
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Salim's Pov
Beberapa hari yang lalu adalah hari yang mengkhawatirkan untukku. Dua manusia itu teganya menculik nona kecilku. Hanya karena warisan yang tak kunjung aku tanda tangani mereka menculik Ave. Aku dan keluarga Jayanatra tidak bisa menghukum mereka atas penculikan karena kurangnya bukti.
"Le, mikir apa toh? Ojo keakehan mikir sing liyane," kata Eyang Yaya di teras depan saat menikmati senja.
"Salim tidak memikirkan yang lainnya, Eyang. Salim khawatir dengan keadaan ini." Aku menerawang ke depan melihat Ave yang sibuk dengan sepedanya.
"Eyang ora salahake kowe, Le. Eyang ngerti posisine kowe." [Eyang tidak menyalahkan kamu, Nak. Eyang mengerti posisi kamu ]
"Benar kata eyang, Le. Kami tidak pernah sekalipun menyalahkan kamu atas apa yang menimpa Ave," sahut Ayah Brata yang tadi berada di ruang tamu.
"Jika waktu dulu eyang menerima lamaran dari ayahnya Dimas maka kami tidak akan hidup seperti ini sekarang. Ayahnya adalah orang yang haus akan kekuasan sama seperti pamanmu-Husni," kata Ayah Brata.
"Bapak yo ora seneng karo sopo iku jenenge. Bapak lali," sela Eyang Yaya sambil membetulkan blangkonnya. [Bapak ya tidak suka sama---siapa namanya itu. Bapak lupa ]
"Slamet Tri Arif Harimuti, Pak nama ayahnya Dimas," jawab ayah Brata dengan senyum.
"Bapak wes ora seneng karo wong iku pertama kaline. Wong iku ora duwe tata krama sing apik," sergah Eyang Yaya menunjukkan wajah tak suka. [Bapak tidak suka sama orang itu pertama kali. Orang itu tidak punya tata krama yang baik ]
"Kamu tahu, Lim? Kami memberikan Ave kepadamu bukan hanya karena balas budi atas kebaikan ibumu, tetapi sejak kecil ayah dan ayahmu sudah bersahabat. Persahabatan ini yang mempertemukan kamu dan Ave. Ayah tenang jika menyerahkan Ave ke tanganmu," ujar Ayah sembari melihat putri kecilnya yang sedang asyik bermain sepeda.
"Yo opo toh si Cah Ayu iku? Pot kembang kok yo ditubruk." Eyang Yaya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Ave yang sembrono. (Bagaimana sih cah ayu ini? Pot bunga kok ditabrak)
******
Ave's Pov
"Makanya naik sepeda jangan melamun saja," cerca Salim yang mengobati lututku yang jatuh.
Bukannya menolong aku yang jatuh. Eyang Yaya dan Salim malah tertawa. Jengkel rasanya melihat tawa Salim yang terbahak-bahak.
"Mana Ave tahu jika ada pot di depan," sanggahku membela diri.
"Lagipula si mbok Sum naruh pot di situ. Ave mana lihat." Aku berkata dengan malu.
"Auwh sakit, Lim." Mataku melotot saat tanpa sengaja Salim menekan lukaku.
"Itu namanya anak nakal."
"Loh kok Ave nakal?" Aku marah dikatain seperti itu.
"Nggak mau nurut sama ibu dan eyang Uti," dengkusnya kesal.
"Ana apa toh jenenge Eyang Uti disebut?" Ya si Eyang Uti ikut nimbrung.
"Ini loh Eyang. Si Ave nggak mau nurut sama ibu Ambar dan eyang Uti untuk berdiam diri di kamar saja. Dia nggak nurut akhirnya jatuh dari sepeda," omel Salim seperti jalan.
__ADS_1
Eyang Uti membuka kacamata bacanya dan melihat ke arahku.
"Pancen kok arek siji iki nggak nurut karo wong tua. Kowe nakal, Nduk." [Memang kok anak satu ini tidak nurut sama orang tua. Kamu nakal, Nduk ]
"Kok Eyang Uti sama Salim marahin Ave?" Aku tak terima jika di katain aku nakal. Aku bosan di kamar.
"Kowe iku sek tas waras, Nduk." Okelah aku memang tak akan menang melawan kata-kata Eyang Uti.
Lebih baik aku menurut saja daripada seisi rumah memarahiku habis-habisan. Meskipun, aku masih dalam perawatan dokter dan tidak boleh kuliah dulu tetap saja aku merasa sangat bosan.
"La menyang endi toh kowe, Nduk?"
Tadi katanya suruh masuk kamar. Sekarang eyang Uti bingung karena aku masuk. Yang lupa itu siapa? Aku atau eyang Uti?
"Ave mau ke kamar, Eyang," jawabku dengan perasaan jengkel terhadap Salim.
******
Di gazebo pinggir kolam. Brata dan keluarga besarnya sedang berkumpul membahas pernikahan Bagas dan tunangannya-Dian.
"Bagaimana jika acara ini kita akan dua kali? Hari ini pernikahan Bagas dan Dian. Seminggu kemudian kita nikahkan Cah Ayu dan Salim?" Usul Brata. Eyang Yaya memangut-mangutkan kepalanya.
"Bapak setuju karo kowe, Le. Acara nikah ojo bebarengan. Bagas lan Dian sek sing nikah," kata Eyang Yaya menjawab dengan mantap.
"Bagaimana Jaka? Kamu setuju sama pendapatku, bukan?" tanya Brata kepada Jaka di hadapannya.
"Saya serahkan semuanya kepada kamu saja, Brata. Saya percaya sama kamu," jawab Jaka yang menyerahkan semua keputusan kepada Brata.
"Yo apa pak? Dadine tanggal piro sing apik gawe ngunduh mantu?" Brata bertanya kepada ayahnya yang sedang melihat kalender.
"Nah Cah Bagas 16 Juli. Kamis Pahing," lanjut eyang Yaya sembari melingkari tanda hitam di kalender.
"Jaka nggak menyangka eyang Yaya pandai memilih tanggal." Kagum Jaka yang begitu cepatnya eyang Yaya memilih tanggal.
"Milih hari gawe ngunduh mantu iku kudu ati-ati, Jaka. Ana tata aturane. Mugi-mugi perkawinan iku langgeng." Kata Eyang Yaya semangat karena di puji.
"Nah sudah selesai menentukan tanggalnya. Sekarang kita menentukan tempat pernikahannya," ujar Brata.
"Ning omah ae toh, Le. Kok yo seneng gawe repot dewe," sanggah Eyang Yaya yang tak setuju jika acara nikah berada di luar.
"Memang cukup toh, pak'e?" Brata balik tanya.
"Bapak ora ngundang wong akeh-akeh. Sak cukup'e ae, Le." Saran Eyang Yaya yang tak ingin banyak undangan.
Akhirnya Brata mengalah. Tidak ada yang bisa membantah perkataan ayahnya kecuali ibunya sendiri.
Sedari tadi Ave, Salim dan Bagas saling diam saat ada perbincangan rapat ini. Mereka hanya mendengar, menganggukkan kepalanya jika setuju dan melihat. Satu hal yang tidak disukai Eyang Yaya adalah saat ada orang yang tak mendengarkan perkataannya.
Sejak dulu semua anak-anak Jayanatra harus menurut perkataan Eyang Yaya tanpa bisa dibantah. Ada hal-hal lain sebagai pengeculiannya. Seperti menentukan sekolah sendiri dan mempunyai pendapat sendiri. Jika pendapat yang diutarakan tidak berkenan dengan Eyang Yaya maka Eyang akan memberikan pendapatnya sendiri.
Sebenarnya Eyang Yaya bukanlah orang yang otoriter, keras kepala dan ditakuti. Beliau hanya orang yang taat pada aturan kuno. Di mana orang yang muda harus bisa menghormati orang yang lebih tua. Tidak boleh membantah saat orang tua sedang berbicara. Menurut dan tunduk pada aturan yang sudah ada sejak Eyang Yaya belum lahir membuat anak-anak muda di keluarga Jayanatra tidak bisa di langgar.
Perkataan Eyang Yaya hanya bisa terbantahkan oleh istrinya sendiri. Meskipun sering membantah perkataan Eyang Yaya, Eyang Uti tetap menghormati suaminya.
"Cah Bagas, yen kowe lan Cah Ayu Dian arep metu ning endi ae. Mulihne aja sampai bengi. Eyang ngerti kowe wes tunangan tapi aja gawa arek wadon mulih bengi. Iku ora sopan, Cah Bagas." Nasihat Eyang Yaya kepada Bagas sambil berlalu pergi. Bagas menunduk diam dan mengangguk.
__ADS_1
"Apa benar yang dikatakan Eyangmu, Bagas?" Omel ayahnya dengan ekpresi terkejut.
"Memangnya kalian pulang jam berapa?" Selidik ayahnya menatap intens ke anak lelaki satu-satunya.
Ditatap seperti itu membuat Bagas tak bergidik. Dua orang yang ditakuti Bagas di rumahnya adalah Eyang Yaya dan ayahnya.
"Kangmas Bagas pulang jam satu dini hari, Ayah," sahut Ave yang mengetahui kakaknya pulang dini hari. Bagas melirik sebal kepada adiknya.
"Ya Allah, Bagas. Ngapain kamu pulang dini hari?" Marah Brata membuat Ambar yang baru dari dapur terkejut.
"Ada apa toh, Mas?" Ambar berucap kaget.
"Anakmu ini. Pulang dini hari bersama Dian. Kamu tahu sendiri nanti pandangan orang-orang sini, Dek?"
Ambar terhenyak tak menyangka anak lakinya sampai pulang dini hari.
Jaka menenangkan Brata dengan menepuk bahunya.
"Jawab ayah! Kamu ke mana saja dengan Dian?" Seketika murkalah Brata karena selama ini Bagas tak pernah pulang dini hari. Sudah seminggu lamanya banyak tetangga yang mengatakan Bagas pulang dini hari.
"Bagas tidak ke mana-mana ayah. Kami hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman lainnya," kata Bagas.
"Mulai besok jangan ke manapun. Biar Dian yang kesini atau biar Ave dan Salim mengikutimu," ujar ayahnya yang membuat Bagas kesal.
"Ayah, Bagas bukan anak kecil lagi. Bagas berhak mau pulang jam berapa," sungut Bagas.
Brata menatap tajam ke anaknya.
"Bagas, dengarkan ayahmu, Nak," ujar Ambar menengahi agar tidak terjadi pertengkaran malam ini.
"Tapi Buu. Ayah keterlaluan. Bagas sudah dewasa dan Bagas tidak melanggar apapun. Hanya pulang dini hari saja. Bagas juga ingin seperti teman lainnya yang bisa main sampai malam," sanggah Bagas.
Ave dan Salim tidak berani berkomentar apapun.
"Terserah kau saja mulai sekarang. Jika sampai kau menghamili Dian sebelum menikah. Jangan harap kamu bisa jalan ke pelaminan," ancam Brata sambil berlalu pergi.
"Mas, jaga bicaramu toh. Masa mas mau seperti dulu lagi. Insyaf Mas." Ambar sedikit melawan.
Semua keluarga tahu jika Bagas adalah anak yang tidak suka dikekang menurut aturan. Pernah Bagas tidak sekolah hampir dua hari. Gurunya menyangka jika Bagas sakit. Namun, ketika berkunjung ke rumahnya. Mereka tak mendapati Bagas di rumah. Ia malas asyik bermain playstation di Warnet.
Seketika itu Brata menyeret Bagas anaknya keluar dari warnet. Batas kesabaran Brata habis. Ia memukul Bagas dengan rotan karena melawan saat diajak bicara baik-baik. Bagas yang emosinya yang masih labil di usianya delapan tahun tanpa sengaja mendorong Ave kecil dari atas pohon.
"Bagas tahu aturan ayah!" Teriak Bagas kencang.
Ave tahu jika kakak dan ayahnya tidak pernah akrab. Ada satu kesenjangan antara mereka berdua. Namun, Ave tak mengetahui. Semua tahu rahasia yang menyebabkan Ave mengalami kebutaan. Kecuali Ave.
******
\=Bersambung\=
60 % cerita ini adalah kisah nyata sedangkan 40% hanya fiktif ya, Kawan.
Memang Ave pernah jatuh dari atas pohon. Kakaknya tidak sengaja waktu mau mengambil buah di atas pohon membuat Ave terjatuh.
Tetapi Ave tak mengalami kebutaan ya. Hanya patah tulang saja.
__ADS_1