
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Sejak peristiwa di taman itu. Salim menjagaku sangat ketat. Ke mana saja aku pergi dengan Ayu dan Rani, Salim selalu ikut. Jujur aku masih trauma dengan kejadian itu. Kak Dimas yang di sangka baik ternyata sama liciknya dengan Bisma dkk.
Seperti saat ini, Ayah menugaskan aku dan Salim ke Palembang. Ada seorang pembeli yang akan membahas kerjasama dengan perusahaan kami. Meskipun, Salim sudah menjadi tunangan. Eyang Uti masih melarangku pergi berdua dengan Salim. Maka kemarin Eyang Uti menelepon ke orang tua Ayu yang kebetulan orang Cina Palembang untuk menemani kami. Tak luput Si cempreng Rani.
"Oi dulur! Po kabar?" Ucap Ayu yang sudah mulai dengan logat kampung halamannya.
"Lama nian daku tak pulang," lanjutnya lagi.
"Pulang ke mana lu, Yu? Rumah lu ada di sini," ujar Rani dengan sebal.
Ayu tak menanggapi perkataan Rani. Ia asyik dengan berselfie ria. Rani yang kesal menjitak kepala Ayu.
"Awas kau ya? Sakit tau?" Teriak Ayu dengan melotot.
Mereka seperti ****** dan kucing jika ketemu. Namun, saling membutuhkan. Ya itulah uniknya teman-temanku.
"La selesai lum! Lama nian kau, Lim," sungut Ayu dengan logat yang berganti dengan logat rumahnya yang melihat Salim memasukkan barang bawaan kami ke dalam bagasi mobil.
"Sudah selesai Ayu yang cantik," kata Salim menanggapi kecerewetan Ayu.
"Amboi belagak kau, Lim hari ini."
Aku yang sedikit memahami artinya. Mendelik ke arah Ayu. Ayu malah tertawa. Kumat gilanya.
"Cah Ayu wes mari kabeh? Ojo lali obatmu." Pesan eyang Yaya kepadaku sebelum pergi. [ Sudah selesai semuanya? Jangan lupa obatnya]
"Apa kita harus melepaskan Ave, Pak?" tanya Ibu pada Ayah yang sedang dilanda cemas.
"Ojo khawatirno Cah Ayu. Wes akeh sing jaga. Ana Salim, Rani lan Ayu," kata Eyang Yaya yang ditanggapi anggukan oleh Rani dan Ayu.
"Tapi Pak---"Sanggah Ibu tak yakin melepaskan aku pergi jauh dengan naik mobil.
Aku memeluk ibu. "Ave akan baik-baik saja, Bu. Kapan lagi Ave bisa kenal sama rekan bisnis ayah."
__ADS_1
Ibu mengangguk walau ada rasa khawatir.
"Wes ndang budal. Selak bengi," kata Eyang Uti mengantarkan kami pergi. [Sudah cepat berangkat. Keburu malam]
Ini untuk pertama kalinya aku pergi tanpa Ayah dan Ibu. Hanya ada Salim, Rani, Ayu dan Pak Burhan sopir perkebunan. Pak Burhan akan bergantian menyetir dengan Salim. Aku dan Rani duduk di tengah. Sedangkan Ayu sudah molor sejak tadi di belakang. Ayu tak bisa mencium bau bensin atau solar. Makanya ia harus tidur agar tak mual. Padahal sudah minum Antimo.
*****
Perjalanan dari kota Malang menuju Palembang membuat pantatku sakit. Bayangkan saja dari Malang menuju Bandara Surabaya ke Palembang sudah satu jam lebih. Sedari tadi aku hanya membaca majalah. Aku melirik ke arah Rani yang sedari tadi sibuk dengan Hpnya.
"Lagi cari apa, Ran?" tanyaku ingin tahu.
"Aku lagi cari makanan yang enak di Palembang," jawabnya yang terus menatap layar hp.
"Pempek Palembang, Ran," sahut Salim di balik kemudi menggantikan Pak Burhan.
"Pempek yang enak di jalan Sudirman, Lim. Enak itu. Gua aja demen," sahut Ayu yang sudah terjaga dari tidurnya.
Kembali lagi deh dia gunakan bahasa sehari-seharinya.
"Ye lu. Soal makan aja cepat jawabnya. Coba ujian. Malas deh lu," sewot Rani yang kesal dengan tingkah Ayu yang tadi ngorok.
Aku terbatuk-batuk karena ingin tertawa melihat mereka.
"Ya ampun, Vel. Kamu kok batuk, sih. Udah minum obatnya?" Cemas Rani sambil melotot ke arah Ayu.
Aku mengangguk.
"Sudah kalian jangan bertengkar lagi. Sudah tua kok masih aja bertengkar," omel Salim dari depan.
Ayu mendengkus kesal.
Akhirnya Salim menuruti permintaan kedua temanku ini. Ya hari ini kami akan makan khas kota ini. Pempek yang terkenal.
"Siapa yang menelepon kamu terus, Vel?" tanya Salim yang sedari memperhatikan aku tak tenang karena ponsel terus berdering. Aku tak kenal.
"Tak tahu tuh si Ave. Penggemar rahasia kali," timpal Rani dengan nada bercanda.
Ayu mengambil ponselku yang tak berhenti bernyanyi.
"Sapo ini? Awak tak kenal kau," sahut Ayu dengan logat rumahnya.
__ADS_1
Klik....
"Siapa Yu?" Aku kembali tanya karena Ayu yang menjawab teleponnya.
"Tak kenal awak. Teman rahasia kau kali," ujarnya sambil menikmati makanan kesukaannya.
Benar kata Rani. Urusan makan Ayu nomer satu.
******
Setelah sampai hotel, kami berpisah sementara. Rani dan Ayu sedang menikmati liburan mereka. Aku dan Salim akan bertemu dengan manager hotel untuk menemui pemiliknya. PT. Jayanatra akan memasok teh dan hasil pangan lainnya kepada Hotel milik Pak Stevanus ini. Kualitas teh yang dihasilkan dari perkebunan kami tak perlu diragukan lagi. Banyak hotel dan restoran terkenal memasok teh dari kami. Puji Syukur untuk Allah yang memberikan ini semuanya.
Hampir dua jam rapat ini menghasilkan kerjasama yang baik. Hotel Valicia telah menandatangani kontrak kerjasama. Aku dan Salim merasa puas. Dari kejauhan aku melihat kedua temanku sedang asyik berbicara.
"Dari mana aja kalian?" tanyaku kepada mereka berdua.
"Kami dari Plaza seberang sana. Bagus-bagus barangnya," sahut Rani dengan senang.
"Yu, kamu sedang lihat apa?" Salim heran dengan Ayu yang celingak-celinguk tidak jelas.
"Heh..." Ayu menggaruk kepalanya. "Itu loh tadi aku lihat ada Bisma dan Dimas di Plaza."
Aku kaget tak percaya.
"Kalau bicara yang benar lu, Yu. Masa si duo kampret itu mengikuti kita," timpal Rani tak yakin.
"Yeey di bilangin kok kagak percaya. Sumpah deh demi bulu ketek gorila." Ayu tak mau kalah dalam berucap.
"Mana ada gorila punya bulu ketek." Komentar Rani dengan kesal.
"Ayo deh lu ikut gua. Mereka tadi FoodCourt sana," ajak Ayu menggandeng Rani menuju Plaza di seberang sana.
Aku hendak mengikuti mereka, tetapi ditahan oleh Salim.
"Biar Salim yang melihat. Ave di kamar saja. Jangan ke manapun sampai kami tiba," kata Salim menenangkanku yang panik.
Bagaimana bisa mereka mengikutiku? Apa benar ancaman yang dikatakan Dimas?
\=Bersambung\=
Ancaman apa yang akan dilakukan Dimas dan Bisma?
__ADS_1