
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
"Gue dengar si Salim itu pembantu, ya?" tanya si kunti Safira di depanku waktu kami makan di kantin.
"Bukan Kak. Salim saudara jauh saya." Aku menjawabnya dengan enggan.
"Memang ada apa, ya, Kak?" Aku membeo tanpa disuruh.
"Dengar, ya. Gue mau si Salim jadi pacar gue. Jangan sok ganjen deh sama dia," jelas si kunti panjang lebar bak penggaris.
"Memang kakak mau sama Salim? Kan kakak tahu Salim itu siapa?"
"Hei genit!. Gue nggak peduli siapa Salim. Kalau gue suka ya nggak masalah," cerocosnya lagi seperti jalan raya.
"Masalahnya, Kak. Mau tidak Salim sama kakak? Apa Salim sudah mengatakan cinta sama kakak?" Enggak kan?" Rasanya aku puas saat mengatakan itu. Enak saja mau rebut pacar orang.
Si kunti mengeram menahan kesal dan berlalu pergi ketika anak-anak kantin menyorakinya.
Yang genit siapa? Dasar si kunti.
"Wah gua kagak nyangka lu berani, Vel." Rani dengan suara cemprengnya heran atas sikapku tadi.
"Aku capek tiap hari mengangkat telepon cari Salim."
"Memangnya siapa yang cari Salim, Vel?" tanya Ayu mengaduk mie ayamnya.
"Siapa lagi kalau bukan para cewek-cewek di kampus ini. Mereka itu genit semua." Aku benar-benar kesal dengan Salim yang terlalu banyak penggemar.
"Ada yang cemburu nih?" Rani menggodaku dengan kerlingan matanya.
"Siapa? Aku? Oh tidak." Aku mengelak perasaanku sendiri.
"Jangan bohongin kita. Kamu nggak bisa berbohong sama kita." Ayu ikut menimpali perkataan Rani.
"Apa-apaan sih kalian ini?" Aku langsung pergi dari hadapan mereka yang sering menggodaiku.
__ADS_1
Jam pulang hampir tiba. Rasanya aku ingin cepat pulang. Oh ... tidak aku tidak boleh bersantai ria. Masih banyak yang harus diselesaikan. Masalah si cewek-cewek genit itu dan belajar keuangan mengenai perkebunan bersama Salim. Tentu saja ada Eang Yaya yang akan mendampingi kami. Aku heran sama Eyang. La wong aku nggak melakukan apapun jika bersama Salim. Eyang selalu mengawasi kami. Kurang kerjaan aja si eyang ini.
"Vel, pulang sama siapa?" Kak Dimas sudah ada di depan kelas saat jam pulang tiba.
"Seperti biasanya." Aku menjawab sambil berjalan menuju tempat parkir.
"Ikut sama aku yuk. Nanti aku minta sama Eyang kamu deh biar kamu diijinkan jalan-jalan sama aku." Sok dia bicara seperti itu padahal tidak tahu sifat Eyang.
"Memangnya mudah bisa bicara sama Eyangku? Tidak mudah, Kak. Aku aja yang cucunya saja tidak mudah minta ijin sama Eyang," jelasku agar ia mengerti jika aku tak suka jalan-jalan.
"Serahkan sama aku. Pasti diijinkan deh," katanya dengan sangat yakin.
"Ya terserah kakak saja." Aku malas menanggapi kata-katanya.
Benar dugaanku. Eyang tidak semudah itu memberi ijin untuk sembarang orang mengajak anak atau cucunya jalan-jalan kecuali beramai-ramai.
Inilah yang terjadi aku diberi ijin pergi bersama Kak Dimas asal ada orang yang menemani. Salim dan si kecil Jaka, anaknya Mbak Mira.
Kami hanya sekadar jalan-jalan di sekitar taman dan memakan jagung bakar. Salim bermain dengan Jaka. Aku dan Kak Dimas sedang duduk di bangku taman.
"Maafkan, ya, Kak. Eyang seperti itu," pinta maafku karena tadi Eyang sempat tak setuju.
"Eyang masih memegang peraturan jaman dulu. Kami harus menaatinya."
"Aku tahu Eyangmu masih memegang tradisi, tetapi sekarang abad 21. Abad penuh kebebasan dalam memilih. Seharusnya kamu memberitahu Eyangmu jika kamu juga perlu kebebasan. Bebas dalam memilih jalan hidupmu, memilih jodoh atau pergi dengan siapa saja," terangnya dengan lugas sambil memegang jemariku. Aku melepasnya.
"Maaf Kak. Aku rasa kita harus pulang. Jaka sudah mulai mengantuk." Aku memberi alasan ingin segera pulang.
Aku bisa melihat Kak Dimas enggan untuk pulang. Namun, apa peduliku. Memang Eyang Yaya memberi peraturan kepada anak-anaknya, tetapi beliau tidak pernah memaksa kehendak anak atau cucunya asal menurut beliau itu baik. Eyang masih memberi sedikit kelonggaran berpendapat. Aku tak suka jika ada seseorang yang sok memberitahu padahal kita belum berteman lama.
Jam delapan malam kami harus sampai di rumah kecuali jika ada pekerjaan di sekolah atau kampus. Aku segera memanggil Mas Bowo untuk menggendong Jaka yang tertidur. Dengan malas aku berpamitan dengan Kak Dimas.
******
Salim's Pov
"Salim ...." Dimas memanggil saat aku hendak naik tangga.
"Iya ada apa Dim?" Aku membalikkan badan.
"Apa hubunganmu dengan Avel?" tanyanya penuh curiga.
__ADS_1
"Hubunganku?"
"Iya. Aku ingin tahu hubunganmu dengan Aveliena. Kau hanya seorang pembantu saja, bukan?" Dengan seenaknya ia berbicara di hadapanku sekarang.
"Aku bukan seorang pembantu andai kau tahu, Dim?" Aku berjalan kembali menuruni anak tangga menuju ke arahnya.
"Jika kau bukan pembantunya lalu apa? Saudara?" Ia berdecih dengan angkuhnya.
"Lebih dari pembantu." Aku menjawabnya dengan pelan agar tak terdengar kegaduhan.
"Terserah kamu saja, Salim. Yang pasti aku akan merebutnya darimu," ujarnya sambil mengendarai sepeda motornya.
Kau ingin merebutnya dariku? Jangan harap Dimas. Aku dulu yang akan mencintainya.
"Pakde..." Aku terkejut saat seseorang menepuk bahuku.
"Sudah jangan didengarkan perkataan orang itu. Apapun yang menjadi milikmu selamanya akan menjadi milikmu. Kami akan selalu mendukungmu, Salim," tutur Pakde Brata sambil duduk di anak tangga.
"Tapi Salim rasa Ave belum bisa menerima Salim sebagai calon tunangannya, Pakde." Aku mencurahkan isi hati ini.
"Kata siapa? Itu hanya pemikiranmu saja, Lim. Hapus pemikiran jelek itu dari otakmu mulai sekarang."
Sebelum aku berbicara sudah ada yang berteriak dari atas.
"Ayah ...."
"Disuruh masuk sama Eyang Uti. Sudah malam." Ave berdiri di depan pintu dengan berdecak pinggang.
"Nah itu lihat. Siapa yang bisa merubah sifatnya selain kau, Lim," kata Pakde bangkit berdiri dan segera masuk ke rumah.
Betul kata Pakde. Aku harus menghapus pemikiran jelek ini.
"Salim Lim ... cepat masuk. Nanti aku kunci. Kapok kamu." Nona kecilku memanggil dengan suara lantang sampai Eyang Uti ikut berteriak.
"Nduk, wes bengi. Ojo rame-rame." (Sudah malam. Jangan ramai)
*******
\=Bersambung\=
Sebenarnya Ave itu suka nggak sih sama Salim? Salim sudah menyukai nona kecilnya. Yuk ... ikuti kisah ini terus.
__ADS_1