona belum keluar dan saya pergi menyusulnya. Nona nggak ada di kelas. Kata Non Ayu dan Non Rani bilang sama saya kalau Nona sudah pulang dari tadi," sahut mas Bowo dengan nada panik.
"Apa Mas Bowo tahu ciri-cirinya dua kawan Ave itu?" Selidikku ingin tahu.
Mas Bowo mengangguk dan menjelaskan secara detail. Aku siapa mereka.
Dimas dan Bisma
"Jika dalam satu jam Salim tak berhasil menemukan Ave. Mas Bowo laporkan kepada Ayah dan Eyang Yaya." Aku memintanya untuk melapor.
"Iya Salim. Tadi juga nona Ayu dan nona Rani mencari."
Aku kembali masuk ke mobil dan mencari keberadaan Ave.
Dret....dret...
"Avel ada bersama kami. Ia aman disini."
Dimas mengirimkan pesan untukku. Aku tahu ke mana mereka membawa Ave.
\=Bersambung\=
Ke mana ya Ave? Penasaran?
__ADS_1
Masih setia membaca cerita ini?
Terima kasih jika kalian masih menyempatkan untuk voment dan membacanya.