
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
"Nduk, kamu nggak apa-apa?" Ambar segera menuju ke kamar Ave karena rasa khawatir sebagai seorang ibu.
"Ave sudah sehat, Bu," jawab Ave menenangkan ibunya yang mendadak parno.
"Kowe yo opo toh Le. Ora isa jaga Cah Ayu." Eyang Yaya terlihat jengkel dan menyalahkan Salim atas pingsannya Ave. [ Kami bagaimana toh, Le. Tidak bisa jaga Cah Ayu ]
Salim menunduk tak berani melawan kata-kata eyang.
"Wes toh pak'e. La wong Salim anterake ibu menyang omah'e Sri. Ojo diseneni toh Salim." Bela Eyang Uti yang melihat Salim disalahkan.(Sudah toh, Pak. La Salim mengantarkan saya ke rumahnya Sri. Jangan dimarahi)
"Oh ngono toh. Yo pak'e ora ngerti," sahut eyang Yaya pelan karena malu telah memarahi Salim.
"Tidak apa-apa Eyang," jawab Salim dengan sopan.
"Istrirahat ya, Nduk. Besok jangan masuk kuliah dulu." Saran Ambar yang tak menginginkan puterinya sakit.
"Bu, besok Ave masih libur. Awal bulan Ave masuk."
"Oh, ya ibu lupa. Ya sudah istirahat saja," ucap Ambar menutup pintu kamar Ave.
Masa libur belum berakhir. Masih ada tiga minggu lagi untuk menikmati liburan ini. Meskipun, libur bukan berarti Ave bisa seenaknya sendiri. Dari ayam berkokok hingga matahari terbenam. Banyak kegiatan Ave. Mulai dari bantu-bantu di perkebunan, les merajut, belajar memasak. Semua dilakukan Ave dengan senang hati. Ia ingin menjadi istri yang baik seperti ibunya.
****
Ave's Pov
Hari ini, waktu aku ke taman belakang Kafe. Aku bertemu Dimas dan Bisma. Minus Gayatri. Mereka mengikutiku ketika menuntun sepeda. Aku berhenti dan menoleh ke belakang.
"Apa, sih mau kalian?" Aku sedikit berteriak saat mengatakan itu.
"Tidak apa-apa. Kami hanya mengikuti kamu saja," sahut Dimas sambil mendekati sepedaku.
"Ayo naik. Aku bonceng kamu jalan-jalan sekitar taman," tawarnya dengan lancang mengendarai sepedaku.
"Kak, aku sudah bilang. Aku nggak mau. Jangan memaksaku," ucapku dengan nada geram.
Aku ngeri melihat tatapan Bisma yang seakan-akan ingin menjilatku.
__ADS_1
"Aku nggak memaksamu kok. Iya, 'kan, Bis?"
"Lalu mau kakak apa?"
"Jadilah pacarku," katanya dengan memaksa.
"Aku heran deh sama kamu, Vel. Kamu anak orang kaya di kota ini, cantik, pintar, tetapi kok mau sama Salim yang notebene seorang pembantu." Bisma dengan kasarnya mengucapkan hal itu.
"Apa urusan kalian berdua dengan Salim?"
"Aku ingin menyingkirkan Salim darimu biar kamu menjadi milikku." Nada bicara Dimas membuat aku takut.
"Sekali lagi maaf Kak. Aku tidak suka sama kakak. Titik!" sahutku dengan lantang.
"Berani sekali kamu, ya sama Dimas. Kamu nggak tahu siapa Dimas?" Bentak Bisma kasar.
Memangnya aku perlu tahu? Dasar Bisma mulut congek.
"Maaf aku nggak mau tahu," jawabku sambil menuntun sepeda agar menjauhi mereka.
Sepedaku ditahan oleh Bisma.
"Dimas bisa melakukan apa saja untuk mendapatkanmu dan menghancurkan orang yang menghalanginya," ancam Bisma dengan nada keji.
"Lepaskan tanganmu dari sepedaku." Aku membentak Bisma walau sebenarnya takut.
Bisma melepakan tangannya dari kemudi sepeda dengan kasar hingga menyebabkan aku terjatuh ke belakang.
"Aku ingatkan sekali lagi. Kami akan menghancurkan Salim jika kau terus bersamanya," ancam Dimas kali ini.
"Hei kalian berdua! Kalian apakan Ave hingga terjatuh!" Teriak Bang Rahman ( kepala Preman) dari kejauhan.
"Ingat pesanku, Nona manis. Aku hanya ingin kau menjadi milikku. Pahami itu." Dimas mengacak rambutku dan aku melihat sorot matanya yang licik.
"Pergi kalian! Jika terjadi sesuatu dengannya. Kami akan mengeroyok kalian berdua," ucap Bang Rahman menghampiriku dan memberi peringatan kepada Dimas maupun Bisma.
Dimas dan Bisma melangkah pergi setelah diusir Bang Rahman.
"Abang akan telepon Salim. Tunggu di sini," ujar Bang Rahman sambil mengangkat tubuhku agar berdiri.
Aku langsung duduk dengan lemasnya. Aku baru menyadari sifat asli Dimas selama enam bulan ini. Ia hanya baik di luar. Licik di dalam.
*****
Ave masih syok dengan peristiwa barusan. Anak-anak jalanan khawatir dengan wajahnya yang pucat dan berkeringat. Mereka mengipasi agar tak berkeringat. Ada yang membawakan susu hangat. Akhirnya mereka menyingkir ketika Salim datang menjemput Ave di taman.
__ADS_1
"Ave, ini Salim." Salim duduk di samping Ave dan menepuk-nepuk bahu Ave.
"Salim, Ave takut." Pecahlah tangis Ave yang ditahan beberapa menit yang lalu.
"Sudah jangan takut. Salim di sini," ucap Salim memeluk Ave memberi ketenangan.
"Mereka akan membunuh Salim," kata Ave terbata-bata di tengah tangisannya.
Salim tertegun mendengarnya. Salim sudah tahu apa yang terjadi karena Bang Rahman bercerita semua.
"Mereka tidak akan berani membunuh Salim." Salim berkata dengan tenang.
"Bagaimana kalau itu terjadi?"
"Tidak akan terjadi, Ve. Salim akan terus bersama Ave selamanya."
"Benarkah?" Ave melepaskan pelukan Salim dan melihat kedua bola mata tunangannya dengan berurai air mata.
"Salim akan ada untuk Ave kapanpun." Perkataannya membuat Ave tak menangis lagi.
"Sudah jangan menangis lagi. Nanti jadi jelek. Eyang bisa marah sama Salim," ejeknya sambil menyeka air mata Ave dengan tangannya.
Ave akhirnya bisa tersenyum.
*****
"Aku tak habis pikir kenapa aku bisa kalah dengan Salim." Dimas terlihat marah ketika sampai di rumahnya.
"Sudah enam bulan berbagai macam cara aku mendekatinya hingga berpura-pura di depan eyangnya yang banyak aturan tapi tetap saja aku kalah." Dimas mengepal tangannya menahan emosi.
"Yang harus kita singkirkan itu Salimnya, Mas." Bisma memancing amarah Dimas yang meledak.
"Tapi bagaimana caranya?"
"Tenang saja. Itu urusanku," ujar Bisma dengan misterius.
"Sepertinya kau punya dendam dengan Salim, Bis?" Selidik Dimas penuh curiga.
Bisma hanya membalas dengan tertawa.
\=Bersambung\=
Apa yang direncanakan Bisma? Mengapa Bisma benci pada Salim?
Yuk ... ikuti kisah ini terus.
__ADS_1